Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Pengganggu
"Tumben beli es krim?" Tanya Ryu pada Gladys.
"Kangen, udah hampir sepuluh hari gak makan es krim." Jawab Gladys.
"Mau nuangin sirup ke salju yang di depan terus di makan, malu." Imbuh Gladys yang membuat Ryu tertawa.
Keduanya sedang berbelanja di Supermarket terdekat karena di rumah baru mereka masih belum. Ada makanan sama sekali.
"Abang mau makan malam apa?" Tanya Gladys sambil memilih - milih beberapa buah.
"Makan gulai, enak deh, Dys." Jawab Ryu yang membuat Gladys langsung menoleh ke arahnya.
"Gulai?" Tanya Gladys yang di jawab anggukan oleh Ryu.
"Kalau ada bumbunya, nanti aku buatkan." Jawab Gladys.
"Besok masak rendang ya, Sayang." Imbuh Ryuga.
"Astaga, Bang!" Cicit Gladys dengan tatapan tak percaya.
Ia kembali di berikan PR oleh suaminya yang entah mengapa lebih suka makan di rumah ketimbang membeli makanan di luar.
"Memang biasanya Abang selalu makan di rumah kayak gini?" Tanya Gladys yang di jawab gelengan oleh Ryu.
"Biasanya malah jarang makan di rumah." Jawab Ryu.
"Terus, kenapa sekarang?" Tanya Gladys dengan tatapan tak percaya untuk kesekian kalinya.
"Masakan kamu enak." Jawab Ryu sambil tersenyum.
"Padahal masakan Bunda juga enak. Setiap hari juga Bunda masak, kan." Kata Gladys.
"Beda, Dys. Masakan Bunda emang enak, tapi lebih enak kalo kamu yang masak." Ujar Ryu.
"Emang bener sih, kata Yanda. Masakan istri itu memang the best." Imbuh Ryu yang kini mempercayai ucapan Gian.
"Ya kalo istrinya bisa masak. Kalo enggak?" Cicit Gladys.
"Untungnya istriku pintar masak." Sahut Ryu yang membuat Gladys tersenyum sambil geleng - geleng kepala.
Setelah selesai membeli bahan makanan, mereka segera kembali ke rumah. Setelah makan malam bersama, mereka berdua bersantai di ruang tv sembari menonton tv.
"Dingin - dingin kok makan es krim." Tegur Ryu saat Gladys datang dengan membawa buah dan es krim.
"Udah di bilang pingin juga." Jawab Gladys yang duduk di sebelah Ryu.
"Jauh banget duduknya, kayak lagi musuhan." Protes Ryu.
"Biasanya juga gini." Sahut Gladys.
Tak lagi bicara, namun Ryu langsung saja menarik Gladys ke dalam pelukannya, hingga kini Gladys duduk sambil menyandarkan tubuhnya di dada Ryu.
"Nah gini baru nyaman." Ujar Ryu yang kemudian mengecup puncak kepala istrinya.
"Abang mau cicip es krimnya?" Tawar Gladys yang di jawab gelengan oleh Ryu. Ryu justru mengambil buah yang sudah di siapkan oleh Gladys.
Keduanya tampak serius menonton film action yang cukup menegangkan. Mereka berdua bahkan hampir tak berkedip saat melihat film yang belum lama rilis itu.
"Abang beneran gak mau? Tinggal sesendok nih." Tawar Gladys lagi sambil menunjukkan es krim terakhir di sendoknya, namun, Ryu kembali menggelengkan kepala.
"Gak mau makan es krim, nanti berat badan Abang bertambah. Gara - gara makan masakan kamu tiap hari, berat Abang naik satu kilo." Ujar Ryu.
"Makan es krim sedikit juga gak apa - apa, kalik." Cicit Gladys yang kemudian menyantap es krim terakhirnya.
Tak lama setelah makan es krim, Gladys beranjak dan kembali dengan membawa buah jeruk.
"Mau? Manis jeruknya." Ujar Gladys.
"Kamu masih belum kenyang, Sayang? Itu perut apa kulkas?" Ledek Ryu.
"Peti kemas." Jawab Gladys yang membuat mereka berdua terkekeh.
Ryu terus memperhatikan bibir Gladys yang sedang menikmati buah jeruk.
"Enak, Dys?" Tanya Ryu.
"Enak. Manis, seger." Jawab Gladys.
"Abang mau coba?" Tawar Gladys lagi.
Bukannya menjawab, Ryu justru menarik tengkuk Gladys dan mengambil alih jeruk yang baru masuk ke mulut Gladys.
"Lebih enak kalo kayak gini." Kata Ryu sambil mengunyah jeruk yang baru ia ambil alih.
Sementara Gladys hanya bisa bengong dengan netra yang berkedip - kedip menatap ke arah Ryu.
