Soraya sang Primadona online terjebak di Abad 13 karena insiden yang menimpanya. Jiwanya terperangkap dalam tubuh seorang selir Senopati perang, apakah yang akan dilakukan oleh Sora agar bisa kembali ke abad 20.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Pemberontakan Mahisa Andaru
"Bagaimana dengan tugasmu Patih Suliwa?" tanya Jaladwara menghampiri Bisma Suliwa di Pendopo utama.
"Sesuai perintah anda, semuanya berjalan lancar yang Mulia," jawab Suliwa.
"Kau memang bisa diandalkan, Suliwa," ucap Jaladwara menepuk pundak lelaki itu
Pagi harinya, Rakeyan Saunggala menyiapkan sebuah upacara untuk menobatkan putrinya Gayatri Prameswari untuk menggantikan posisinya menjadi Ratu Galuh Pakuan.
Semua petinggi kerajaan sudah berkumpul di pendopo utama, untuk menghadiri upacara penobatan Putri Gayatri Prameswari.
"Kenapa juga kita harus datang ke acara ini Raden, bukankah anda tidak menyetujui jika putri Gayatri Prameswari menjadi Ratu Galuh Pakuan?" tanya seorang petinggi kerajaan
"Kalian ikuti saja permainan ini, dan lihat baik-baik apa yang akan terjadi hari ini," jawab Jaladwara
Tiba-tiba suasana menjadi hening ketika kedatangan Rakeyan Saunggala bersama Mahisa Andaru memasuki pendopo utama.
"Sepertinya para pejabat tinggi istana sudah berkumpul semuanya Kang Mas, lebih baik kita mulai saja acaranya," ujar Mahisa Andaru
"Tapi Gayatri belum hadir disini," sahut Rakeyan Saunggala lesu
"Apa perlu kita panggil saja dia, tidak baik jika kita membiarkan mereka menunggu lama," jawab Mahisa Andaru
"Kita tunggu saja beberapa saat lagi Dimas," sambung Rakeyan Jaladwara
"Baiklah,"
Semua pejabat kerajaan duduk di tempatnya menunggu kedatangan Gayatri.
"Aku yakin dia tidak akan pernah datang, sudah cukup lama kita berada di sini tapi Gayatri belum kelihatan batang hidungnya juga," ucap Jaladwara
*Tap, tap, tap!!
Terdengar suara derap langkah kaki memasuki pendopo utama membuat semua mata langsung menatap kearahnya.
"Dyah Lembu Tal," Rakeyan Saunggala segera menghampiri menantunya itu.
"Dimana istrimu, kenapa kalian tidak datang bersama?" tanya lelaki itu kebingungan
"Oh, aku kira Dinda sudah berada di sini, karena semalam dia begitu antusias untuk menghadiri acara penobatannya sebagai Ratu Galuh Pakuan," sahut Lembu Tal
"Kalau begitu cepat, susul istrimu, bawa dia secepatnya ke sini," titah Rakeyan Saunggala
"Baik Romo Prabu," Lembu Tal segera bergegas meninggalkan tempat itu untuk menjemput Gayatri di Paviliunnya.
Sepanjang perjalanan meninggalkan pendopo, lelaki itu melihat ada yang aneh di area istana.
"Apa Jaladwara menyiapkan rencana lain, sehingga ia menempatkan banyak sekali tentara perang di area istana,"
Lelaki itu terus menggerakkan ekor matanya menatap semua prajurit yang berbaris rapi berjaga-jaga di area pendopo.
