NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

(Flashback H-32 sebelum pernikahan)

Siang ini terasa lebih tenang dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela kamarku, lalu jatuh lembut di atas lantai, hingga menciptakan bayangan yang bergerak pelan mengikuti arah angin. Aku duduk di tepi ranjang, dengan ponsel berada di tanganku sejak beberapa menit yang lalu, tapi aku belum benar-benar melakukan apa pun selain menatap layar yang menyala.

Yang selalu kutunggu-tunggu hampir di setiap waktu, tapi namanya tidak pernah ada di sana. Tidak ada pesan ataupun panggilan darinya yang kulihat di layar ponselku yang menyala. Dan anehnya, aku sudah mulai terbiasa dengan itu.

Lalu, ponselku bergetar pelan, memecah keheningan yang sejak tadi mengelilingiku. Nama yang muncul di layar membuatku sedikit mengernyit—Sarah. Aku langsung mengangkatnya.

“Halo, Sarah.”

“Hazel,” suaranya terdengar hangat, seperti biasanya. “Apa kau sedang sibuk?”

“Tidak. Tidak juga.”

“Bisakah kau datang lagi hari ini? Aku sedang membuat kue, dan aku ingin kau datang untuk menemaniku.”

Aku terdiam sejenak. Tidak karena terkejut, tapi karena ada sesuatu dalam cara ia mengatakannya yang terasa tulus dan tidak dipaksakan.

“Aku ingin kau merasa bahwa ini juga rumahmu.”, imbuhnya.

Rumah. Kata itu kembali terdengar, sama seperti sebelumnya. Aku pun menatap ke luar jendela tanpa benar-benar melihat apa pun.

'…rumah?' gumamku dalam hati.

'…bahkan tanpa dia yang menyambutku hangat?'

Ada jeda kecil sebelum aku akhirnya menjawab. “Baik. Aku akan datang, Sarah.”

Aku tidak ragu saat mengatakannya, tapi juga tidak terburu-buru. Ini bukan keputusan yang diambil dalam waktu singkat, sebab aku tahu persis apa yang akan kutemui di sana. Dan aku jelas tahu bagaimana sikapnya tidak akan berubah hanya karena aku datang lagi.

Meskipun begitu, nyatanya aku tetap pergi. Bukan karena aku berharap terlalu banyak, melainkan karena aku sudah memilih untuk tidak mundur. Rumah keluarga Roux tidak seramai saat pesta beberapa hari lalu. Tidak ada lampu-lampu berlebihan, tidak ada suara tawa dari puluhan tamu, dan tidak ada denting gelas yang saling bersahutan. Tapi tempat itu terasa tetap hidup, dengan cara yang berbeda—lebih tenang, lebih hangat, dan entah mengapa terasa lebih nyata.

Sarah menyambutku begitu aku seorang pelayan membukakan pintu utama, menyambutku, dan mempersilakan aku masuk ke dalam rumah keluarga Roux.

“Hazel,” katanya, tersenyum lembut. Tangannya langsung meraih tanganku, seperti biasa. “Aku senang kau datang.”

“Terima kasih sudah mengundangku.”

Rowan muncul tidak lama setelahnya, menyapaku dengan ramah dan menanyakan beberapa hal ringan. Percakapan kami berjalan dengan mudah, tanpa tekanan dan tanpa rasa canggung—seolah aku memang sudah sering berada di sana. Dan mungkin, aku memang mulai terbiasa.

Tapi tetap saja, ada sesuatu dalam diriku yang tidak pernah benar-benar ikut menyesuaikan diri. Ada jarak yang tidak terlihat. Dan aku tahu, jarak itu bukan berasal dari mereka.

“Hazel.” , tiba-tiba terdengar suara lain yang menarik perhatianku.

Aku pun sontak menoleh, dan melihat Jennifer berdiri tidak jauh dariku. Ia tampak tersenyum. Senyum yang sama seperti sebelumnya, yang terlihat manis, rapi, dan sempurna.

“Aku senang kau datang lagi,” katanya pelan.

“Aku juga,” jawabku, membalas senyum itu.

“Sepertinya, kita akan sering bertemu.”

Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mungkin biasa saja bagi orang lain. Tapi ada sesuatu dalam cara ia mengatakannya yang membuatku merasa seolah aku sedang diberi tahu bahwa ia memang sudah memiliki tempat di sini. Sementara aku? Aku hanya seseorang yang sedang mencoba untuk masuk ke dalam tempat mereka.

