Ceo muda Aditya Pratama Wilson, Pria tampan berbadan tinggi 178 cm.
berkulit putih, memiliki tubuh yang Atletis gagah dan perkasa.
Sangat di sayangkan, setelah pertunanganya gagal, Aditya Ceo muda ini di kabarkan kecelakaan yang mengakibatkan koma lebih kurang tiga bulan, akibat kecelakaan itu Aditya lumpuh, dan akhir akhir ini juga di kabarkan bahwa Aditya terkena Impoten.
dengan keterpurukan itu, Aditya sengaja menutup Identitasnya,
sampay waktunya aditya di jodohkan dengan anak sahabat papanya sendiri,
pernikahan putranya aditya dengan putri sahabatnya Senjaya yang bernama Arsya Aprilia Senjaya.akan di langsungkan beberapa hari lagi, naasnya Aditya, calon pengantin perempuan kembali melarikan diri, mendengar kabar angin bahwa aditya cacat,
mendengar calon istrinya melarikan diri, Aditya tambah murka, Aditya bersumpah tidak akan percaya dengan perempuan
akan tetapi adiknya Arsya terpaksa menggantikan posisi kakanya,
akankah Arsyi Dwika Senjaya, adiknya Arsya bisa nenaklukan hati Aditya,?
lanjutkan kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desi m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai melunak
Sampai di kediaman Aditya, Arsyi merebahkan badannya, lelah letih bercampur jadi satu, menurutnya kerasnya hidup yang harus di lalui nya, rasanya jalanku sudah tertutup dengan awan yang menghitam, sangat sulit untuk aku lalui.
Tidak ada yang menyemangati hidupnya sekarang kecuali Rahel, dan tapi semenjak kejadian di villa itu kak Rahel juga menghilang, bagai di telan bumi.
Biasanya papa dan mama yang selalu memberi ketenangan pada ku, tapi aku jauh dari mereka,
papa, mama,..aku kangen kalian.
tok tok tok, non Arsyi, ayo sarapan, ajak bibi Erni,
iya bi, aku belum mau sarapan,
non, bolehkah bibi masuk,?
iya silahkan bi, masuk aja,! teriak Arsyi yang sangat malas beranjak dari tempat tidurnya,
"Non Arsyi kenapa,? apakah non Arsyi sakit,?"
Oh, tidak bi, Arsyi cuma kecapekan, jadi malas untuk bangun bi."
ya sudah kalo non malas keluar, sarapannya bibi bawa kesini saja ya,? bujuk bibi Erni,
ngk usah bi, nanti kalau Arsyi mau, biar Arsyi saja yang turun,
ya sudah bibi tinggal ya,! kalau ada apa apa panggil bibi saja ya,
iya bi,
bibi Erni keluar dan menutup kembali pintu kamar Arsyi.
Di sisi lain Aditya berkutat dengan Laptopnya, pekerjaannya menumpuk, akhir akhir ini pekerjaannya sangat menyita waktunya, pergi pagi pulang malam, terkadang sampai larut malam baru bisa istirahat,
bagaimana tidak perusahaan Aditya berkembang pesat, bahkan Aditya saat ini membuka cabang baru, pekerjaannya tumpang tindih,
tidak sedikit yang mengagumi CEO muda, tampan, dan berwibawa.
*
Sepertinya aku butuh olahraga, batin Arsyi,
dia segera bangkit dari tidurnya, mengambil sepatu Kets, dan satu set traning warnah Putih dengan Lis baju dan celananya berwarna toska,
sepatu pun putih ke abu an, Arsyi mulai mengenakannya, setelah merasa cukup, Arsyi menguncir rambutnya setengah dari kepalanya, lalu menyematkan topi untuk melindungi wajah atau pun kepalanya,
setelah merasa cukup, Arsyi mengambil ponsel dan handset-nya,
ia menuruni tangga,
penampilan Arsyi seperti ini saja sudah menghipnotis siapa pun yang melihatnya,
"Selamat soreh non Arsyi, sapa bibi Erni,"
sore bi,
non mau kemana,?
Aku mau joging sebentar bi, ngk jauh kok cuma di sekitar kompleks saja, ucap Arsyi dengan senyuman ramah,
iya non, hati hati ya,
Arsyi menganggukkan kepalanya lalu keluar meninggalkan mansion,
Arsyi setengah berlarian untuk sekedar mengeluarkan keringatnya.
Arsyi merasa haus dan lelah, Arsyi mampir di sebuah gerobak kecil pinggir jalan untuk membeli berupa minuman dingin, sambil menunggu tukang jualan es meracik pesanannya, Arsyi memilih duduk di bangku kayu bawa pohon, sambil memainkan ponselnya,
setelah pesanan nya tiba, Arsyi langsung menyeruput minumannya, 2 kali sedot minuman itu langsung tandas saking hausnya.
Arsyi membayar minumannya,
"Ini pak makasi," Arsyi memberikan satu lembar uang 50 ribu, langsung berlalu pergi,
"Eh..tunggu nona kembaliannya, ambil saja pak teriak Arsyi terus berjalan tanpa menoleh, terimakasih non,"
Arsyi hanya mendengar tukang minuman itu berteriak mengucap terimakasih, langkahnya terus berjalan menyusuri trotoar berniat hendak pulang ke mansion Aditya,
Arsyi tidak menyadari sebuah mobil mewah mengiringinya dari belakang sejak tadi,
dan tiba tiba berhenti di depan,
Arsyi sama sekali tidak menghiraukan mobil itu, sedikit pun Arsyi tidak melirik siapa pemiliknya, siapa yang mengendarainya,
pengendara mobil turun mengitari mobilnya.
