NovelToon NovelToon
12 Badoet

12 Badoet

Status: tamat
Genre:Dendam Kesumat / TKP / Balas Dendam / Misteri / Tamat
Popularitas:829k
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

12 badoet, kisah misteri tragedi perampokan yang terjadi 30 tahun silam. Rumah seorang konglomerat di kota T disambangi para perampok yang mengenakan topeng badut.

Bukan hanya mengambil harta benda sang konglomerat, para perampok juga melakukan tindakan tak termaafkan.

Pada tahun 2021 peristiwa-peristiwa mengerikan dan penuh misteri menimpa 12 orang laki-laki yang berhubungan dengan perampokan di masa lalu.

tulisan terbaru bung Kus
Genre misteri, yang semoga masih disukai.

like, vote, komentar ditunggu yaahh.

follow akun bung Kus di Noveltoon
Follow Instagram @bung_engkus

kisah ini hanya karangan saja. kesamaan nama tokoh dengan para tetangga penulis, hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Limo

Bulan Desember tahun 1991

Setengah empat sore, hujan deras mengguyur perumahan elit di pusat kota T. Sumiran Sang konglomerat tengah sibuk bermain catur dengan Satpam penjaga rumahnya. Dan untuk ke sekian kalinya Pak Satpam harus mengakui kepintaran Sang majikan.

"Ha ha ha. . .padahal aku sudah setua ini, nyatanya strategiku masih manjur untuk mengalahkan anak muda sepertimu Burhan." Sumiran tertawa nyaring, mengolok-olok satpamnya yang bernama Burhan itu.

"Ya kan Njenengan memang cerdas Ndoro. Kalau nggak gitu mana mungkin bisa jadi pria terkaya di kota ini?" Burhan menimpali. Sebenarnya dia malas melanjutkan permainan yang sulit dia menangkan. Namun, majikannya masih terlihat antusias tak mungkin Burhan bisa menolaknya.

"Ngomong-ngomong kemana Santoso? Kenapa hari ini dia tidak masuk? Biasanya dia paling rajin datang. Ngasih makan ikan, motong rumput. Nggak ada Santoso seharian ini bekisarku di belakang nggak ada yang ngurus," gerutu Sumiran.

"Saya kurang tahu Ndoro. Mungkin sakit atau flu. Kan lagi musim," jawab Burhan.

"Bukannya tempat tinggalmu dan Santoso berdekatan? Masak nggak tahu?" tanya Sumiran masih asyik menggerakkan bidak caturnya. Burhan hanya menggeleng pelan.

Sementara itu di seberang jalan tepat di depan rumah Sumiran, sebuah mobil kijang berwarna merah maroon terparkir sejak beberapa saat yang lalu. 6 orang di dalam mobil berdiam diri dengan raut wajah yang penuh ketegangan.

"Ingat, ketika kita masuk rumah Sumiran nanti jangan sampai ada yang menyebut nama. Kita pakai kode," ucap laki-laki di belakang kemudi memecah keheningan.

"Gimana maksudnya?" sambung laki-laki di kursi tengah.

"Kamu tol*l atau gimana sih? Jangan sampai identitas kita ketahuan. Untuk memanggil satu sama lain pakai kode atau nama samaran," hardik laki-laki di belakang kemudi.

"Ohh, aku tahu aku tahu. Karena kita naik mobil kijang bagaimana kalau kijang satu kijang dua nama samaran kita," sahut laki-laki di kursi tengah.

"Aku punya ide yang lebih baik. Karena kita nanti memakai topeng badut, kita akan memanggil satu sama lain dengan sebutan badut. Badut satu untuk menyebut boss kita. Aku badut dua," usul laki-laki di belakang kemudi.

"Kamu badut tiga." Laki-laki di belakang kemudi menunjuk teman di sebelahnya yang tengah bermain rubik.

"Hei badut tiga, dengar tidak? Hentikan mainan anehmu itu!" bentak laki-laki badut dua.

"Apa sih? Aku dengar kok, aku nggak budh*g! Aku badut tiga, kamu badut dua kan?" Laki-laki badut tiga terlihat sewot, kesal.

