Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Cahaya matahari pagi yang menyelinap di balik gorden sutra abu-abu apartemen mewah kami terasa jauh lebih terang dari biasanya. Aku mengerang pelan, mencoba membalikkan tubuhku yang mendadak terasa seperti baru saja dihantam oleh truk kontainer bermuatan semen. Setiap persendianku melayangkan protes keras.
Saat aku bergerak, sebuah lengan yang kokoh, berurat, dan hangat justru semakin mempererat kunciannya di pinggangku. Kulitku langsung bersentuhan dengan dada bidang tanpa sehelai benang pun.
Ingatan tentang amandemen paksa dokumen pernikahan semalam, tentang bagaimana Arkan merobek pasal kontak fisik, dan bagaimana ia melakukan 'ekspansi wilayah' secara brutal namun luar biasa manis, seketika membanjiri otakku. Wajahku langsung terasa seperti disiram air mendidih.
Aku menoleh patah-patah. Di sampingku, Arkan Mahendra sedang menatapku dengan mata elangnya yang kini tampak begitu sayu, seksi, dan... sangat puas. Rambutnya yang biasanya klimis tertata rapi kini berantakan ke segala arah, memberikan kesan *bad boy* yang sangat tidak ramah untuk kesehatan jantungku.
"Pagi, Nyonya Mahendra," suara baritonnya terdengar sangat serak, bergetar rendah di dekat telingaku. "Bagaimana hasil audit fisik semalam? Apakah kinerja CEO-mu ini sudah memenuhi kualifikasi untuk mendapatkan perpanjangan kontrak seumur hidup?"
Gengsiku yang setinggi langit langsung megap-megap di tenggorokan, berusaha keras untuk bangkit berdiri. Aku tidak boleh terlihat takluk! Jika aku memujinya sekarang, keangkuhan pria ini akan meledakkan atap apartemen.
"Biasa saja," jawabku, memalingkan muka sambil menarik selimut tebal hingga menutupi hidungku. "Skornya... tujuh dari sepuluh. Masih banyak catatan evaluasi. Terlalu agresif, kurang efisien waktu, dan terlalu banyak improvisasi di luar kesepakatan."
Aku bisa mendengar Arkan mendengus pelan. Bukannya menjauh, ia justru mencondongkan tubuhnya, menumpukan bobot tubuhnya di atas ekosistem selimutku, mengurungku sepenuhnya.
"Tujuh?" Arkan menaikkan sebelah alisnya, matanya berkilat penuh tantangan yang berbahaya. "Standar kelulusan di Mahardika Group untuk proyek strategis adalah sembilan, Naura. Dan aku tidak pernah menerima nilai di bawah target. Sepertinya kita harus melakukan kerja lembur pagi ini juga untuk memperbaiki nilai remedi-mu."
"Arkan! Jangan gila! Ini sudah jam tujuh lewat!" pekikku panik, mencoba merosot keluar dari bawah kungkungannya. "Kita ada rapat dengan vendor jam sembilan! Lepas!"
Arkan terkekeh—sebuah suara rendah yang sangat langka dan sialnya sangat merdu—sebelum akhirnya mengecup keningku dengan lembut dan lama. "Mandilah duluan. Jika kamu terlambat lima menit saja keluar dari kamar mandi, aku akan menganggap itu sebagai undangan resmi untuk sesi remedi."
Aku langsung melompat dari tempat tidur dengan kecepatan cahaya, mengabaikan rasa pegal di pinggangku, dan mengunci diri di kamar mandi. Di dalam, aku memegangi dadaku yang berdegup kencang, merutuki diriku sendiri yang begitu mudah meleleh oleh pesona pria diktator *tsundere* itu.
***
Perjalanan ke kantor hari ini benar-benar menjadi ujian kesabaran bagi Hadi. Sepanjang jalan di dalam mobil Maybach, Arkan tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemariku. Bahkan, ia meletakkan laptop kerjanya di atas paha dengan tangan kiri yang mengetik, sementara tangan kanannya tetap mengunci tanganku di atas kursi.
