Saat terbangun aku sudah berada di tempat yang asing. Aku memutar tubuhku untuk melihat lebih jelas dimana aku berada, aku merasa sedang diawasi, dia.. dia melihat kearah ku dengan mata merahnya. Dan dia tersenyum, terlihat dua buah taring keluar dari bibirnya..
Haloo semua... ini cerita pertamaku di MangaToon, Aku harap kalian seneng bacanya, semua cerita yang akan kutulis harus Happy Ending!
Why
Why
Why
Karena kopi pait adanya didunia nyata yaa, so aku bikin cerita yang bikin kalian senyum-senyum aja, just Have Fun in my Fantasi World ♥️♥️♥️
Oh yayayaa, jangan lupa love, like, kalo bisa comment juga, biar aku semangat gadang tiap malam 😆😆😆 demi kalian pencinta Fantasi World.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BFK.11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memperebutkan Hati
Alice terdiam.
Dia belum mencerna apa yang dibicarakan oleh yang Mulia Raja.
Dia masih bingung, jidatnya berkerut.
"Alice.. Alice .. " Gara mengguncang tubuh Alice perlahan.
"Ah.. Gara.. Maafkan aku, Aku hanya sedikit terkejut." Jawab Alice.
Yang Mulia Raja memperhatikan kedekatan Gara dan Alice, dia tersenyum.
"Alice nampaknya telah mengenal Gara.." Tanya Yang mulia Raja.
Gara diam tidak berkomentar apapun.
"Betul Yang Mulia, Saya telah bertemu dengan Gara beberapa kali." Jawab Alice dengan tenang.
"Dilihat dari caramu memanggil nama, sepertinya kalian sangat dekat? bukan begitu?" tanya sang Raja.
"Gara memintaku memanggil namanya Yang Mulia.." Alice masih menjawab dengan tenang.
"Apakah Nona Alice tau siapa Gara?" tanya Yang Mulia Raja kembali.
"Betul Yang Mulia, Saya tau bahwa Gara ada seorang vam.." Alice segera menutup mulutnya.
Mendengar itu yang mulia Raja hanya tertawa.
Alice bingung dengan tingkah Raja. Diam-diam Raja melirik Gara anaknya, Gara terlihat malu dan pura-pura tidak mendengar apapun.
"Baiklah Alice, untuk saat ini berdansa lah bersama Gara. Besok kereta kuda akan menjemputmu kembali." Raja kemudian turun untuk menyambut tamu pesta.
Gara dan Alice saling berpandangan, Gara menyadari ada sepasang mata yang mencurigakan terus memperhatikan gerak-gerik Alice. Dengan tetap tenang Gara menggandeng Alice untuk turun dan berdansa bersamanya.
Setelah sampai dilantai dansa, Gara dengan sopan meminta Alice untuk berdansa bersamanya. Alice menerimanya dengan senang hati.
Sejak dulu Alice sudah terbiasa berdansa bersama kakaknya setiap ada perayaan, meskipun perayaan hanya didalam rumah tapi Alice benar-benar menikmatinya.
Setiap pergerakan Alice selalu diikuti oleh pandangan mata perempuan-perempuan yang iri. Alice dapat merasakan puluhan mata menatap punggungnya. Rasa panas menjalar dari ujung kaki sampai keatas kepalanya. Namun dengan penuh kasih Gara mengelus rambut Alice, menggenggam tangannya sehingga Alice tidak merasa tertekan.
"Alice, haruskah kita beristirahat?" tanya Gara.
"Baiklah.. kakiku rasanya pegal sekali." Jawab Alice.
Gara menggandeng tangan Alice dan berjalan keluar Aula. Gara mengajak Alice ke Gazebo samping Aula. Alice duduk dan Gara mengambilkan sebuah minuman untuk Alice.
"Gara.. sejak tadi aku ingin bertanya, sedang apa vampire sepertimu berada diistana? apakah Kau berniat menculik seseorang untuk sarapan?" tanya Alice penasaran.
Gara hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa menjawab pertanyaan Alice. Dia kesal Gara tidak menjawab pertanyaan nya segera.
Gara bingung, apakah selama ini Alice hidup dalam Guha? mengapa dia tidak tau apapun tentang keluarga kerajaan, dan terlihat sangat ketakutan ketika melihat Vampire seperti dirinya.
"Alice.. apakah kau tidak pernah menonton TV? " tanya Gara.
"Tidak, Bibi tidak mempunyai satupun dirumah." jawab Alice. Gara kaget, dia tidak menyangka Alice benar-benar tidak tahu tentang dirinya.
"Dan Alice, apakah Kau punya HP?" tanya Gara. Kemudian Alice mengeluarkan sebuah HP miliknya.
"Alice, mana layar HP mu?" tanya Gara.
"Gara..! apakah Kau menghinaku?? ini HP ku, Aku bisa menelepon dan mengirim pesan, memang apa yang kurang?