"Bagaimana Kanda?, apa aku harus keluar sekarang?" tanyaku penasaran
"Sepertinya kita harus melakukan rencana kedua," jawab Lembu Tal
"Apa ada yang mencurigakan?" tanya Adipati Sentanu
"Sepertinya Jaladwara sudah menyiapkan pasukannya untuk bersiaga di area istana, seperti dugaanku, dia mempersiapkan rencana cadangan jika gagal membunuh Gayatri," jawab Lembu Tal
"Kalau begitu, aku akan segera memberitahukan pasukan Jaran Guyang agar bersiap-siap memasuki istana," sahut Adipati Sentanu
"Bagaimana mereka bisa masuk kedalam istana, jika Jaladwara sudah memblokir akses masuk menuju istana. Aku yakin ia sudah menutup semua gerbang istana dan menempatkan semua pasukannya di sana," ucap Lembu Tal
"Kau tidak perlu khawatir Dimas, kami sudah biasa menghadapi suasana sulit, itulah kenapa aku memberikan nama pasukanku Jaran Guyang. Kau lindungi saja istrimu, aku pasti akan kembali lagi untuk membantu kalian," Adipati Sentanu kemudian meninggalkan keduanya.
Ia berjalan menuju pintu gerbang utama Istana Galuh Pakuan.
"Maaf Raden, semua orang dilarang meninggalkan istana selama acara penobatan Ratu Galuh Pakuan, ini adalah perintah dari yang mulia Raja untuk melindungi Yang Mulia Putri Gayatri dari para pemberontak," ucap seorang prajurit menahan Adipati Sentanu.
"Tapi aku harus kembali ke Singosari, lagipula aku hanya seorang tamu disini, jadi biarkan aku pulang ke kampung halamanku sekarang," ucap Adipati Sentanu
"Maaf Raden tetap saja tidak bisa, lebih baik besok saja anda kembali ke Singosari," sahut perajurit itu membuat Adipati Sentanu langsung turun dari kudanya dan mencabut pedangnya.
"Lancang sekali kau, apa kau tidak tahu siapa aku!" serunya mengalungkan pedangnya kearah prajurit itu
Tentu saja hal itu membuat beberapa prajurit lain langsung menarik pedangnya dan bersiap menyerangnya. Ditambah lagi pasukan pemanah yang sudah siap menarik busur panah kearahnya.
Dia benar-benar sudah mempersiapkannya dengan matang. Aku yakin Jaladwara akan melakukan pemberontakan hari ini begitu melihat Gayatri masih hidup. Aku harus secepatnya memberi kabar kepada Pasukan Jaran Guyang.
Sentanu segera menarik pedangnya dan memasukannya lagi ke sarungnya, ia kemudian naik keatas kudanya dan mencari jalan keluar yang lain.
Lelaki itu sudah berputar-putar mengelilingi istana Galuh Pakuan, namun tidak satupun gerbang yang bisa ia lewati.
"Kalau seperti ini, aku harus mencari cara lain untuk menyampaikan pesan ku,"
Ia segera berjalan menuju paviliunnya dan mengganti pakaiannya.
Hanya dengan menyamar sebagai seorang perajurit aku bisa melewati pintu gerbang.
Ia segera keluar dari kamarnya dan bergabung bersama rombongan prajurit yang menuju gerbang istana selatan.
"Siapa kau sepertinya kau terlihat sangat asing," ucap prajurit lain saat melihatnya
"Benar, aku belum lama bertugas di sini, sebelumnya aku adalah seorang prajurit di kediaman Pangeran Jaladwara," ujar Sentanu menundukkan wajahnya
"Wah kau pasti prajurit pilihan dari Pangeran Jaladwara, tapi kenapa kau tidak bertugas di Paviliunnya?" tanyanya lagi
"Aku ditugaskan untuk menjaga pintu gerbang selatan dari para pemberontak yang akan mengacaukan penobatan Ratu Galuh Pakuan,"
"Wah, itu benar-benar tugas yang keren, seumur hidup aku menjadi prajurit belum pernah mendapatkan tugas itu. Baiklah kalau begitu aku akan mengantarkan mu menuju gerbang selatan, tapi jangan lupa kau harus memberi tahu Pangeran Jaladwara jika aku sudah bersikap baik padamu, kau tahukan maksudku," ucap lelaki itu tersenyum padanya
"Tentu saja, semua kebaikanmu tidak akan pernah aku lupakan, apalagi jika kau bisa mengantarku hingga keluar gerbang Selatan," sahut Sentanu
"Tidak masalah, itu adalah hal mudah untukku. Sekarang ikuti aku," lelaki itu menuntut Adipati Sentanu hingga keluar dari gerbang Selatan.