"Hadi," panggil Arkan dengan nada dingin tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
"Ya, Pak Arkan?" jawab Hadi sigap dari kursi kemudi, matanya sesekali melirik spion tengah dengan tatapan penuh penderitaan batin melihat pemandangan bucin di belakangnya.
"Instruksikan tim fasilitas untuk mengganti kursi kerja Naura di divisi pemasaran dengan sofa ergonomis berlapis busa memori medis sore ini juga. Dan pastikan jalur lift eksekutif dikosongkan setiap kali Naura ingin naik atau turun."
Aku memelototkan mataku. "Arkan, kamu berlebihan! Aku cuma... sedikit lelah berjalan, bukan sedang hamil tua atau habis operasi caesar!"
Arkan menoleh padaku, wajahnya datar tanpa dosa. "Ini namanya perawatan pasca-investasi, Naura. Aset utama harus dijaga agar tidak mengalami depresiasi nilai akibat kelelahan fisik. Diam dan patuhi saja."
Aku hanya bisa mengembuskan napas pasrah, sementara Hadi di depan tampak sedang komat-kamit, mungkin sedang merapalkan doa keselamatan agar tidak mendadak mengundurkan diri akibat polusi ke-bucin-an tingkat dewa ini.
Namun, atmosfer manis yang menggelikan itu mendadak menguap begitu kami melangkah keluar dari lift di lantai eksekutif. Ruang tunggu di depan kantor Arkan tidak sepi seperti biasanya. Di sana, duduk dua orang yang sangat tidak ingin kulihat wajahnya hari ini.
Dimas Mahendra, yang mengenakan setelan jas abu-abu dengan ekspresi sombong yang kembali bertengger di wajahnya, dan di sebelahnya... Valerie.
Mantan kekasih Arkan yang dulu begitu terobsesi ingin menyingkirkanku itu kini duduk dengan pakaian yang jauh lebih sederhana, rambutnya dikuncir kuda acak-acakan, dan wajahnya dipulas kosmetik tipis yang membuatnya tampak pucat serta menderita. Begitu melihat kami berjalan bergandengan tangan, Valerie langsung bangkit berdiri.
*Bruk!*
Tanpa aba-aba, Valerie langsung berlutut di atas lantai marmer dingin tepat di hadapan kami. Air mata seketika merebak di matanya yang sembap. Aku dan Arkan refleks menghentikan langkah. Genggaman tangan Arkan di jemariku seketika mengerat hingga terasa agak sakit.
"Arkan... Naura... aku mohon, maafkan aku," tangis Valerie pecah, suaranya terdengar serak dan begitu menyedihkan. Ia mencoba meraih ujung celana Arkan, namun Arkan dengan cepat menarik kakinya mundur satu langkah, menyembunyikan tubuhku di balik punggung tegapnya.
"Berdiri, Valerie. Jangan membuat drama murahan di kantor saya," desis Arkan, suaranya sedingin es kutub utara.
Valerie menggelengkan kepala dramatis, air matanya menghapus bedak tipis di pipinya. "Aku tidak sedang membuat drama, Arkan! Aku benar-benar menyesal. Keluargaku memotong seluruh fasilitasku karena skandal terakhir, namaku diblacklist dari seluruh agensi, aku tidak punya uang lagi untuk membayar sewa apartemen. Aku... aku hancur!"
Valerie kemudian menatapku dengan tatapan memelas yang sangat luar biasa meyakinkan. Jika aku tidak tahu betapa busuknya wanita ini di masa lalu, aku pasti sudah ikut menangis melithatnya. "Naura, aku tahu aku jahat. Aku dulu dibutakan oleh rasa iri. Tolong bicarakan pada Arkan... aku mohon bantuan kalian. Terima aku bekerja di sini. Posisi apa saja, Naura! Jadi staf kebersihan, asisten junior, atau tukang fotokopi pun aku rela! Aku hanya butuh bertahan hidup."
