NovelToon NovelToon
Aku Pergi Mas

Aku Pergi Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:23.3k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Ani, seorang istri yang selama ini menganggap pernikahannya bahagia dan harmonis, tanpa sengaja menemukan ponsel suaminya, Dimas, yang tertinggal di rumah saat ia pergi bekerja. Rasa penasaran dan firasat buruk mendorongnya membuka kunci layar dan membaca isi pesan di dalamnya.

Hatinya hancur lebur saat menemukan rangkaian percakapan mesra, janji temu, dan ungkapan kasih sayang yang Dimas kirimkan kepada seorang wanita lain bernama Rina, rekan kerjanya sendiri. Di sana tertulis jelas bahwa hubungan itu sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan Dimas sering menjelek-jelekkan Ani dan kehidupan rumah tangga mereka di depan wanita itu, seolah-olah ia hidup dalam penderitaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Jam makan siang pun tiba. Udara di dalam ruangan kantor terasa lebih segar, sebagian karyawan sudah mulai beranjak dari meja kerja untuk melepas penat dan mengisi perut. Ani yang baru saja menyelesaikan satu tumpukan berkas dengan rapi, tersenyum puas saat menutup map terakhir. Hari ini berjalan begitu mulus, begitu menyenangkan, dan semangatnya seolah tak pernah habis. Ia bangkit berdiri, merapikan sedikit pakaian kerjanya, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah ringan menuju kantin yang terletak di lantai dasar.

Lorong kantor yang biasanya cukup ramai, siang itu terasa agak lengang karena sebagian besar staf sudah lebih dulu berangkat makan. Ani berjalan santai sambil sesekali tersenyum menyapa rekan yang berpapasan dengannya. Pikirannya sedang melayang membayangkan menu makan siang kesukaannya, hingga ia sedikit kurang memperhatikan jalan di depannya saat berbelok di tikungan menuju koridor utama.

Belum sempat Ani menstabilkan langkahnya setelah berbelok, tubuhnya seketika menabrak sesuatu yang keras dan kokoh. Karena langkahnya cukup cepat, dampaknya cukup keras hingga membuat tubuh Ani terhuyung ke belakang, dan berkas kecil yang masih ia pegang di tangan jatuh berserakan ke lantai.

"Aduh... maaf, maaf... saya tidak lihat jalan," ucap Ani cepat-cepat sambil menundukkan kepala, merasa sangat bersalah. Ia segera berlutut hendak mengambil kertas-kertas yang berjatuhan itu, tanpa sempat melihat siapa yang ia tabrak.

"kamu , Baik-baik saja?"

Suara itu terdengar rendah, berat, dan sangat tenang. Tidak ada nada marah, tidak ada nada kesal, namun ada wibawa yang begitu kuat terselip di setiap katanya. Suara yang begitu kharismatik, membuat jantung Ani seketika berdegup sedikit lebih kencang karena rasa kaget bercampur rasa penasaran.

Ani perlahan mengangkat wajahnya, dan seketika itu juga napasnya tertahan.

Di hadapannya berdiri seorang pria yang sangat tinggi, tegap, dan berpenampilan sangat rapi. Ia mengenakan setelan jas berwarna abu-abu gelap yang pas di badan, terbuat dari bahan berkualitas tinggi yang jelas bukan barang biasa. Kemeja di dalamnya berwarna putih bersih dengan kancing atas terbuka sedikit, memberikan kesan profesional namun tetap santai. Namun, yang paling membuat Ani terpaku bukanlah pakaian mewah yang dikenakannya, melainkan wajah pria itu.

Wajahnya sangat tampan, tampan dengan tipe ketampanan yang tegas dan berkarisma. Rahangnya tegas dan menonjol, memberikan kesan kekuatan dan keteguhan hati. Garis wajahnya tajam, hidungnya mancung, dan bibirnya tertutup rapat membentuk garis lurus yang dingin. Matanya... mata yang tajam, berwarna cokelat gelap, menatap lurus ke arah Ani dengan tatapan yang datar, dingin, dan sulit dibaca. Tidak ada senyum sedikit pun di wajahnya, ekspresinya kaku seolah tak pernah berubah sejak lama.

Namun justru ketenangan dan keteduhan yang dingin itulah yang membuatnya terlihat begitu mempesona, begitu misterius, dan begitu berbeda dari siapa pun yang pernah Ani temui selama ini. Ia terlihat seperti patung pualam yang indah, sempurna bentuknya namun terasa dingin dan jauh.

Di belakang pria tampan itu, berdiri seorang pria lain yang sedikit lebih muda, berpenampilan rapi namun jauh lebih sederhana, membawa tas kerja dan beberapa dokumen. Pria itu tersenyum sopan namun sedikit cemas melihat kejadian tadi, sepertinya ia adalah asisten atau bawahan dari pria tampan di depannya ini.