"Dan Kau tau, Aku bahkan bisa mendengarkan MP3 disini." Jawab Alice kesal.
Gara tidak tahu bahwa Alice benar-benar tidak tau apa-apa tentang dunia yang sudah berubah.
"Alice.. kau sekolah dimana?" Tanya Gara.
"Gara.. mengapa kau bertanya hal seperti itu? dari kecil aku sekolah dirumah dan tidak pernah keluar rumah sendiri, akupun tidak punya teman asal Kau tau." jawab Alice.
"Mengapa?" tanya Gara penasaran.
"Mengapa kenapa? Aku baik-baik saja, Aku juga lebih senang dirumah bersama Bibiku." Jawab Alice.
"Lalu Alice, apakah kau sekarang kesini sendiri? " Tanya Gara untuk terakhir kalinya.
"Hmm yaa aku kesini sendiri?" Alice bingung dengan jawabannya sendiri.
Gara merasa curiga dengan keadaan Alice, namun dia tidak mengungkapkan kecurigannya. Tak lama setelah mereka duduk cukup lama, datanglah seseorang menyapa.
"Selamat malam ladies.."
Pria itu mengangkat tangan Alice dan menciumnya. Alice merona, pipi nya berubah menjadi merah.
Kemudian pria itu merasakan hidungnya mencium sesuatu yang berbeda, rasa manis yang menggoda, pandangan matanya naik ke mata Alice. Dari jarak sedekat itu dia benar-benar harus bertahan. Namun dia penasaran mengapa Gara sanggup bertahan.
"Eric.. apa yang kau lakukan? " tanya Gara.
"Kaka, mengapa Kau tidak memperkenalkan kami? " Jawab Eric.
Alice mendengarkan pembicaraan Gara dan Eric, Alice medengar bahwa Eric memanggil Gara Kakak. Eric adalah seorang lelaki berambut pendek hitam dan ada sedikit rambutnya yang berwana perak. Matanya berwarna hijau dan senyumnya terlihat menawan.
Tak lama kemudian Eric mendekat ke arah Alice.
"Nona Alice.. kau sangat cantik, tubuhmu mengeluarkan aroma yang sangat memikat.." Eric merayu Alice.
Alice terlihat malu-malu, pipinya merona merah.
"Terimakasih Tuan Eric.." Balas Alice.
"Nona jangan sungkan seperti itu, panggil saja saya Eric." Jawab Eric
Alice hanya tersenyum sopan.
"Kakak, bagaimana kau bisa tahan berada didekatnya seperti ini? Aku yakin kau sudah tidak sabar ingin menghisap darahnya yang manis." Tanya Eric pada Gara yang sejak tadi memperhatikan Alice.
Gara diam tidak menjawab, matanya memancarkan rasa kesal dan marah. Eric tau dia harus cepat pergi dari hadapan mereka.
"Baiklah.. baiklah.. sampai berjumpa lagi Nona Alice, saya permisi."
Setelah itu Eric masuk kedalam Aula dan menghilang.
"Sepertinya Eric cukup baik Gara.." Ujar Alice.
"Jangan dekat-dekat dengannya Alice, aku memperingatkan. Kau hanya butuh Aku." Jawab Gara.
Alice tidak mampu melihat Gara, dia yakin wajahnya seperti tomat busuk sekarang.
"Apakah Aku sudah mengatakan bahwa hari ini Kau terlihat sangat cantik?" tanya Gara.
"Apa yang kau katakan? Aku memang selalu cantik setiap hari!!" Alice menjawab asal. Pipinya sangat merah dia tidak bisa menyembunyikan wajahnya lagi.
Gara sengaja menggoda Alice, dia sangat senang melihat Alice malu-malu seperti itu.
Udara diluar cukup dingin, dengan sopan Gara membuka jasnya dan menutupi punggung Alice yang terlihat kedinginan. Alice melihat ke arah Gara dan tersenyum.
"Terimakasih.." Alice berkata pelan.
Gara hanya tersenyum, Gara meraih tangan Alice dan menggenggam nya dengan lembut.
Pemandangan dari atas memperlihatkan keindahan kota yang menakjubkan. Terlihat lampu-lampu yang berkelap-kelip, bintang-bintang terlihat sangat jelas dan indah. Udara yang segar dan lelaki tampan yang duduk disebelah Alice.
"Sungguh pemandangan yang menarik." Ucap seseorang dalam kegelapan.
Dia memerhatikan Alice dan Gara yang sedang duduk di Gazebo. Dia tersenyum bahagia menyaksikan dua orang tersebut. Tanpa mengeluarkan suara sekecil apapun dia pergi menghilang.
padahal ceritanya mantaaaaaaaf ...aku suka aku ssuka
lanjuuuuuuut thor sampai keistimewaan si kembar di perlihatkan .
keluarkan imajinasimu yg rrrruuuuuuuuuaaaaaaaaaaarrrrr biasaaaaaaaah ...
akuu tunguuuu...