Elina Jovanka melihat bagaimana hancurnya kehidupan ibunya saat ayahnya memutuskan untuk memiliki 2 istri. Saat sang ibu meninggal, Elina berjanji tak akan pernah menikah jika suaminya berpoligami.
Saat ia dipertemukan dengan cinta pertama dalam hidupnya, Okan Atmaja langsung melamar Elina dan mereka menikah. Elina yakin kalau Okan akan mencintainya sebagai satu-,satumya wanita dalam hidupnya. Namun, Elina tak pernah membayangkan kalau untuk mendapatkan restu dari ibu mertuanya, ia harus merelakan Okan menikah dengan gadis lain.
Sanggupkah Elina bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Susi Terbongkar
Sekuat tenaga Elina berusaha bertahan dengan keputusannya namun saat melihat Okan yang berlutut di hadapannya, saat melihat Okan yang memohon kepadanya, hati Elina akhirnya luluh juga. Ia memegang tangan Okan yang memeluk erat kakinya.
"Jangan seperti ini, mas. Ayo berdiri!"
"Aku nggak mau kau tinggalkan aku, Eli."
Elina memejamkan matanya. Menekan semua rasa yang ada dalam hatinya. "Aku tak akan meninggalkanmu, mas."
Okan berdiri. Ia langsung memeluk Elina dengan perasaan senang. Ia memegang kedua pipi Elina dan mencium seluruh bagian wajah istrinya. "Terima kasih, sayang. Terima kasih karena tak meninggalkanku."
Setelah meneduhkan hatinya untuk tetap bertahan di sisi Okan, Elina pun bersimpuh dalam permohonan doa melalui sholat tahajud. Okan sudah tertidur dengan lelapnya namun Elina tak dapat memejamkan matanya.
Ya Allah, mampukan aku bertahan dalam cobaan yang berat ini. Engkau yang paling mengerti batas kemampuan diriku dalam menjalani semua ini. Aku sangat mencintai suamiku. Hanya dia satu-satunya lelaki yang mampu menggetarkan hatiku. Kenyataan kalau ibu Larasati sangat membenciku membuat hatiku sedih. Aku sudah memaafkan semua yang beliau lakukan padaku. Aku akan belajar melupakan semuanya. Berikanlah kesehatan dan umur yang panjang untuk ibu mertuaku, agar beliau dapat melihat bahwa aku adalah menantu yang baik untuknya. Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina 'adzabannar..........
Elina mengahiri doanya. Hatinya kembali tenang. Ia pun membuka peralatan sholatnya lalu segera ikut berbaring di samping Okan. Ia memandang wajah tampan suaminya. Elina harus mengakui bahwa Okan termasuk golongan pria yang banyak diminati oleh kaum hawa. Apalagi perpaduan darah Indonesia dan Turki yang mengalir di tubuhnya, membuat Okan memiliki karisma sendiri di kalangan banyak orang. Saat Okan masih menjadi salah satu berandalan yang suka menongkrong di dekat sekolahnya pun Okan selalu berbicara kalem pada Elina. Mungkin semua pesona Okan itulah yang membuat Elina selalu menolak semua pria yang mendekatinya.
*********
Sebulan sudah berlalu semenjak Elina meminta pisah dari Okan, hubungannya dengan Okan kembali membaik. Sikap Okan yang selalu perhatian dan sedikit posesif padanya kembali lagi. Keduanya bahkan sudah membuat janji, jika ibu Larasati selesai di operasi pemasangan ring di jantungnya, mereka akan pergi berlibur.
Seminggu sekali, Okan menginap di rumah ibunya. Elina menganggap itu hal yang wajar. Ia yakin kalau Okan tak akan mendekati Susi lagi.
