Cerita ini berkisah tentang perjalanan cinta sang dokter cantik dan pria tampan berpangkat kapten , jatuh cinta diantara desingan peluru dan tebalnya debu di sebuah daerah konflik antar negara .
Lebanon Indonesia adalah saksi perjalanan kisah Cinta di Selamat Pagi Kapten
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lavender_fla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Is Back
Kamu adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan padaku. "
_______________________________________
Setelah acara pernikahan dan Ngunduh mantu , Guntur membawa Dini ke Bali untuk menghabiskan masa libur mereka yang tinggal 4 hari .
Menikmati keindahan alam pulau dewata bersama orang tercinta terasa sangatlah berbeda bila dinikmati bersama teman - teman , karena saat bersama orang tercinta apapun yang dilihat dan dimana pun mereka lakukan jadi terasa lebih indah dan romantis .
Selama di Bali , mereka memilih menginap di daerah Seminyak dan bungalow tepi pantai menjadi pilihan pasangan baru ini untuk menghabiskan waktu libur mereka.
Menikmati senja disore hari adalah hal yang sangat disukai Dini.
Dengan bertelanjang kaki menikmati hangatnya pasir putih dan jilatan air laut yang menyapu bibir pantai , dengan jari tangan yang saling tertaut menambah rasa cinta membuncah hingga kepermukaan membuat wajah-wajah yang biasanya terlihat kaku menjadi mudah tersenyum , wajah yang ceria semakin ceria dan hati yang dingin mulai memghangat .
Guntur mengandeng tangan Dini saat menyusuri pantai sesekali mereka saling melempar tawa dan pelukan hangat juga kecupan singkat .
" Selama disini , mas liat kamu kok cuman main dipinggir pantai saja ? Memang tidak ingin main air sedikit lebih jauh ."
Dini hanya tersenyum tipis dan mengeleng pelan , meletakkan kepalanya didada bidang Guntur dan melingkarkan tangannya dipinggang pria itu membalas pelukan Guntur dibahunya saat mereka memutuskan untuk duduk diatas pasir yang hangat .
" aku takut mas ."
" Takut ? Takut apa ?." Guntur menunduk untuk bisa menatap wajah istrinya .
" Aku takut tidak bisa melawan gelombang ."
" Kenapa , memangnya kamu tidak bisa berenang ?."
Dini terkekeh kecil dan membalas tatapan Guntur .
" Ya bisa lah mas , aku bisa berenang dan guru renang terbaikku adalah mas Brama , sewaktu kecil aku sangat suka bermain air dipantai , tapi sejak peristiwa naas itu , aku jadi takut saat melihat gelombang yang menggulung dan tinggi ."
" Kejadian apa yang membuat kamu takut ?."
" Mama ."
" Mama ?." Guntur membeo ucapan Dini , dan Dini mengangguk untuk menguatkan.
" Iya mama , waktu itu kami sedang liburan dipantai Parangtritis , dan ternyata itu liburan terakhir kami bersama mama dan liburan terakhir aku bersama keluarga ."
Guntur diam mendengarkan sementara Dini mencoba mengambil banyak oksigen untuk melonggarkan dadanya yang tiba - tiba sesak .
" Mama meninggal setelah berupaya menyusul aku , mas Brama dan mbak Gendis anak bude Hanum yang berenang terlalu jauh , awalnya hanya gelombang kecil saja namun tiba - tiba gelombang yang cukup besar menyapu kami , aku dan mas Brama berhasil diselamatkan papa tapi mama yang terlepas dari kami terseret gelombang bersama mbak Gendis ."
" 3 jam tim sar mencari mereka walau akhirnya mereka ditemukan dalam kondisi meninggal dunia , aku hanya bisa diam saat tubuh mama dimasukkan kedalam kantong mayat dan aku hanya bisa diam saat melihat jenazah mama terbaring didalam peti mati yang secara perlahan diturunkan keliang lahat ."
" Rasa bersalah membuat airmataku tak mampu aku keluarkan untuk mengepresikan rasa kehilanganku terhadap wanita yang sangat berharga dalam hidupku , rasa bersalah dan penyesalan yang sangat besar menekan rasa sedihku dan hingga seminggu setelah mama dimakamkan aku masih belum bisa menangis seperti halnya seorang anak yang ditinggal pergi ibunya ."