"Terima kasih,"
"Sama-sama,"
"Kau mau kemana!" seru perajurit lain saat melihatnya bergegas meninggalkan gerbang selatan
"Aku hanya ingin berkeliling istana, dan ini adalah perintah langsung dari Pangeran Jaladwara," sahut Sentanu
"Bagaimana aku bisa mempercayai orang baru seperti dirimu," jawab perwira prajurit itu.
Adipati Sentanu segera mengeluarkan sebuah koin emas pemberian Jaladwara saat memintanya untuk menjadi sekutunya.
Beruntung aku masih menyimpan benda ini, ternyata ada gunanya juga,
Sentanu memberikan koin itu kepada perwira prajurit itu.
"Apa itu sudah cukup membuatmu percaya jika aku adalah tangan kanan Pangeran Jaladwara!" seru Sentanu
"Sekarang kau boleh pergi," ucap lelaki itu
"Kalau begitu biarkan aku menunggangi kudamu, rasanya tidak elok jika seorang tangan kanan Pangeran berkeliling istana dengan berjalan kaki," ucap Sentanu
Lelaki itu segera memberikan kudanya kepada Sentanu.
Sementara itu Dyah Lembu Tal segera mengajak Gayatri menuju Pendopo Istana.
*Ceklek!!
Semua orang terkejut melihat kedatangan keduanya, tidak terkecuali Rakeyan Jaladwara yang langsung membulatkan matanya melihat Gayatri tersenyum simpul padanya.
"Bagaimana bisa dia masih hidup, setelah meminum racun itu," ucap Bisma Suliwa lirih
"Apa kau benar-benar melihatnya sendiri jika Gayatri meminum racun itu?" tanya Jaladwara dengan tatapan tajam seolah-olah ingin menerkam lelaki itu
"Maaf Pangeran, aku memang tidak melihatnya meminum ramuan itu," jawab Bisma Suliwa ketakutan
"Itulah bodohnya dirimu, kau benar-benar tidak bisa diandalkan. Sekarang cepat lakukan rencana selanjutnya, sebelum Paman Prabu memberikan mahkota Raja Galuh kepada Gayatri,"
"Baik Pangeran," Bisma Suliwa segera meniup sebuah terompet membuat beberapa orang prajurit langsung merangsek masuk kedalam pendopo utama.
"Ada apa ini, apa kalian akan melakukan pemberontakan," ucap Rakeyan Saunggala geram
"Seperti permintaan ku dan juga para petinggi kerajaan yang lain, kau harus mengangkat putraku Rakeyan Jaladwara sebagai Raja Galuh Pakuan berikutnya menggantikan dirimu jika kau ingin nyawamu dan juga putrimu selamat, tapi jika kau tidak mau melakukannya maka kami akan merebutnya dengan paksa," sahut Mahisa Andaru
"Dimas!!" seru Rakeyan Saunggala berapi-api
"Beraninya kau melakukan semua ini padaku, apa kau tidak takut dengan kutukan Dewata!" seru Saunggala
"Aku tidak perduli, akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang aku mau, jadi bersiaplah untuk menyusul permaisuri mu tercinta Kanda Prabu," ucapnya sembari tertawa terbahak-bahak
"Lindungi Yang Mulia Raja!" seru Dyah Lembu Tal
Namun tidak ada satupun dari perajurit istana yang mendengarnya.
"Jika kalian masih menganggap aku sebagai Raja kalian, maka bertempur lah bersamaku melawan para pemberontak itu," ucap Rakeyan Saunggala membuat beberapa prajurit setianya langsung melindunginya.
"Serang dan bunuh mereka semua!!" seru Jaladwara memberikannya komando kepada pasukannya untuk menyerang Rakeyan Saunggala dan prajurit yang setia melindunginya.