NovelToon NovelToon
Jeratan Cinta Suami Kejam

Jeratan Cinta Suami Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Siti Fatimah

"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"

"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."

Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.

"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.

"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 [ Hampir di perkos4 ]

Disalah satu ruangan yang tidak tertutup, lebih tepatnya diruangan terbuka keduanya bersitegang dalam diam, tatapan mereka mengacu seolah telah berlomba-lomba menuju kemenangan.

Cantika membalikkan badan, ia membelakangi Gantara jujur ia masih tidak sanggup menerima fakta jika orang yang paling ia sayangi sekarang bukan lagi miliknya.

"Kenapa kamu masih ingin berbicara denganku?"ucap Cantika.

"Karena aku ingin mendengar langsung jawaban kamu kenapa semudah itu kamu mengkhianatiku? Apakah bagimu menjalin hubungan selama hampir empat tahun lamanya sama sekali tak memiliki arti dalam hatimu? Aku butuh jawaban dan apa kekurangan aku?"

"Kekuranganmu sama sekali tidak ada, jika kamu ingin tau apa alasan utama aku mengkhianatimu... Aku juga tanya kenapa semudah itu kamu termakan rayuan Nayla? Perjelas saja kalian menikah dan kamu bersedia menikahinya alasan utama kamu pasti di jebak kan?"

Cantika bukan hanya menebak, tapi ia sudah tau akal busuk saudara tirinya, belum lagi ia pula tau Nayla sudah lama menaruh hati pada Gantara, tapi karena Gantara yang menjalin hubungan dengan Cantika dan hubungan mereka harmonis tak ada kesempatan bagi wanita ular itu untuk merusak hubungan mereka, tapi kini takdir berjalan membelok.

"Punya bukti apa jika aku dijebak? Jujur selama ini aku baru menyadari sebuah kesalahan terbesar yang aku alami selama menjalin hubungan denganmu... dan apakah kamu tau apa itu?"ujar Gantara memberinya pertanyaan, tapi Cantika lagi-lagi memutuskan tak merespon.

"Aku bodoh karena selama empat tahun lamanya aku memilih hubungan dengan seseorang yang bermuka dua. Dulu selama kita pacaran kamu selalu merendahkan Nayla dan selalu mengatakan dia wanita manipulatif yang sudah merebut semua kebahagiaan kamu! Termasuk merebut kasih sayang ayah kamu, tapi aku sadar jika aslinya seorang manipulatif itu anda!" Lirikan Cantika sontak menyambar arah Gantara.

"Apa maksudmu semudah itu kamu menuduhku?"

"Jika kamu tidak terima kenapa pula dulu kamu suka menuduhnya tanpa memberi bukti? Jujur jika Nayla suka manipulatif kenapa pula ia rela bertaruh! Bahkan rela harga dirinya terinjak-injak tanpa bisa membela dirinya sendiri? Kamu salah menganggap Nayla jika dia wanita yang suka manipulatif dan memikirkan kebahagiannya sendiri... kamu salah."

"Tidak disangka baru beberapa hari kenal kamu sudah ikut termakan dengan permainannya dan aku tidak kaget karena aku pun sudah paham, hanya saja... aku cukup perihatin seorang seperti dirimu semudah itu termakan rayuannya."

Gantara hanya tersenyum tipis, tiba-tiba pula Gantara menarik paksa pergelangan tangan Cantika dan membawanya pergi entah kemana, lalu dimasukkan Cantika kedalam kamar pengantin, tubuh malang itu dilemparkan keatas ranjangnya.

"Apa yang ingin kamu lakukan?"

Wajah Cantika pucat pasi. Napasnya memburu, nafasnya naik turun menahan panik yang semakin menyesakkan. Mata liarnya mencari jalan keluar, berharap ada satu celah untuk menyelamatkan diri namun nihil ia telah dijebak.

Namun di hadapannya berdiri Gantara lelaki yang dulu pernah menjalin hubungan dengannya, kini menjelma seperti sosok asing yang jauh lebih menyeramkan. Tatapannya penuh nafsu, senyumnya dingin, dan caranya melangkah membuat bulu kuduk Cantika berdiri. Ia tidak bisa berharap pada siapa pun, kecuali pada dirinya sendiri.

"Aku minta pergi!" usir Cantika dengan suara bergetar, mundur satu langkah.

Namun Gantara justru tersenyum miring, seolah ancaman itu hiburan baginya.

