"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.
Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melarikan Diri
“Sepuluh tahun lalu,” ucap Arlan pelan, “kamu datang ke kantorku sambil menangis.”
Samuel langsung menegang.
“Kamu bilang bisnismu hampir bangkrut,” ujar Arlan sambil memutar kacamatanya. “Lalu kamu minta pinjaman.”
Mika yang sejak tadi diam mulai mengernyitkan kening.
“Ayah … punya utang?” batinnya.
Arlan melanjutkan dengan suara dingin. “Aku kasih kamu kesempatan, tapi kamu malah kabur!”
Samuel terdiam dan menunduk.
Deg!
Barra dan Jessi langsung menoleh ke arah Samuel.
“Kabur?” gumam Jessi tak percaya.
Arlan tertawa pelan. “Tahu berapa utangmu sekarang?” katanya.
Samuel tidak menjawab. Ia tetap menunduk ketakutan. Arlan memberi isyarat kecil. Salah satu pengawal langsung menyerahkan sebuah tablet. Arlan menatap layar itu sebentar.
“Dengan bunga,” katanya santai, “sekarang jumlahnya sudah … dua triliun!”
Ia menyebutkan angka itu. Angka yang membuat Barra langsung melotot.
“Itu … mustahil!” serunya.
Jessi bahkan sampai menutup mulutnya. Sementara Mika membeku di atas ranjang. Jumlah uang itu bahkan tidak bisa ia bayangkan.
Sepengetahuan Mika, ayahnya memang bangkrut, tetapi ia hanya tahu sekadar akibat perselingkuhan di mana-mana. Terutama habis karena ulah ibu tirinya.
Arlan menatap Samuel dengan dingin. “Sekarang kamu masuk ke kamar rumah sakit ini—”
Tatapannya beralih ke Mika. “Dan kebetulan sekali.”
Samuel mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan Arlan kini berubah lebih tajam.
“Kamu tahu siapa yang hampir mati di mobilku tadi?”
Samuel mulai gemetar. Arlan menunjuk Mika dengan santai.
“Putrimu.”
Samuel langsung menoleh ke arah Mika. Mika membalas tatapan itu dengan bingung.
Sejak malam kejadian itu, para pengawal Arlan memang sudah diminta menyelidiki tentang Mika—tentang kehidupannya, siapa orang tuanya, dan banyak hal lainnya.
Arlan menyeringai tipis.
“Lucu, ya?” katanya dingin. “Kamu kabur dari utangku bertahun-tahun, tapi sekarang—”
Ia melangkah mendekat ke ranjang Mika. Tangannya masuk ke saku celana.
“Putrimu malah jatuh tepat ke tanganku!”
Ruangan itu terasa semakin mencekam. Barra mengepalkan tangan.
“Kamu mau apa?” katanya geram.
Arlan akhirnya menoleh padanya. Tatapannya begitu dingin hingga Barra tanpa sadar mundur setengah langkah.
“Aku?” kata Arlan pelan. Lalu ia tersenyum tipis. “Sederhana.” Matanya kembali ke Mika.
“Kalau Samuel nggak bisa bayar utangnya—” Ia berhenti sejenak. Suasana menjadi sangat sunyi. “Maka dia akan bayar dengan sesuatu yang dia punya.”
Deg!
Jantung Mika langsung berdetak keras.
“Apa maksudnya? Kenapa … aku?” batin Mika terguncang.
Arlan dengan mudah menatap satu per satu dari keempat orang yang sedang ia hadapi.
“Mulai hari ini, Mika berada di bawah kendaliku!” ujarnya tanpa perasaan.
“Jangan libatkan dia. Tapi jika itu bisa melunasi utangku … ambillah!”
Deg!
Jantung Mika semakin berdetak kencang. Ayah macam apa yang rela dan ikhlas anaknya dijadikan jaminan utang? Mika menggelengkan kepalanya.
“Hm, pasti hidupku semakin sengsara,” batinnya.
Arlan hanya tersenyum tipis. “Samuel, utang itu memang harus dilunaskan. Tapi aku nggak sangka kamu merelakan anakmu demi keuntunganmu!”
“Udah bawa aja anak itu. Lagian anak itu udah tidur sama om-om!” sahut Barra.
“Tapi jangan lupa, urusan utang itu cuma kamu dan ayahku yang tahu. Tapi kalau soal dia hampir mati ... itu beda lagi!” kata Barra seperti sedang memeras Arlan.
Arlan tertawa kecil sambil tertunduk tak percaya. “Mau berapa?” Arlan langsung mengetahui niat Barra.
“Nggak banyak. Cukup tiga ratus juta!” Barra benar-benar menjual Mika kepada orang seperti Arlan.
Arlan mengangkat jarinya. Pengawal langsung memberikan satu ATM premium kepada Barra.
“Setelah ini, jangan munculkan wajahmu di hadapanku!”
Tatapan Arlan tertuju kembali pada Mika. “Aku nggak main-main, ‘kan?”
Di atas ranjang, Mika hanya bisa menatap pria itu dengan jantung berdebar keras. Sesekali ia menelan ludah.
“Kenapa hidupku selalu berakhir seperti ini?” batinnya.
Tak lama kemudian mereka pun pulang. Saat itu tersisa Arlan dan Mika di kamar rawat. Mika tertunduk merenung. Banyak hal yang ia pikirkan tentang kelanjutan hidupnya.
“Heh, ingat. Biaya rumah sakitmu harus kamu bayar. Setelah ini kamu tinggal di rumahku!”