"Nona ayo masuk," ucap sopir itu membuka pintu mobil belakang,
Rifal,..! Arsyi bengong.
Nona Arsyi,..saya memanggil mu, masuklah, ucap Rifal lagi
tidak Rifal, aku jalan saja, lagian sudah dekat kok, Arsyi tidak menyadari ada Aditya duduk di belakang pengemudi.
Perempuan ini memang keras kepala sekali, Aditya, sambil membuka pintu mobil mengitari ya seperti yang di lakukan Rifal barusan.
Tampa berkata lagi Aditya mengangkat badan Arsyi dan mendudukkannya di bangku belakang,
em kamu mau ngapain, aku bisa masuk sendiri.
Jangan membuang waktu ku, kalau kau bisa masuk sendiri kenapa tidak dari tadi kau menurut. Aditya menutup pintu mobilnya,
lalu Rifal meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang,
Arsyi membuang mukanya ke luar kaca mobil, perasaannya malu, mukanya bersemu merah saking malunya.
Tidak ada pembicaraan antara mereka,
sesekali Rifal melirik kaca spionnya, entah pantas atau tidak mereka di katakan sepasang suami istri, tapi Rifal sudah paham dengan bos nya itu,
Aditya pun sibuk dengan ponselnya, entah apa yang dia lihat hanya menggeser geser layar ponselnya saja.
jantungnya berdebar kencang, saat mengingat apa yang dia lakukan barusan,
Arsyi dan Aditya merasa canggung, baru kali ini mereka satu mobil.
Saat mobil hendak memasuki gerbang perumahan Elite, ponsel Rifal bergetar tanda adanya panggilan masuk,
Ya halo tuan, bagaimana? tanya Rifal.
tidak ada yang mendengar percakapan si penelepon, Rifal menepikan mobilnya.
Oh,..kalau begitu saya bicara pada bos dulu tuan,
sebentar, jangan di matikan,..!
Tuan, tuan aDmaja mau bertemu sekarang juga, karena nanti malam dia tidak bisa hadir.
Bagaimana menurut tuan,
ya sudah putar balik mobilnya, jawab Aditya.
Tapi non Arsyi bagaimana tuan, sekalian ikut saja.
Oh,..ti,...dak tuan aku turun disini saja, lagian sudah dekat,
Rifal tidak mendengarkan ucapan Arsyi, langsung berbalik arah menuju jalan raya lagi.
Arsyi geram karena Rifal tidak mendengarkan ucapan Arsyi,
tuan Rifal yang terhormat, apakah kau tidak mendengar aku bicara, aku mau turun, aku tidak mau ikut kalian.
Aditya menatap Arsyi tidak suka,
Diamla, kau cerewet sekali ya,!
dasar bawahan sama majikan sama saja, seenaknya melakukan apa yang dia mau, Arsyi mencibir Aditya dan Rifal,
Aditya menghembuskan nafasnya dengan kasar,
tidak begitu lama mobil mereka sudah sampai di aula, tempat tuan aDmaja menunggu.
Rifal membukakan pintu buat Aditya,
"Ayo turun, ucap Aditya pada Arsyi,"
aku tunggu di mobil saja, Arsyi memalingkan mukanya,
ya sudah ngk apa apa, lagian ngk akan lama kok.
Rifal dan Aditya meninggalkan Arsyi di dalam mobil,
is,... sialan kenapa aku terjebak dengan mereka,
mana ngantuk, gerah, sudah soreh lagi,
beberapa kali Arsyi menguap,
"Sebaiknya aku tidur sebentar saja,"
Arsyi mulai memejamkan matanya, karena benar benar mengantuk, tidak menunggu lama akhirnya Arsyi terlelap.
Aditya sudah mengakhiri miting singkat mereka, lalu kembali menuju mobil dimana Arsyi pasti sudah bosan menunggu mereka.
Rifal berlari kecil membuka kan pintu mobil buat tuannya itu,
Aditya melirik ke sumber suara yang mendengkur halus,
Dalam hati Aditya tersenyum melihat gadis itu terlelap di mobil, suara dengkurannya seperti anak bayi,
rupanya dia tertidur,
Rifal melihat gerakan Aditya memperhatikan Arsyi yang sedang terlelap,
Rif, pelan pelan saja, dia tertidur,
baik tuan,
Rifal juga tersenyum dalam hatinya, "Sepertinya hati bos sudah mulai melunak," batinnya yang tidak akan di ketahui oleh Aditya.
35 menit mereka sudah sampai di halaman mansion, Rifal membuka pintu mobil buat tuannya,
silahkan tuan,.!
itu tuan,.. nona belum bangun,!
"Tidak usah di bangunkan, biar aku saja yang mengangkatnya,"
cie,...bos ku sudah bisa mengambil kesempatan batin Rifal tersenyum dalam diam,
hehehe, kalau bos tau aku meledeknya, sudah di pastikan aku akan babak belur gumam Rifal,
Aditya mengangkat Arsyi ala bridal langsung menuju kamarnya, lalu membaringkannya,
sesaat Aditya tertegun memandang wajah polos Arsyi,
dasar tukang tidur, di angkat saja tidak tau,
kau sudah menyusahkan aku tau ngk, badanmu itu berat,
tapi Aditya tersenyum, Aditya merasa adem melihat Arsyi yang dari tadi mendengkur.
jangan lupa like dan komen ya. Tampa dukungan kalian author tidak akan bisa cepat update, author cinta kalian, ❤️ kalian.
follow-up author ya.