BACAAN 18+ Harap tidak dibaca oleh yang di bawah umur tersebut.
Pernikahan Saras yang indah berubah mengerikan karena suaminya Aidan ternyata seorang monster galak. Lebih parah lagi Aidan dan Papanya menyimpan rahasia kelam terhadap Mama Aidan. Tapi kenapa Saras yang hidup tersiksa akhirnya bisa meraih bahagia? Yuk, baca biar gak penasaran....
PERINGATAN: Beberapa tokoh di novel ini tidak biasa. Jangan baper dengan tingkah Aidan dan Papanya yang raja tega. Masih ada tokoh Nerissa, Jhon dan Emaknya Jhon yang rada gila tapi lucu. Baca sampai habis biar tau serunya Emak si Jhon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FRESH NAZAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35. Kuburan Di Petak Tanaman Bunga
JREENGG!
Pak Argajaya dan Aidan kaget mendengar ucapan Heru.
“Heh! Kurang ajar mulut kamu!” Pak Argajaya jengkel.
Aidan mendekati Heru. Dipegangnya muka Heru dan diarahkan menghadap wajahnya. “ Kamu menyumpahi saya dan Papa saya?!”
Heru diam saja.
Aidan makin jengkel. “Ngomong asal mangap! Nyumpahin orang sudah kayak hidup kamu yang paling bener!”
PLAK!
Sebuah tamparan keras dari Aidan mendarat mengenai wajah Heru.
Pak Argajaya ikut geram. Melotot ke Heru.
“Katakan siapa orang itu yang menyuruhmu berhianat?! Kalau kamu bilang, kamu masih bisa kami selamatkan! Tapi kalau kamu gak bilang… Yaah, apa boleh buat. Kamu akan segera mati pelan-pelan…”
“Hhhh… hhhh…” Heru kesakitan tapi memaksakan diri bicara. “Saya gak akan bilang…”
“Busyet! Lo gak takut mati rupanya?!” Sengit Aidan.
Heru semakin lemas. Tapi masih berusaha bicara. “Hhhh.. hhh… Tuhan Maha Melihat. Dia yang akan membalas semua kekejaman kalian pada saya dan semua orang yang telah kalian zolimi….”
Pak Argajaya gak bisa menahan diri. Amarahnya makin menjadi. “Masih aja kamu nyumpahin! Minta dihabisin bener nih orang!”
Darah Pak Argajaya sudah naik ke ubun-ubun. Segera Pak Argajaya mengambil sebuah pentungan security di atas rak. Dengan geram dibawanya pentungan mendekati Heru. Pentungan terayun. Lalu….
BUUK! BUUKK! BUUKKK!
Pentungan yang padat keras itu mendarat bertubi-tubi mengenai kepala dan tubuh Heru. Dengan jengkel Pak Argajaya terus memukuli
Heru sudah tak bisa menjerit. Mata lelaki itu mulai meredup. Nafasnya mulai pelan….
Tapi Pak Argajaya tak perduli. Bagai kesetanan ia terus memukuli Heru dengan pentungannya. Bahkan pukulannya semakin keras.
PLUKK! Kepala Heru terkulai.
Aidan tersentak. Ia menatap Heru.
“Papa….!” Teriaknya. “Itu lihat…”
Pak Argajaya menoleh. “Apa?”
“Dia sudah mati!“ Aidan menunjuk ke Heru.
Pak Argajaya cuek. Ia tak kasihan melihat Heru sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
“Biarin! Orang yang sudah berani mengutuk dan menyumpahi kita pantas mati mengenaskan seperti ini…!”
PUUIIH!
Pak Argajaya bahkan meludahi wajah Heru yang sudah tak bergerak.
Lalu dengan santai Pak Argajaya melemparkan pentungan yang dipegangnya ke lantai. Ujung pentungan itu berwarna merah, berlumuran darah.
“Panggil Sam sama anak buahnya…!” Ia menatap Aidan.
“Iya, Pa…”
“Suruh mereka gali lubang di tanah villa kita. Kuburin orang yang gak tau diri ini di dekat petak tanaman bunga krisan. Biar kuburannya nanti ketutupan bunga dan orang gak tau kalau ada kuburan disitu..!”
*
“Sayang, kalau kamu pulang, kamu mau makan apa?” Saras menelpon Aidan. Ia sedang berada di dapur yang besar dan rapi.
Di meja dapur ada beberapa bahan makanan. Tempe, cabe, dan lain-lain. Dua pembantu perempuan sedang menyiangi sayuran untuk dimasak.
Suara di seberang telpon tak menjawab. Aidan yang menerima telpon itu mendengarkan. Tapi pikiran Aidan tak konsen pada telpon. Ia tak memperhatikan pertanyaan Saras.
Saras menduga Aidan sedang sibuk dengan suatu urusan di Puncak. Ya, tentu saja. Urusan suaminya bukan hanya urusan kantor. Mungkin saja Aidan sedang ada urusan jual beli tanah di kawasan Puncak.
Saras bicara lagi di hand phone. Berusaha tak perduli pertanyaannya diabaikan Aidan. “Pulang dari Eropa, aku kangen masakan Indonesia. Ini aku lagi nyuruh pembantu masak sayur asem, pepes ikan, goreng tempe dan bikin sambel. Kamu suka kan?”
“Apa-apaan makanan kayak gitu!?” Tiba-tiba Aidan menyahut sengit di telpon. “Kampungan bener!”
DEEGGG!
Saras kaget. Sungguh gak enak perasaannya mendengar ucapan Aidan.
“Payah ya selera kamu!” Aidan ngomel di telpon. “Pulang dari Eropa habis beli parfum, tas dan baju branded, makan di hotel mewah. Eh, balik ke Indonesia makan sayur asem dan tempe lagi! Susah kalo selera kamu kampungan!”
Saras menenangkan diri.
“Iya. Selera makan aku memang kampungan. Kalo kamu gak suka, gak apa…. Nanti aku suruh pembantu masak makanan kesukaan kamu.”
“Mendingan gitu. Si Soimah lebih paham aku suka makanan yang kayak apa. Dia bisa bikin beef teriyaki yang simpel tapi enak. Suruh dia masak itu!”
“Oke, sayang…. Nanti aku suruh Soimah masak itu. Kamu sudah mau pulang dari Puncak kan?”
“Apa-apaan sih nanya melulu?!” Aidan sewot lagi. “Gak usah tanya-tanya! Kalau sudah kelar urusan disini aku pasti pulang! Bawel bener lo jadi orang!”
“Iya sayang. Sudah ya, aku mau suruh pembantu masak….” Saras berusaha tetap sabar.
“Ya sudah. Gak usah telpon lagi! Omongan gak penting aja bahas mau makan apa pake nelpon!” Suara Aidan ketus.
KLIK!
Telpon ditutup Aidan.
Saras berusaha tersenyum kepada kedua pembantu yang ternyata memperhatikan pembicaraannya di telpon.
“Masak sayur asem dan bikin sambelnya dikit aja. Suami saya gak mau makan itu….” ia menjelaskan kepada kedua pembantu.
*
Gundukan tanah itu sudah rapi di dekat petak tanaman bunga krisan di halaman belakang villa. Para pembantu dan semua security ada disitu. Wajah mereka muram. Mereka tak berdaya dan baru saja menguburkan Heru.
“Tanami lagi atasnya pakai bibit bunga baru. Biar gak ketahuan disitu ada kuburan.” Aidan memerintah pembantu.
“Iya, Tuan.” Pembantu lelaki menyahut pelan.
Lantas para pembantu menanami bibit tanaman bunga krisan baru di atas tanah tadi. Bibit adalah tanaman muda yang masih bisa dipindahkan dan ditanami. Jadi bukan benih atau biji bunga yang mereka tebarkan di tanah itu.
“Banyakin tanam bibit tanaman krisan disitu! Biar cepat rapat tanamannya!” Pak Argajaya mengawasi pembantu yang sedang menanam bibit krisan.
Para pembantu hanya mengangguk. Mereka mengambil bibit baru dari petak bunga krisan yang lain. Di petak lain tampak gerombolan bunga krisan, ada yang berwarna kuning, putih dan ungu tengah berbunga semarak dengan lebatnya. Sangat indah.
Bibit yang baru diambil lalu ditanami banyak-banyak memenuhi tanah yang belum lama digali Sam dan para security. Para pembantu bekerja sambil diam. Tak ada yang berani bicara.
“Sebentar lagi bibit ini sudah tumbuh segar. Jadi tanaman yang berbunga lebat. Gak bakal ada yang menyangka kalau ada Heru di bawahnya…” Pak Argajaya menyeringai.
“Apa keluarganya Heru gak bakal nyariin dia, Pa?” Tanya Aidan ke pak Argajaya.
“Oh, tenang aja. Soal itu sudah Papa pikirkan sebelum menghabisi Heru.”
Pak Argajaya menerangkan ke Aidan dan orang-orang yang ada disitu.
“Heru ini anak yatim piatu. Bapaknya sudah meninggal sejak dia kecil. Dan ibunya juga sudah meninggal berapa tahun lalu. Dia kos di Jakarta.”
Ia menatap Sam, para security dan para pembantu. “Jadi kalian ingat ya. Kalaupun ada yang nanya Heru kemana. Jawab aja, Heru sudah pulang ke Jakarta dari Puncak. Gak tau kalau dia gak pulang ke tempat kosnya. Mungkin dia hilang atau apa waktu pulang ke tempat kosnya…”
Sam dan semua anak buahnya tak menyahut. Mereka sebenarnya sedih. Heru adalah teman kerja mereka. Bahkan Sam berpikir. Kali ini Heru yang mengalami kejadian naas. Bagaimana kalau dia atau anak buahnya yang lain mengalami kejadian serupa?
“Paham gak kalian?!” hardik Pak Argajaya.
“Paham, pak.” Sam yang menyahut pelan.
“Oke…” Pak Argajaya menatap tanah yang sudah ditanami bibit baru bunga krisan. “Jejak heru sudah kita hapuskan. Kita bisa tenang pulang ke Jakarta….”
*
Tiga mobil sedan hitam meluncur dari jalan raya Cipanas ke arah Jakarta.
Di pinggir jalan ada sebuah mobil pick up besar dengan bak tertutup terpal berhenti. Di belakang setir ada supir yang mukanya ditutupi pake topi seolah santai tiduran. Di sebelahnya ada seorang yang pakai topi kain lusuh menatap ke jalan dengan serius.
Orang di sebelah supir itu melihat tiga mobil sedan hitam yang melaju cepat dari Cipanas menuju ke arah kawasan Puncak terus ke arah Bogor.
Ketiga mobil itu melaju cepat. Sama sekali tak tertarik melihat ada mobil pick up dengan bak tertutup terpal terparkir di pinggir jalan. Sudah biasa ada mobil pick up mengangkut hasil bumi lalu lalang di kawasan itu.
Orang di sebelah supir melepas topinya. Terlihat rambut orang itu berwarna silver mengkilat.
BERSAMBUNG……
kui si emak ganggu wae.
sak.e cah cah.. lgi panas panass.e diganggu.. gek Rasane wiiih Ra karuan.. sabaaar yaa narissa.🤭🤭
sambil nunggu Boss Barton Up lagi 🤗🤗🤗
emang dl gak pernah gituan gitu??