Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang dipisahkan kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai.
Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
PS: Mengandung Catatan Horor Yang Tinggi & Dapat Mempengaruhi Sisi Psikologis..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Malam penuh belaian damai di rumahnya. Bukan hanya sekadar kembali ke sebuah bangunan, melainkan sebuah momen kerinduan yang menderu terhadap atmosfer hangat yang telah terobati; atap naungan yang familiar dan penuh kenangan yang akhirnya ia sentuh setelah hari-hari panjang penuh gejolak emosi. Kegairahan hati terpancar jelas dari wajah Laura, terucap dalam rangkulan erat yang menenangkan dari kedua orang tuanya, dan ciuman hangat di pipi yang sungguh selalu ia dambakan.
Laura bersama orang tuanya duduk mengelilingi meja makan yang kokoh, dihiasi taplak bermotif polkadot ceria, sebuah sentuhan kecil yang menambah kesan homey. Ada beberapa hidangan kesukaannya tersaji di atas meja, aroma pembangkit selera memenuhi ruang makan, menyemangati indra penciuman. Semangkuk Lotek yang terdiri dari rebusan bayam, kacang panjang, dan labu siam yang disajikan dengan saus kacang khas yang menggoda, berjejer rapi dengan sepiring daging cincang yang berbumbu pedas gurih. Beberapa menu lain juga tersaji, namun yang paling istimewa adalah mie goreng sukacita buatan tangan ibunya tercinta. Aroma mie yang baru digoreng, ditambah dengan banyak udang segar yang kenyal dan irisan sayur kehijauan seperti sawi dan pakcoy, bukan hanya sekadar hidangan lezat, melainkan makanan bercita rasa kasih yang tak ternilai harganya bagi Laura.
Seluruh ruangan dipenuhi nuansa teduh keakraban satu keluarga kecil, kehangatan satu lingkaran penuh kepekaan antar hati yang saling memahami tanpa gerak bibir. Mereka tidak merayakan dengan pesta besar atau mewah, melainkan sebuah perayaan sederhana kepulangan Laura, putri tunggal kesayangan yang telah kembali dengan selamat ke pelukan keluarga setelah melalui badai dan titian mematikan. Setiap suap makanan terasa lebih nikmat, setiap tawa terdengar lebih ringan, dan setiap pandangan mengandung sejuta rasa syukur dan kelegaan.
Ayah Laura terus saja menatap lekat ke arah putrinya. Tatapannya memang penuh kelegaan, tetapi juga diisi kekhawatiran yang masih tersisa. "Kami pada akhirnya harus menyusulmu ke Banjarmasin, Nak," ungkapnya, suaranya berat namun sarat kasih sayang. Di mata sang ayah, Laura adalah putrinya yang, meskipun sudah dewasa, masih manja dalam beberapa hal, ia dinilai memiliki kelebihan luar biasa ketika bertindak di bawah tekanan, mampu mencapai pemulihan dalam waktu cepat setelah terjatuh, bahkan terjatuh dua kali, naluri responsipnya pandai menentukan arah pikir yang jernih, bahkan lebih daripada kebanyakan orang dewasa yang ia kenal. "Ketidakadaan kabar sama sekali darimu membuat kami benar-benar dilanda cemas. Ibumu bahkan kehilangan nafsu makan sampai berhari-hari, wajahnya pucat pasi memikirkanmu."
Ekspresi wajah ayahnya berubah serius, tapi di saat bersamaan nada suaranya sedikit melunak, menyiratkan kesedihan yang seakan sangat disesali. "Lain kali, kamu harus lebih cermat, kamu harus memahami kondisi, juga tubuh dan kesiapan lainnya, jangan sampai ada masalah atau sesuatu yang membuat kamu kesulitan. Lihat bagaimana nasib dua sahabatmu?" Ayahnya melanjutkan, namun menjeda sejenak, seolah ia sedang berusaha mengangkat sebuah perkataan berat di lidahnya. "Sekali lagi ayah turut berduka dan sangat prihatin mendengarnya. Mereka anak-anak yang baik, sayang sekali..."
