Nayla, istri CEO dingin Arga, mendapat dua pukulan sekaligus: diagnosis kanker lambung dan foto kehamilan dari Chika, mantan kekasih suaminya. Tiga tahun menikah tanpa pengakuan publik, Nayla memilih pergi dan menandatangani cerai tanpa tuntutan. Arga yang tadinya acuh mulai panik saat tahu foto itu palsu. Ia ingin memperbaiki, tapi Nayla sudah terlalu lelah. Akankah Arga bisa merebut istrinya kembali, atau cinta mereka benar-benar mati sebelum Nayla melawan sakitnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Nayla tidak pergi sendiri.
Ia memang masih punya perasaan, tapi bukan berarti kehilangan akal.
Begitu menerima pesan Chika, ia mengirim screenshot ke Rendra, lalu ke Arga. Setelah itu, ia duduk di ruang meeting production house bersama Mira, Pak Wira, dan dua orang keamanan keluarga Maheswara yang sejak pagi menempel seperti bayangan.
Mira tampak lega sekaligus kesal. "Bagus. Aku kira kamu akan sok kuat dan kabur."
Nayla menatapnya datar. "Terima kasih atas kepercayaannya."
"Kepercayaanku padamu tinggi. Kepercayaanku pada hatimu rendah."
Pak Wira menutup mulut menahan tawa.
Ponsel Nayla berdering.
Arga.
Nayla mengangkat dengan pengeras suara.
"Jangan pergi," kata Arga tanpa salam.
Mira langsung menunjuk ponsel. "Nah, aku suka pembukaan ini."
Nayla mengabaikannya. "Aku tidak pergi sendiri."
"Itu berarti kamu tetap mempertimbangkan pergi."
"Aku mempertimbangkan memasang perangkap balik."
Di seberang, Arga diam sebentar. "Rendra tahu?"
"Tahu."
"Bagus."
"Kamu tidak akan melarang?"
"Aku ingin."
"Tapi?"
Arga menarik napas. "Tapi kamu tidak akan suka dilarang. Jadi aku akan bertanya: apa rencanamu?"
Mira menatap Nayla dengan mata melebar, lalu berbisik, "Nilai sembilan."
Nayla hampir tersenyum.
"Chika minta bertemu di kafe kecil dekat Kemang jam delapan. Dia ingin aku datang sendiri. Kita akan buat dia percaya aku datang sendiri, tapi keamanan mengawasi dari luar. Rendra mengirim tim. Aku ingin kamu tidak muncul."
"Tidak."
"Mas Arga."
"Aku bisa tidak terlihat. Tapi aku tidak akan jauh."
"Kalau Chika melihatmu, dia bisa panik."
"Kalau Darma memakai Chika sebagai umpan, targetnya mungkin bukan hanya kamu. Pesannya menyebut kakiku. Dia ingin aku bereaksi."
Nayla terdiam.
Arga benar.
Mira berbisik, "Aku benci saat dia benar."
Pak Wira berkata, "Saya setuju dengan Pak Arga. Kalau ini terkait Darma, kalian berdua mungkin target."
Nayla memijat pelipis.
"Baik," katanya akhirnya. "Tapi kamu tidak masuk kecuali aku memberi tanda."
"Tanda apa?"
"Aku akan bilang, 'kopinya terlalu pahit'."
Mira menatapnya. "Serius? Kode sinetron?"
"Mau kamu yang buat?"
"Lanjutkan."
Arga berkata, "Aku mengerti."
"Dan jangan ambil alih."
"Aku akan berusaha."
"Bukan berusaha. Janji."
Hening sebentar.
Arga menjawab, "Janji."
Kata itu membuat ruangan diam.
Nayla memutus panggilan sebelum hatinya terlalu lunak.
Jam delapan malam, Nayla masuk ke kafe itu seorang diri.
Setidaknya, begitu yang terlihat.
Kafe kecil itu tidak terlalu ramai. Ada beberapa mahasiswa dengan laptop, pasangan muda di sudut, dan satu barista yang tampak bosan. Chika duduk di meja dekat jendela, mengenakan hoodie abu-abu dan topi. Wajahnya pucat tanpa riasan tebal.