" Aku baru bisa menangis saat papa membawa tante Hani kerumah kami 1 bulan setelah kepergian mama dengan seorang anak perempuan yang lebih muda tiga tahun dari aku ."
" Dan saat itulah aku baru mengerti perkataan bude Hanum dan Eyang uti tentang mama , kalau mama pergi dengan membawa rasa sakit hatinya , ternyata mama sudah diduakan oleh papa sejak aku berusia 2 tahun , aku tidak mengira senyum dan tawa ceria mama selama yang aku lihat ternyata hanya kamuflase dari kesedihan dan kekecewaannya , mama begitu kuat menyimpan itu semua dihatinya , hingga keluarganya saja tidak tau cerita didalam rumah tangga mereka ."
" Waktu itu mama memang sering sakit dan harus opname tapi semua hanya tau kalau mama dirawat karna penyakit sesak nafas dan hipertensinya saja namun siapa sangka ada rasa sakit lain yang dia tahan dan itu yang lebih menyakitkan ."
Dini tak kuasa menahan airmatanya ,Guntur menarik kepala Dini kedalam pelukannya , dan menepuk bahu wanita itu lembut .
" Menangislah kalau itu bisa membuatmu lega, mas akan selalu ada disisimu ."
Dini mengangkat kepalanya dan berusaha tersenyum diantara airmatanya .
" Makasih mas , mas sudah bersedia jadi sandaran Dini ."
" Tentu saja , tampa kamu minta mas akan jadi sandaran kamu , bahu dan dada mas kuat kok nahan tubuhmu ."
Guntur menyentil ujung hidung Dini dan dibalas dengan senyum yang sepertinya hanya diperlihatkan didepan Guntur saja .
Guntur mencium kening Dini dan mengecup bibir istrinya itu hangat.
" Oke my Queen , matahari sudah hilang , gimana kalau kita habiskan waktu malam ini dengan menikmati malam di Bali ."
" Ke Ubud ya mas lihat pertunjukan tari kecak ."
" Oke , honey." Guntur berdiri lalu membantu Dini berdiri membersihkan pakaian mereka dari pasir yang menempel ,lalu berjalan bergandengan menuju hotel tempat mereka menginap untuk menyewa mobil yang bisanya disiapkan oleh pihak hotel .
Dan Dini sangat menikmati sajian luar biasa dari para penari, namun dia pun sempat menyembunyikan wajahnya di lengan suaminya saat penari dengan kostum barong muncul dari kegelapan.
Dan Guntur tentu saja terhibur dengan sikap manja dan polos istrinya.
*****
Setelah menikmati liburan pasca akad nikah , Guntur dan Dini kembali disibukkan dengan aktifitas mereka masing-masing yang cukup padat.
Seperti yang dikatakan Guntur saat lamaran , setelah menikah dia kembali ditugaskan keperbatasan Indonesia Selama 5 bulan dan Dini sendiri kembali disibukkan dengan jadwal Visit dan konseling pasien juga kegiatan operasi.
Sejak awal menetapkan pilihan hatinya, dia sudah paham dan sadar resiko memjadi istri seorang prajurit yang harus rela berpisah dengan suami karena tugas negara.
" Dokter Dini , info dari management ada program Dokter untuk daerah terdepan , dan kali ini sasarannya diwilayah timur Indonesia ."
Dokter Syifa yang baru selesai jadwal visit pasien menjajari langkah Dini dan Monika menuju kafetaria rumah sakit .
Dini mengangguk mengiyakan pernyataa. Syifa tadi , ketiga wanita cantik itu memutuskan untuk duduk di bangku kayu panjang didekat taman .
" Dokter pesen apa ? Biar skalian kami pesankan." Rianty yang baru datang bersama Camelia menawarkan Diri , setelah menyebutkan pesanan mereka , Rianty ditemani Camelia menuju ke meja pesanan , lalu kembali dengan membawa minuman dan makanan kecil ditangan mereka .
" Syifa mau ikut program itu ? Kebetulan disana sangat membutuhkan dokter anak juga kandungan ." ucap Dini setelah membalas pesan Guntur di ponselnya.
" Kalau dokter Dini sendiri gimana ?."
