Mengisahkan tentang seorang kakak yang memendam perasaannya terhadap adiknya.
Seorang Ma Jiaqi pemuda pendiam, yang menyimpan rasa cintanya terhadap sang adik selama lebih dari sepuluh tahun. Perasaan itu seakan terus tumbuh seiring berjalannya waktu yang selama itu juga menyebabkan dirinya harus melewati rasa sakit yang Ia pendam.
"Apa benar bahwa kakak menyukaiku?"
"Maafkan kakak."
"JAWAB PERTANYAANKU!" Teriak Wati saat mengetahui semua fakta.
Sehingga ... pada suatu hari sang adik mengetahui tentang perasaannya. Jawaban apa yang akan sang kakak berikan? Apakah Jiaqi akan memberitahu tentang perasaannya? Atau bahkan sebaliknya?
Juga beberapa dari sahabatnya yang mengalami permasalahan CINTA yang mereka lalui.
"Pergilah dari hadapanku! Aku tak butuh kau berada di kehidupanku."
"Dewi sebegitu benci kah kamu terhadapku?"
"Ben j-jangan terlalu kasar! Ini sa-sakit."
"M-maaf aku terbawa suasana."
Penasaran? Yuk ikuti terus cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wati Charoline H., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Pagi.
Episode sebelumnya ...
"Kak ...?"
"Tetaplah seperti ini beberapa menit lagi," ucap Jiaqi dengan mempererat pelukannya itu.
Wati tersenyum ia hanya manggut-manggut mengiyakan saja.
'Kakak justru ingin pelukan ini tidak pernah lepas dek,' batin Jiaqi lalu memejamkan matanya seraya menghirup aroma tubuh sang adik yang selalu menjadi candunya.
(bukan ciumannya yaw jangan traveling!).
Wati membiarkan Jiaqi memeluknya, ia mengusap-ngusap punggung sang kakak lembut hingga sang pemilik tubuh merasakan kehangatan yang diberikan oleh Wati.
...***...
Wati pun menoleh, melihat Jiaqi yang hanya terdiam tanpa ada pergerakan.
"Kak ...?" panggil Wati namun tidak ada sahutan dari sang kakak.
"Kak Jiaqi ...," panggilnya lagi namun tetap tidak ada jawaban.
Wati memegang bahu Jiaqi berniat untuk mengintipnya dan ternyata sang kakak tertidur di pelukannya. Wati tersenyum ia akan hal itu, mungkin kakaknya kecapean hingga terlelap di pelukannya.
Wati mencoba menidurkan Jiaqi dengan pelan agar tak membangunkannya, dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga leher. Wati duduk di samping Jiaqi ia menatapnya dengan senyuman kecil. "Tidurlah dengan nyenyak kak ...," ucap Wati lalu mengecup kening sang kakak dan berlalu pergi.
Di saat pintu kamarnya itu tertutup.
"Kakak mencintaimu Wati ...," ucap Jiaqi dalam tidurnya.
...***...
Wati memasuki kamarnya lalu membaringkan tubuhnya pada ranjang empuk miliknya. Menatap langit-langit kamarnya dengan suara helaan nafasnya pelan.
"Kak Jiaqi kenapa ya ...? Kenapa dia seperti itu," gumam wati.
Lalu beberapa saat kemudian ia bangun dari tidurnya, memposisikan dirinya dengan posisi duduk. Ia melirik ke arah meja menatap sebuah foto yang terpampang empat orang di frame foto itu yaitu kedua orang tuanya, sang kakak dan juga dirinya. Ia meraihnya dan tersenyum saat menatap laki-laki yang telah menjadi kakak kesayangannya tengah tersenyum saat melirik ke arahnya.
"Di dalam foto pun dia malah melirik ku," ucap Wati seraya mengusap lembut frame foto itu.
Lalu ia meletakkan kembali foto itu dan berlalu menuju kamar mandinya berniat untuk membersihkan dirinya sebelum tidur.
Pagi harinya ...
"Selamat pagi ...," sapa Wati saat melihat Jiaqi turun dari tangga.
Jiaqi menghampiri sang adik seraya berkata. "Pagi juga," ucapnya dengan senyuman.
"Sini biar kakak saja yang menyiapkan sarapannya, kamu duduk sana!" ucap Jiaqi seraya tersenyum.
Wati pun mengangguk lalu melenggang pergi menuju ke meja makan. Jiaqi muncul dengan nampan berisi roti dan berbagai selai lainnya.
Wati mengambil roti tawar tersebut dan menambahkannya dengan selai coklat kesukaannya. Yah, Wati adalah penyuka yang berbau coklat.
Gadis itu segera melahap roti yang telah di polesi coklat dengan lahap sehingga membuat Jiaqi tersenyum menatapnya.
"Pelan-pelan makannya dek ...," ucap Jiaqi seraya mengelap bibir Wati yang belepotan akibat coklat yang ada di rotinya itu.