Laura mengangguk perlahan sembari menundukkan kepalanya, mengakui kebenaran dalam setiap kata ayahnya. Ada penyesalan yang muncul di balik matanya, tetapi juga menyisipkan upaya pertimbangan. "Iya ayah, aku mengerti. Lagi pula sekarang aku telah duduk di tengah-tengah kalian, jadi kecemasan itu lebih baik disingkirkan. Apa yang terjadi adalah sebuah pelajaran berharga bagiku, dan tentunya akan membuatku jauh lebih berhati-hati, terimakasih," jawabnya, suaranya sedikit memelas. "Sebelumnya, aku tak pernah menyangka, tetapi itu semua telah terjadi, jadi apa yang bisa dilakukan? Terkadang dalam situasi tertentu kita hanya perlu melihat proses dengan cermat, dan berharap ada pintu keterbukaan yang mengeliminasi segala bentuk ketakutan; di baliknya ada linier yang dekat dengan keselamatan, kedua kakiku teguh merasakan kenyamanan untuk selanjutnya, ini tentang sentuhan kasih sayang di balik hantaman keras." Kalimatnya terdengar bijaksana, mencoba merasionalisasi kejadian, namun ada nada getir yang samar, menunjukkan bahwa pilu yang terkubur masih membekas.
"Jangan kamu berpikir lagi bahwa kamu dapat leluasa bepergian jauh," tegur ibunya, suaranya tegas didorong kekhawatiran yang tulus. Matanya menatap Laura intens, seolah ingin memastikan putrinya benar-benar mengerti. "Untuk beberapa hari ini kamu harus memulihkan mental dan kesehatan fisikmu, titik. Jangan membantah." Ibunya hanya tidak ingin ada kejadian buruk serupa yang menimpa putri tunggalnya, cukup sudah kekhawatiran yang ia rasakan. Baginya, keselamatan Laura adalah prioritas utama, di atas segalanya.
Malam Itu.... Di dalam kamarnya yang familiar, Laura merasakan kontras yang tajam antara kehangatan keluarga di bawah dan kesunyian yang mencekik di sekelilingnya. Hanya dengan bertemankan lampu tidur redup yang memancarkan cahaya kekuningan, menciptakan siluet misterius di dinding, Laura merenung seribu pemikiran yang saling bertindihan di atas tempat tidurnya. Jendela kamarnya ia biarkan terbuka lebar, seolah ingin menyerap semua yang ada di luar. Matanya membentang menangkap citra langit malam yang bertaburan bintang berkelip seperti permata, membuat udara dingin bergantian membelai kulitnya, membawa masuk aroma yang ia rindukan jauh di seberang sana, bercampur dengan pergulatan batin setelah perdebatan bertema nasehat.
Apa yang ditangkap hidungnya, tak mampu mempengaruhi apa yang ditangkap hatinya, benaknya masih gundah, diselimuti kabut penyesalan yang tebal. Laura masih sulit menerima kenyataan pahit bahwa ia telah kehilangan dua sahabatnya, Roni dan Ariana, di rentang yang tak jauh setelah kehilangan Doni, kekasihnya. Yang lebih menyakitkan lagi, ia menyadari bahwa "awal yang mempelopori" tragedi itu adalah pemenuhan keinginan dirinya, melalui serangkaian perjalanan yang ia telah merancangnya, melalui ide mimpi yang pada akhirnya berujung petaka. "Andai penerbangan pada hari itu tidak terjadi," desah bibir Laura lirih, suaranya nyaris tak terdengar, "andai pelayaran itu tidak terlaksana, andai kunjungan itu hanyalah mimpi belaka, andai aku dapat memutar kembali waktu ke titik sebelum semua ini dimulai." Namun, ia tahu, semua itu hanya angan-angan. "Semua telah jauh dilalui, dengan sisa jiwa yang merana, tidakkah itu baik untuk kelanjutan hidup? Aku pikir itu tidak. Benarkah? Oh Ya Tuhan." Sebuah pertanyaan retoris yang menggantung di udara, tanpa jawaban.