"Etika kalau diajak orang bicara itu menghadap ke lawan bicaranya brengsek!" badut dua jengkel.

"Ini namanya rubik. Kubus rubik ini merupakan sebuah permainan teka-teki mekanik. Rubik ditemukan pada tahun 1974 oleh seorang pemahat sekaligus profesor arsitektur Hungaria, Erno Rubik. Kubus ini terbuat dari plastik dan terdiri dari 26 bagian kecil yang berputar pada poros yang terlihat. Pada Mei 1980, kubus ini kembali dibuat dan dipasarkan di kawasan Eropa. Ini mainan yang cocok untukku. Kamu nggak akan ngerti," balas Badut tiga acuh tak acuh.

"Mana ngerti aku begituan. Lagipula siapa yang peduli dengan sejarah mainanmu itu?" Badut dua menghela nafas.

"Ah sudahlah. Kamu Badut empat, kamu badut lima," lanjut Badut dua menunjuk dua rekan yang duduk di kursi tengah.

Badut empat adalah laki-laki kurus berambut ikal yang tengah memegangi tas hitam berisi topeng badut. Sedangkan badut lima seorang laki-laki berbadan tambun berkepala plontos.

"Yang paling belakang badut enam, dan terakhir si penakut kesayangan Sumiran badut tujuh," tukas badut dua mengakhiri.

"Hatcchhuuuu!" Badut enam tiba-tiba bersin dengan suara yang lantang. Membuat semua orang dalam mobil terlonjak kaget.

"Maaf, aku alergi dingin. Nggak tahan dengan udara lembab dan dingin. Jadi gampang bersin-bersin," ucap Badut enam sembari mengusap-usap hidungnya yang berair.

"Sial, rubikku berantakan lagi. Konsentrasiku buyar," gerutu badut tiga.

Di tengah derasnya hujan nampak seseorang yang memakai jas hujan berwarna hitam berjalan mendekati mobil para badut. Dia mengedarkan pandangan sejenak, kemudian mengetuk kaca samping kemudi mobil. Badut dua segera menurunkan kaca mobil dan tersenyum ke arah laki-laki berjas hujan.

"Kamu badut delapan," ucap Badut dua.

"Hah? Apa maksudmu?" laki-laki berjas hujan mengernyitkan dahi.

"Nama samaran. Agar tak ada yang mengenali," jawab badut dua.

"Terserah kamu saja. Ngomong-ngomong hujan sangat deras, jalanan benar-benar sepi. Di ujung jalan sudah kuberi tanda agar tak ada yang lewat sini. Jadi kuyakin tidak akan ada saksi mata," ucap laki-laki ber jas hujan yang disebut Badut delapan.

"Siap Bapak. Kami masih menunggu nomor 9 dan 10," sambung badut lima.

"Jangan terlalu lama. Mumpung suasana sedang sepi," badut delapan melihat arloji berwarna emas di tangan kirinya.

"Aku harus kembali bertugas. Ingat perjanjian awal, dan semoga sukses." Badut delapan berbalik badan dan berjalan menjauh dengan langkahnya yang tegap.

"Kunyuk dua itu lama banget sih!" Badut dua memukul kemudi mobil.

"Tenang sajalah. Toh jalanan hari ini selalu sepi karena hujan akan terus mengguyur," sahut Badut empat meyakinkan.

"Dih, pawang hujan kamu?" ejek badut tiga, masih asyik dengan rubiknya.

"Kemarin aku ke tempat dukun. Minta diturunin hujan sehari semalam. Manjur lho." Badut empat menepuk-nepuk dadanya, merasa bangga.

"Hatchuuu. Percaya kok dukun. Dosa," sahut badut enam masih bersin-bersin karena alergi dingin.

"Wahh, iya aku lupa. Di antara yang lain kamu yang paling takut dosa ya," ejek badut empat.

"Aku dan si tujuh ini sepakat, setelah semua selesai kami nggak akan mau mengenal kalian lagi," balas badut enam. Sedangkan badut tujuh hanya menunduk sedari tadi. Tangannya nampak gemetar hebat.

