【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Fandi mengerutkan keningnya dalam-dalam sepanjang sisa perjalanan pulang. Kakinya mengayuh pedal sepeda dengan ritme konstan, namun pikirannya sepenuhnya tertinggal di teras rumah Ibu Yuna. Kalimat *"Insya Allah hari Kamis"* terus berputar-putar di kepalanya bagai sebuah teka-teki tanpa jawaban.
Sementara itu, Lisa yang duduk di boncengan belakang justru menahan tawa sampai pundaknya naik-turun. Ia tahu persis apa arti hari Kamis itu. Hari di mana kabut ketidakpastian di rumah mereka akan benar-benar berganti menjadi janji suci.
Begitu sepeda jengki mereka berhenti di pekarangan rumah batu tua, Lisa langsung melompat turun sebelum Fandi sempat menegakkan standar sepeda. Dengan langkah seribu, Lisa berlari menerobos pintu depan, mengabaikan Rika yang sedang menidurkan Ali di ayunan ruang tengah.
"Kak Tina! Kak Tina!" teriak Lisa heboh sembari menggedor pintu kamar kakak keduanya.
Tina yang sejak tadi sedang mencoba menenangkan diri dengan membaca buku di atas ranjang, seketika menghela napas panjang. Ia membuka pintu kamar dengan wajah yang ditekuk. "Lisa, bisa tidak sehari saja tidak teriak-teriak? Suaramu itu terdengar sampai ke kebun sayur di belakang tahu!"
Belum sempat Lisa menjawab, Fandi muncul dari balik pintu depan dengan wajah yang masih dipenuhi tanda tanya besar. Ia menatap Tina dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu bersedekap.
"Kak, tadi Tante Yuna titip pesan waktu kami lewat depan rumahnya," ujar Fandi dengan nada menyelidik.
Jantung Tina seketika mencelos. Ia mencengkeram pinggiran daun pintu kamarnya. "Pe... pesan apa, Fan?"
"Katanya: *'Sampaikan ke Tina, insya Allah hari Kamis.'* Memangnya ada apa dengan hari Kamis?.
*Blush.*
Wajah Tina yang tadinya sudah mulai kembali ke warna kulit normal, seketika berubah menjadi merah padam dalam sekejap mata. Kalimat Ibu Yuna barusan adalah konfirmasi mutlak bahwa keluarga besar Andry akan datang melamarnya secara resmi dalam waktu tiga hari lagi. Hari Kamis. Hari di mana takdirnya akan dikunci.
Lisa yang melihat reaksi Tina langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya. "Hahaha! Kak Fandi bodoh sekali! Hari Kamis itu artinya Pak Andry dan orang tuanya mau datang melamar Kak Tina secara resmi!
"Hah? Serius kamu, Lis?" Mata Fandi melebar sempurna. Ia menatap Tina dengan pandangan tidak percaya. "Kak.... jadi, kamu benar-benar menerima pria kota itu?"
Tina tidak sanggup lagi menahan rasa malunya yang membuncah. Tanpa menjawab pertanyaan kedua saudaranya, ia langsung menarik pintu kamar dan menutupnya dengan bunyi *klek* yang cukup keras, mengunci diri dari dalam. Di balik pintu, ia menyandarkan punggungnya, memegangi dadanya yang berdegup kencang berkejaran dengan waktu. Ada rasa takut, namun kini rasa bahagia dan damai jauh lebih mendominasi.
Kabar tentang rencana kedatangan keluarga besar Andry pada hari Kamis besok langsung menyebar ke seluruh penjuru rumah batu tua itu seperti api yang menyiram bensin. Bu Aminah dan Pak Rahman yang baru pulang dari sawah sore harinya langsung mengadakan rapat keluarga darurat di ruang tengah.
Rumah batu tua yang biasanya sepi di malam hari, kini mendadak sibuk. Rika sibuk membongkar kembali kardus-kardus berisi bunga tiruan dan kain satin pastel yang baru dibelinya.
"Untung saja kain-kain ini sudah datang," ujar Rika sembari membentangkan selembar kain satin merah muda di dinding ruang tengah yang semennya sudah agak mengelupas. "Besok Rabu, kita harus mulai membersihkan rumah ini secara total. Dinding yang kusam ini harus kita tutup dengan dekorasi agar terlihat rapi saat besok besan dari kota datang."
Bu Aminah mengangguk setuju, wajah tuanya memancarkan binar kebahagiaan sekaligus haru yang mendalam. "Benar, Rika. Kita ini orang desa, serba kekurangan. Tapi untuk menyambut niat baik orang, kita harus memberikan yang terbaik yang kita mampu. Besok Ibu akan ke pasar bersama Fandi, membeli bahan-bahan untuk membuat kue dan masakan yang enak."
Pak Rahman yang duduk di kursi rotan tua sembari meminum teh hangatnya hanya tersenyum tipis. Matanya melirik ke arah pintu kamar Tina yang masih tertutup rapat. Beliau tahu, putri keduanya itu pasti sedang bertarung dengan debaran di dadanya. Namun sebagai seorang ayah, Pak Rahman merasa sangat lega karena beban masa depan Tina kini perlahan mulai menemukan titik terang.
"Fandi," panggil Pak Rahman dengan suara baritonnya yang tenang.
"Iya, Bah?" sahut Fandi yang sedang membantu Lisa memisahkan batang-batang bunga tiruan.
"Besok bersihkan pekarangan depan. Tebas rumput-rumput liar di dekat pagar batu, dan pastikan jalan masuk ke rumah kita bersih. Jangan sampai mobil keluarga Andry kesulitan parkir nanti," pesan Pak Rahman.
"Siap, Bah. Besok pagi-pagi sekali Fandi kerjakan," jawab Fandi mantap.
Hari Rabu berlalu dengan tensi kerja yang luar biasa di rumah batu tua itu. Seluruh anggota keluarga bergotong-royong tanpa lelah. Fandi dengan cekatan memotong rumput pekarangan, sementara Lisa dan Rika mulai memasang tirai-tirai dekorasi di ruang tengah, menyulap ruangan yang tadinya tampak kusam menjadi sebuah ruangan yang tampak anggun bernuansa pastel lembut.
Tina sendiri tidak tinggal diam. Walaupun setiap kali namanya digoda oleh Lisa ia akan cemberut, ia tetap membantu ibunya di dapur.
Hingga akhirnya, malam menjelang hari Kamis pun tiba.
Suasana malam itu terasa berbeda bagi Tina. Udara desa yang berembus lewat celah jendela kamarnya terasa jauh lebih dingin dari biasanya, namun hatinya terasa sangat hangat. Di atas sajadah beludru birunya, setelah menunaikan shalat isya, Tina lama termenung.
Ia menatap jemarinya sendiri. Mulai besok, hidupnya tidak akan lagi sama. Ia tidak lagi hanya menjadi Tina sang gadis desa yang memetik coklat atau guru PAUD yang sederhana. Ia akan segera menyandang status baru sebagai tunangan, dan kelak menjadi istri dari seorang pria bernama Andry. Pria yang lima tahun lalu mengaguminya dalam diam di sudut aula kampus yang bising.
"Bismillah..." bisik Tina lirih ke dalam keheningan malam, menyerahkan seluruh akhir dari takdirnya ke dalam genggaman Yang Maha Kuasa. Debaran di dadanya kian menggila seiring berjalannya jarum jam yang terus bergerak maju merayap menuju hari esok yang bersejarah.