"Kali ini kamu akan jadi milikku seutuhnya, Cantika... Dan hari ini kita akan bersenang-senang... aku akan puaskan kamu setelah waktu 4 tahun lamanya aku menahan nafsuku untuk tidak menyentuhmu," ucapnya pelan, namun penuh ancaman, ia sengaja menekan setiap kata-katanya karena ia tau Wanita dihadapannya jika semakin takut, itulah yang menjadi tantangan Gantara semakin besar.

"Memang kita sudah menikah. Kamu sudah memiliki suami kaya raya, tapi kalau faktanya kamu mengandung darah dagingku... bukankah Suamimu akan menganggap kamu telah mengkhianatinya?" Cantika menatapnya tak percaya.

"Kamu sudah gila." Gantara tertawa kecil.

"Atau... kamu hanya pura-pura menolak? Jujur saja selama kita berpacaran hampir 4 tahun kamu sangat menginginkan kenikmatan dariku kan?" Cantika baru sadar tubuhnya kini benar-benar terpojok.

"Jangan mendekat!"

Gantara tak peduli. Ia terus maju, ia semakin menikmati ketakutan di wajah wanita itu.

"Kenapa diam? Aku baik hati. Aku kasih kamu kesempatan pergi... asal kamu puaskan aku dulu, bukankah ini bukanlah kesempatan yang sulit?"

Ucapan itu membuat tubuh Cantika gemetar antara jijik dan marah.

"Aku akan berteriak!" ancamnya, namun Gantara mendekat lagi hingga napasnya nyaris menyentuh wajah Cantika.

"Jangan sentuh aku!" bentak Cantika. Ia mendorong dada Gantara sekuat tenaga, tapi lelaki itu justru menangkap pergelangan tangan Cantika dengan kasar. Cantika meronta, air matanya mulai jatuh.

"Lepaskan! Lepaskan aku!"

Gantara menarik tubuh Cantika mendekat, memaksanya kehilangan keseimbangan.

"Tolong! Tol—"

BRAK!

Pintu mendadak terbuka keras.

Beberapa orang masuk bersamaan. Suara langkah kaki menggema. Cantika tersentak, begitu pula Gantara yang refleks melepaskan tangannya.

"Ada apa ini?!"

"Apa yang kalian lakukan?!"

Cantika menoleh cepat. Wajahnya seketika berubah penuh harapan saat melihat orang-orang yang dikenalnya. Namun harapan itu hanya bertahan sesaat.

Salah seorang wanita menunjuk mereka dengan ekspresi jijik.

"Mas... apa yang sedang kalian lakukan dikamar pengantin kita? Kalian tidak mungkin berbuat tidak pantas, kan?" Cantika menggeleng panik.

"Tidak! Tolong dengarkan aku! Dia yang membawaku ke sini! Dia memaksa aku, mengancam aku! Mencoba..."Namun Gantara lebih cepat maju, memasang wajah seolah korban.

"Cantika, cukup..." katanya penuh sandiwara.

"Kalau memang kamu masih ingin balikan, bilang baik-baik. Jangan paksa seperti ini!" Cantika membelalak.

"Apa?!" Ia menoleh pada semua orang.

"Itu bohong! Dia yang menyeretku ke sini!"

Seorang pria lain menatap Cantika dengan kecewa.

"Jelaskan, Cantika. Kamu wanita bersuami. Kamu datang ke acara ini bersama suamimu. Tidak mungkin kamu bertindak serendah ini... kan?"

Suara Adrian itu menusuk lebih tajam daripada ancaman Gantara tadi, lelaki itu pula pura-pura memelas.

Cantika terguncang. Ia ingin bicara, tapi semua tatapan yang mengarah padanya penuh curiga. Gantara menunduk, pura-pura malu.

"Aku tahu kami dulu pacaran empat tahun, mungkin kamu belum bisa move on. Tapi aku tidak menyangka kamu akan memancingku ke tempat sepi seperti ini."

"PEMBOHONG!" teriak Cantika histeris.

Air matanya jatuh deras.

"Kalian semua salah paham! Dia yang mencoba memperkos4ku!" Namun bisik-bisik mulai terdengar.

"Kenapa mereka berdua sendirian di sini?"

"Kalau memang dipaksa, kenapa dari tadi tidak ada yang dengar?"oceh para tamu yang ikut menghakimi Cantika.

"Jangan-jangan benar dia yang menggoda duluan..."

Cantika menutup mulutnya sendiri, tubuhnya gemetar hebat. Ia baru saja lolos dari cengkeraman lelaki bejat. Tapi kini, ia jatuh ke dalam hukuman yang lebih kejam, diadili disaat dirinya lah yang menjadi korban.

BERSAMBUNG

1
Siti Fatimah
Maaf, bab 14 masih belum lulus review dari semalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!