"Terserah kalian saja. Setelah ini aku pun nggak peduli dengan kalian. Kita akan menjalani hidup masing-masing. Hari ini kita hanya mengambil sedikit hak yang ada di harta Sumiran yang lupa daratan itu," sahut Badut dua.

Sayup-sayup terdengar suara motor mendekat. Dua orang berboncengan mengenakan jas hujan ponco yang berwarna hijau tua. Mereka melihat ke arah mobil kijang dan mengangguk sebentar. Kemudian mereka turun dari motor, dan mengetuk pintu pagar besi berwarna hitam itu.

"Akhirnya nomor sembilan dan sepuluh datang. Hei hei, topeng mana topeng. Cepat pakai topeng. Siapkan senjatanya!" perintah Badut dua.

Badut empat segera membagikan topeng bergambar wajah putih dengan hidung merah pekat itu. Mereka semua segera memakainya, kecuali Badut tujuh yang masih terlihat gemetar ketakutan.

"Hey, cepat pakai!" bentak badut dua.

"Aku tidak yakin dengan semua ini. Aku takut. Pak Sumiran selalu baik padaku." Badut tujuh mulai menangis.

"Kamu nggak bisa mundur lagi!" Badut dua mendengus kesal.

"Bagaimana kalau kita batalkan saja?" Badut tujuh memelas.

"Kalau kamu memang nggak mau, tetaplah di dalam mobil. Tapi jangan harap kamu mendapatkan bagian dari hasil kita nanti," ancam Badut dua.

"Tenanglah, tarik nafas. Percayalah ini yang pertama dan terakhir untuk kita. Hatchhuuuu!" Badut enam mencoba menguatkan. Sesekali dia masih bersin akibat alergi udara dingin.

Bersambung___

1
Juniya Ar
Thor please bikin extra chapter untuk Wildan dong kasian dia sendiri,SM angel aja
Sarah
Ya... konsep yang Robin Hood lakuin aja salah, gimana ini yang buat mereka sendiri? 🤣
Reksa Nanta
good job Author. Semangat berkarya.

Thanks a lot
Reksa Nanta
bagian inilah yang sangat terasa.
Reksa Nanta
Pak Wito orang yang memiliki banyak anak buah, ketika dikejar musuh malah berlari ke tempat sepi ? 🤔
Reksa Nanta
keributan terjadi di trotoar tengah kota dan tidak ada yang melihat ?
Reksa Nanta
kehidupan tenang yang didapat dengan cara membuat banyak orang menderita, bahkan anak anaknya sendiri.
Reksa Nanta
setidaknya kalau tidak bisa membantu orang lain, jangan menyusahkan orang lain.
Reksa Nanta
kenapa Nilla tidak menghapus riwayat panggilannya ?
Reksa Nanta
tapi baru saja Mbak perawat membocorkan nama pasien. itu seharusnya juga tidak boleh.
Reksa Nanta
keponakannya sudah berusia paruh baya ? 🤔
Reksa Nanta
akan lebih baik kalau minta bantuan dari kantor. jangan gegabah.
Reksa Nanta
kenyataannya tidak semudah kita punya kenalan lalu bisa mengakses informasi tentang tamu.
Reksa Nanta
berarti Angel bukan anak Sumiran ?
Reksa Nanta
diceritakan bahwa orang tua Santoso tetap berhutang lagi setelah hutang sebelumnya dilunasi. tidak ada narasi yang menceritakan bahwa orang tua Santoso sakit parah di bab bab sebelumnya.
Reksa Nanta
bukankah Santoso ikut merampok karena orang tuanya terlilit hutang rentenir ? 🤔
Reksa Nanta
bagaimana bisa seorang polisi bertindak seceroboh itu ?
Reksa Nanta
di hotel bintang 3 tidak ada kamar dengan single bed. kecuali kamar dengan twin bed.
Reksa Nanta
lha kok bisa ?
Reksa Nanta
betul. kecuali berkas kasusnya dilimpahkan. kalau melangkahi prosedur Adi malah akan kena sanksi kode etik.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!