Hidup Luna hancur setelah di jebak dan di hamili oleh kekasihnya - Gandhi. Terlebih saat Mira, Ibu dari Gandhi menolak untuk bertanggung jawab atas kehamilan Luna. Suatu ketika Mira mengetahui Luna adalah anak tunggal dari Adiyatama Erlangga - Pemilik Perusahaan Erlangga Jaya. Ia menyesal telah menolak Luna dan berusaha mendekati Luna supaya Gandhi menjadi penerus Erlangga Jaya jika menikahi Luna.
Luna hancur saat ia diperalat sebagai boneka pemuas nafsu oleh Gandhi. Kemudian Luna mengetahui niat jahat Mira, ia segera melakukan sesuatu agar perusahaan Ayah tidak jatuh ke tangan orang-orang serakah seperti Mira dan Gandhi. Luna mengorbankan Aditya - Sahabat kecil Luna yang sejak dulu menyukainya. Luna melakukan hubungan intim dengan Aditya. Luna menikah dengan Aditya namun Gandhi mengakui bayi yang dikandung Luna adalah anaknya.
Siapakah ayah yang sebenarnya dari bayi yang dikandung Luna?
Apa rencana Gandhi dan Mira untuk mendapatkan Luna?
Bagaimana dengan pernikahan Luna dan Aditya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sity Qhomariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Setelah berpikir panjang selama satu bulan, Luna memutuskan untuk pindah kembali ke Bandung. Ia menyerahkan kembali posisi perusahaan kepada Om Arga dan Luna akan kembali memegang posisi di Bandung seperti dulu. Ia sudah memberitahukan kepada Ayah dan Ibu jika mereka akan pulang hari ini.
“Mentari, jangan ada yang ketinggalan. Periksa lagi isi kopermu. Kita akan selamanya tinggal di Bandung.” Luna memperingatkan, Mentari menurut. Ia kembali memeriksa isi kopernya.
Luna sibuk merapikan beberapa koper yang berisi barang miliknya dan Bintang. Memeriksa kembali isi kamar dan seisi rumah. Setelah di rasa cukup, ia membantu Mentari yang sedang memeriksa koper. Setelah itu, mereka bergegas meninggalkan rumah dengan menggunakan taxi. Mobil yang biasa dipakai Luna sudah dijual. Sedangkan rumah yang ditempati Luna akan di serahkan kepada Om Arga untuk mengurusnya.
Luna dan anak-anak sudah sampai di bandara. Mereka siap melakukan perjalanan jauh antar negara. Luna menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Memejamkan mata meresapi segala kenangan yang ada. Dan kembali bersiap menyambut tempat kelahiran. Tempat dimana segala kenangan tercipta.
“Bandung, tunggu aku datang!” bisiknya dalam hati.
Setelah melakukan perjalanan panjang, mereka tiba di bandara Indonesia. Mereka melangkah keluar dari pesawat. Setelah kakinya menginjak lantai, Luna memejamkan mata dan menarik nafas panjang. Senyumnya mengembang.
“Aku kembali!” teriaknya sambil merentangkan tangan. Beberapa orang disekitar sempat menoleh ke arah Luna. Luna menyadari hal itu, ia segera menarik tangan anak-anaknya dan pergi.
“Iya Ayah, Luna udah di depan bandara nih! Iya ini disebelah sini. Iya yang pakai jaket biru. Iya Ayah. Nah ini yah! Luna udah liat Ayah! Ayah tengok sini!!” teriak Luna di telepon sambil melambai-lambaikan tangan ke arah laki-laki yang sudah berusia sekitar 60 tahun. Ayah yang sudah melihat Luna segera berlari menghampiri mereka. Luna memeluk Ayah erat. Melepaskan kerinduan yang terkumpul selama 6 tahun. Luna menitikkan air mata haru. Setelah pelukan terlepas, Ayah segera mendekati Mentari dan Bintang yang berdiri menyaksikan Luna dan Ayah sambil berpegangan tangan.
“Mentari masih ingat Kakek?” tanya Ayah. Mentari terdiam sambil berpikir.
“Pasti kamu lupa ya. Sini peluk kakek dulu.” Kakek langsung memeluk Mentari dan juga Bintang.
“Acara ingat-ingatannya dilanjut di rumah yaaa, ayo sekarang kita pulang. Udah gak sabar mau jumpa Ibu!” ajak Luna kepada mereka. Ayah tersenyum sambil mengacak rambut cucu-cucunya. Mereka segera bergegas meninggalkan bandara.
Luna sudah berdiri di depan rumah yang penuh kenangan. Ia memperhatikan halaman sekitar. Sudah banyak yang berubah. Bunga-bunga banyak yang layu tidak seperti dulu saat ia masih gemar menanam dan menyiram bunga setiap pagi. Luna menoleh ke arah garasi. Mobil yang dulu ia pakai bekerja masih terparkir rapi disana. Luna membalikkan badan menatap ke sebuah rumah di depan rumahnya. Meskipun rumah itu sudah ganti pemilik namun kenangan Luna di rumah itu masih terasa. Kenangan bersama Fandra dan Adit. Yang lebih terkenang adalah saat Luna pertama kali tidur bersama Adit. Bibir Luna menyunggingkan senyum.