Laura lalu beranjak dari bingkai jendela, langkahnya gontai, namun ada kekuatan tak terlihat yang menariknya menuju cermin besar di sudut kamar. Ia berdiri di depannya, menatap pantulan dirinya. Di sana, ia melihat bayangan seorang wanita yang merindukan kedamaian di masa lalu, kedamaian yang terasa begitu jauh dan tak terjangkau. Di saat yang sama, ia juga memikirkan kedamaian masa depan yang terasa begitu samar, penuh ketidakpastian. Redemansi, penebusan untuk saling mengikat kejelasan hidup. Baginya, itu bukan sekadar kata, melainkan beban berat yang harus ia pikul. Hubungan dengan beberapa orang yang ia kenal telah terputus secara brutal oleh takdir. Ada luruhan hati yang menuntut adanya penanaman bibit baru keceriaan, bibit tali ikatan yang kuat, dalam kebersamaan, cinta, dan perjuangan yang harus ia hadapi sendirian, tanpa dua sahabat dan kekasih yang dulu mendampinginya.
Dari lubuk penyimpanan harap yang kini kering, hingga jutaan anak panah perasaan yang menghujam. Bagai satu lesatan untuk target seribu... bagai luka dari balik rapuhnya raga debu... bagai panggilan aviothic yang menggebu-gebu... sebuah desakan primal dari tanda bertugu... bagai hitungan ombak yang menderu beribu-ribu... di antara semak furze yang menusuk seribu pilu... Sungguh... terasa ngilu...
Laura melangkah tegap mendekat kembali ke arah jendela yang menjadi sahabat pandu nuansa malamnya, sahabat yang selalu menawarkan panorama segar yang terhampar membisu sekaligus berbicara. Tetapi malam ini sedikit lebih berbeda dari malam demi malam demi malam biasanya, seolah ufuk sedang menunjuk, memancingnya agar melempar pengamatan. Di ujung bidik penglihatannya, Laura merasakan adanya gema firasat, sesuatu yang tetap berhubungan dengan Roni dan Ariana, juga Doni, tiga figur hitam putih yang tak mungkin pernah dapat ia jumpai lagi di dunia ini, kecuali dalam kenangan dan mimpi.
"Eksistensi raga ketiganya telah memasuki fase penghapusan, sehingga jutaan warna tak lagi menjadi berguna bagi mereka," ungkap Laura dengan bibir bergetar, sebuah kalimat baru yang ia ucapkan tanpa ia sadari, sehingga membuat ia sedikit terkejut dan tertegun merenungi buah perkataannya sendiri.
"Dan yang tersisa adalah ruh mereka yang serupa air, dan bahkan air serupa embun, dan bahkan embun serupa titik-titik kecil, titik partikel jiwa."
Itu adalah ucapan bibirnya di hadapan ufuk yang mengalun lirih namun penuh keyakinan, bibir yang sedang membaca substansi sebagaimana realitas umum di dunia kematian. Bukan lagi sebuah teori atau spekulasi yang ia dengar dari orang lain, melainkan sebuah pemahaman yang terbesit, terukir jelas dalam benaknya yang tiba-tiba memperolah pelajaran tanpa ia ketahui dari mana datangnya. Realitas tersebut sebelumnya telah ia pahami secara implisit, dengan kognitifitas yang membaca suatu proses, di level tingkat kesadaran penuh, tanpa filter keraguan, tanpa bias imajinasi semu, murni sebuah penerimaan mutlak atas kebenaran yang terungkap. Pengalamannya dengan segala sensasi telah membuka gerbang pemahaman baru, sebuah gerbang menuju dimensi yang lebih transparan dan faktual. Kini, Laura tidak hanya menyelam pada keberadaan ruh dan jasad, ia melihatnya, merasakannya, dan memahaminya sebagai bagian integral dari rahasia eksistensi yang lebih universal.