Mutiara. Gadis SMA yang hanya hidup bersama dengan Ibunya.
Mereka harus dipaksa untuk tinggal secara sembunyi-sembunyi dari kehidupan kota karena suatu hal.
Secara tak sengaja, Mutiara mengenal seorang pria yang lebih tua 10 tahun dari usianya dari Dunia Maya yang bernama Bayu.
Banyak hal yang mereka lalui bersama hingga lambat laun, Mutiara menaruh hati kepada pria tersebut.
Tapi, tanpa Mutiara tau ... Ternyata Bayu telah memiliki seorang kekasih yang bernama Anna yang saat ini sedang mengejar cita-citanya di kota lain.
Takdir beberapa kali mempermainkan Mutiara dan juga Bayu.
Mereka mengalami banyak masalah selama hidupnya.
Lebih parahnya, Mutiara mengetahui sebuah rahasia yang tidak pernah ia duga sama sekali.
Apalagi orang yang Mutiara sayangi selama ini, ternyata tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengannya.
Bagaimana kisah Mutiara dan Bayu selanjutnya...?
Akankah Mutiara bisa menerima semua takdir yang Tuhan berikan kepadanya...?
Semua akan terjawab di cerita ini ...
Selamat membaca ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pe_na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kekecewaan Anna.
SELAMAT MEMBACA SEMUANYA...
***
Mutiara sedang duduk bersama ibunya disebuah taxi yang akan membawanya menuju ke bandara.
Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain tak ingin terlepas walau sedetikpun.
Ara sesekali mengamati wajah ibunya memastikan bahwa tidak ada kesedihan di sana.
Dia akan benar-benar meninggalkan negara ini untuk beberapa tahun.
Ara mengamati ponselnya. Menulis kata demi kata dan mengirimkan kepada kedua sahabatnya.
[Aku berangkat ya ... sampai ketemu lagi, Aku sayang kalian...]
Begitu bunyi pesannya.
Tak menunggu lama sebuah pesan balasan masuk ke ponselnya.
Dina
[Hati-hati di jalan, kabari aku kalau sudah sampai ... jaga kesehatanmu disana, aku juga sayang kamu Ara]
Siska
[Hiks ... aku sedih juga bahagia untukmu, sering-sering kabari aku ya ...Hati-hati, jangan tidur terlalu malam, love you ...]
Ara pun membalas pesan kedua sahabatnya tersebut sambil perjalanan menuju ke bandara.
Hampir 30 menit, taxi itu pun sampai.
Ara dan Ibunya turun sambil membawa dua koper besar berisi barang-barang Ara.
Tangan Ara semakin dingin. Dadanya bergemuruh hebat. Ini adalah pertama kalinya ia pergi tanpa seorangpun yang menemaninya.
Ada perasaan takut juga sedih meninggalkan ibu untuk waktu yang lama.
Tapi ini demi cita-citanya, Ara harus kuat.
Karena ia tau, tidak ada yang instant di dunia ini.
Apapun harus melalui proses yang berat.
Sama halnya dengan emas, itu melalui proses yang panjang untuk menjadi sebuah perhiasan yang mahal.
"Ara pergi ya Bu ..." ucapnya dengan perasaan sedih.
"Iya, Ibu akan menunggu Ara. Semangat sayang!"
Ara menghambur memeluk tubuh itu. Membau wangi khas ibunya sebagai kenangan sebelum ia benar-benar pergi.
"Ara bakal merindukan ibu ..."
Isak tangis mulai terdengar dari mulut gadis itu.
"Iya, ibu juga nak ... jaga dirimu baik-baik. Jangan makan terlambat ..."
Ara mengangguk. Ia mulai berjalan masuk sambil membawa kopernya.
Ia sesekali menengok ke belakang, memastikan bahwa ibunya baik-baik saja ...
Ara ...
Ara menengok ke belakang lagi. Tadi samar-samar ia mendengar seseorang memanggilnya.
Tapi tidak ada siapapun yang ia kenal.
Ara semakin masuk ke dalam bandara.
Membawa perasaan aneh di dadanya.
Ara ... ingatlah tujuan awalmu. Lupakan semua kenangan itu di negara ini. Tak perlu lagi membawanya ke negara yang kamu tuju ...
Ia menyemangati dirinya sendiri.
"Semangat!" ucapnya sebelum masuk ke dalam pesawat.
***
Anna duduk di kursi samping ranjang sambil pandangannya tak lepas mengamati wajah yang sejak kemarin ia khawatirkan.
Walaupun kata Dokter, Bayu akan segera bangun ... tapi hingga pagi kini pria itu tak kunjung membuka kelopak matanya.
Anna sangat merindukan suara Bayu. Rindu pria itu tersenyum manis ketika bersamanya.
