Pernikahan yang berdasarkan untuk menghindari kesalahpahaman, hingga membuatku terpaksa harus menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan.
Pernikahan yang ku fikir akan menyelamatkan ku dari fitnah ternyata justru membuatku hidup dalam kesengsaraan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35. Mulai Lelah
Di pemakaman tampak seorang wanita paruh baya dan seorang pria tampan tengah menatap dalam nisan yang sudah tertancap dengan kokoh di pemakaman itu.
Tangan putih yang tidak lagi kencang mengusap sesekali memeluk nisan itu. "Ayah, Ibu yakin rencana Tuhan akan indah untuk keluarga kita. Tapi sungguh Ibu tidak rela dengan keadaan anak kita saat ini. Tolong Ibu, Ayah. Bantu Ibu untuk menjaga dan melindungi Meisa dari mereka. Meisa anak yang baik, tidak sepantasnya kehidupannya selalu sakit seperti ini. Bantu Ibu, Ayah."
Begitu banyak Bu Nirmala mencurahkan isi hatinya pada suaminya itu. Tak bisa menutup juga ada pandangan yang menjelaskan begitu ia merindukan sosok sang suami yang kini sudah tak bisa lagi ia peluk dan lihat, kecuali hanya bisa merasakan kehadirannya di sisi.
"Bu, yang sabar. Semoga Meisa segera keluar dari penderitaan ini, yah." Aditya tak tega jika ia hanya berperan sebagai penonton. Akhirnya pria itu tertunduk mengusap punggung wanita yang tengah rapuh itu.
Tentu semua Ibu tidak ada yang rela jika berada di posisi Bu Nirmala. Aditya sebagai seorang pria pun merasakan ketidakadilan yang di lakukan Aldi pada sang istri.
Setelah cukup lama keduanya berada di pemakaman itu di temani sejuknya terpaan angin, akhirnya Bu Nirmala memutuskan untuk pergi dari sana.
"Bu, saya antar ke rumah sakit atau ke rumah?" tanya Aditya dengan sopannya. Tak lupa ia memberikan senyum yang begitu mampu menghipnotis wanita mana pun.
"Nak Aditya sangat baik. Ibu senang bisa kenal dengan Nak Aditya." tutur Bu Nirmala yang menatap Aditya penuh harap.
Bukan karena sosok yang tampan dan kaya, namun kebaikan Aditya sangat sangat bisa di rasakan begitu jelas oleh Bu Nirmala.
"Em...Ibu pulang sendiri saja. Terimakasih yah Nak Aditya sudah mau menemani Ibu kemari. Tapi Ibu harus segera mencari pekerjaan sekarang."
Sungguh perkataan Bu Nirmala membuat Aditya sangat terkejut. Kehidupan menantunya yang sudah berkecukupan membuat dirinya tak percaya. "Bu, Ibu mau kerja untuk apa? Apa Aldi tidak mau menanggung Ibu lagi?" tanyanya.
Bu Nirmala mengusap air mata yang jatuh di pipinya. "Bukan begitu Nak Aditya. Ibu hanya tidak mau lagi bergantung dengan pria yang sudah menyakiti hati Ibu dan anak Ibu. Aldi sudah bukan menjadi suami untuk Meisa saja, dia juga memiliki wanita lain. Sewaktu-waktu Ibu bisa saja tidak menjadi bagian dari hidupnya. Mulai saat ini Ibu harus bekerja keras untuk diri Ibu dan calon cucu Ibu."
Tanpa berpikir panjang, Aditya pun langsung meminta Bu Nirmala bekerja di rumahnya. "Baiklah kalau begitu, Ibu tidak perlu mencari pekerjaan. Ibu di rumah saya saja, Ibu kerja menemani Naina saja. Bagaimana, Bu?"
"Tapi Nak, Ibu tidak butuh uang untuk bersama Naina. Sungguh Ibu sangat menyayangi Naina." sontak Bu Nirmala di buat bingung dengan tawaran Aditya karena ia memang tulus dan ikhlas jika bersama Naina yang sudah seperti cucunya sendiri.
"Bu, saya akan sangat tenang bekerja jika Ibu yang menjaga Naina. Saya memberikan uang bukan untuk gaji Ibu. Anggap saja itu uang untuk Ibu saya sendiri. Ibu sudah sangat baik dengan keluarga saya. Bahkan Meisa juga. Saya begitu berhutangbudi, Bu. Ayo sekarang Ibu tidak memiliki kewajiban menolak. Ibu tinggal di rumah kami mulai sekarang."
Sungguh perkataan Aditya benar-benar di luar dugaan. Bu Nirmala tampak membungkam mulutnya. Aditya sudah menganggap dirinya Ibu, benar-benar pria berhati malaikat.
"Ayo, Bu. Kita ke rumah sekarang."
Mereka masuk ke mobil. Selama di perjalanan suasana hening. Bu Nirmala tampak menatap kosong gedung-gedung yang menjulang tinggi saat mereka lewati.
"Maafkan Ibu, Mei. Ibu tidak sanggup melihat rumah tanggamu dengan Aldi saat ini. Dan semoga dengan perginya Ibu. Kamu akan berubah pikiran mau meninggalkan suami mu. Ibu sangat tidak rela kamu mengabdikan diri pada pria seperti Aldi."
***
Waktu yang bergulir dengan cepat tak terasa telah sampai di mana langit yang biru nampak kemerahan. Menandakan malam akan segera tiba. Dimana waktu Diana harus menepati janji untuk bertemu pria yang menggilainya itu.
"Pah, Mamah jalan dulu yah?" Diana mendaratkan bibirnya di pipi kiri dan kanan sang suami.
"Hati-hati yah, Mah? apa Papah antar saja?" tawar Bimo sembari menaruh laptopnya di meja ruang tengah yang sejak tadi berada di pangkuannya.
"Tidak usah, Pah. Nggak enak sama teman-teman Mamah nanti. Dah Pah." Diana segera bergegas sebelum semakin banyak pertanyaan dan menimbulkan kecurigaan sang suami.
"Jangan malam-malam yah pulangnya." Bimo terdengar setengah berteriak karena sang istri sudah terlebih dahulu pergi sebelum ia selesai berbicara.
Tinggallah Bimo seorang diri di rumah itu tanpa menaruh kecurigaan sedikit pun pada istrinya.
Di hotel berbintang tampak seorang wanita yang sedang mengunjungi kembali sebuah kamar salah satu pelanggan di sana. Hentakan high heels terdengar berpadu dengan sepatu sneaker milik seorang pria yang tidak lain adalah Ale.
"Ale, singkirkan tangan mu." pekik Diana risih karena tingkah pria itu terlihat terlalu mencolok.
"Kenapa? kau milikku Diana. Mereka semua harus tahu jika seorang Ale adalah milik wanita yang cantik ini. Hem?" Ale tampak menempelkan kunci card kamar yang sudah ia pesan. Keduanya masuk ke kamar.
Wajah cantik Diana tampak datar, tidak ada ekspresi apa pun terlihat. Yang ada di pikirannya selama ini bagaimana agar ia bisa menghindari Ale.
Namun tanpa sadar pria itu kini sudah menjamah tubuhnya dengan sentuhan yang begitu lembut.
Usai melakukan hal itu, Ale dengan penuh perhatiannya membawa makanan untuk Diana ke atas tempat tidur. Ia paham jika Diana kelelahan melayani dirinya barusan.
"Ayo sayang, buka mulutmu." pintahnya.
"Sudahlah Ale aku ingin istirahat. Aku harus segera pulang."
"Iya makanlah dulu. Aku tahu kamu kelelahan. Iya kan?" Tangannya sudah menjulur ke arah mulut Diana. Tanpa penolakan Diana tentu menerima suapan itu.
Pizza yang di suap oleh Ale sengaja ia membuat bibir Diana belepotan hingga nampak saus di pipi wanita cantik itu.
"Cantik." puji Ale sembari mengeluarkan ponselnya. Beberapa kali terdengar suara kamera menangkap wajah wanita itu.
"Ale, apa yang kau lakukan?" pekik Diana kesal.
"Tidak ada." sahut Ale sembari terkekeh melihat hasil jepretannya barusan.
"Hapus. Hapus tidak?". Saat tangan Diana berhasil merebut ponsel milik pria itu tanpa sengaja ia mendorong tubuh Ale hingga keduanya terjatuh dan posisi Diana berada di atas tubuh Ale. Keduanya saling berpandangan.
Perlahan tangan Ale mencekam dagu Diana. "Wajah mu tetap cantik meski belepotan seperti ini."
Manik mata yang sedari tadi menatap dalam Ale mendadak membulat sempurna saat mendengar kata belepotan.
Ale mengarahkan layar ponsel itu pada Diana. "Ale!" teriak Diana yang ingin merebut benda itu lagi namun dengan cepat Ale menjauhkan hingga sukses Diana yang semakin menempel tanpa sengaja menempelkan pipinya di bibir Ale.
Wajahnya mendadak gugup, berbeda dengan Ale. Ia justru tersenyum menggoda. "Aku lebih suka pertemuan kita yang malam ini. Sepertinya kau mulai mencintai ku. Bahkan mencium ku saja tanpa ku suruh." ledeknya hingga sukses membuat Diana merona malu.
