NovelToon NovelToon
Kehendak Atau Pilihan

Kehendak Atau Pilihan

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Wanita Karir / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:21.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Elga Rista

#Terkadang yang kita anggap obat ternyata adalah luka terhebat#

Novel ini menceritakan seorang laki laki yang bernama Raka Pratama. Raka pernah berpacaran dengan seseorang 5 tahun. Tetapi Ia menjalin hubungan dengan perempuan yang Pondasi hidup nya berbeda. Sehingga Membuat kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Dan akhirnya, Ia memilih menyerah.

Luka di hati Raka yang masih basah tersebut , Ia malah bertemu dengan perempuan yang sedang patah hati. mengapa begitu? Rara baru saja mendapatkan kabar bahwa kekasihnya itu dijodohkan dengan perempuan lain. Padahal mereka berdua sudah memikirkan untuk lanjut kejenjang lebih serius.

Dua orang yang sudah patah, bertemu dalam keadaan rapuh. Tanpa sadar mereka saling menjadi sandaran. Bagaimana mereka mengatasi perbedaan dan tekanan dari orang sekitar? Apakah mereka bisa saling menyembuhkan atau justru saling melukai atau bahkan orang yang mereka temui adalah " Jodoh Orang lain "?

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Ikutin terus yaaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Rista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengetuk pintu yang tertutup

Nada dering ponsel Kristiana bergema pelan dari ruang tamu. Suasana rumah yang hening membuat suara itu terdengar lebih nyaring. Namun Kristiana tak menyadarinya Ia sedang berada di kamar, membongkar lemari untuk mencari sesuatu yang akan Ia pakai untuk pergi bersama dengan sahabatnya. Ia tidak mengetahui bahwa Raka didalam perjalanan untuk menuju kerumahnya.

Nada dering yang terus berulang di meja ruang tamu menarik perhatian Ayah Kristiana yang sedang membaca koran. Dengan nada berat, ia melirik layar ponsel yang menyala.

“Halo? Siapa ini?” suara itu mengulang, terdengar agak terganggu.

Raka menggenggam setir kuat-kuat, matanya menajam, pikirannya kalut.

Suara itu masih menggema di telinganya.

“Raka?” gumamnya lirih. Seketika alisnya terangkat. Nama yang tak asing. Lelaki yang telah bersama putrinya selama lima tahun ini.

"Raka?" tanya suara berat dari ujung sambungan.

Di seberang, Raka sempat terdiam. "Eh… betul, Pak. Ini Raka."

"Raka si… pacar Kristiana?"

Raka menelan ludah. Suara pria itu terdengar tak asing menurut Raka karena Ia merupakan ayah pacarnya yang tak lain adalah ayah Kristiana. Sudah lama ia tak berbincang dengan orang tua kekasihnya secara langsung. Selama lima tahun menjalin hubungan, pertemuan mereka bisa dihitung jari, dan selalu dalam situasi yang kaku.

"Iya, Pak. Saya… Raka."

"Kristiana sedang di kamar. Kamu mau ke sini?" Ayah Kristiana bisa menebaknya

"Kalau diizinkan, Pak. Saya sedang dalam perjalanan, sudah dekat."

"Hm. Ya sudah. Langsung ke rumah. Ada hal yang perlu dibicarakan." ucap Pak Herman dengan tegas

Sambungan terputus. Raka menghela napas dalam, matanya menatap lurus ke arah jalan. Tak lama kemudian, ia pun sampai di depan rumah Kristiana.

Dengan langkah berat dan ragu, Raka keluar dari mobil dan menuju kearah pintu utama rumah kekasihnya. Lalu iya memencet bell. Dan keluarlah Bu Heni yang merupakan ibu Kristiana

"Loh Raka," ucap Bu Heni kaget

" iya Tante," jawab Raka tersenyum kaku

Lalu Bu Heni mempersilahkan tamu nya itu masuk

Kristiana bergegas turun saat mendengar suara mobil. Ia kira yang datang adalah sahabat nya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat ayahnya dan Raka sudah duduk di ruang tamu, saling berhadapan.

"Raka datang," kata ayahnya, datar.

Kristiana hanya mengangguk, merasa hawa ruang tamu berubah menjadi lebih berat. Ia duduk di samping Raka, mencuri pandang pada wajah lelaki yang dicintainya itu. Tapi sorot mata Raka tampak serius Ia tahu ini bukan sekadar kunjungan biasa.