"Bangunlah sayang ... sampai kapan kamu akan tertidur seperti ini?" ucapnya sambil terus mengelus jemari Bayu.
Bangunlah Bayu, kamu tidak sedang berpura-pura belum sadar karena menghindariku kan?
Walaupun hatiku sangat sakit saat mengetahuinya, tapi tak apa ... Aku sudah memaafkanmu ... Bangunlah ...
Anna kembali mengingat kejadian kemarin malam yang membuatkan terkejut.
FLASHBACK ON ...
"Pulanglah nak ... kalian pasti lelah," pinta Mama Ayu kepada Sinta dan juuga Anna.
"Tidak tante, biar Anna disini menemani tante ..." tolak Anna.
Ia berencana untuk tinggal di Rumah Sakit menemani Ibu Bayu.
"Saya akan menjaga Pak Bayu malam ini, silahkan Nona pulang dan beristirahat ..." Kini Doni lah yang bersuara.
"Lalu Mama pulang juga kan?" tanya Sinta kepada Ibunya. Ia tak mau ibunya itu kelelahan dan akan jatuh sakit nantinya.
"Iya, Tante juga ikut pulang ... Nanti saya kabari kalau Pak Bayu sudah siuman ..." pinta Doni kepada wanita paruh baya tersebut.
"Tolong jaga Bayu Nak Doni ..." pinta Mama Ayu.
Doni pun mengangguk. Sudah sepantasnya ia menjaga Bosnya yang sedang terbujur tak berdaya di dalam sana.
Anna, Sinta dan Mama Ayu akhirnya pulang.
Mereka mengendarai mobil yang diberikan Bayu kepada Sinta sebagai hadiah ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu.
"Kak Anna langsung aku antarkan pulang?" tanya Sinta sambil pandangannya menatap jalanan yang diterangi oleh lampu malam.
"Koperku masih di rumahmu Ta,"
"oh iya ya ... Yaudah kita ambil koper kakak dulu, nanti biar Sinta anterin pulang,"
Anna pun menyetujui hal itu.
Mobil mereka melaju membelah jalanan menuju ke rumah dimana keluarga Bayu tinggal.
Hampir 30 menit, mobil mereka telah sampai di depan gerbang.
Penjaga rumah itu segera membukakan gerbang agar mobil Sinta bisa masuk ke dalam dan terparkir rapi di Carport.
Anna, Sinta turun sambil menggandeng tangan Mama Ayu yang terlihat sangat lemah. Beliau seharian menangisi anaknya hingga tak mau makan apapun sejak tadi siang.
"Mama istirahatlah, jangan terlalu capek ..." pinta Sinta ketika mereka telah tiba di lantai dasar murah mewah tersebut.
"Iya, kalian hati-hati nanti ..."
Setelah mengatakan demikian, Mama Ayu berjalan menuju ke ruangan dimana kamarnya berada.
"Aku ke kamar mandi dulu ..." pinta Anna.
"Kamar mandi di kamar Mas Bayu saja Kak,"
Karena Anna akan lebih lama jika harus menuju ke kamar mandi biasa yang berada di ujung belakang rumah itu.
"Baiklah," jawab Anna.
Lagian ia juga takut harus menyusuri rumah yang sudah banyak lampu yang mati di setiap ruangan.
Anna menaiki anak tangga ke lantai dua dimana kamar Bayu berada.
Ia memang sudah hafal dimana letak kamar kekasihnya itu, walaupun hanya satu kali saja masuk ke dalam.
Membuka gagang pintu kamar itu, Anna perlahan masuk.
Gelap ... itulah yang Ana lihat pertama kali.
Anna memencet tombol di dinding dekat pintu untuk menghidupkan lampu dan menerangi ruangan tersebut.
Setelahnya berjalan menuju ke pintu yang berada di sudut kamar, Anna memasuki kamar mandi.
Anna juga sempat membasuh mukanya disana dan keluar. Ia berjalan menuju ke meja kaca tepat di depan ranjang Bayu untuk mengambil tissue untuk membersihkan wajahnya.
Saat Anna menatap cermin di depannya, tak sengaja ia melihat sebuah kotak di atas ranjang di belakangnya karena pantulan cermin tersebut.
Anna sangat penasaran dengan kotak tersebut.
Apakah itu paket yang Sinta dan Doni bicarakan tadi siang?
Karena penasaran, Anna mendekati benda itu sambil duduk di tepi ranjang.
Seketika mata Anna membulat dengan tumpukan foto-foto Bayu yang tersenyum sangat manis di berbagai moment.
Anna bertanya-tanya kapan foto itu diambil.
Memeriksa kotak tersebut, Anna kembali menemukan sebuah kalung berlian yang asing menurutnya.