Setelah selesai mengelap bibir sang adik. Jiaqi mengambil roti dan memoleskannya dengan selai kacang lalu memakannya dengan tetap menatap wajah sang adik, untuk sekedar menjaga-jaga takut adiknya itu belepotan lagi.
Beberapa menit kemudian. Mereka pun telah selesai dengan sarapannya, mereka berdua tak lupa membersihkan meja makannya sebelum berangkat ke sekolah.
"Dek ...."
Wati menoleh pada Jiaqi. "Iya ...?"
"Tidak ada yang terlupa, 'kan?" tegur Jiaqi mencoba untuk mengingatkan.
Wati meraih tas yang ia letakkan di belakang kursi mobilnya, lalu mengeceknya. "Tidak ada kak! semuanya sudah ada di sini."
Jiaqi mengangguk. "Oke."
"Punya kak Jiaqi bagaimana? Apakah sudah ada semua?" tanya Wati, Jiaqi pun hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
***
Wati dan Jiaqi menuju ke kelasnya masing-masing, tapi sebelum itu Jiaqi mengantarkan sang adik terlebih dahulu ke kelasnya sampai di depan pintu, setelah itu Jiaqi pamit pada Wati, tidak lupa juga ia melambaikan tangannya. Wati pun membalas lambaikan tangan tersebut.
Jiaqi pun pergi meninggalkan kelas Wati menuju ke kelasnya sendiri, sesampainya di kelas Jiaqi melihat Tony sedang duduk di kursi miliknya dengan buku yang ia pegang. Jiaqi menghampiri sang sahabat lalu menepuk pundaknya pelan. "Menyingkirlah dari bangku ku!"
Tony menoleh ke arah orang yang menepuk pundaknya. "Kau sudah datang?" ucap Tony seraya berdiri dari bangku Jiaqi.
Jiaqi mengangguk. "Emm ...."
"Jiaqi ...?" panggil Tony dengan suara pelan.
Jiaqi yang ada di depan Tony membalikkan badannya. "Kenapa?"
Tony menatap wajah sahabatnya lalu ia menundukkan kepalanya. Jiaqi yang menangkap sifat Tony segera menghampirinya dan duduk di samping Tony.
"Ada apa Ton? Sera tidak apa-apa, 'kan?" tanya Jiaqi saat ia telah duduk di kursi sebelah Tony.
"Dia tidak apa-apa kok," balas Tony singkat.
"Lalu kenapa kamu seperti itu ...? Kamu tidak sedang menyakiti Sera, 'kan?" tanyanya lagi.
Tony mengangguk sambil menatap wajah Jiaqi. "Aku merindukanmu Jiaqi."
Jiaqi yang mendengar itu menutup kedua matanya sambil menarik nafas. "Haaaiiiish ... Kau malah bercanda kampret."
Tony pun terbahak-bahak karena sudah berhasil mengibuli sang sahabat. "Hahahhahaha ... maafkan aku Jiaqi, aduh perutku sakit sekali," ucapnya sambil memegang perut yang ia pegang.
Jiaqi menggelengkan kepalanya dan berniat untuk kembali ke bangku miliknya, namun Tony segera menahan lengan Jiaqi.
"Aku belum mengatakan apa-apa kau malah mau pergi," ucap Tony seraya tetap menahan lengan Jiaqi agar tidak pergi dari sampingnya.
"Jika kau ingin bercanda denganku, nanti saja pas di jam istirahat," balas Jiaqi dengan tatapan dinginnya.
"Tidak, tidak! Kali ini aku serius," ucap Tony dengan ucapannya.
Jiaqi menoleh pada Tony. "Ceritakan saja ada apa?"
Tony melepaskan tangannya dari lengan Jiaqi, ia menatap wajah Jiaqi seraya berkata. "Aku belum menyentuhnya."
Jiaqi membulatkan matanya seraya menoleh ke sekitar. "Ap-apa yang kamu katakan hah ...? Kenapa malah berbicara tentang itu di sini?" tegur Jiaqi dengan pelototan matanya.
Mohon maaf, ijin promo ya thor. Ada suka cerita perang epik dng MC yg punya bnyk pasukan..mampir yuk di novel sy " penguasa dua benua" moga suka..
semangat semoga dengan sedikit kritikan bisa memotivasi penulis untuk menjadikan karya yg lebih baik.. aminn
1. akhirnya wati tau klo jiaqi bukan kakak kandungnya.
2. sera sama tony akhirnya pisah.
3. dewi meninggoy, cowoknya jadi sad boy.
4. menik mencoba menerima ben.
5. whidie nikah sama cowoknya.
btw berarti yg happy ending cma si whidie dong yg lainnya sad ending and open ending 😭😖
paling menarik peehatian kata2 patkay coklat, masa upil disamakan sm cinta 🤣🤣🤣