"Tuan, ini beberapa foto yang saya ambil terhadap sepupu tuan, nona Susi. Dia memang suka membuka hijab bila berada di luar rumah. Ia suka bergaul dengan anak-anak orang kaya di kampus dan sepertinya dia memang memiliki hubungan dengan lelaki bernama Iqbal ini." Yuda, salah satu orang kepercayaan Okan, yang diminta Okan untuk mengikuti Susi meletakan foto-foto yang sudah dicetaknya. Mata Okan langsung terbelalak melihat beberapa foto Susi tanpa hijab dengan baju yang agak terbuka di sebuah cafe yang cukup terkenal di Jakarta ini. Ada juga beberapa foto Susi bersama Iqbal yang dikenal Okan sebagi sepupu Susi dari pihak ibunya. Bahasa tubuh mereka memang menunjukan bahwa mereka ada hubungan karena ada salah satu foto yang menunjukan Susi mencium pipi Iqbal.
"Saya sudah menyelidiki tempat tinggal Iqbal. Nona Susi sering berada di sana. Pernah saat saya mengikutinya, ia datang ke tempat kost Iqbal pada jam 9 pagi dan nanti keluar pada jam 3 sore. Keduanya berpelukan bersama saat keluar dari sana. Menurut pemilik kost, Iqbal dan Susi sudah menikah siri, namun karena orang tua Susi tak menyetujui hubungan mereka maka mereka menjalaninya secara diam-diam."
Betapa geramnya hati Okan saat mengetahui semua kebenaran tentang Iqbal dan Susi. Tangannya bahkan bergetar menahan amarah. Apa yang pernah Elina sampaikan kini terbukti.
"Terima kasih, Yuda. Kau akan mendapatkan balasan yang pantas karena sudah memberikan informasi tentang ini." Ujar Okan.
Yuda mengangguk dan segera meninggalkan ruangan Okan.
Setelah Yuda pergi, Okan menelepon istrinya. "Sayang, kamu ada di mana?"
"Masih di toko kue, mas. Sebentar lagi akan pulang. Ada apa?"
"Aku mau pulang agak lambat soalnya mau ke rumah ibu. Ada beberapa hal yang harus aku lakukan. Kamu tenang saja ya, aku akan menalak Susi hari ini juga. Kamu akan menjadi istriku yang satu-satunya."
"Apakah nggak menunggu ibu sembuh dulu, mas?"
"Aku telah mendapatkan bukti kalau Susi dan Iqbal memiliki hubungan yang tak pantas."
"Alhamdulillah. Aku senang kalau mas akhirnya mengetahuinya sendiri."
"Ya. Maafkan aku ya? Dulu aku tak percaya saat kau mengatakannya secara tersirat."
"Ok, mas. Ngomongnya hati-hati jangan sampaj membuat ibu stres."
"Iya sayang. Aku tutup dulu ya? Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, mas."
Okan membereskan pekerjaannya. Sebelum ia ke rumah ibu, dia menelepon Susi.
"Kamu ada di mana, Susi?"
"Aku baru saja tiba di rumah, mas. Ada apa?"
"Tunggu aku di sana!" Ujar Okan lalu segera memutuskan sambungan telepon.
*********
Okan tiba di rumah ibunya saat jam baru menunjukan pukul 4 sore. Susi menyambutnya seperti biasa. Mencium tangan Okan dan menawarkan kopi untuknya. Namun Okan menolaknya.
"Di mana, ibu?"
"Ibu baru saja keluar. Ada rapat di yayasan."
Okan menatap Susi. Perempuan yang selalu menggunakan baju panjang dan berhijab. Yang selalu sholat dan sangat pandai membaca Alquran. Okan ingat, saat Susi masih SMP, ia pernah menjuarai lomba membaca Alquran di tingkat propinsi. Okan dulu sangat bangga padanya dan menyayanginya dengan tulus sebagai adik sepupunya. Namun kenyataan telah berubah.
"Ada apa, mas?" Tanya Susi melihat Okan menatapnya dengan dingin.
"Ikut aku ke ruang keluarga!" Okan melangkah lebih dulu dan Susi mengikutinya dari belakang. Saat Susi sudah duduk, Okan meletakan beberapa foto yang diberikan Yuda padanya.
"Apa ini, Susi?"
Wajah Susi langsung pucat saat melihat fotonya tanpa hijab. Ia juga merasa ingin pingsan saja saat melihat foto-foto kemesraan nya dengan Iqbal.
"Aku.......!" Susi menjadi gugup. Kedua tangannya memegang pinggiran tempat duduk dengan sangat kuat.