“Luna!” teriak Ibu dari arah pintu. Luna terkejut dan menoleh. Luna langsung berlari ke arah Ibunya.
Luna dan Ibu berpelukan sambil bertangisan. Ibu terharu melihat kedatangan anaknya yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Beberapa menit mereka berpelukan melepas rindu. Ibu melirik ke arah gadis kecil cantik yang terus menatapnya. Ibu tersenyum. Ia berlutut sambil merentangkan tangan.
“Sini peluk Nenek!” perintah Ibu. Mentari tersenyum, ia segera berlari memeluk Ibu. Ibu memeluknya erat. Menghujani ciuman yang bertubi-tubi. Bintang bersembunyi di belakang Luna sambil menarik baju belakang Luna. Ibu melepaskan pelukannya. Matanya mencari-cari Bintang.
“Ini Bintang, Bu. Dia malu karena belum pernah kenal Ibu.” kata Luna sambil menarik Bintang yang malu-malu. Ibu tersenyum lebar.
“Bintang belum kenal Nenek dan Kakek yaa? Sini kenalan dulu.” Ibu menarik tangan Bintang dan memeluknya.
“Kenalin ya? Ini Neneknya Bintang dan Mentari, dan itu Kakek kalian.” Kata Ibu pelan sambil menunjuk dirinya bergantian menunjuk Ayah. Bintang tersenyum malu.
Acara melepas rindu pun berakhir. Mentari dan Bintang sudah tertidur pulas di kamar. Mereka kelelahan akibat perjalanan jauh. Luna duduk di depan TV bersama Ayah dan Ibu.
“Jadi apa rencana kamu di sini, Lun?” tanya Ibu membuka topik pembicaraan.
“Luna balik ke perusahaan yang di Bandung, Bu. Terus nanti Mentari akan Luna sekolahkan di SD tempat Luna dulu. Bintang juga harus masuk TK.” Jawab Luna.
“Baguslah, Ayah mendukung.” Sahut Ayah. Mereka pun berbincang panjang lebar. Perbincangan terhenti saat Luna beranjak untuk tidur. Ia perlu mempersiapkan diri untuk esok. Ia akan mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah yang baru.
Keesokan harinya, Luna sudah siap dengan pakaian yang rapi. Ia akan mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah. Ia menaiki mobil yang dulu selalu dipakai Luna untuk kerja. Luna berhenti di depan sekolah. Ia turun dari mobil di ikuti oleh Mentari dan Bintang. Mereka sudah berada di ruang kepala sekolah.
“Jadi Mentari sudah bisa langsung sekolah hari ini. Untuk seragam bisa menyusul besok karena harus dipesan terlebih dahulu.” Kata kepala sekolah memberitahu. Luna mengangguk. Ia mengantar Mentari menuju kelas barunya bersama kepala sekolah.
“Mentari langsung masuk ya, nanti siang Bunda jemput. Ingat! Jangan pernah mau di ajak orang gak dikenal.” Luna mengingatkan. Mentari mengangguk. Ia mengikuti kepala sekolah masuk kedalam kelas. Luna memperhatikan Mentari sekejap. Setelah di rasa cukup, ia bergegas meninggalkan sekolah sambil menggandeng Bintang. Ia akan mendaftarkan Bintang ke TK.
Bintang berbeda dengan Mentari, ia tidak harus masuk ke sekolah hari itu juga. Jadi, setelah mendaftar, Luna mengajak Bintang ke kantor yang sudah lama ia tinggal. Luna disambut oleh sekretarisnya yang dulu, Saskia.
“Masya allah, Bu! Apa kabar, Bu Luna?!” teriaknya histeris. Luna tersenyum lebar.
“Alhamdulillah baik, Sas. Kamu apa kabar?” tanya Luna.
“Baik, Bu. Ya ampun, ini tampan sekali. Siapa namanya, Dik?” tanya Saskia kepada Bintang yang tersipu malu.
“Bintang.” Jawab Bintang lirih. Saskia mencubit pipinya gemas.
“Jadi Ibu kembali memegang perusahaan ini, Bu?” tanya Saskia sembari menatapnya.
“Kenapa? Kamu keberatan jadi sekretaris saya lagi?” ledek Luna.
“Justru saya senang, Bu. Pak Arga terlalu galak.” Bisik Saskia. Luna tertawa.
“Jadi saya kurang galak?!”
“Jangan galak-galak atuh, Bu. Saya takut.” Kata Saskia. Luna tertawa lebar. Ia menepuk bahu Saskia dengan ramah.
Pertemuan singkat itu berakhir, besok Luna harus kembali ke kantor seperti biasa. Luna melirik ke arah jam ditangannya. Sudah pukul 13.30 Wib, ia harus menjemput Mentari di sekolah. Setelah selesai makan siang, ia kembali masuk ke mobil untuk menjemput Mentari bersama Bintang yang sejak tadi bersamanya.
egois pula
baguslah adit gag ngemis²
langsung di ceraiin
udah gag suci
gag tau malu pula
8 like favorite😍 untuk mu😍
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk