NovelToon NovelToon
A Stepbrother'S Obsession

A Stepbrother'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / CEO
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Kedatangan Mantan

"Argh! Maura! Lepaskan! Sakit..!!"

Nina agak kesulitan untuk melepaskan tangan Maura yang menjambak rambutnya. Sania yang hendak menolong langsung dihadang oleh kedua teman Maura.

"Ini masih tidak seberapa, Nina! Aku bahkan bisa melakukan lebih dari ini," bantahnya dengan tangan tak kunjung dilepaskan. "Kalau saja kamu tidak pernah muncul di hadapanku mungkin kamu masih selamat. Berhubung kamu sudah memporak-porandakan kehidupanku, maka kamu harus mempertanggungjawabkannya."

"Kamu salah Maura! Bukan aku yang memporak-porandakan kehidupanmu, tapi kamu sendiri," bantah Nina.

Di sela-sela rasa sakitnya, Nina masih berusaha membela diri. Ia bukan pelaku yang harus tertuduh, justru disitu ialah yang menjadi korbannya.

"Banyak omong!" Semakin menekan saja tangannya hingga membuat kepala Nina mendongak. Cengkraman itu kian erat, bahkan helaian rambut mulai terlepas dari kulit kepalanya.

"Gara-gara kamu aku kehilangan fasilitasku! Om ku mengambil kembali fasilitas yang dia berikan padaku, bahkan lebih buruknya lagi, Papa kamu sudah memblacklist perusahaan kami. Harus sekejam itukah untuk menjatuhkan lawannya?"

Nina menyengir menahan rasa sakit yang kian menghantamnya. Tapi disela-sela menahan rasa sakitnya dia berupaya keras untuk mengingatkan bahwa keluarga tidaklah sekejam tuduhan gadis itu.

"Maura! Perlu kau ketahui saja! Papaku tidak sekejam yang kau tuduhkan. Papaku nggak memblacklist perusahaan Roya Grup. Papaku hanya memutuskan kerjasama dengan perusahaan kalian. Kau seharusnya berterimakasih karena papaku masih memberikan maaf atas perbuatanmu padaku, dan sekarang kau mengulanginya lagi. Apa kau sudah bosan hidup?"

"Maura! Lepaskan Nina, atau kau benar-benar akan menyesal! "

Melihat sahabatnya diperlakukan begitu buruk oleh wanita yang sudah merebut kekasihnya membuat Sania geram. Gadis itu juga berusaha keras untuk melepaskan tangannya yang dicengkeram oleh dua wanita yang tak lain teman-teman Maura, tapi sayangnya tenaganya tak mampu untuk bisa lolos dari cengkramannya.

"Kau juga mengancamku Sania?" Maura tertawa mengejek. "Sini kalau berani! Jangan cuma mulutnya doang!"

"Kurang ajar kamu! Kalau berani jangan main keroyokan kayak gini, menjijikan."

Suasana yang hening seketika memanas. Pengunjung juga lebih fokus pada mereka yang tengah berkelahi dibandingkan menikmati makanannya.

"Ada apa ini?" Bariton seorang pria tiba-tiba membuyarkan mereka yang tengah bergerombol menyaksikan perkelahian di dalam cafe. Pria itu membelah kerumunan pengunjung dan mendapati lima orang wanita muda tengah berkelahi. Terlebih lagi ia melihat tangan seorang wanita bertengger menjambak lawannya.

"Maura lepaskan!!" Peringati itu didengar oleh Maura dan juga teman-temannya.

"Om?" Seketika tangan Maura terlepas dengan raut wajahnya m menciut.

"Bukankah aku sudah memperingatkanmu agar tidak mengganggunya?

Pria paruh baya berbadan jangkung itu melangkah perlahan berdiri tepat di depan Maura hingga membuatnya kehilangan nyali.

"Ma—maaf Om, aku hanya~~

"Hanya ingin menyiksanya," cetus Wiryo. "Kau benar-benar tidak tahu malu Maura! Sejak kecil aku terlalu memanjakanmu! Sekarang seperti ini balasanmu?"

Maura dan dua temannya menundukkan kepala, tak ada yang bergeming.

Sania yang sudah terlepas dari dua anak buah Maura langsung bergerak mendekati sahabatnya.

"Nina, kamu nggak papa? Mana yang sakit?"

Nina menggeleng. "Aku nggak papa Sania. Ayo kita pulang saja."

Nina meraih tangan Sania dan bergerak pergi. Sebelumnya dia meninggalkan sejumlah uang di meja kasir tanpa harus menunggu kembaliannya.

Tinggalah Wiryo bersama dengan Maura dan dua sahabat Maura. Di situ Wiryo memarahi keponakannya habis-habisan.

"Kuperingatkan sekali lagi padamu! Jika kau berani menyentuh sehelai rambutnya maka jangan salahkan aku jika harus menghukummu!"