Aku menyipitkan mataku. Otak pemasaranku langsung berputar cepat mengendus bau ketidakberesan. *Akting yang sangat rapi. Terlalu rapi untuk ukuran seorang Valerie yang egois.*
Dimas melangkah maju, berdiri di samping Valerie dengan postur berwibawa seolah dia adalah pelindung kaum tertindas. "Arkan, sebagai sepupumu dan salah satu pemegang saham, aku rasa Mahardika Group memiliki program *Corporate Social Responsibility* untuk membantu pemulihan sosial. Valerie sudah mengakui kesalahannya secara terbuka. Dewan Komisaris juga akan memandang baik jika kita menunjukkan kemurahan hati, bukannya dendam pribadi."
Arkan mengeluarkan tawa sinis yang sangat pendek. "Kemurahan hati? Sejak kapan kamu peduli pada kemurahan hati, Dimas? Dan sejak kapan Mahardika Group berubah menjadi lembaga rehabilitasi?"
"Arkan, tolong..." Valerie kembali terisak, memegangi dadanya. "Aku janji tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi. Aku hanya ingin bekerja jujur."
Aku menarik napas panjang, melangkah maju dari balik punggung Arkan. Gengsiku mendikte bahwa aku tidak boleh membiarkan Arkan menyelesaikan semua masalah sendirian, seolah aku adalah istri lemah yang butuh dilindungi dua puluh empat jam. Aku menatap Valerie lurus-lurus.
"Kamu ingin bekerja di sini, Valerie? Posisi apa saja?" tanyaku dengan nada tenang namun penuh penekanan.
"Naura," Arkan menegurku pelan, suaranya sarat akan keberatan. Ia tidak ingin rubah ini berada di dekatku.
Aku memberikan kode dengan sentuhan lembut di lengan Arkan, memintanya untuk mempercayai strategiku. Valerie mendongak cepat, matanya berbinar penuh harapan palsu. "Iya, Naura! Apa saja! Aku akan melakukan apa pun yang kamu perintahkan!"
"Kebetulan sekali," senyum miring terbit di bibirku. "Divisi Pemasaran sedang membutuhkan seorang asisten logistik lapangan untuk proyek luar kota bulan depan. Tugasnya adalah menghitung, memindahkan, dan menjaga ribuan kotak produk sampel di gudang distribusi pinggiran kota. Tanpa AC, tanpa fasilitas mobil kantor, dan jam kerja mulai dari jam enam pagi. Bagaimana? Mau menerima?"
Wajah Valerie sempat menegang selama setengah detik—sebuah kilasan emosi murni yang berhasil kutangkap—sebelum ia kembali memasang wajah pasrahnya. "A-aku mau, Naura. Terima kasih banyak atas kemurahan hatimu."
Dimas tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang tersembunyi dengan sangat baik. "Pilihan yang bijak, Naura. Aku yakin kamu tidak akan menyesali keputusan ini."
"Tentu saja aku tidak akan menyesal," balasku, menatap Dimas dengan tatapan tajam. "Karena Hadi akan memantau seluruh kinerja Valerie melalui CCTV gudang selama dua puluh empat jam penuh. Satu saja ada ketidakcocokan data barang, kami tidak akan ragu untuk menyerahkannya langsung ke kantor polisi."
Arkan yang menyadari arah permainanku langsung menimpali dengan nada mutlaknya. "Kontrak kerja Valerie akan diatur di bawah pengawasan ketat. Dan satu peraturan tambahan: Valerie dilarang keras menginjakkan kaki di lantai eksekutif ini, atau mendekati Naura dalam radius kurang dari sepuluh meter kecuali dalam urusan laporan resmi yang dihadiri oleh Hadi."