Nayla berjalan mendekat.
"Aku datang."
Chika mengangkat wajah. Matanya merah.
"Kamu benar-benar datang."
"Kamu minta sendiri."
"Aku pikir kamu akan bawa Arga."
"Kamu bilang jangan."
Chika tertawa pelan. "Patuh juga."
Nayla duduk. "Bicara."
Chika menatap sekeliling. "Kamu sendirian?"
"Kamu mau bicara atau memeriksa?"
"Aku cuma hati-hati."
"Mulai sekarang saja."
Chika menggenggam gelas kopi di depannya. Tangannya sedikit gemetar. Nayla melihat itu dan menyadari Chika tidak setenang pesan-pesannya.
"Siapa yang memberimu foto kecilku?" tanya Nayla.
"Aku tidak tahu namanya."
"Bohong."
"Aku benar-benar tidak tahu. Dia pakai nomor berbeda. Dia tahu banyak tentangmu, tentang keluargamu, tentang Arga."
"Darma?"
Chika mengangkat mata cepat. Reaksi itu cukup.
"Jadi kamu tahu nama itu," kata Nayla.
"Aku baru dengar dari dia."
"Dia siapa?"
"Aku bilang tidak tahu!"
Beberapa orang menoleh. Chika menunduk cepat.
Nayla menatapnya. "Kamu ingin aku datang karena katanya tahu soal luka Arga. Sekarang katakan."
Chika tersenyum, tapi senyum itu rusak. "Kamu peduli sekali padanya."
"Jangan buang waktuku."
"Padahal kamu bilang mau cerai."
"Chika."
"Aku juga peduli padanya."
"Tidak. Kamu peduli pada rasa ingin memiliki."
Wajah Chika berubah.
Nayla melanjutkan, "Kalau kamu benar peduli, kamu tidak akan memakai lukanya untuk memancingku."
Chika menggigit bibir sampai memutih.
"Kamu selalu bicara seolah kamu lebih baik."
"Aku tidak lebih baik. Aku hanya tidak memalsukan kehamilan."
Chika seperti ditampar.
"Arga yang memberi tahu?"
"Bukti yang memberi tahu."
"Kamu puas?"
"Belum."
Chika tertawa dengan mata basah. "Apa lagi yang kamu mau? Karierku hampir selesai. Rossa meninggalkanku. Arga membenciku. Semua orang memihakmu."
"Aku ingin tahu siapa yang menyuruhmu."
"Dan setelah itu? Kamu akan lapor polisi? Membuatku dipenjara?"
"Tergantung seberapa jujur kamu malam ini."
Chika menatap Nayla lama. Untuk sesaat, topengnya turun. Yang tersisa hanya perempuan ketakutan yang sudah melangkah terlalu jauh.
"Dia bilang kamu akan mengambil semuanya," bisik Chika.
"Siapa?"
"Nomor itu. Dia bilang kamu bukan korban. Kamu pewaris Maheswara, penulis terkenal, istri Arga. Kamu punya semua yang tidak pernah kupunya."
"Jadi kamu memutuskan mencurinya?"
"Aku cuma ingin Arga melihatku."
"Dengan menghancurkan istrinya?"
"Dia menyembunyikanmu!" Chika menahan suara agar tidak berteriak. "Kamu tidak tahu rasanya berdiri di samping pria yang kamu cintai, tapi dia tidak pernah melihatmu."
Nayla menatapnya, dada terasa aneh.
Ia tahu.
Justru ia terlalu tahu.
"Aku tahu rasanya," kata Nayla pelan. "Bedanya, aku tidak mengirim laporan hamil palsu pada istri orang."
Chika menunduk.
Air matanya jatuh.
Untuk pertama kalinya, tangis itu tidak tampak seperti akting.
"Dia akan membunuhku," bisik Chika.
Nayla menegang. "Darma?"
Chika mengangguk sangat kecil.
"Kenapa?"
"Karena aku gagal."
"Apa yang dia suruh selain membocorkan identitasku?"
Chika membuka mulut, tapi ponselnya bergetar di meja.
Layar menyala.
Nomor tak dikenal.
Pesan:
Jangan bicara lagi.
