"Aku bukan dalang dari kematian orang tuamu"
Diasuh oleh kedua orang tua orang lain sejak kecil karena kematian orang tuanya, namun anak dari orang tua asuhnya mencintainya sehingga mereka menjadi sepasang kekasih, hubungannya mereka sempurna karena mendapatkan restu dari orang tuanya.
Namun, hal buruk menimpa keluarganya, tiba-tiba seseorang datang ke rumahnya dan membunuh kedua orang tuanya, dan mengatakan kalau ini adalah Siska, salah satu anak angkatnya.
Hal ini membuat Devan (anak kandungnya +kekasih Siska sendiri) menjadi membencinya, sudah berulang kali Siska katakan bulan dia pelakunya namun Devan tak pernah percaya.
Penuh misteri, apakah kebenarannya akan terungkap, siapakah pembunuh yang sebenarnya?
Akankah Devan terlambat?
Mampukah Siska tetap bertahan di sisi Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naaaaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadarlah
stelah mengurus administrasi rumah sakit untuk Devan, Reyhan segera bergegas ke ruangan tempat Devan
Sesampai nya di sana Reyhan menemukan Siska yang ter duduk lemah sambil menangis tubuh Siska benar-benar sangat kotor, dengan banyak nya darah Devan yang masih menempel pada tubuhnya.
Reyhan menghampiri Siska dan mencoba menenangkan nya
"Siska......tidak apa, jangan siksa diri mu sendiri, aku yakin Devan akan bertahan" Reyhan mencoba menenangkan Siska walaupun sebenarnya dirinya sendiri juga masih sangat syok dengan kejadian ini, dia sendiri tidak menyangka temannya akan mengalami hal sebesar ini, bahkan dia masih ingat ketika Devan terdengar sangat khawatir saat dia berbicara di telpon tadi
"Hiks.......ini semua salah ku, kumohon maafkan aku.....hiks.....hiks......"
"Aku akan menggantikan posisi Devan jika Devan kenapa-kenapa"
"Aku salah dari semua hal yang terjadi di sini, benar kata Devan aku wanita pembawa sial"
"INI SALAH KU" Siska tak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri, dia merasa benar-benar seorang wanita pembawa sial, dia merasa hanya bisa membuat orang-orang di sekitarnya menderita dan tersiksa.
"Tidak Siska.... kumohon jangan begini"
"Aku pastikan Devan akan sembuh, dan akan aku cari pelakunya se segera mungkin"
"Jangan duduk dilantai, duduklah di kursi" Reyhan lalu membantu Siska untuk berdiri dan duduk di kursi yang sudah di sediakan di rumah sakit.
"Pulanglah dulu dan bersihkan diri mu" usul Reyhan karena diri nya merasa khawatir melihat keadaan Siska yang berantakan.
Namun Siska menanggapi omongan Reyhan hanya dengan menggeleng kan kepala nya, dia tidak ingin meninggalkan Devan, dia ingin menemaninya melihatnya siuman dan akan langsung meminta maaf padanya.
"Kalau begitu, tunggulah disini aku akan membelikan mu baju ganti dan beberapa makanan" Reyhan lalu berdiri dan meninggalkan Siska, namun Siska menghentikan langkahnya.
"Tidak perlu repot-repot, aku tidak apa, aku baik-baik saja" kata Siska lemah ..
"Bagaimana kau mau menjaga Devan dengan ke adaan seperti ini? Bagaimana kalau nanti kau sakit?"
"Sudahlah, aku teman Devan, kau tak perlu merasa tidak enak"
"Tunggulah disini sampai aku kembali, tenangkan dirimu" Reyhan lalu berlari kecil meninggalkan Siska untuk membeli pakaian ganti untuk Siska dan beberapa makanan.
"Aku akan menjagamu Siska, selama Devan masih belum bisa melindungi dirimu aku akan menjaga mu".
"Aku tak akan pernah membiarkan orang lain merebut mu dari Devan".
"Kau dan Devan pantas dan layak bersama" Reyhan berjanji akan menjagakan Siska untuk Devan sampai Devan sembuh, dia benar-benar kasihan pada sahabatnya itu.
Begitu banyak rintangan yang sudah di laluinya, apalagi baru-baru ini untuk pertama kalinya Reyhan melihat Devan menangis sambil menceritakan kehidupannya sekarang yang sangat buruk dan tak menentu seperti ini .
Lelaki kuat yang pernah ia temui kini berbaring lemah di rumah sakit dengan seseorang yang dia inginkan berharap dirinya segera sembuh dengan perasaan penuh bersalahnya
Beberapa saat kemudian, Reyhan kembali sambil membawa beberapa kantong plastik.
"Siska gantilah dulu bajumu, agar kau tak sakit"
"Setelah itu kita makan dulu, aku sudah membawakan makanan untuk kita" mendengar perkataan Reyhan Siska hanya mengangguk dan mengambil pakaian yang sudah di belikan Reyhan dan berjalan pergi menuju kamar mandi.
Sepeninggalan Siska Reyhan berdiri air matanya mengalir begitu saja mendekati pintu tempat Devan di rawat, melihatnya dari luar, ber doa semoga semuanya baik-baik saja.
"Dev.....sadarlah ada orang yang setia menunggu mu di sini"