Ani yang sadar dirinya terpaku terlalu lama, segera tersentak dan bangkit berdiri dengan wajah sedikit memerah karena malu. Ia buru-buru merapikan sisa-sisa berkas yang jatuh, sementara pria itu berdiri diam di tempatnya, menatap Ani dengan tatapan datar namun penuh perhatian, tidak bergerak sedikit pun.

"Maafkan saya, Pak... Saya benar-benar tidak melihat ke depan. Terlalu terburu-buru," ulang Ani dengan nada sopan dan sedikit gugup, matanya berusaha tidak menatap wajah pria itu terlalu lama karena rasa gugup yang aneh. Ada aura yang begitu kuat dan besar yang terpancar dari tubuh pria itu, membuat siapa pun yang berada di dekatnya merasa kecil dan segan.

Pria itu mengangguk pelan sekali, gerakannya lambat dan terukur. "Tidak apa-apa. Tidak ada yang terluka," jawabnya singkat, padat, dan jelas. Suaranya masih sama, dingin namun tidak kasar.

Saat Ani hendak kembali menunduk untuk mengambil satu lembar kertas yang terselip di dekat sepatu pria itu, tiba-tiba tangan besar yang berurat halus itu bergerak lebih dulu. Pria itu membungkuk perlahan, mengambil kertas itu sendiri, lalu menyodorkannya ke arah Ani. Gerakannya halus, kontras sekali dengan kesan dingin dan kaku yang ia berikan.

"Ini milikmu," katanya datar.

"Te... terima kasih, Pak," sahut Ani pelan, menerima kertas itu dengan jari-jari yang sedikit gemetar. Saat tangan mereka bersentuhan sekilas, Ani bisa merasakan kulit tangan pria itu hangat dan kasar, ciri khas orang yang terbiasa bekerja keras atau memegang kendali.

Baru saat itulah Ani benar-benar berani menatap wajah pria itu lekat-lekat dari dekat. Rahang yang tegas itu bergerak sedikit saat ia berbicara, matanya yang tajam itu menat balik ke arah Ani tanpa berkedip, seolah sedang menilai atau membaca isi hati wanita itu. Ani merasa seolah seluruh rahasia dirinya terbaca begitu saja oleh pandangan mata itu, membuatnya semakin merasa segan dan tak berdaya.

"Kau staf di sini?" tanya pria itu tiba-tiba, suaranya tenang namun penuh selidik.

"Iya... iya, Pak. Saya Ani, staf di bagian perencanaan," jawab Ani cepat, memperkenalkan diri dengan sopan. Ia menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda hormat.

Pria itu hanya mengangguk sekali lagi, tidak menanggapi lebih jauh nama Ani yang disebutkan. Ia lalu menoleh sedikit ke belakang, ke arah pria yang berdiri menunggu di belakangnya dengan sikap tegap.

" Adrian, ruangan Direktur di lantai atas, kan?" tanya pria tampan itu pada asistennya, matanya kembali lurus ke depan, melewati Ani seolah kejadian tabrakan tadi hanyalah hal kecil yang sudah selesai.

"Benar, Tuan Arga. Ruangan Pak Damar ada di ujung lorong sebelah kanan, di lantai ini juga," jawab pria bernama Adrian itu dengan sigap dan hormat.

Nama itu... Arga. Ani menyimpan nama itu di dalam ingatannya. Dan kalimat asistennya tadi... ruangan Pak Direktur.

Perlahan-lahan benang merah itu tersusun di kepala Ani. Pria bernama Arga ini, dengan penampilan semewah itu, dengan aura sekuat itu, dan akan menemui Pak Damar... jelas bukan orang sembarangan. Melihat sikap hormat dan segan yang terpancar dari asistennya, serta keberanian dan kewibawaan yang dimilikinya sendiri, Ani yakin pria ini adalah seseorang yang sangat penting, mungkin rekanan bisnis besar, pemegang saham utama, atau bahkan pemilik perusahaan induk yang lebih besar lagi.

Arga kembali menatap Ani sekilas, tatapannya masih sama, datar dan dingin, namun ada sedikit perubahan yang tak bisa dijelaskan. Seolah ia menyadari siapa wanita yang ia tabrak, atau seolah ia melihat sesuatu yang menarik namun ia sembunyikan rapat-rapat di balik ekspresi wajahnya yang tak berubah itu.

"Hati-hati kalau berjalan," ucapnya singkat. Itu bukanlah nasihat lembut, melainkan pernyataan tegas yang terdengar seperti pesan dan peringatan sekaligus.

Setelah itu, tanpa menunggu jawaban atau balasan dari Ani, Arga melangkah lebar melewati sisi kiri Ani. Langkahnya tegap, berirama, dan penuh percaya diri. Adrian sang asisten tersenyum sekali lagi pada Ani sebagai permohonan maaf atas ketegasan tuannya, lalu segera menyusul di belakang Arga, menjaga jarak sopan namun tetap sigap.

Ani berdiri diam di tempatnya cukup lama, menatap punggung tegap dan sosok gagah itu yang perlahan menjauh hingga menghilang di tikungan lorong menuju ruangan Damar. Jantungnya masih berdegup tidak beraturan, bukan karena rasa suka atau ketertarikan, melainkan karena rasa kagum dan rasa takjub yang mendalam. Sosok pria itu begitu kuat, begitu misterius, dan begitu berbeda dari siapa pun yang pernah ia kenal—baik itu Dimas, Damar, maupun orang lain.

"Arga..." gumam Ani pelan, merasakan getaran aneh saat menyebut nama itu. Wajah tegas, rahang kokoh, dan tatapan mata yang dingin namun tajam itu masih terbayang jelas di pelupuk matanya.

Ani menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengembalikan kesadarannya. Ia melihat kembali berkas-berkas di tangannya yang sudah rapi.

"Siapa dia sebenarnya? Orang sebesar apa sampai suasananya berubah begitu saja saat dia lewat?" batin Ani bertanya-tanya. Ia yakin, pertemuan singkat dan tak terduga tadi bukanlah hal biasa. Ada sesuatu yang terselip, ada getaran tak terlihat yang tercipta di antara keduanya, meski hanya berlangsung beberapa detik saja.

Namun, Ani segera menepis rasa penasaran itu. Jam makan siangya semakin menipis, dan ia tidak ingin terlambat kembali bekerja. Namun langkah kakinya menuju kantin terasa berbeda. Di benaknya, bayangan wajah Arga yang tampan dan dingin itu masih membayangi, membuat ia sadar... bahwa babak baru dalam hidupnya yang penuh kejutan ini, belum selesai. Dan sepertinya, sosok misterius yang baru saja ia temui ini, akan menjadi bagian penting dari lembaran-lembaran kisah selanjutnya.

Sambil berjalan menjauh, Ani menoleh sekali lagi ke arah lorong tempat pria itu menghilang. Ia berharap suatu saat ia bisa tahu lebih banyak, bukan karena ingin mendekat, tapi karena rasa hormat yang tiba-tiba tumbuh begitu saja pada sosok yang begitu berkarisma itu. Di ruangan Damar di ujung sana, pintu sudah tertutup rapat, menyembunyikan pertemuan penting yang sedang berlangsung, dan menyimpan rahasia besar tentang siapa sebenarnya pria bernama Arga itu, dan apa tujuannya datang ke perusahaan ini.

Bersambung ,,,

1
partini
aku kira ketemu sama Arga
partini
susah kalau sifat rakus no satu di hati, berharap sekali sembuh mau berbuat jahat lagi ga ada kapoknya
semoga dapat karma yg lebih pahit biar seblm methong tobat dulu
partini
dihh ngapai peduli sih
partini
kebetulan masa sih
ahhhhh bohong yah
busettt dah tuan detil Banggt penjelasan nya 🤭
partini
siapa yah,,
menjaga ok ok yg melukaimu Ampe kaya gitu apa ga nongol lagi ga takut nya kamu oleng ehh ga sadar kamu menyakiti nya ,,bukan ga percaya tapi kebanyakan oleng kalau terjadi sesuatu baru nyesel kaya mantan suaminya ani
falea sezi
goblok malah plg ke desa harusnya ketempat lain lah 🤣 bloon
partini
mendengar kata" ayahnya Ani si Arga reaksinya macam mana yah secara yg di minta si damar apa spontan dia akan bilang aku siap menjaga atau tidak
Uthie
yg jahat yg selalu hancur 👍👍
Uthie
makin seruuu 👍👍👍
Uthie
Jahatnya emang tuhhh manusia😡
Uthie
👍👍👍👍👍👍
Uthie
Good Choice 👍👍👍👍
Uthie
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
👍👍👍👍👍👍👍
Uthie
Selalu ada orang baik untuk yg baik 👍👍👍
Uthie
tong kosong nyaring bunyinya.. anggap aja yg ngomongin adalah Yong sampah 😂
Uthie
Keluarga selalu menjadi tempat pulang yg paling nyaman dan aman👍👍👍
Uthie
Harusnya bikin dia dikeluarkan dr perusahaan sahabat nya dulu itu...biar sama cewek selingkuhan nya ..biar tau rasa mereka 😡😡😡
Uthie
Good Choice 👍👍👍😡
Uthie
beruntung nya punya ibu mertua yg bijak dan tau juga memihak hal yg.benar 👍👍😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!