Ia menjauhkan tubuhnya dan menarik kasar selimut berwarna putih polos untuk menutupi tubuhnya yang tanpa busana. Namun tanpa di ketahui Ale dengan sigap kembali menarik selimut itu yang sukses melihatkan seluruh tubuh Diana tanpa sehelai kain pun.
"Kau!" hardik Diana yang berusaha merebut kasar selimut dan membalut tubuhnya. Diana bergegas berlari ke kamar mandi, "Aw." teriaknya saat selimut yang membalut tubuhnya membuat kakinya justru kesulitan melangkah dan jatuh.
Ale masih tersenyum menikmati tingkah konyol wanita di depannya yang masih tertelungkup di lantai tanpa mau melirik ke arahnya.
"Ale lepaskan selimutnya." sentak Diana yang menduga hal itu adalah ulah Ale.
"Ada apa Diana?" tanya Ale yang terkekeh melihat Diana saat kesulitan menarik selimut itu.
"Dasar berlagak bodoh lagi. Padahal sudah menahan selimut ku." makinya dalam hati. Sesaat Diana menoleh ke belakang, dilihat selimut itu ternyata masih terlipat di sela-sela kasur empuknya yang berlapis dua itu.
"Mau aku bantu?" tawar Ale.
Dengan penuh gengsi Diana berusaha menarik kasar selimut itu. Setelah berhasil ia berlari ke kamar mandi.
"Diana, kamu bodoh. Kamu mengapa bisa mempermalukan dirimu sendiri sih? ah!" Ia mengutuk kebodohan yang baru saja ia lakukan sembari menatap wajah polosnya di depan cermin. Yah make yang ia kenakan kini sudah hilang karena aksi mereka sebelumnya.
Cukup lama Diana berdiri menatap cermin itu, tanpa sadar bibirnya membentuk lengkungan dan menghasilkan sebuah senyum. Senyuman yang ia sendiri tidak tahu artinya.
Membayangkan kekonyolan dirinya di depan Ale sungguh memalukan sekaligus ada rasa bahagia tersendiri di sana.
***
Malam yang sudah semakin larut kini Diana memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Begitu juga dengan suasana di rumah sakit. Meisa tampak setia menunggu Aldi yang terbaring lemah di hadapannya.
"Mas..." panggilnya pelan.
"Iya, Mei. Ada apa?" tanya Aldi.
Jangan berpikir jika keduanya akan tenang sepanjang waktu. Bahkan sedetik pun Rere tidak akan membiarkan mereka berdua memiliki waktu bicara selama ia masih tidak terlelap.
Namun beruntung setelah lepas Isa, wanita itu sudah terlelap karena pengaruh obat. Namun Aldi, entah mengapa pria itu begitu kuat masih berjaga sampai saat ini.
"Setelah keluar dari sini kita di rumah kita saja yah?" bujuk Meisa yang enggan merelakan suaminya tinggal di rumah madunya.
"Tapi Mei, kamu sedang hamil. Aku seperti ini. Nanti biarkan Ibu saja yang menentukan yah?"
Deg
Bagaikan hati yang di hempas hingga hancur berkeping. Meisa merasa Aldi tidak ada ketegasan, meski benar alasan Aldi demi kandungannya. Tapi sungguh Meisa tidak rela jika suaminya akan tinggal di rumah madunya.
"Mas, aku tidak mau kamu tinggal di rumah dia. Kamu bilang dia cuman wanita yang kamu bantu kan? bukan istri yang sesungguhnya." bantah Meisa yang sudah mulai lelah bersabar.
"Mei, tunggu nanti. Lagi pula aku belum bisa keluar dalam waktu dekat kan?" Tanpa sadar Aldi sudah meninggikan nada bicaranya.
Meisa yang menatap nanar mata bulat suaminya mulai bergetar menahan tangis di hatinya. Tenang. Tidak ada lagi ketenangan di benak Meisa setelah mengetahui status dirinya yang di madu. Dan sekarang Aldi sudah berani meninggikan nada bicaranya yang selama ini tak pernah ia dapatkan.
Meisa tertunduk, buliran bening pun lolos di bajunya. Aldi sadar akan kesalahannya itu. "Mei, maafkan aku. Sebaiknya kita tidur yah. Ayo berhenti menangis. Sekarang peluk aku." Aldi mengusap air mata di wajah Meisa perlahan tanpa berusaha memberikan jawaban yang Meisa inginkan.
lanjut baca lagi lah
semangat thor 💪