NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Mobil yang dikendarai Dimas melaju pelan masuk ke halaman rumahnya yang sederhana namun dulu selalu ia banggakan. Lampu kendaraan menyinari pekarangan yang mulai gelap, menerangi debu yang menempel di bodi mobil akibat perjalanan penuh emosi tadi. Begitu mesin dimatikan, keheningan malam langsung menyelimuti suasana, hanya terdengar suara pintu mobil yang dibanting keras satu per satu saat mereka turun.

Dimas melangkah keluar dengan langkah berat, bahunya terkulai, dan kepalanya tertunduk dalam. Pakaian kerjanya yang rapi pagi tadi kini tampak kusut, rambutnya berantakan, dan wajahnya yang biasanya selalu dipenuhi rasa percaya diri dan keangkuhan, kini pucat pasi penuh amarah dan rasa malu yang tertahan.

Di belakangnya, Rina berjalan mengikuti dengan langkah ragu-ragu, wajahnya sembab karena habis menangis, berusaha menyembunyikan wajah di balik tudung dan kerudungnya.

Belum sempat mereka berdua melangkah melewati pagar rumah, sosok dua wanita yang sudah lama menunggu di teras langsung bergerak maju menghampiri. Itu adalah Bu Siti, ibu kandung Dimas, dan Airin, adik perempuan satu-satunya yang masih tinggal bersama ibunya.

Bu Siti berdiri tegak di ambang pintu, tangannya terlipat di dada, menatap tajam ke arah putra dan wanita yang kini selalu bersamanya itu. Wanita paruh baya itu sudah berdiri di sana hampir satu jam lamanya, gelisah karena Dimas biasanya pulang lebih awal, apalagi ia sudah mendengar kabar samar dari tetangga yang bekerja di perusahaan yang sama, mengatakan ada keributan besar melibatkan Dimas sore tadi. Di sampingnya, Airin tampak cemas, sesekali menatap kakaknya dengan ragu, merasa ada sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.

Melihat kondisi putranya yang begitu kacau, jauh berbeda dari biasanya, hati Bu Siti langsung berdebar kencang. Ia melangkah cepat menghampiri, tidak peduli dengan wajah Rina yang berusaha menghindar.

"Dimas... Nak... Apa ini? Kenapa kamu pulang jam segini? Dan lihat keadaanmu itu..." suara Bu Siti terdengar cemas namun tegas, matanya menyapu seluruh penampilan Dimas dari ujung kepala hingga kaki. "Bajumu kusut, wajahmu pucat seperti orang sakit, matamu merah padam... Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu pulang dengan keadaan berantakan begini? Dan kamu Rina... kenapa mukamu bengkak begitu habis menangis?"

Airin ikut mendekat, menepuk pelan lengan kakaknya. "Iya Mas... Kami dari tadi menunggu. sebenarnya apa yang sudah terjadi , mas ?"

Dimas menghentikan langkahnya, menatap ibunya dengan pandangan kosong namun berapi. Rasa malunya yang sedari tadi tertahan, rasa amarah yang meluap, dan rasa sakit hatinya yang tak terkira... semuanya kini berputar menjadi benci yang keliru. Di benaknya yang kacau, ia merasa semua kesialan ini bermula dari satu hal: keputusannya dulu meninggalkan Ani. Dan di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu ibunya selalu menyayangi dan lebih menghargai Ani daripada Rina.

"Itu semua gara-gara Ani..." geram Dimas pelan, hampir tak terdengar, sambil menepis kasar tangan adiknya yang menyentuh lengannya. Ia berjalan melewati ibunya dan langsung duduk di kursi teras dengan kasar, kepalanya ditundukkan di antara kedua telapak tangannya.

Bu Siti mengernyitkan dahi, semakin bingung dan khawatir. Ia menoleh ke arah Rina yang berdiri diam di dekat pagar, berusaha menghapus sisa air mata.

"Ada hubungannya sama Ani? Apa maksudmu, Mas? Ani ada di mana? Bukannya dia sudah pulang ke kampungnya, sudah lama tidak ada kabar?" tanya Bu Siti bertubi-tubi, suaranya makin meninggi karena ketidaktahuan dan rasa curiganya.

Rina mengangkat wajahnya perlahan, menatap Bu Siti dengan tatapan yang berusaha terlihat sedih dan tersakiti, meski di baliknya tersembunyi rasa benci yang sama. Ia tahu Bu Siti tidak pernah menyukainya, dan sekarang ia berniat memutarbalikkan fakta agar ibunya Dimas pun ikut membenci Ani.

"Bu... Ibu tidak tahu apa-apa... Ani dia... dia datang ke kota ini, Bu..." jawab Rina lirih sambil terisak pelan. "Dia masuk bekerja di perusahaan tempat Mas Dimas kerja. Dia dekat sekali sama Pak Damar, bos besar di sana... Dia berbuat macam-macam, dia mengubah data, dia menipu... terus dia menuduh Mas Dimas sama saya yang berbuat jahat... Padahal kami cuma mau lapor kejanggalan saja... Eh malah kami yang dituduh, kami yang disalahkan... Kami... kami dipecat, Bu... Diusir dengan cara yang sangat memalukan..."

Kalimat terakhir itu keluar dari mulut Rina disertai tangis yang meledak-ledak, seolah dialah korban paling menderita di dunia ini.

Bu Siti tertegun kaku, matanya membelalak tak percaya. Ia menoleh cepat ke arah Dimas untuk memastikan kebenaran ucapan wanita itu.

"Dipecat? Kamu... kamu sama Rina dipecat dari kantor? Karena masalah Ani?" tanya Bu Siti dengan suara bergetar, campuran antara kaget, marah, dan kecewa. "Apa benar semua kata Rina ini, Dimas? Cepat jawab Ibu! Kenapa bisa jadi begini? Bukannya dulu kamu yang minta dia pergi? Bukannya kamu yang buang dia demi wanita ini? Kenapa sekarang dia malah ada di sana? Kenapa kamu yang jadi begini?"

Pertanyaan-pertanyaan itu menghantam dada Dimas lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Ia mengangkat kepalanya, menatap ibunya dengan mata yang berkilat penuh amarah yang kini ia alihkan ke mana saja asal bukan ke dirinya sendiri.

"Ya! Benar! Semua gara-gara dia!" bentak Dimas keras, suaranya menggelegar di halaman rumah yang sepi. "Dia jahat, Bu! Dia pendendam! Dia datang ke sini cuma mau menghancurkan hidupku! Dia pura-pura baik, pura-pura jujur, padahal dia yang licik! Dia dekat sama Damar, dia pakai pesonanya, dia fitnah kami... sampai kami dianggap penjahat, sampai kami diusir! Dia mau aku miskin, dia mau aku jatuh, dia mau aku menyesal seumur hidupku!"

Dimas berdiri tegak, menunjuk-nunjuk ke arah kosong seolah Ani ada di sana. Wajahnya merah padam, urat lehernya menonjol.

"Dia pikir dia sudah menang! Dia pikir dia sudah jadi nyonya besar! Tapi dia salah! Aku tidak akan diam saja! Dia yang mulai duluan! Dia yang cari masalah! Kalau saja dia diam di kampung, kalau saja dia tidak muncul lagi, hidupku pasti bahagia, sukses, kaya raya sama Rina! Semua hancur karena dia!"

Bu Siti diam mematung, mendengarkan semua ucapan putranya itu dengan hati yang semakin berat. Namun, bertahun-tahun mengenal anaknya, dan bertahun-tahun hidup bersama Ani, Bu Siti punya mata dan hati untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ia ingat betul bagaimana sifat Ani: wanita yang lemah lembut, pendiam, sangat jujur, dan rela berkorban apa saja demi suami dan keluarga. Ia ingat betul bagaimana Ani diperlakukan buruk, diabaikan, dan akhirnya diusir dengan cara yang sangat menyakitkan.

Perlahan, wajah Bu Siti berubah dari kaget menjadi dingin dan kecewa. Ia menatap Dimas lekat-lekat, lalu menatap Rina yang masih berpura-pura menangis.

"Kamu bohong, Dimas..." kata Bu Siti pelan namun tegas, memecah tangisan Rina dan kemarahan Dimas seketika. "Ibu tahu betul siapa Ani. Ibu hidup sama dia bertahun-tahun. Wanita macam itu... dia tidak akan pernah berbuat jahat, tidak akan pernah menipu, apalagi berbuat licik demi jabatan atau uang. Kalau dia ada di kantormu, kalau dia dekat sama bosmu... itu bukan karena dia mau cari muka. Tapi karena dia wanita hebat, Nak. Wanita yang dulu kamu remehkan, yang dulu kamu injak-injak harganya, ternyata dihargai orang lain, dihormati orang lain, dan dipercaya orang lain."

Bu Siti melangkah mendekat, suaranya meninggi penuh rasa kecewa yang mendalam.

