NovelToon NovelToon
Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Aku Kaya Berkat Sistem Penagih Utang Akhirat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

​Darren hanyalah sampah di mata dunia. Sebagai penagih pinjol ilegal, hidupnya habis untuk dihina debitur sombong, disiksa bos yang brengsek, hingga akhirnya dicampakkan anak-istri di titik terendah.
​Beruntung maut di sebuah gudang tua itu justru menjadi awal dari segalanya. Saat nyaris mati dikeroyok, sebuah notifikasi muncul di hadapannya:
​[Sistem Penagih Utang Akhirat Diaktifkan]
Kemudian dunia berubah menjadi deretan angka. Darren kini mampu melihat Utang Keberuntungan dan Utang Umur setiap orang. Dari pengusaha korup hingga pejabat sombong, semua memiliki utang rahasia yang tak bisa lunas dengan uang. Sedangkan Darren adalah algojo yang berhak menarik paksa semuanya.
​Dari pecundang yang dipandang sebelah mata, menjadi penguasa finansial dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Peramal Palsu?

Hari-hari berlalu dengan sangat cepat setelah Darren meninggalkan rumah sakit. Dua minggu telah lewat tanpa terasa, dan kini Shinta telah resmi bekerja sebagai pelayan di penthouse mewah milik Seo yeon. Majikan itu memberikan posisi tersebut sebagai bentuk imbalan atas keberanian Shinta yang telah bertanggung jawab menyelamatkan nyawa Darren dari maut. Kehadiran gadis itu memberikan suasana baru yang lebih tenang di kediaman sang pewaris konglomerat.

Sementara itu, Darren sendiri menunjukkan perubahan karakter yang sangat drastis. Pria yang dulunya gemar menunda pekerjaan kini telah bertransformasi menjadi sosok yang luar biasa rajin. Dia sangat serius mempelajari seluk-beluk dunia bisnis dari pagi hingga larut malam. Ketekunan itu bahkan membuat Seo yeon yang dikenal gila kerja merasa terkejut. Beberapa kali wanita itu harus turun tangan langsung untuk mengingatkan asistennya agar tidak lupa makan atau sekadar beristirahat sejenak.

Siang itu, Darren baru saja menyelesaikan laporan komprehensif yang diperintahkan oleh Seo yeon. Dia segera beranjak dari meja kerjanya, lalu melangkah menuju ruang pribadi sang bos. Pintu pun diketuk sebelum dia masuk. Darren meletakkan tumpukan dokumen tebal di atas meja kayu yang dipelitur rapi. Adapun Seo yeon membacanya dengan saksama, kemudian memberikan anggukan tanda kepuasan.

“Peningkatan kemampuanmu sangat pesat. Aku sama sekali tidak menyangka dirimu bisa memahami kerumitan dunia bisnis secepat ini,” puji Seo yeon sembari menutup map laporan.

Keduanya kemudian berbincang mengenai berbagai perkembangan terkini. Hingga akhirnya, Seo yeon melontarkan sebuah pertanyaan yang cukup pribadi. “Jika suatu saat nanti kau sudah mandiri, bisnis seperti apa yang sebenarnya ingin kamu bangun?”

Darren ternyata sudah memikirkan hal itu sejak lama dan menjawab pertanyaan itu dengan mantap karena rencananya sudah terinci dengan sangat jelas di dalam kepalanya. Darren berkeinginan untuk membangun sebuah perusahaan investasi yang fokus pada sektor properti dan energi terbarukan. Semua itu karena menurutnya bisnis bukan sekadar soal jual beli aset, melainkan tentang menciptakan sebuah ekosistem yang mampu memberdayakan usaha kecil dan menengah. Ambisi itu terdengar sangat besar, namun Darren menyampaikannya dengan landasan yang realistis.

Sedangkan Seo yeon yang mendengar semua itu sampai sedikit terkejut. “Kau benar-benar berani mengambil risiko yang sangat besar. Sektor ini jelas bukan tempat bermain yang ramah bagi seorang pemula.”

Darren justru menyunggingkan senyum tipis. “Aku sangat menyadari akan hal itu. Tapi aku merasa tidak akan pernah bisa belajar dari orang yang terbaik jika hanya berani mengambil jalan yang aman.”

Wanita itu sendiri tampak merenungkan jawaban asistennya, lalu akhirnya memberikan anggukan setuju. Tak lama kemudian, Darren menyodorkan sebuah tas ke atas meja. Seo yeon membukanya dan menemukan tumpukan uang tunai sebesar satu miliar rupiah yang tersusun sangat rapi.