"Katanya kamu dan Iqbal sudah menikah siri kan? Katanya kalian sudah lama menjalin hubungan. Apakah mungkin cerita perkosaan mu itu hanyalah karangan mu semata? Kamu sebenarnya menyerahkan dirimu secara sukarela kepada Iqbal? Jawab Susi!" teriak Okan membuat Susi semakin ketakutan.
"Mas.....!" Susi langsung bersimpuh di dekat kaki Okan. "Aku memang diperkosa saat di pesantren. Mas Iqbal selalu menghibur dan menguatkan ku. Lama-lama kami menjadi semakin dekat dan akhirnya kami menjadi sepasang kekasih."
"Tapi dia kakak sepupumu!"
"Aku kan hanya anak angkat ayah dan ibu jadi tidak masalah. Seperti juga pernikahan kita, mas. Aku mohon, mas. Jangan bilang sama ibu. Aku takut kalau ibu sampai sakit saat mengetahui yang sebenarnya. Aku janji akan menyelesaikan kuliahku dan menjauhi mas Iqbal. Berikan aku kesempatan untuk bertobat, mas." Susi menangis keras sambil memeluk kaki Okan.
"Apa benar kau dan Iqbal sudah menikah siri?"
"Nggak, mas. Itu hanya kebohongan yang kami ciptakan agar aku bebas ke tempat kostnya mas Iqbal."
Okan menjauh dari Susi. Entah mengapa ia merasa jijik pernah menyentuh Susi. Wajah Haikal terbayang lagi. Walaupun hasil tes DNA membuktikan kalau Haikal memang adalah anaknya namun Okan ingin bertanya lagi.
"Dan Haikal, apakah dia anakku atau anak Iqbal?"
"Haikal benar adalah anakmu, mas. Sejak kita menikah, hubunganku dengan mas Iqbal menjadi renggang. Aku bahkan tak pernah berkomunikasi dengannya sampai Haikal lahir. Namun, karena aku tak mendapatkan kasih sayang dan perhatian darimu, karena aku merasa tak dicintai walaupun sudah memberikan anak untukmu, aku menelepon Iqbal, kembali curhat padanya dan akhirnya hubungan kami terjalin kembali. Andai saja mas Okan mau bersikap adil padaku, aku pasti tak akan terjerumus dalam hubungan ini dengan mas Iqbal. Hanya mas Iqbal yang mengerti aku, yang perhatian dan sayang padaku." Susi pun akhirnya mencurahkan seluruh isi hatinya.
"Lalu mengapa sampai kau membuka jilbabmu saat berada di luar rumah?"
Air mata Susi terus mengalir. "Dulu, aku tak punya teman di kampus karena dianggap orang tak punya. Namun, setelah aku mendapatkan uang darimu, setelah aku mengubah gaya berpakaian ku, setelah aku bisa mentraktir mereka di restoran mahal, mereka mau menerimaku. Aku jadi punya banyak teman dan dikenal di kampus. Aku hanya ingin merasakan bagaimana memiliki teman dan dikenal banyak orang. Selama ini hidupku hanya di rumah dan di kampus saja. Ibu bahkan tak pernah mengijinkan aku keluar rumah walaupun hanya sekedar jalan-jalan. Aku juga ingin menikmati masa mudaku."
Okan menggelengkan kepalanya. "Menikmati masa muda bukan berarti harus melepaskan identitasmu sebagai perempuan muslimah."
"Mas bicara masalah identitas perempuan muslimah? Lalu mba Elina sendiri bagaimana? Dia juga sama sekali tak pernah memakai hijab."
"Jangan samakan istriku dengan dirimu Susi!" Okan menjadi semakin emosi.
Susi berdiri. "Aku akui kalau mba Elina sangat cantik. Siapapun lelaki yang melihatnya pasti akan tertarik padanya. Apalagi dia memiliki bentuk tubuh seperti seorang model. Nyaris sempurna bahkan bisa dikatakan sangat sempurna. Namun, apakah mas Okan yakin kalau dia juga setia pada mas Okan? Zeki dan dokter Arkan adalah dua lelaki yang tampan dan tergila-gila pada mba Elina. Bahkan dokter Arkan memiliki kekayaan yang lebih besar dibandingkan dengan apa yang dimiliki oleh mas Okan. Saya yakin kalau mba Elina sudah membuka bajunya di depan dokter itu."