"Dan satu hal lagi... Jangan menyalahkan orang lain atas kehancuranmu sendiri, Dimas! Kamu lupa siapa yang memutuskan meninggalkan dia? Kamu lupa siapa yang malu-maluin keluarga ini dulu karena selingkuh? Kamu lupa siapa yang membuang emas demi kaca yang berkilau semu ini?" Bu Siti menunjuk tajam ke arah Rina yang tersentak kaget dan berhenti menangis.

"Kamu bilang Ani menghancurkan hidupmu? Tidak, Nak... Kamu sendirilah yang menghancurkan hidupmu sendiri! Kamu yang tidak tahu diri, kamu yang tidak pandai bersyukur, kamu yang serakah! Sekarang kamu jatuh, kamu miskin jabatan, kamu dipermalukan... Itu bukan hukuman dari Ani. Itu adalah balasan dari Tuhan atas semua perbuatanmu dulu! Dan Ibu yakin seratus persen... kamu dan wanita ini pasti berbuat salah, pasti berbuat curang, lalu ketahuan sama Ani. Dan Ani... dia cuma membela diri dan membersihkan nama baiknya saja!"

Airin yang sejak tadi diam, kini ikut angkat bicara dengan nada sedih dan kecewa.

"Ibu benar, Mas... Aku juga percaya sama Mbak Ani. Dulu Mas sering marah-marah sama dia, sering menyalahkan dia, padahal dia paling sabar. Kalau sampai Mas dipecat gara-gara masalah dia... pasti Mas yang salah, pasti Mas yang mulai duluan. Mas tidak terima kan kalau Mbak Ani ternyata lebih sukses, lebih dihargai, dan lebih bahagia tanpa Mas? Itu kenyataan pahit yang tidak mau Mas terima kan?"

Kata-kata ibunya dan adiknya itu terasa lebih menyakitkan daripada semua hinaan dari rekan kerja di kantor tadi. Dimas merasa dikhianati bahkan oleh keluarganya sendiri. Ia mengira ibunya akan membela, mengira ibunya akan ikut membenci Ani, tapi ternyata justru sebaliknya. Semua orang seolah berpihak pada Ani. Semua orang seolah mengatakan bahwa dirinyalah yang salah.

"Itu semua salah! Kalian tidak tahu apa-apa!" teriak Dimas putus asa, matanya kembali berkaca-kaca bukan karena sedih, tapi karena marah meluap. "Dia musuhku! Kalian semua musuhku! Kalian semua lebih sayang sama dia daripada sama aku, anak kandungmu sendiri! Biarlah! Biarlah kalau begitu! Nanti aku buktikan... Aku akan buktikan kalau aku masih bisa sukses, aku masih bisa punya segalanya, dan aku akan buat Ani menyesal seumur hidupnya sudah berani-berani melawanku!"

Dimas langsung berbalik badan, berlari masuk ke dalam rumah, membanting pintu kamarnya hingga bergemuruh, meninggalkan ibunya, adiknya, dan Rina yang berdiri terpaku di teras dalam keheningan yang menyakitkan.

Rina menatap Bu Siti dengan pandangan tajam dan benci sesaat, sebelum akhirnya ia pun berjalan masuk dengan langkah kesal dan mendengus kasar. Baginya, Bu Siti hanyalah orang tua kolot yang tidak tahu apa-apa.

Bu Siti menghela napas panjang, menatap langit malam yang gelap, air mata mulai menetes di pipi keriputnya. Ia mengusap dadanya yang terasa sesak. Ia tahu, ini baru permulaan. Kebencian Dimas terhadap Ani kini bukan makin berkurang, malah makin menjadi-jadi karena didukung oleh rasa sakit hati dan penolakan dari keluarganya sendiri. Dan Bu Siti sangat khawatir... Dimas yang sedang buta amarah dan gengsi ini, sanggup berbuat apa saja demi memuaskan egonya.

"Maafkan anakku, Ani..." gumam Bu Siti lirih ke dalam kesunyian malam. "Maafkan dia... Dia tidak sadar apa yang sudah dia buang. Dan sekarang... aku takut, dia akan berusaha merusak apa pun yang tersisa dari kebahagiaanmu..."

bersambung ,,,,

1
partini
kasih tau dong biar ani waspada baru mantan mertua punya hati, OMG dasar iblis Kalian berdua Ani apes kamu
partini
very good ani👍👍👍
partini
yah lagi penasaran ini Thor
Re _ ara: terimakasih sudah mampir ya KA 🙏🙏🙏
total 1 replies
partini
ayo ani to tunjuk kan taring mu bikin mereka nangis darah karena malu
Re _ ara: siap ka😄😄😄
total 1 replies
syahriel Adhitama
sangat bagus .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!