“Ini sesuai dengan kesepakatan awal kita dulu,” kata Darren dengan tenang. “Sudah cukup, kan?”

Seo yeon menatap tumpukan uang itu, lalu beralih menatap mata Darren, mungkin karena dia sudah pernah menyuruh Darren melupakan hal ini. “Aku tidak akan bertanya dari mana kau mendapatkan uang sebanyak ini dalam waktu singkat.”

“Aku hanya meminta agar kau bersedia menaruh kepercayaan penuh padaku,” celetuk Darren dengan dibumbui senyuman tipis penuh percaya diri.

Seo yeon pun tidak memberikan jawaban verbal secara langsung, dan justru kembali membahas detail rencana bisnis Darren, menginterogasinya dari berbagai sudut pandang yang tajam. Darren menjawab setiap pertanyaan itu dengan sangat meyakinkan pula.

“Baiklah. Aku setuju untuk mendukung rencanamu,” kata Seo yeon setelah sekian lama.

“Terima kasih atas dukungannya,” balas Darren sembari memberikan anggukan hormat.

“Tapi jangan berharap aku akan memberikan perlakuan istimewa di kantor ini. Kerja tetaplah kerja, Darren.”

“Aku memang tidak mengharapkan hal yang lebih dari itu.”

Malam harinya, Darren menghabiskan waktu sendirian di sebuah tempat yang sedang menjadi pembicaraan hangat di kalangan anak muda Jakarta. Area itu berupa halaman luas yang dihiasi lampu-lampu gantung yang cantik, kursi lipat berwarna cerah yang tersebar, serta kerumunan pasangan yang sedang menikmati suasana romantis di setiap sudut.

Di tempat itulah Darren bersandar pada dinding beton sembari menyesap sekaleng soda rasa jeruk. Pandangannya menyapu kerumunan itu dengan tatapan yang sedikit sinis.

“Percaya diri sekali mereka ini. Pegangan tangan di depan umum seolah dunia hanya milik berdua saja, padahal banyak orang jomblo di sekitar sini,” batin Darren sembari mendengus.

Dia kemudian mengalihkan perhatiannya pada antarmuka sistem yang muncul dalam bentuk layar transparan di hadapan matanya.

Level saat ini Level 2. Batas tagihan 10 persen per target. Batas penarikan harian Rp100 juta. Radius deteksi 1 kilometer. Saldo Debit Kolektor 230 DK. Sisa saldo Rekening Sistem Rp3,73 miliar.

Darren merasa sangat puas dengan pencapaiannya. Dalam dua minggu terakhir, dia berhasil menambah koleksi Debit Kolektor dari berbagai tagihan ke pengusaha-pengusaha nakal yang menjadi target penyelidikan Seo yeon. Saldo uangnya tetap aman dan terus bertumbuh.

Semua senyuman dan pikiran yang melayang-layang itu teralihkan pada sebuah bilik kayu sederhana di pojok area yang tampak terpencil. Pada papan kayu di atasnya tertulis, “Jasa Ramal Masa Depan. Akurat 100 persen.” Seorang wanita tua atau nenek itu mengenakan pakaian yang sangat sederhana sedang duduk di dalam bilik itu. Wajahnya dipenuhi kerutan, rambutnya sudah memutih, namun matanya memancarkan ketajaman yang tidak biasa.

Nampak pula bagaimana sebagaian pemuda-pemudi yang lewat terdengar tertawa mengejek. “Nenek itu masih saja duduk di sana. Pasti cuma penipu yang asal-asalan memberikan ramalan.”

Alhasil Darren merasa sedikit iba melihat pemandangan itu. Namun, dia sangat menyadari bahwa jasa semacam itu tidaklah gratis. Berbeda dengan penilaian buruk orang-orang di sana, Darren memiliki metode sendiri untuk membuktikan kebenaran di balik penampilan seseorang.

Darren lantas mendekati bilik tersebut. Sementara Nenek tua itu mendongak, menyunggingkan senyum yang memperlihatkan sisa giginya yang hanya tinggal beberapa.

“Apakah kau ingin mengetahui masa depanmu, anak muda?” tanya nenek itu.

“Boleh saja. Tapi sebelum kita mulai, apakah saya diizinkan untuk menyentuh tangan Nenek sebentar?” tanya Darren.

Nenek itu terkekeh. “Sungguh aneh anak muda zaman sekarang. Lebih suka menyentuh tangan seorang nenek tua daripada langsung bertanya.”

Darren tidak memberikan balasan karena tangannya segera menyentuh punggung tangan nenek itu sembari diam-diam mengaktifkan fungsi deteksi sistem. Cara ini menurutnya lebih akurat.