"Baik, Pak Arkan. Saya mengerti," ucap Valerie menunduk, menyembunyikan kilat matanya yang licik di balik poni rambutnya.
****
Setelah Dimas dan Valerie pergi diantar oleh Hadi untuk mengurus administrasi paling bawah, Arkan langsung menarikku masuk ke dalam ruang kerjanya. Ia membanting pintu, menguncinya, dan langsung memojokkanku ke arah meja kerjanya yang luas.
Wajahnya tampak sangat tidak puas, rahangnya mengeras karena menahan kekesalan.
"Kenapa kamu menerimanya, Naura?" tuntut Arkan, kedua tangannya mengurung tubuhku di pinggiran meja. "Kamu tahu dia itu manipulatif. Dimas sengaja memanfaatkannya untuk menyusup ke dalam divisimu untuk mencari celah baru!"
Aku melipat tangan di dada, mendongak menatapnya dengan sisa-sisa gengsi istri yang tak mau kalah berargumen. "Justru karena aku tahu dia manipulatif, Arkan! Menjaga musuh tetap berada di bawah pengawasan kita jauh lebih aman daripada membiarkan mereka bergerak secara rahasia di luar sana."
"Aku bisa menghancurkan mereka berdua dalam satu hari jika aku mau," balas Arkan sombong, wajah *tsundere*-nya mengeras. "Aku tidak butuh kamu mengambil risiko dengan membiarkan wanita ular itu berada di divisimu."
"Oh, jadi Pak CEO merasa kehebatannya tersaingi oleh strategi Manajer Pemasaran-nya?" godaku, menaikkan sebelah alis. "Atau... kamu sebenarnya takut karena belum bisa melupakan mantan kekasihmu yang menangis bombay itu?"
Mata Arkan seketika menyipit berbahaya. Aura posesifnya yang sempat mereda kini kembali meledak. Ia memajukan wajahnya hingga jarak di antara kami menghilang, bibirnya nyaris menyentuh bibirku saat ia berbicara.
"Jangan pernah mengatakan hal konyol seperti itu lagi, Naura," desisnya rendah, suaranya sarat akan kepemilikan yang mutlak. "Ular seperti dia tidak akan pernah bisa dibandingkan denganmu. Aku hanya tidak suka fokusmu terbagi untuk memikirkan orang lain selain aku. Dan soal strategi..."
Arkan tiba-tiba mengangkat tubuhku, mendudukkanku di atas meja kerjanya yang dingin, membuat posisinya kini jauh lebih mendominasi. Tangannya merayap ke tengkukku, mengunci tatapanku agar tidak bisa berpaling.
"Strategimu di luar sana mungkin hebat," bisik Arkan, matanya menatap bibirku dengan intensitas yang membuat lututku lemas meskipun dalam posisi duduk. "Tapi di dalam ruangan ini, akulah yang memegang kendali penuh atas investasiku."
"Arkan... ini kantor—" ucapan protesku terputus saat bibirnya langsung membungkam bibirku dengan ciuman yang menuntut, panas, namun penuh dengan rasa cinta yang begitu besar yang disembunyikannya di balik gengsi korporatnya.
Saat ciuman Itu terlepas, Arkan menyandarkan dahinya di dahiku, napasnya memburu halus. "Skor untuk ciuman barusan?" tanyanya dengan senyum miring yang luar biasa menyebalkan namun tampan.
Aku berdehem, merapikan piyama kerjaku yang sedikit berantakan dengan wajah merona. "Sembilan koma lima. Masih ada ruang untuk perbaikan kualitas."
Arkan terkekeh, mengecup singkat bibirku sekali lagi. "Akan kupastikan nilainya menjadi sempurna sebelas dari sepuluh nanti malam, Nyonya Mahendra. Sekarang, mari kita urus rubah-rubah kecil itu bersama."
pokonya terus semangat author