**
Luna tak pernah bahagia dalam hidupnya. Ia selalu merasa, kesialan yang menimpa keluarganya disebabkan keluarga sepupunya, Tina dan Bianca. Ia bahkan harus bekerja sebagai bawahan ayah Tina. Ketika membuat sepatu untuk pernikahan Tina, Luna tidak sengaja bertemu dengan Ariel, si playboy yang suka mempermainkan wanita. Awalnya, Luna tak mau meladeni playboy tampan itu, hingga akhirnya dia luluh pada rayuannya.
**
Ariel memutuskan untuk tidak menganggap serius cinta sejak dikhianati oleh perempuan yang pernah dicintainya. Lalu ia bertemu Ayu, wanita misterius yang membuatnya penasaran karena sepertinya gadis itu tak jatuh dalam pesona rayunya. Namun, Ayu ternyata menyimpan rahasia besar tentang hidupnya, rahasia yang membuat Ariel harus mempertanyakan kejujuran wanita itu.
Setelah kebenaran terungkap, Luna--;yang semula mengaku bernama Ayu-- dan Ariel harus mempertanyakan apakah cinta sanggup menjadikan mereka orang yang lebih baik untuk satu sama lain.
**
Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Murniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Puluh Tiga
#BAB Sebelumnya...
Luna mendesis marah. "Keluarga mereka merampas semua yang aku punya!"
"Apa yang kamu punya?" sergah Ariel tiba-tiba. Membuat Luna kaget. Tidak pernah ia melihat Ariel penuh amarah seperti saat ini. "Kamu kehilangan keluargamu karena itu sudah jalan hidupmu. Keluarga mereka tidak pernah merampas. Mereka membantumu. Dengan siapa kamu bekerja sekarang? Mereka menganggap mu sebagai keluarga dekat mereka tapi apa balasan yang kamu berikan?"
"Mereka merampas seluruh kekayaan orangtuaku dan mengejekku!" raung Luna tidak mau kalah.
Mau tidak mau Ariel membalikkan tubuh dan mencengkeram lengan Luna, seakan ingin menyadarkan Luna dari pikiran buruk yang ia pelihara.
"Pakai akal sehatmu! Mereka membeli tanahmu. Mereka membantu kehidupanmu. Tidak pernah sekali pun Tina menghina mu. Bahkan dia memberimu hadiah ulang tahun itu dan kamu buang begitu saja..."
"Dia sengaja menyombongkan apa yang dia miliki untuk merendahkan dan memberitahu apa yang tidak aku miliki, Ariel!!!" teriak Luna memotong perkataan Ariel.
"Tina dan keluarga nya memiliki niat tulus dan yang tidak kamu miliki adalah akal sehat. Kamu tidak mau menyadari kekuranganmu dan menghabiskan seumur hidup mu dengan membenci orang yang salah. Pergilah berkaca dulu sebelum kamu menuduh mereka merebut apa yang kamu miliki karena mereka berusaha untuk menjadi lebih baik sedangkan kamu hanya menghabiskan waktu mengutuki orang lain."
Ariel melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Luna. Sebelum membuka pintu kamar, Ariel menoleh kepada gadis itu.
"Lihat dirimu sendiri! Pekerjaan rumah pun kamu tidak bisa. Kamu bahkan bekerja menggantikan posisi Tina di kantor milik Om Yudi. Jangan kamu sombongkan dirimu dengan sesuatu yang memang tidak pernah pantas menjadi milikmu!"
Mereka bertukar pandang selama beberapa saat sebelum Ariel akhirnya membuka pintu kamarnya.
"Bagaimana dengan..." Luna berbisik lirih, "... malam itu... kita... bagaimana denganku?"
Ariel mematung diantara pintu yang sudah sedikit terbuka. "Aku tidak peduli," desis Ariel sebelum akhirnya membuka lebar-lebar pintu kamar lalu melangkahkan kakinya keluar kamar.
*******
Luna menatap Tina yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Lalu tiba-tiba saja sebuah lengan melingkari pinggangnya. Ketika menengok untuk melihat, Luna menemukan Tante Laura sedang tersenyum lebar kepadanya. Saat ia berbalik sudah ada Bianca yang langsung menangkap tangannya yang masih menggenggam erat tali tas berisi sepatu pesanan Ariel.
Meski begitu, Luna hanya membisu. Dalam tatapan matanya yang berkeliling, ia masih sempat menangkap sosok Ariel yang sudah kembali dengan senyum manis dan tawa renyahnya. Seakan tidak ada perseteruan yang baru saja terjadi antara dirinya dan Ariel.
"Luna, kamu mengenal Ariel?"
"Kenapa Tante Lisa nggak diajak?"
"Apa yang terjadi antara kamu dan Ariel?"