" Masih belum tau , karena mas Guntur juga masih tugas luar daerah , sebenernya pengen banget bisa ke sana terutama ke Papua ."
" Tapi dok , sebagian wilayah disanakan masih sangat minim fasilitas umum , dan infonya penduduk disana juga masih banyak yang belum membuka diri ke orang luar ." Monika menambahkan , Dini tersenyum tipis .
" Ya karena hal itu makanya masuk dalam program daerah terdepan dan tertinggal , bila kita yang berasal dari kota dikirim kesana tujuannya untuk bisa membuka akses pembangunan dan kesehatan masyarakat setempat agar mereka juga bisa merasakan kemajuan baik tekhnologi maupun pengetahuan seperti mereka yang berada di Kota. "
Monika mengangguk sebelum melanjutkan kalimatnya .
" Tapi disana sering banget terjadi kerusuhan dan perang antar suku loh dok ."
" Ya setiap kerusuhan ataupun perang antar suku pasti kan ada sebabnya , tidak di Papua saja hal itu terjadi , diJakarta yang kota modern saja tawuran antar warga masih sering ada kan ."
" Bener banget dokter Dini , dua hari yang lalu saya sempat kejebak macet karena ada tawuran di daerah Salemba ." Camelia ikut berkomentar membuat yang lainnya mengangguk .
Mereka lalu menikmati makan siangnya sampai Monika bertanya yang membuat Dini tersedak .
" Jadi gimana nich program baby moonnya berhasil ngga din ,pasti terjangan pak Kapten luar biasa kan ?."
" Uhuk uhuk uhuk ." Dini langsung menyambar botol air mineralnya , sementara Syifa menepuk - nepuk punggung Dini pelan .
" Kamu ini Mon , klo nanya yang begituan jangan pas makan donk ." omel Syifa sembari mengulurkan tisu ke Dini .
Monika hanya. Nyengir mendengar omelan Syifa.
" Sorry , sorry dok ! Keceplosan ."
Dini mengangguk setelah menormalkan pernafasannya dan menyeka keringat dikeningnya .
" Insya Allah , dia akan datang pada saat yang tepat , Saya dan Mas Guntur tidak menunda , hanya saja jika dilihat dari kesibukan kami , rasanya tak mungkin dalam waktu dekat ini ."
" Mudahan Allah segera memberikannya ya Dok , baby mungil yang lucu dan tampan pasti gemesin banget dech ." ucap Rianty dengan mimik gemesnya .
" Kamu kenapa ngga cepetan aja nyusul , tarik Devian ke penghulu buat cepet halalin kamu trus buat dede gemesnya ." seloroh Monika membuat yang lain tertawa .
" Emang bikin degem kayak bikin donat , bisa langsung jadi ya ." balas Rianty .
" Ya kali aja , kan ada tuch yang begitu perang pertama langsung jadi degem ." Camelia ikut membantu Monika , Rianty yang merasa terbully langsung menonyor kening Camelia .
" Sudah becandanya , waktu isturahat sudah habis , ntar lagi rapat kan Fa ." lerai Dini sembari berdiri , Syifa mengangguk mengiyakan .
****
Sementara hari itu diposko keamanan perbatasan terlihat sedikit ramai karena ada kunjungan dari beberapa masyarakat setempat yang habis menyeberang dari negeri tetangga .
Guntur tampak duduk dikursi kayu bawah pohon mahoni menikmati secangkir kopi yang barusan dia buat
Senyumnya merekah saat membaca obrolannya dengan sang istri saat membahas dedek gemes .
" Senyum - senyum sendiri ngga takut kesambet kapt ." tegur Devian yang langsung duduk disebelah Guntur mencoba mengintip kelayar ponsel sang kapten , Guntur yang melihat itu langsung menutup ponselnya dan menyimpannya disaku celana dinasnya .
" pelit , aku kan juga pengen liat apa sich yang diobrolin dua makhluk kutub seperti kalian berdua ."
" Mau tau aja kamu , ntar kamu contek lagi ." sahut Guntur kembali meminum kopinya yang masih mengepulkan asap .
" Ihhh ge er , lagian apa asiknya pembicaraan dua mahkluk dingin kayak kapten dan dokter Dini , yang ada malah membosankan ."
" Itu buat kamu tapi buat aku nga tuch ." Guntur mengangkat bahunya .
