Sejatinya anak adalah Mutiara di dalam sebuah pernikahan. namun tidak demikian dengan Tiara yang justru dianggap pembawa sial oleh wanita yang sudah melahirkannya.
Ia disalahkan sebagai penyebab hancurnya impian sang ibu, yang jelas jelas bukan salahnya.
Bu Nani belum bisa berdamai dengan keadaan dan melampiaskan kekecewaannya kepada Tiara.
Yuk baca kisah Tiara selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dara Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
"kenapa kamu melototi bapak seperti itu! " ujar pak Tono dengan tatapan elang nya membuat Tere semakin bergidik ngeri.
"E.. enggak pak, saya cuma kaget aja" menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"bapak perhatikan kamu memandangi Wahyu terus, naksir? " tukas pak Tono.
"e.. enggak pak, saya lihat ke luar jendela"
"apa yang kamu lihat di luar jendela? "
Tere menelan salivanya kasar, tidak tahu harus menjawab apa. tidak mungkin kan bilang lihat angin.
"ayo jawab, kenapa diam saja"
"e.. itu.. e... " kembali menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"kenapa garuk-garuk? kurapan? "
"pfff" teman teman sekelasnya menahan tawa karena ucapan pak Tono.
tring.. bel tanda pergantian jam pelajaran berbunyi
"waktunya habis, ayo kumpulkan" titah pak Tono namun Tere belum menyelesaikan tugasnya.
ia panik dan mencari contekan dengan Lola namun tidak ada waktu lagi.
Alhasil Tere mengumpulkan tugasnya walaupun belum selesai. ia pasrah akan hasilnya nanti.
langit begitu gelap, nampaknya hujan akan turun sebentar lagi.
mentari yang bersinar memancarkan hangatnya ke seluruh bumi mendadak bersembunyi di balik awan hitam.
perlahan gerimis pun mulai turun dan semakin lama semakin deras, sesekali terdengar suara guntur yang mengerikan.
Tiara memeluk dirinya kedinginan karena belum mendapatkan angkutan umum untuk pulang dan beberapa murid lain nya yang masih menunggu.
entah menunggu Angkutan umum seperti dirinya atau menunggu jemputan orang tua mereka.
sedari tadi angkutan umum selalu penuh.
hawa dingin terasa menusuk sampai ke tulang dan hembusan angin yang memercikkan air membuat pori-pori Tiara menonjol menampakkan kan rambut halus di tangan nya berdiri akibat menahan dingin.
sekolah sudah semakin sepi, namun Tiara belum juga mendapatkan angkutan umum.
"apa yang akan ku katakan pada ibu nanti?" gumam nya seraya memandangi derasnya air yang turun dari atap bangunan, sepertinya hujan masih enggan untuk berhenti.
Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas hendak menelpon ayahnya minta di jemput " huh kenapa aku baru terpikir sekarang sih" gumamnya sambil menyalakan ponsel lalu segera mencari nomor kontak Ayah nya.
sial nya layar ponselnya menjadi gelap, baterainya habis.
"kenapa mati sih" kesal Tiara lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.
tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang, hanya bisa menunggu Angkutan umum lewat lagi.
"Ya allah, dingin sekali" gumamnya memeluk tubuhnya sendiri, bibir nya pun sudah bergetar dan berubah pucat.
"kapan hujan nya berhenti? " gumamnya lagi.
"Ya allah aku mohon bantu aku, aku ingin pulang" batin nya cemas karena sudah hampir satu jam ia menunggu.
Tiba-tiba ada yang menempelkan jaket pada tubuhnya, sontak menoleh ke arah orang tersebut.
matanya membulat sempurna tidak percaya seraya darahnya bergejolak merasakan desiran aneh di hatinya.
"ka.. kak belum pulang" tanya Tiara terbata.
"seperti yang kamu lihat"
Tiara melepaskan jaket yang menempel pada tubuhnya dan mengembalikan nya pada Wahyu.
"kakak pake aja, aku gak apa-apa kok"
Wahyu tersenyum mendengar ucapan Tiara, padahal jelas-jelas ia sangat kedinginan.
"jangan seperti itu Tiara, aku gak ada maksud apa-apa. jangan khawatir aku cuma menganggap kamu sebagai temanku"
"apa gak bisa kita berteman? "
"JLEB! " hati Tiara seperti tertusuk paku, perih mendengar penyataan Wahhu barusan.
setelah hampir dua bulan, kini ia dapat mendengar suara Wahyu lagi namun perkataannya membuat dada Tiara sesak.
"i... iya bisa kak" jawan Tiara terbata. rasanya ia ingin menangis, air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
"hei kau kenapa Tiara, apa ucapan ku menyinggungmu" melihat mata Tiara berkaca-kaca.
"e.. enggak gak aku cuma kelilipan, ya kelilipan"
"sini biar aku lihat" meraih wajah Tiara dan menuip-niup mata Tiara.
Jantung keduanya seperti berlomba karena jarak di antara mereka sangat dekat.
Tak lama Tiara mendorong tubuh Wahyu menjauh dari nya.
ia takut ketahuan karena jantungnya berdetak sangat kencang namun karena suara air hujan irama itu tidak terdengar.
"kenapa Ra"
"gak apa-apa kak, mata ku udah gak kelilipan lagi" memalingkan wajahnya dari Wahyu.
"makasih ya kak"
"iya teman" mengelus puncak kepala Tiara.
"pakai jaket ini, aku tahu kamu kedinginan"
"makasih kak" Tiara Menolak.
"jangan berbohong, kamu sedari tadi menggigil. kita teman kan sekarang"
"i.. iya kak, makasih" menerima jaket tersebut dan memakainya.
Wahyu tersenyum lalu meraih tangan Tiara lalu mengaitkan jari kelingking nya dan jari kelingking Tiara " berjanjilah kita sudah jadi teman sekarang" ucapnya.
"i.. iya" jawab Tiara berusaha tersenyum menahan pedih hatinya.
✨💎💎✨💎💎✨
💎💎💎💎💎💎💎
💎💎💎💎💎💎💎
✨💎💎💎💎💎✨
✨✨💎💎💎✨✨
✨✨✨💎✨✨✨