Aku tidak menjawab lagi setelah itu, melainkan hanya tersenyum tipis, lalu mengalihkan pandangan. Ada sesuatu dalam caranya menatapku yang tidak sepenuhnya bisa kupercaya. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai mencarinya lagi. Mungkin sejak aku masuk atau mungkin bahkan sebelum itu. Dan seperti biasanya, aku menemukannya tanpa harus benar-benar berusaha.

Mason berdiri di ruang tengah, mengenakan kemeja gelap dengan lengan yang sedikit digulung. Ia tampak sama seperti sebelumnya—tenang, teratur, dan seolah tidak ada satu pun hal yang mampu mengganggu keseimbangannya. Lalu, ia melihatku, tanpa eksprrsi terkejut, bahkan tanpa menunjukkan reaksi apa pun, selain hanya melihat.

“Kau datang lagi.” , katanya datar.

“Sarah mengundangku untuk datang.”, jawabku, berusaha terdengar biasa saja.

“Itu pilihanmu.” , balasnya.

Aku pun mengangguk kecil, dan tidak mencoba memperpanjang percakapan yang jelas tidak ingin ia lanjutkan. Namun sekali lagi aku tidak pergi. Aku tetap di sana, karena aku memang tidak pernah benar-benar ingin pergi.

Lalu, aku kembali melihat mereka bersama tidak lama setelah itu. Jennifer berdiri di samping Mason, dan berbicara dengan suara pelan. Bahkan ia mengambilkan minuman untuk Mason tanpa harus bertanya padanya terlebih dahulu. Dan tangannya tampak bergerak ringan saat membenarkan bagian kecil di kerah kemeja Mason, sesuatu yang begitu sederhana tapi terasa terlalu dekat.

Dan Mason tidak menolaknya. Ia tidak terlihat terganggu sama sekali, bahkan tampak terbiasa. Hingga akhirnya, percakapan mereka mengalir tanpa jeda, tanpa kehati-hatian dan tanpa jarak.

Aku berdiri sedikit lebih jauh, memperhatikan tanpa benar-benar ingin terlihat sedang memperhatikan. 'Ia tidak perlu bertanya untuk memahami Mason…' pikirku pelan. '…sementara aku masih mencari cara untuk sekadar dimengerti.'

Aku lantas mengalihkan pandangan, karena tidak ingin terlalu lama berdiri di tempat yang membuatku merasa seperti orang asing di dunia yang seharusnya bisa kujalani. Hingga akhirnya, aku memilih membantu Sarah di dapur. Setidaknya di sana, aku bisa melakukan sesuatu, bukan hanya berdiri dan menunggu.

“Kau tidak perlu repot-repot, Hazel. Aku memintamu datang untuk menemaniku, bukan untuk bekerja keraa di dapur bersamaku.” kata Sarah saat melihatku mulai membantu menyiapkan beberapa hal.

“Tidak apa-apa, Sarah. Aku ingin membantu.”

Sarah pun tersenyum, lalu tanpa sengaja menyebutkan beberapa hal tentang kebiasaan Mason—hal-hal kecil dan sepele, tapi entah mengapa, aku memperhatikannya.

Aku mengingatnl semua detail tentang Mason, dan mencoba menyimpannya. Seolah dengan itu, aku bisa sedikit lebih dekat. Namun, seperti biasanya, usaha itu tidak benar-benar berarti.

Aku keluar dari dapur beberapa saat kemudian. Dan saat itulah aku melihatnya. Jennifer berdiri cukup dekat dengan Mason. Ia mengatakan sesuatu dengan suara yang terlalu pelan untuk bisa kudengar. Wajahnya sedikit miring, seolah memastikan hanya Mason yang bisa mendengar kata-katanya.

Sementara itu, Mason tidak langsung menjawab. Ia tampak hanya menatap Jennifer beberapa detik, lalu mengangguk singkat dan tanpa ekspresi.

Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dan mungkin, aku memang tidak seharusnya tahu. Namun beberapa detik setelah itu, Jennifer menoleh ke arahku. Senyumnya masih sama, tampak manis dan sopan. Tapi entah mengapa, kali ini terasa berbeda. Seolah ada sesuatu yang tidak diucapkan, tapi sengaja dibiarkan sampai kepadaku.

Aku pun menahan napas pelan, hingga perasaan tidak nyaman itu kembali muncul, dengan lebih jelas dari sebelumnya. Aku tidak sempat berpikir lebih jauh. Karena beberapa saat kemudian, Mason sudah berdiri di hadapanku.