"Ayah ingin bicara," ucap pria paruh baya itu, nadanya keras namun tak meninggi. “Kalian sudah pacaran lima tahun, benar?”

"Iya, Pak," jawab Raka sopan.

"Ibu dan Ayah sudah cukup sabar. Sekarang waktunya kalian menikah. Kamu lelaki, kalau memang serius, bawa orang tuamu ke sini."

Raka terdiam. Ia menatap Kristiana, lalu kembali menatap ayah gadis itu. Belum sempat ia menjawab, sang ibu muncul dari dapur, membawa dua gelas teh.

"Kalian udah cukup lama, Nak. Jangan buat anak kami nunggu lebih lama lagi. Mama tahu, kamu anak baik. Tapi Mama juga nggak suka ngeliat anak saya digantung."

"Mama…" gumam Kristiana pelan, tak enak hati.

"Tapi Bu, Pak… kami masih memikirkan beberapa hal. Saya belum yakin ini waktu yang tepat. Saya ingin memastikan semuanya… tidak ada yang dipaksakan."

"Apa maksudmu?!" sang ayah membentak ringan.

Raka mengangkat tangannya, mencoba menenangkan. "Maksud saya, Pak… kita tahu ada perbedaan. Saya ingin memperjelas bagaimana ke depannya, agar tidak ada yang tersakiti."

"Justru karena itu kamu harus jelas sekarang! Nikahi anak saya. Kalau tidak, tinggalkan dia."

Ucapan itu membuat Kristiana menunduk. Matanya memanas, namun ia tak berkata apa pun. Di satu sisi, ia ingin dipertahankan. Tapi di sisi lain, ia takut Raka terpaksa.

Raka berdiri perlahan. "Saya pulang dulu, Pak, Bu. Saya butuh waktu. Tapi saya tidak main-main."

"saya pamit," ucap Raka sambil mencium tangan kedua orang tua yang berada dihadapannya itu

Ayah Kristiana tak menjawab, hanya menatap tajam. Sang ibu menghela napas keras, kecewa. Kristiana hanya bisa memandang punggung Raka yang perlahan menjauh menuju pintu, tanpa sempat berbicara.

 

Di dalam ruangan kelas itu sunyi. Hanya terdengar derik pensil yang bergesekan dengan kertas dan sesekali suara siswa yang membalik halaman soal. Jam dinding berdetik pelan, menandai waktu ujian yang perlahan bergulir.

Rara berdiri di depan kelas, kedua tangannya disilangkan di dada. Matanya mengamati setiap sudut, setiap gerakan murid-muridnya yang tengah sibuk mengerjakan soal ulangan harian. Tapi… sorot matanya kosong. Pengawasannya hanya sebatas kewajiban. Karena nyatanya, pikirannya melayang jauh. Jauh… ke malam sebelumnya. Semalam setelah Rara sampai di Kontrakannya dan diantar oleh Dhian, Rara mendapatkan pesan lagi dari nomor tersebut

Pesan itu.

"Jangan terlalu percaya pada rasa. Kadang rasa cuma ingin singgah, bukan tinggal."

Kalimat itu tak berhenti memutar di kepalanya, seperti lagu yang enggan berhenti mengalun. Ia sudah mencoba melupakannya, menganggap itu hanya gurauan dari seseorang yang iseng. Tapi, tidak semudah itu. Ada sesuatu dalam pesan itu yang terasa begitu personal. Terlalu dalam. Terlalu tepat menyasar hatinya yang paling rawan.

Rara menggeleng pelan. "Aku ngerasa itu bukan orang iseng. Dan Kayaknya… dia tahu sesuatu tentang Dhian." berbicara didalam hatinya

Rara melirik ke arah jendela. Langit mendung, seperti suasana hatinya. Ia menunduk, pura-pura mengecek daftar kehadiran murid, padahal yang sebenarnya ia lihat adalah layar ponsel yang masih menyimpan pesan itu. Nomor tak dikenal. Tak ada nama, tak ada foto profil. Hanya pesan yang muncul tanpa permisi dan pergi meninggalkan tanya.

“Siapa kamu sebenarnya…” gumamnya dalam hati.

Apakah Dhian?

Tidak. Itu bukan gaya bicara Dhian. Ia tahu betul, Dhian terlalu lugas untuk menulis kalimat sehalus itu.

Tapi kalau bukan Dhian… siapa?

Rara mengalihkan pandangannya ke arah siswa-siswi yang masih sibuk mengisi lembar jawaban. Ia berjalan perlahan di antara barisan bangku. Setiap langkah seperti menambah beban pikirannya.