Berondongan pertanyaan yang datang dari mulut Tina, Bianca, dan Tante Laura sama sekali tidak ada yang masuk ke dalam pikirannya. Mereka berempat melangkah perlahan tanpa mendapat perhatian dari undangan yang lain dan semakin mendekati ruang keluarga yang luas dan terletak di tengah-tengah.
Luna yang menjadi pusat kerumunan Tina, Bianca, dan Tante Laura hanya mengangguk-angguk linglung tapi matanya masih terpaku kepada Ariel. Seakan Luna tidak ada disana, Ariel menyapa semua undangannya. Tangannya langsung menyambar gelas minuman yang dibawa di atas nampan oleh salah satu waiter yang sedang berkeliling
Senyum usilnya merekah. Dan hal ini semakin membuat hati Luna terasa semakin jatuh. Ariel seakan menjauh darinya. Pagi tadi mereka masih bergurau manja di telepon dan sekarang Ariel seolah tidak mengenalnya sama sekali.
Ariel meneguk habis minumannya lalu berdiri di tengah keramaian pesta. Ia menunduk untuk meraih garpu kecil diatas meja kopi di sampingnya. Mata Luna menangkap sosok kedua orang tua Ariel yang duduk berdampingan di salah satu sofa. Ia benar-benar terkejut dengan para undangan yang seharusnya tidak ada disana.
Sejak pertama Ariel merencanakan hari ulang tahunnya, ia selalu menyebutkan 'hanya untuk kita berdua.'
Tapi kehadiran sebegitu banyak undangan yang Luna kenal dan ketahui, benar-benar mengejutkan nya.
Setelah memukulkan garpu kecilnya beberapa kali ke gelas yang di pegang nya, Ariel mendapatkan perhatian sepenuhnya. Musik yang mengalun pun tiba-tiba berganti dengan instrumen lagu Happy Birthday.
Dengan semua mata tertuju kepadanya, Ariel memutar tubuhnya berkeliling untuk melihat semua yang hadir.
"Terima kasih sudah menyempatkan datang kemari. Di hari ulang tahunku yang ketiga puluh satu ini, aku akan..."
"Memperkenalkan seseorang yang sudah membuat kamu semua penasaran tentu saja!" seru Angga Gunawan yang memeluk putrinya Safa. Angga berdiri tidak jauh dari istrinya, Sabina dan seruan yang memotong ucapan Ariel membuat semua keluarga dan kerabat di sana riuh.
Hati Luna berdebar cepat. Tidak dapat membayangkan apa yang akan di lakukan Ariel saat itu. Ia memucat memandang Ariel yang hanya beberapa langkah di hadapannya sedang mempertontonkan senyum khasnya dan kembali melanjutkan pidatonya.
"Sayangnya hari ini aku harus mengecewakan kalian, tapi aku yakin aku tidak akan mengecewakan kalian terlalu besar karena kita sudah siap untuk hidangan makan malam." Ariel merentangkan tangan, menunjuk ke meja panjang di balkon penthouse yang sudah di penuhi berbagai makanan.
"Tidak ada kue ulang tahun? Mentang-mentang sudah menginjak tiga puluh satu?" celetuk Bayu dari belakang deretan undangan yang berdiri menghalangi pintu lift. Rupanya Bayu baru saja datang. Dengan senyum lebar dan tangan kiri menggenggam erat tangan Bella yang datang dengan balutan gaun sederhana tanpa lengan berwarna merah tua. Semua orang yang ada di ruangan menjadi ribut memperbincangkan pasangan yang sempat heboh diberitakan di televisi.
Luna merasakan Bianca melepaskan genggaman tangannya begitu melihat siapa yang datang. Tina dan Bianca cepat-cepat menghampiri Bella. Ia melihat betapa ketiga wanita itu terlihat sangat akrab. Ia sedikit iri. Iri dengan keberuntungan yang didapatkan wanita-wanita di hadapannya.
Perhatian semua orang kembali teralih saat Bayu berdehem keras, membiarkan Tina, Bianca, dan Loli menarik istrinya dengan antusias. Sementara dirinya sendiri sedikit menjauh dari area depan pintu lift.
"Kebetulan aku bertemu dia dibawah sana." Bayu memberi jalan kepada Luna si 'wanita ceking' yang sudah berdiri dengan sebuah kue tart kecil di kedua tangannya.
Hati Luna remuk saat melihat wanita yang dulu pernah menjadi masa lalu Ariel berdiri dengan tampilan sempurna di hadapan semua orang. Wanita itu tersenyum kikuk sambil memandang Ariel dan semua orang yang ada, seakan bertanya apa yang sedang terjadi.
"Wah... ternyata aku datang terlambat." Si wanita ceking tersenyum sambil berjalan perlahan ke arah Ariel. Semua orang yang berdiri diantara mereka seakan membuka jalan untuknya.
***___***
to be continued...
Wuuuu,,, ada yang cemburu nih..🤭🤭
Bagaimana kelanjutan nya,, baca terus ya😘🤗