Nayla melihatnya.
Darahnya dingin.
Chika juga melihat, lalu wajahnya berubah panik.
Pesan kedua masuk.
Nomor:
Keluar lewat pintu belakang. Sekarang.
Chika berdiri tiba-tiba.
Nayla ikut berdiri. "Chika, jangan."
"Aku harus pergi."
"Itu jebakan."
"Kamu tidak mengerti!"
Chika berlari ke arah lorong belakang.
Nayla menekan ponselnya dan mengirim pesan singkat ke grup keamanan:
Pintu belakang.
Lalu ia mengikuti.
Di earbud kecil yang disembunyikan rambutnya, suara Rendra terdengar tegang. "Nayla, berhenti."
Nayla tidak berhenti.
Ia sampai di lorong belakang tepat ketika Chika membuka pintu darurat.
Angin malam masuk.
Di luar, area parkir kecil tampak remang.
Chika melangkah keluar.
Sebuah motor melaju cepat dari sisi kanan.
Nayla melihat kilatan logam di tangan pengendara.
"Chika!"
Ia menarik Chika mundur.
Suara letupan kecil terdengar.
Kaca pintu darurat pecah.
Chika menjerit.
Nayla jatuh terdorong ke lantai lorong.
Dalam hitungan detik, suara langkah berlari memenuhi tempat itu.
Arga muncul pertama.
Wajahnya pucat, matanya liar.
"Nayla!"
Ia berlutut di sampingnya, tangan gemetar menyentuh bahunya.
Nayla masih sadar. Napasnya cepat.
"Aku tidak kena," katanya.
Arga menatap pecahan kaca, lalu Chika yang menangis histeris di sudut.
Rendra dan tim keamanan masuk setelahnya. Area parkir langsung dikunci.
Arga menatap Nayla lagi.
"Kamu bilang tidak akan pergi sendiri."
Nayla mencoba duduk. "Aku tidak sendiri."
"Kamu mengejar peluru."
"Itu bukan rencanaku."
Arga terlihat ingin marah, tapi rasa takut mengalahkan semuanya.
Ia menarik Nayla ke pelukannya.
Di depan Rendra, Mira, Chika, dan semua orang.
Nayla membeku.
Arga menunduk, suaranya serak di telinganya.
"Jangan lakukan itu lagi. Aku mohon."
Nayla tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya, ia merasakan tubuh Arga gemetar.
Dan gemetar itu bukan karena marah.
Melainkan karena ia hampir kehilangan Nayla.
Rendra melihat pelukan itu dan tidak langsung memisahkan.
Itu mengejutkan semua orang, mungkin termasuk dirinya sendiri. Ia hanya berdiri beberapa langkah dari mereka, wajah keras, tangan masih menggenggam alat komunikasi.
Mira datang terengah-engah dari pintu depan kafe. Begitu melihat Nayla masih sadar, ia hampir menangis, lalu berubah marah.
"Aku akan memarahi kamu nanti," katanya pada Nayla.
"Antre," jawab Arga tanpa melepas pelukan.
Mira menatapnya.
Dalam keadaan lain, ia mungkin akan membalas. Malam itu ia hanya mengangguk.
Chika menangis di sudut, menyadari bahwa orang yang ia coba singkirkan baru saja menyelamatkan nyawanya.
Dan rasa bersalah, untuk pertama kalinya, mulai mengalahkan obsesinya.
Rossa datang tak lama kemudian.
Ia melihat Chika terduduk di lantai, Nayla diperiksa petugas medis, dan Arga masih berdiri terlalu dekat dengan Nayla untuk disebut sekadar rekan kerja. Wajah Rossa berubah dari marah menjadi lelah.
"Kamu lihat?" katanya pada Chika. "Ini akibatnya."
Chika tidak menjawab.
Ia hanya menatap Nayla.
Perempuan yang ia benci itu bisa saja membiarkannya keluar dan terkena serangan. Tidak ada yang akan menyalahkan Nayla. Tapi Nayla justru menariknya mundur.
Untuk pertama kalinya, Chika tidak tahu harus membenci bagian mana.
tuh chika apa lgi yg kau pikirkan..singkirkan obsesimu