Ia mengambil dan mengamati benda itu.
Kalung? ini perhiasan cukup mahal ... kenapa ada di sini?
Anna semakin kebingungan dengan apa yang ia temukan di kamar kekasihnya.
Apa yang terjadi saat dia berada jauh dari Bayu? itulah pertanyaan yang terlintas di benaknya saat ini.
Mengedarkan pandangannya, Anna melihat serpihan ponsel yang berserakan di sudut dinding kamar itu.
Ia sangat hafal benda itu. Ponsel milik Bayu.
Bukankah itu ponsel milik Bayu? kenapa pecah berkeping-keping seperti itu? Apa yang terjadi sebenarnya?
Anna merasakan sesuatu tidak beres disini.
Hal ini sama sekali bukan Bayu. Pria itu tidak pernah marah sampai membanting ponselnya sendiri.
Anna bangkit karena menemukan gumpalan kertas yang teronggok di dekat serpihan ponsel.
Ia penasaran dan akhirnya mengambil kertas yang sudah terbentuk seperti bola kecil.
Anna mencoba mengurai kertas itu dan membaca tulisan yang tertera di sana.
Deggg ...
Jantungnya seperti berhenti berdetak.
Tulisan di dalam kertas itu mampu menjawab semua pertanyaannya tadi.
Kenapa kamu tega melakukan ini kepadaku Bayu?
Kamu selingkuh di belakangku dengannya?
Tak terasa butiran air tiba-tiba jatuh dan membasahi ujung kertas itu.
Hati Anna sangat hancur. Ia kecewa dengan fakta yanng ia temukan disini.
Rasanya sakit di khianati seperti sekarang ini.
Anna sudah menjalin hubungan dengan Bayu cukup lama. Ia pun sudah sepenuhnya menjatuhkan cintanya kepada pria itu.
Tapi ... sepertinya semua yang ia lakukan tidaklah tepat.
Bayu telah membohonginya.
Anna terduduk di lantai sambil terisak tak berdaya.
Dunianya seperti hancur saat ini juga. Ia ingin marah tapi tak mampu...
Sedangkan Sinta yang sedang duduk di sofa ruang tamu merasa aneh karena calon kakak iparnya itu tak segera turun.
"Kenapa kak Anna lama sekali ya?" gumamnya seorang diri.
Sinta bahkan sesekali menatap ke lantai dua, tapi tidak ada pergerakan sama sekali.
"Apa dia kesasar? tidak mungkin ... Kak Anna sudah tau dimana letak kamar Mas Bayu. Atau aku naik saja ya?"
Setelahnya, Sinta benar-benar bangkit dari duduknya dan segera berjalan untuk mencari wanita itu.
Meniti anak tangga dengan sedikit tergesa dan kini telah berada di depan kamar sang kakak.
Perlahan Sinta membuka pintu itu dan sedikit mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan di dalam sana.
Sinta terkejut karena mendapati Anna sedang terduduk dengan tangis yang terdengar menyedihkan.
"Kak Anna? ada apa?" tanya Sinta tiba-tiba.
Sedangkan wanita yang dipanggil tak menjawab sama sekali sampai Sinta benar-benar menghampirinya.
"Siapa itu Ara? kenapa dia melakukan ini kepadaku..." lirih Anna berucap. Ia ingin meminta kejelasan tentang semuanya.
"Kak ..." Sinta terkejut bukan main.
"Kamu tau hubungan Bayu dan Ara kan? kenapa kalian menyembunyikannya dariku? apa salahku?" tangis Anna kembali pecah.
Sedangkan Sinta sangat bingung. Dia memang mengetahui kalau kakaknya dekat dengan gadis bernama Mutiara, tapi Sinta tidak tau kalau mereka mempunyai hubungan lebih dari itu.
"Maafkan aku kak, aku tak tau ..." Sinta merengkuh tubuh wanita di sampingnya untuk sedikit menenangkannya.
"Kenapa mereka tega melakukan ini kepadaku?"
Hanya itu yang Anna bisa tanyakan kepada dirinya sendiri.
FLASHBACK OFF.
Mengingatnya kembali membuat dada Anna kembali sesak.
Apalagi ia tidak bisa menanyakannya langsung kepada pria yang sedang berbaring tak berdaya di atas ranjang di depannya.
Padahal Anna ingin mendengar penjelasan Bayu, bahwa pemikirannya saat ini adalah sebuah kesalahan.
"Bangunlah sayang ..."
***
👍👍👍👍👍👍😍😍
bsgus Thor
saya tunggu cerita selanjutnya
👍👍👍👍👍👍👍
jan d campur aduk LU-AKU-KAMU
panggil ana sayang,panggil ara sayang,