"Kamu mau coba Anggur?" Tanya Ryu yang kembali menarik tengkuk Gladys dan mencium bibir istrinya.
Ryu yang sedang memakan anggur itu, tentu memberikan rasa manis di bibir Gladys dari sari anggur di bibirnya.
Perlahan namun pasti, keduanya mulai terbawa suasana. Ciuman lembut mereka pun semakin dalam dan hangat.
Ryu melepaskan pagutannya saat oksigen terasa menipis dan nafas mereka menjadi terengah - engah.
Namun tak lama. Kali ini Ryu justru menarik tubuh Gladys ke pangkuannya agar bisa lebih leluasa melumat bibir seksi istrinya.
Tak hanya sekedar mencium san memagut, tangan Ryu pun mulai menyelinap di balik pakaian istrinya. Ia terus mengusap - usap punggung Gladys yang terasa sangat halus.
Sementara itu, Gladys merasakan sensasi tersendiri saat Ryu mengusap punggungnya. Rasanya seolah setiap sentuhan jari Ryu menghasilkan aliran listrik yang memacu gairahnya.
Semakin lama, ciuman mereka semakin dalam dan menuntut. Keduanya sudah terbuai dalam gelora gairah yang berapi - api.
Tangan Ryu mulai semakin berani menyusuri tubuh istrinya. Ia meremas lembut dua titik sensitif Gladys yang terasa kencang. Ia juga memainkan puncak si gunung kembar hingga membuat Gladys mende sah kenikmatan.
Desa han demi desa han meluncur bebas dari bibir Gladys hingga membuat nafsu Ryu semakin memuncak. Ia pun mulai melucuti pakaian istrinya tanpa melepas pagutan yang terasa begitu manis.
Namun, hal itu terpaksa harus berhenti ketika ponsel Ryu berdering. Ryu terpaksa menghentikan kegiatan mereka ketika melihat nama di layar ponselnya.
"Damn!" Umpat Ryu saat dengan terpaksa harus menghentikan kegiatan panasnya.
"Siapa, Bang?" Tanya Gladys.
"Si Duda reseh!" Jawab Ryu sambil menunjukkan ponselnya yang bertuliskan nama Elno.
Mendengar itu, Gladys pun hanya bisa terkekeh. Ia kemudian beranjak dari pangkuan suaminya dan membereskan piring bekas buah yang mereka makan.
Sementara itu, Ryu mulai mengatur nafasnya yang masih sedikit terengah. Ia kemudian segera mengangkat panggilan dari Elno.
"Yes, Sir!" Jawab Ryu.
"Kamu kemana aja sih, Yu? Lama banget angkat telfon." Tanya Elno.
"Menurut Sir, mau ngapain lagi pasangan pengantin baru ini di waktu libur kalau bukan saling menghangatkan?" Jawab Ryu dengan bar - bar.
"Shit! Anak satu ini, gak sopan banget mulutnya." Umpat Elno. Meski begitu, ia tersenyum karena merasa usahanya untuk menjodohkan Ryu tak sia - sia.
"Pake hati kalau main. Jangan cuma nafsu." Kekeh Elno.
"Sir kalo cuma mau ganggu kegiatanku, mending besok lagi aja telfonnya." Kata Ryu.
"Ngapain Sir ganggu kalian? Sir juga banyak kerjaan tau!" Sergah Elno.
"Listen!" Ujar Elno yang membuat Ryu mulai serius mendengarkan Elno.
Elno kemudian memberitahukan tugas yang harus ia kerjakan. Bukan sebuah misi, namun Ryu dan Gladys di minta untuk datang ke sebuah kegiatan militer di Jerman.
Kegiatan Latihan gabungan selama satu minggu yang rutin mereka lakukan bersama. Pasukan dari Negaranya akan tiba esok dan mereka berdua di minta untuk mendampingi sebagai instruktur.
"Ini adalah salah satu rencana pengalihan. Supaya pihak lawan tenang dan tidak terus mencari keberadaan kalian. Kalian akan ikut camp selama satu minggu." Ujar Elno.
"Camp? Sir yang bener aja. Bukannya kasih waktu untuk honey moon. Malah kita di suruh ikut camp militer!" Omel Ryu.
"Ch! Sir cuma minta kamu dampingi mereka satu minggu saja. Atau kamu mau mendampingi selama tiga bulan? O. K. Gak masalah, dengan senang hati." Ledek Elno.
"Hah! Dasar Sir pengganggu!" Ujar Ryu yang membuat Elno tertawa.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kan lebih besar dan lebar 🤣🤣🤣🤣
manisss bgttt tanpa kepura² an....
love you author ku sayang🩷🩷🩷
Jangan per bopoan aja
tp nanti klo Gladys n Ryu dah dalam tahap bucin... lebih seruuuuuu lagi pastinyaaa..
gak sabar mereka bucin🤣