Maura mengerutkan keningnya. Semakin penasaran saja apa yang membuat Wiryo lebih mempedulikan gadis itu daripada dirinya.

"Om! Dia itu sudah membuat hidup kita hancur. Om diblacklist dari perusahaan pusat yang dipimpin oleh ayahnya, lalu kenapa om mati-matian membelanya? Dia anak musuh kita Om! Kita juga harus menghancurkannya!"

"Cukup Maura!" Wiryo membentaknya cukup keras. "Jangan pernah melibatkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi. Dia tidak ada hubungannya dengan perusahaan Roya Grup maupun Adijaya grup, jadi stop berhenti untuk menargetkannya."

Tangan Maura mengepal. Semakin geramnya saja melihat sikap Wiryo yang berubah begitu dingin padanya, dan lebih parahnya  lagi pria itu lebih membela orang lain dibandingkan dengan keluarganya sendiri. Ia semakin penasaran, apa yang tengah dipikirkan oleh pria itu.

"Desi, Kiki, ayo kita pergi dari sini!"

Untuk mengontrol emosinya, Maura putuskan segera meninggalkan Wiryo. Semakin lama berdebat dengannya maka akan membuatnya semakin gila.

Tiga gadis itu menuju mobilnya di parkiran. Di dalam mobil mereka sama-sama diam tak bersuara.

"Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan?"

Maura menoleh pada dua temannya yang duduk di belakang kemudi.

"Maksudmu?" tanya Desi dan juga Kiki bersamaan.

"Om Wiryo lebih peduli pada orang lain dibandingkan denganku, keponakannya sendiri. Tentu kalian tahu kan, apa yang harus kalian lakukan?"

Dua gadis itu mengangguk. "Iya aku mengerti."

Maura tersenyum devil. Untuk membungkam mulut Wiryo ia ingin membuat orang-orang terdekatnya hancur. Dia memang masih belum mengetahui siapa istri dan anaknya Wiryo, tapi kali ini ia juga ingin melibatkan orang lain yang sudah dibela mati-matian oleh pria itu.

"Kamu tenang saja Maura, tunggu tanggal mainnya." Dua gadis itu begitu meyakinkannya. Mereka memang cukup ahli melakukan skandal, makanya Maura senang berteman dengan mereka.

Setibanya di rumah Nina berjalan gontai masuk ke dalam. Di sebuah ruang keluarga dia mendapati beberapa orang asing yang tengah mengobrol dengan kakak laki-lakinya.

"Nina! Kamu dari mana aja?" Rendra bangkit dengan tatapan dingin. "Aku tadi datang ke kampusmu, kamu nggak ada, aku hubungi juga nggak diangkat. Kamu mulai keluyuran lagi ya?!"

Nina diam tak menjawab. Dia abaikan ocehan kakak laki-lakinya dan juga tamunya.

"Kak.., jangan tanya yang aneh-aneh. Aku mau istirahat dulu."

Tidak biasanya gadis itu mengabaikannya. Rendra semakin jengkel saja seharian kelabakan mencarinya.

"Siapa dia Rendra? Adik tiri kita?" Seorang pria yang duduk dengan dua wanita di ruangan itu meminta penjelasan darinya. Ya, kakak kandung Rendra datang berniat untuk menjemputnya. Dia datang membawa istri dan juga mantan pacarnya Rendra.

Rendra menoleh dengan melayangkan tatapan dingin. "Di sini tidak ada istilah saudara tiri. Biarpun dia beda orang tua sama kita, dia tetap saudara kita, dia adik perempuanku," bantahnya.

Pria itu mencebikkan bibirnya. Begitu perhatiannya Rendra pada gadis itu.

"Oh..., begitu rupanya?" Pria bernama Nicholas itu terkesan arogan. Dia jarang mau berbaur dengan orang lain terkecuali selevel dengannya. Bahkan semenjak datang dia tak mau menganggap Widya sebagai ibu sambungnya. "Jangan bilang kamu malas pulang gara-gara dia?"

Rendra menarik nafasnya dan memberinya peringatan. "Ini tidak ada hubungannya dengan dia. Aku tidak ingin kembali bukan karena dia, ini inisiatifku sendiri. Jadi tolong hargai keputusanku!"

Wanita yang tak lain mantan pacarnya itu beranjak. "Lalu bagaimana denganku? Jauh-jauh aku datang ke sini buat menemuimu! Apa aku juga harus menetap di sini bersamamu?"

1
aku
asekk!! aku suka keributan mereka 😁😁🤣🤣
aku
gass wir, tuntutlah, biar endingnya ente yg masuk bui 🤣🤣🤣
Kadek Suarmi
kok tidak ada kelanjutannya?
Ermakusmini
nggak menarik
Ika Dw: nggak usah dibaca, out aja
total 1 replies
Ermakusmini
kok cuma 1 bab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!