" Kapt jadwal kepulangan kita nga dimundurkan lagi kan ."
" Sepertinya tidak , kenapa sudah kangen berat sama Rianty ."
" So pastilah , tapi ada yang lebih penting dari rasa kangen , aku mau ngelamar dia dan orangtuaku sudah setuju ."
" Syukurlah semoga lancar ." Guntur menepuk bahu Devian dan beranjak untuk masuk ke barak .
****
Tidak terasa waktu 6 bulan sudah terlewati dari jadwal awal 5 bulan masa tugas yang harus diselesaikan kini saatnya untuk pulang kembali kerumah.
Pagi itu Guntur dan pasukannya baru saja tiba dibandara Halim PerdanaKusuma dengan menumpang pesawat angkut Hercules .
Setelah melapor ke Komandan satuan Guntur bergegas untuk pulang kerumah , meletakkan semua barang bawaannya dan mengganti seragam Dinasnya dengan pakaian kasual .
Lalu segera menuju kemobilnya untuk menjemput istri tercinta .
Sebelum kerumah sakit , Guntur menyempatkan diri mampir ke toko kue untuk membelikan Macaroon kesukaan Dini , saat kakinya akan melangkah keluar toko , suara wanita menghentikan langkahnya .
Tampak seorang wanita berjalan mendekat kearah Guntur , yang berdiri mematung .
Tatapan mata Guntur dingin dan tampa senyum .
" Apa kabar pak tentara , kelihatannya anda terburu - buru ."
" Iya saya memang terburu - buru , ada apa ?."
" Dingin banget , apa seperti ini caramu menyapa kawan lama ." sahut Wanita itu berpura - pura kesal lalu menarik tangan Guntur untuk duduk dikursi yang ada di kafe and cookies shop itu.
" Ada apa , bukannya kamu di Milan ." Nada suara Guntur masih tetap datar dan dingin .
" Dulu tapi sekarang tidak , kami kembali ke Jakarta ."
" Kami ?." Guntur membeo .
" Ya , kami ! Aku dan Giselle ada disini , dan Giselle sangat ingin bertemu dengan kamu ."
" Ada apa dia ingin bertemu saya ."
" Hey ..! Kenapa nada bicaramu ketus seperti itu ." wanita didepannya tertawa sementara Guntur hanya diam.
"Tentu saja dia ingin bertemu kamu , biar gimana pun kamu pria yang dicintainya ."
" Bulshit , mencintai bagaimana dengan kabar suaminya ? Bukankah mereka masih menikah ."
"Tidak lagi , Roland suami Giselle meninggalkannya disaat dia terpuruk ."
" Kenapa ?."
" Persaingan model di Milan sangat keras , dan model - model cantik dan muda bermunculan seperti jamur dimusim hujan , kami kalah bersaing dengan mereka dan parahnya Roland malah terjebak hubungan dengan seorang model baru yang menurut Roland jauh melebih Giselle ."
"Lalu untuk apa kamu menceritakan ini padaku ."
" Untuk memberi tahu kalau selama inj cuman kamu yang ada dihati Giselle dan dia sangat ingin kembali padamu dan meminta maaf ."
" Itu sudah tidak perlu ." Guntur berdiri dari duduknya namun wanita didepannya menahan lengannya .
" Tunggu Gun , bukan karena masih mencintaimu yang membuat Giselle pulang ke Indonesia tapi juga karena penyakitnya , dia ingin menghabiskan sisa usianya yang tak lama lagi bersamamu , paling tidak dia ingin mati dipelukanmu ."
Guntur menatap wanita itu tajam , cerita drama apa lagi yang sedang mereka mainkan .
" Maaf saya sudah ditunggu , permisi ." kali ini Guntur tak bisa ditahan lagi , pria itu dengan cepat berjalan keluar menuju dimana mobilnya diparkir , tujuannya secepat mungkin sampai dirumah sakit sebelum istrinya pulang .
Giselle kembali ke Jakarta , mau apa dia sebenarnya , Guntur menggelengkan kepalanya menepis bayangan wanita yang pernah bersamanya dulu .
Tidak dia hanya masa lalu , dan sekarang dia sudah memiliki masa depan bersama wanita lain yaitu Priandini istrinya .
****