Layar transparan pun mendadak muncul di hadapannya.

Target terdeteksi. Nama Sri. Utang Keberuntungan Rp0. Utang Umur 0 tahun. Status purnawirawan peramal dari keturunan kepercayaan kuno.

Angka nol itu membuat Darren terpaku. Bagaimana mungkin ada manusia yang benar-benar bersih dari utang karma atau keberuntungan yang dicuri? Darren menyadari bahwa sistem tidak pernah memberikan informasi yang keliru.

“Baiklah. Saya ingin diramal. Berapa biaya yang harus saya bayar?” tanya Darren dengan jauh lebih sopan.

“Dua ratus ribu rupiah. Memang terasa mahal bagi orang biasa, tapi hasilnya akan sepadan dengan harganya.”

“Saya bersedia membayarnya,” jawab Darren sembari mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari saku celananya.

Nenek itu menerima uang itu dengan ceria, kemudian mengeluarkan setumpuk kartu yang sudah kusam dan mengocoknya dengan gerakan yang terlihat sangat aneh, lalu menyebarkannya di atas meja kayu.

“Tuan Muda,” panggil nenek itu setelah terdiam beberapa saat sembari menatap susunan kartu. “Bisnis yang sedang Tuan rencanakan akan meraih kesuksesan yang sangat besar. Namun, perjalanannya dipastikan tidak akan berjalan mulus. Ada banyak rintangan serta musuh yang saat ini tidak terlihat oleh mata.”

“Tuan Muda? Panggilan yang sangat tidak biasa bagi orang sepertiku,” batin Darren dengan keheranan. Biasanya orang hanya memanggilnya Mas atau Pak, namun panggilan dari nenek ini memberikan kesan yang sangat berbeda, padahal tadi nenek ini memanggilnya anak muda.

Darren mencoba untuk bertanya lebih mendalam mengenai detail rintangan tersebut, namun nenek Sri Murni hanya diam membisu. Matanya terus menatap Darren sembari menyunggingkan senyum yang sangat tipis. Akhirnya Darren segera mengerti bahwa informasi tambahan membutuhkan biaya ekstra.

“Saya ingin bertanya hal lain lagi,” kata Darren sembari berusaha menahan rasa jengkelnya. “Mengenai mantan istri dan anak kandung saya. Apakah mereka akan kembali berkumpul bersama saya suatu hari nanti?”

Nenek itu memberikan gelengan kepala secara perlahan. Dia mengambil kembali kartu-kartunya, lalu mengacaknya dengan tempo gerakan yang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Setelah selesai menyusun kembali kartu itu, raut wajah nenek Sri Murni berubah menjadi sangat serius. Kerutan di dahinya tampak semakin jelas.

“Saran saya, pergilah sejauh mungkin dari orang-orang yang saat ini sedang berada dekat denganmu Tuan Muda,” ucap nenek itu dengan berat hati.

Tentu saja Darren terkejut, merasakan jantungnya berdegup kencang di balik dadanya. “Apa sebenarnya maksud dari perkataan Nenek?”

Nenek itu tidak memberikan jawaban. Matanya kini hanya tertuju pada barisan kartu yang terbentang di atas meja kayu. Darren segera merogoh sakunya, berniat mengeluarkan sejumlah uang lagi untuk mendapatkan penjelasan. Namun, tangan nenek itu justru bergerak menghalangi gerakan Darren.

“Simpan saja uangmu itu. Tidak perlu ada tambahan biaya lagi.”

“Tapi Nenek belum memberikan jawaban yang memuaskan bagi pertanyaan saya tadi!” protes Darren.

“Itu karena jawaban yang akan aku berikan tidak akan pernah kamu sukai, dan kamu sendiri tidak akan mampu mengubah jalannya takdir meskipun sudah mengetahuinya lebih awal,” kata nenek itu sembari menarik napas panjang. Tatapannya kini tertuju langsung ke arah mata Darren dengan penuh misteri.

“Sebuah perang besar akan segera terjadi di hadapanmu,” bisik nenek itu mengakhiri ramalannya.

“Perang besar? Apa hubungannya denganku dan Seo yeon?” Pikir Darren dengan perasaan gelisah yang mulai merayapi benaknya.

Malam itu, Darren meninggalkan bilik ramalan dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk. Angin malam yang berembus terasa jauh lebih dingin dari biasanya, seolah memberikan pertanda bahwa kata-kata nenek Sri bukanlah sekadar bualan belaka.

1
Bg Gofar
mantap gan
DanaBrekker: terima kasih 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!