Ponselnya bergetar di saku blazer. Sekilas jantungnya berdebar. Tapi ternyata hanya notifikasi grup guru. Ia menahan napas, kecewa pada harapan yang ia ciptakan sendiri.

Kenapa ia begitu terobsesi dengan pesan itu?

Karena ada ketakutan. Ketakutan bahwa isi pesan itu adalah kenyataan. Bahwa selama ini ia terlalu percaya pada rasa. Bahwa apa yang sedang ia jalani… hanyalah singgahan.

Rara menggigit bibir bawahnya, menahan kegelisahan yang mulai meletup. Ia tak ingin larut. Tapi hatinya tak bisa diajak kompromi. Ada suara kecil dalam dirinya yang berkata: pesan itu bukan sekadar kata-kata. Ada maksud di baliknya. Ada pesan tersembunyi… yang sedang menunggu untuk diungkap.

Bel istirahat berbunyi, membuat lamunan Rara buyar. Para siswa serentak meletakkan pensil dan kertas mereka, beberapa mulai berdiri dan berjalan ke luar kelas. Tapi Rara tetap berdiri di tempatnya.

Dan saat kelas mulai sepi, ia duduk di meja guru, membuka ponselnya sekali lagi. Ia mencoba menelepon nomor itu sekadar untuk tahu siapa pengirimnya.

Tapi…

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan…”

Rara terdiam. Matanya menatap kosong ke layar ponsel yang kini kembali gelap.

Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk.

“Berhenti mencari, Rara. Kamu nggak siap untuk tahu.”

Pesan dari nomor yang sama.

Dan kali ini, tangan Rara gemetar.

Dan beberapa saat kemudian terdapat pesan lagi. Siapakah dia? Dan apa isi pesan yang masuk di hp Rara?

 

Jangan lupa beri komentar, saran, dan like

Karena dukungan kalian merupakan semangat untuk author membuat cerita. Terima Kasih sudah membacanya❤️

1
Vania M.
kok sedyhhhhh aku nyaaaa/Sob/
Vania M.
ya ampun fajarrrrrrr👍Laki laki tidak suka basa basi ini🤣🤣
Vania M.
semangat fajarr😍
Elga Rista Septina
Hehe makasih banyak ya kakak-kakak. 🤍 Senang banget lihat kalian ikut menebak dan seru-seruan bareng. Semoga alur ceritanya tetap bikin penasaran yaa, jangan lupa ditunggu kelanjutan bab berikutnya. 🥰✨
Elga Rista Septina
makasih banyak ya kakak-kakak semua atas doa, semangat, dan dukungannya. 🥹🤍 Semoga kita semua selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, dan dimudahkan segala urusannya. Untuk novel baru, mohon ditunggu yaa, author lagi nyiapin cerita terbaik buat kalian. Semoga nanti bisa nemenin hari-hari kalian lagi. Terima kasih sudah selalu setia menemani perjalanan author. 🤍✨🌷
Andita f.
Lanjut novel baru thor🙏🤣
Andita f.
lanjut💪
Andita f.
ya ampunnn🤣
Melinda Alvina
ya Allah sedihhh😭😭 Semangat terus kak. Ditunggu novel selanjutnya 🤗😁
Melinda Alvina
Alhamdulillah😍👍🙏
Melinda Alvina
loh sama fajar? bagusss😍
Cut Anggraini
Raka & fajar😍😍
alisyha
Alhamdulillah😍ga sesuai ekspektasi ku sih aku pikir sama Raka, ternyata sama fajar🤭 lanjut thor🤣🙏
Alzahra Dwi Anjar
gas poll fajarrrr🤣
Cut Anggraini
plot twist baru nih🤣
Elga Rista Septina
Terimakasih atas dukungannya🤗
Melinda Alvina
Haduh👍
Alzahra Dwi Anjar: astaghfirullah raka🤣
total 1 replies
Cut Anggraini
lanjut 🙏
Elga Rista Septina
WKWKWK ya ampun, kompak banget nih kalian ngerasain gemesnya. 🤣🤍 Makasih ya kakak-kakak udah selalu kasih komentar dan semangat buat author. Ditunggu aja kelanjutannya yaa, semoga nanti bisa menjawab rasa penasaran kalian. Doain author biar rajin update terus. Selamat menikmati ceritanya dan jangan lupa jaga kesehatan yaa. 🥰📚🤍
alisyha
Luar Biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!