"Diam kamu.....!" Okan menampar Susi dengan sangat keras. Ia tak rela kalau Elina di lecehkan. "Elina bukan perempuan seperti itu. Dia bukan seperti kamu!"
"Ya. Aku memang tak secantik mba Elina. Aku hanya perempuan kampung yang bermimpi untuk bisa menjadi istri keduamu. Namun mas Okan sudah bersikap tak adil padaku. Aku jadi rusak begini juga karena kamu, mas." Susi berteriak sangat keras. Ia bahkan memukul-mukul tubuh Okan dengan kedua tangannya.
"Kendalikan dirimu, Susi!" Okan menahan kedua tangan Susi. "Dengar baik-baik! Aku menalak kamu, Susi. Hubungan kita selesai!"
Susi terdiam beberapa saat. Ia tak percaya kalau Okan akan menalaknya.
"Tak ada lagi ikatan suami istri diantara kita!" Okan melepaskan tangannya yang memegang tangan Susi.
"Aku pergi....!" Okan langsung melangkah meninggalkan Susi. Perempuan itu masih diam, sampai akhirnya ia menyadari sesuatu. Ia mengejar Okan.
"Mas Okan.....! Mas Okan.....! Mas....., kau tak boleh menalak aku....!" Teriak Susi membuat para pelayan yang sedang membersihkan halaman terkejut mendengar teriakan Susi. Namun Okan tak memperdulikannya. Ia langsung naik ke mobilnya dan pergi. Susi mengejar Okan sampai ia harus terjatuh beberapa kali. Para pelayan pun membantunya untuk berdiri karena kakinya sudah berdarah.
**********
Tangan Okan memeluk tubuh Elina dengan sangat kuat. Ia mencium kepala istrinya secara berulang-ulang.
"Ada apa, mas?" tanya Elina sambil membalikan badannya. Mereka baru saja bercinta dengan sangat panas setelah makan malam. Okan sudah menceritakan segalanya termasuk juga apa yang menyebabkan Susi berubah.
"Aku sangat mencintaimu, sayang."
"Aku juga mencintaimu, mas!"
Okan mengecup bibir Elina. "Mulai hari ini, kita akan memulai semuanya tanpa ada lagi Susi diantara kita. Sayang, apakah kau ingin kita mengadopsi anak?"
"Mas suka? Kalau aku sebenarnya sudah lama ingin mengadopsi anak. Namun aku takut kalau mas Okan tak setuju."
"Setelah ibu operasi, kita akan pergi berbulan madu selama satu bulan. Pulang dari bukan madu, kita akan mencari anak yang bisa kita adopsi."
Elina tersenyum. "Terima kasih, mas."
Ponsel Okan yang ada di atas nakas berbunyi.
"Angkat, mas." Elina mendorong bahu suaminya karena Okan terlihat malas untuk mengangkat panggilan itu.
Okan pun berdiri, mengenakan boxernya lalu menerima panggilan dari nomor yang tidak di kenal.
"Hallo, apakah ini dengan bapak Okan Yilmas?"
"Iya, benar. Ini dengan siapa ya?"
"Ini dari polisi. Kami mau mengabarkan kalau istri anda mengalami kecelakaan dan kondisinya sedikit kritis. Sementara perempuan yang satunya juga pingsan dan harus dirawat khusus karena ada gangguan jantung."
"Perempuan yang satu? Siapa?"
"Perempuan berusia sekitar 50an atau 60an. Namanya Larasati."
"Ibu? Itu ibuku."
"Kami ada di rumah sakit xxx."
"Baik, terima kasih."
Elina yang sudah mengenakan lagi pakaiannya menatap Okan. "Ada apa, mas?"
"Ibu dan Susi mengalami kecelakaan."
Ya Allah, cobaan apa lagi ini?
karyanya memang keren²...
mas okan juga hebat otthornya juga hebat
Tuhan berkahi dan terus berkati terus pimpin MB ellina dan keluarga serta othor ,sehat,belimpah sukacita amin🙏❤️❤️❤️❤️