“Jika kau tidak nyaman di sini… kau tidak perlu berpura-pura.”

Aku mengernyit. “Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Jennifer tidak melakukan apa pun padamu.”, sahutnya. Kalimat itu jatuh begitu saja dengan nada tenang dan datar. Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dadaku terasa jatuh.

“…Seperti apa maksudmu?” tanyaku pelan.

Ia pun perlahan menatapku, dengan tatapan yang sama—dingin, tegas, dan tidak memberi ruang untuk kesalahan. “Seperti seseorang yang mencoba masuk paksa…”

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan kalimatnya. “…tapi tidak tahu tempatnya.”

Aku sontak terdiam, tidak langsung menjawab. Bukan karena aku tidak bisa, tapi karena aku tidak tahu harus menjelaskan apa. “…aku tidak melakukan apa-apa.” suaraku hampir tidak terdengar.

'…lalu kenapa aku terlihat seperti bersalah?', lanjutku. Namun aku tidak mengatakan itu, melainkan hanya bergumam dalam hati.

Kini aku hanya berdiri dalam diam, sembari membiarkan kata-katanya menetap di dalam diriku. Aku tidak ingat bagaimana aku sampai di kamar mandi. Yang kutahu, begitu pintu tertutup, aku langsung bersandar di belakangnya. Napasku tidak lagi teratur, dan dadaku terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam.

Aku lalu menunduk, dan air mata itu pun jatuh pelan dan tanpa suara.“Aku sudah mencoba…”

Suara itu keluar dalam bisikan yang hampir tidak terdengar. “…aku benar-benar mencoba.”

Tanganku menggenggam kecil bagian gaun yang kupakai. “Tapi kenapa rasanya seperti aku selalu salah?”

Aku tidak menangis keras, bahkan tidak ada isakan yang keluar dari bibirku. Hanya ada air mata yang terus jatuh, satu per satu, tanpa bisa kutahan. Seolah semua yang kutahan sejak awal, akhirnya menemukan jalannya.

Hingga akhirnya, pintu kamar mandi terbuka perlahan. Aku tidak langsung menoleh, namun rasanya aku sudah bisa menebak siapa sosok yang baru saja masuk ke dalam sini.

“Aku mengetuk tadi,” suara itu terdengar lembut. Itu suara Jennifer. Dan aku tidak langsung menjawab.

“Kau menangis?”, tanyanya lagi. Tapi, aku tetap diam.

Ia pun melangkah mendekat, tapi tidak terlalu dekat. “Mason memang seperti itu…” katanya pelan. Membuatku mengangkat wajahku sedikit. “Ia hanya ingin melindungi orang yang ia sayangi.” lanjutnya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi tidak dengan maknanya. Aku tidak menjawab, karena aku tahu, jika aku membuka mulutku sekarang, aku tidak akan bisa menahan apa pun lagi. Dan aku tidak ingin ia melihatku seperti itu. Jadi, aku pun melangkahkan kaki keluar dari kamar mandi tidak lama setelah itu, tanpa membalas satupun perkatannya.

Lalu, aku memutuskan untuk pulang tidak lama setelah itu. Sarah sempat menahanku sebentar di depan pintu, setelah mengamatiku sejenak. Sepertinya ia menyadari bahwa saat ini aku sedang tidak baik-baik saja. “Kau baik-baik saja, Hazel?”

Aku tersenyum kecil. “Ya. Terima kasih sudah mengundangku malam ini, Sarah.” dustaku.

"Sama-sama, Hazel. Kuharap kau akan lebih sering berkunjung lagi." , katanya, yang setelah itu hanya kubalas dengan senyuman kecil.

Kebohongan itu keluar dengan mudah. Tapi rasanya sungguh berat. Di dalam mobil, aku hanya duduk diam. Sementara, lampu-lampu jalan bergerak pelan di luar jendela, menciptakan bayangan yang tidak pernah benar-benar jelas.

Kini, aku tidak menangis lagi, bahkan tidak ada air mata yang tersisa di pelupuk mata. Kini, hanya ada perasaan kosong yang perlahan memenuhi ruang di dalam diriku. Untuk pertama kalinya, aku merasa semua yang kulakukan tidak berarti.

Mobil terus melaju dalam kecepatan yang konstan, dan aku masih tetap diam. Dan yang lebih menyakitkan lagi, dia tidak pernah mencoba mempercayaiku. Malam ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa lelah.

1
Dew666
👄
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!