Namun, Mika seperti kehilangan semangat hidup. Ia terlihat lesu dengan mata kosong.
“Terserah. Hidupku ini sudah nggak ada harganya. Apalagi yang harus aku pertahankan? Bahkan kalau kamu bunuh aku ... aku sudah siap,” ujarnya.
Arlan kaget dengan perkataan Mika. Tanpa menjawab kembali, Arlan keluar dari ruangan. Sebelum pergi, ia menyuruh pengawalnya menjaga Mika.
Lima hari telah berlalu.
Kondisi Mika semakin membaik. Selama lima hari itu juga, Arlan tidak pernah muncul lagi di rumah sakit. Hanya para pengawal dan asistennya yang datang membawa pakaian serta berbagai perlengkapan wanita.
Mika duduk di tepi ranjang sambil memandang pintu kamar rawatnya.
“Apa iblis itu mati, ya?” gumamnya pelan. “Tapi syukurlah kalau dia nggak datang.”
Meski begitu, penjagaan di depan kamar tidak pernah berkurang. Dua pengawal selalu berdiri di sana seperti patung.
Mika menatap pintu dengan mata menyipit.
“Kalau terus begini, aku bakal jadi tahanan di rumah sakit,” gumamnya. “Gimana caranya aku kabur?”
Ia mulai memutar otak. Beberapa menit kemudian, ide muncul di kepalanya.
“Ah, bisa juga,” bisiknya pelan.
Mika segera berdiri. Ia menenteng tiang infus yang masih menempel di tangannya, lalu berjalan menuju pintu.
Cklik.
Pintu dibuka.
“Mau ke mana, Nona Mika?” tanya salah satu pengawal.
“Aku mau jalan-jalan ke taman rumah sakit. Bosan di kamar terus,” jawab Mika santai.
Pengawal itu saling pandang sebentar dengan rekannya, lalu mengangguk.
“Baik, tapi kami ikut.”
Mika mendengus pelan.
“Iya, ikut aja.”
Mereka berjalan menuju taman rumah sakit. Udara sore terasa sejuk. Beberapa pasien terlihat duduk santai di bangku taman, sementara perawat lalu-lalang membawa obat.
Mika duduk di sebuah kursi panjang. Kedua pengawal berdiri beberapa langkah di belakangnya. Mika menoleh sedikit.
“Hei, pengawal,” katanya tiba-tiba. Pengawal itu tidak menjawab. Mika menyeringai tipis.
“Bos kalian itu emang hobinya nindas orang, ya?”
Pengawal tetap diam. Mika kembali berbicara, kali ini nadanya lebih santai, tapi menyindir. “Kasihan juga kalian, ya. Punya bos yang nggak punya hati.”
Ia memandang langit sebentar sebelum melanjutkan. “Bodyguard disuruh jagain aku sampai segitunya. Padahal aku cuma anak SMA.”
Ia menoleh ke belakang. “Capek nggak sih kerja buat orang kayak dia?”
Pengawal masih tidak menjawab. Mika menghela napas panjang. “Hm, kasihan banget.” Mika sesekali melirik pengawal tersebut. Kepura-puraannya tidak menimbulkan kecurigaan.
Tiba-tiba perut Mika terasa melilit. “Aduh!” rintihnya sambil memegangi perut.
Kedua pengawal yang berdiri di dekatnya langsung panik.
“Ada apa, Nona? Ayo kembali ke kamar, biar dokter periksa!” kata salah satu dari mereka.
Mata Mika langsung melotot. “Eh-eh, nggak usah! Aku cuma mau ke kamar kecil. Kayaknya makanan tadi bikin perutku sakit!”
Salah satu pengawal sudah bersiap membopongnya.
“Mau ke mana?” tanyanya Mika tegas.
“Ke toilet kamar,” jawab pengawal cepat.
Lalu, ia langsung meringis lagi, berpura-pura menahan sakit.
“Aduh, tapi kayaknya nggak kuat kalau harus jalan jauh. Lebih baik ke toilet dekat ruang IGD aja.”
Kedua pengawal itu saling berpandangan sebentar. Mika mulai khawatir dramanya akan ketahuan. Namun, beberapa detik kemudian, salah satu dari mereka mengangguk.
“Baik, kita ke sana.”
Dalam hati Mika langsung bersorak kecil. Mereka mengantar Mika menuju toilet terdekat. Saat Mika hendak masuk ke dalam, salah satu pengawal ikut melangkah masuk. Mika langsung menoleh tajam.
“Heh! Kamu lihat nggak ini toilet perempuan? Mau ikut masuk juga?” katanya ketus.
Pengawal itu berhenti. Akhirnya mereka hanya berdiri menjaga di depan pintu toilet. Begitu pintu tertutup, ekspresi Mika langsung berubah serius.
“Sekarang atau nggak sama sekali,” bisiknya pelan.
Ia segera mencabut jarum infus dari tangannya. Sedikit darah menetes, tapi Mika tidak peduli. Matanya kemudian menatap ventilasi kecil di bagian atas toilet.
“Semoga aku masih bisa naik.”
Dengan susah payah Mika memanjat kloset, lalu berpegangan pada pinggiran ventilasi. Butuh beberapa detik yang terasa sangat lama. Akhirnya, ia berhasil keluar.
Begitu mendarat di luar, Mika langsung berlari sekuat tenaga. Ia terus berlari melewati lorong belakang rumah sakit tanpa menoleh sedikit pun.
Namun, beberapa puluh meter kemudian, napasnya mulai tersengal. Dadanya terasa sesak.
“Astaga … asmaku.” Mika memegangi dadanya.