NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebohongan yang rapuh

## BAB 23 - Kebohongan yang Rapuh

Rahmat pun langsung menyambut kedatangan istrinya dengan sangat ramah tamah. Efek kejayaan bisnis yang kian menggila membuatnya merasa jemawa; ia kini memperlakukan Ratna dengan teramat manja layaknya seorang selir agung di dalam kerajaan kecilnya.

"Bu, Ibu duduk di samping Mas sini, ayo," ujar Rahmat dengan senyum lebar sambil menepuk-nepuk bantalan sofa mewah di sampingnya, mengisyaratkan Ratna untuk mendekat.

Ratna hanya melangkah pelan tanpa suara dan duduk dengan jarak yang agak kaku. Merasa suasana malam itu perlu ditemani hidangan segar, Rahmat kemudian memutar badannya.

"Bi..... Bi Sumi... Bi...!" panggil Rahmat dengan suara lantang menggema.

Tak lama kemudian, Bi Sumi berjalan menghampiri mereka di ruang tengah. Langkah kakinya terasa berat dan diselimuti rasa bersalah yang amat sangat. Di dalam benaknya, ia dirundung ketakutan kalau-kalau majikannya itu akan bertanya macam-macam mengenai kejadian ganjil dan suara bentakan mengerikan yang terjadi tadi siang.

"I-iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Bi Sumi dengan terbata-bata, meremas kedua tangannya sendiri.

Melihat gelagat asisten rumah tangganya yang tidak biasa dan bicaranya yang mendadak terbata-bata seperti orang ketakutan, Rahmat sontak membisu sekejap. Sorot matanya meneliti raut wajah Bi Sumi yang nampak privat.

"Bi... Bi Sumi tidak kenapa-kenapa, kan? Apa Bi Sumi sedang sakit?" tanya Rahmat penasaran, menelisik.

"Ti-tidak, Pak. Bibi sehat-sehat saja," sahut Bi Sumi cepat, mencoba mengulas senyum palsu agar kecurigaan Rahmat tidak memanjang.

"Oh, ya sudahlah kalau begitu... Ini saya minta tolong potongkan buah semangka ini, dan bawa barang-barang belanjaan ini sekalian ke dapur ya, Bi," lanjut Rahmat mengakhiri kecurigaannya, menyerahkan kantong kresek besar yang ia bawa tadi.

Bi Sumi pun dengan sangat cekatan langsung menerima dan membawa semua barang belanjaan itu menuju dapur belakang. Begitu menginjakkan kaki di area dapur, Bi Sumi mengembuskan napas panjang. Di dalam hatinya, ia merasa sangat lega karena sang majikan laki-laki tidak bertanya hal aneh-aneh yang bisa mengancam posisinya.

Sementara itu di ruang keluarga, seketika suasana berubah menjadi sangat hening. Hanya terdengar suara detak jarum jam dinding yang berbunyi teratur, seolah memecah kesunyian yang kian mencekam di antara mereka. Rahmat dan Ratna sama-sama terdiam, seolah-olah ada sebuah dinding tak kasat mata yang teramat tebal yang kini menghalangi hubungan sepasang suami istri tersebut.

Karena merasa terlalu lama didera keheningan yang kaku, Rahmat pun mencoba memecahkan kegentingan situasi itu. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah sang istri.

"Bu... Ibu kenapa? Apa Ibu sedang sakit? Kalau sakit, kita ke dokter sekarang juga ya? Tolong bicara sama Mas, jangan diam saja begitu. Mas jadi bingung kalau Ibu bersikap seperti ini," tanya Rahmat dengan nada suara yang teramat lembut, mencoba mencairkan suasana dingin yang mendadak tercipta.

"Sudah, Mas... Jangan sok perhatian lagi sama Ibu!" sahut Ratna dengan sangat ketus, bahkan tanpa sudi menolehkan wajahnya ke arah Rahmat.

Mendengar respons ketus yang tak terduga itu, dahi Rahmat langsung mengkerut. Ia benar-benar terkejut dengan perubahan sikap istrinya yang mendadak ketus, padahal ia baru saja pulang membawa oleh-oleh dengan niat baik.

"Ibu ini bicara apa sih? Mas sama sekali tidak mengerti. Sok perhatian bagaimana? Maksud Ibu apa?" tanya balik Rahmat, mencoba menahan sabar dan tetap berbicara dengan nada yang lembut, meskipun dalam hatinya ia mulai merasa terusik dan kebingungan.

"Sudah cukup, Mas! Tidak usah dibahas lagi. Ibu minta malam ini kita tidur terpisah dulu. Ibu lagi tidak mau lihat muka Mas yang sok polos itu!" ujar Ratna dengan nada suara yang teramat tegas dan dingin.

Mendengar perkataan ketus yang meluncur dari mulut istrinya, sontak Rahmat terkejut bukan main. Ia menatap Ratna dengan tatapan tak percaya. Selama bertahun-tahun usia pernikahan mereka, Ratna sama sekali tidak pernah berbicara sekasar dan seberani itu, bahkan dalam keadaan bertengkar hebat sekalipun. Namun kali ini, wanita itu berani menentangnya dengan tatapan penuh kebencian.

"Maksud Ibu apa sih? Mas malah makin tidak mengerti. Sudah dialah, Bu, jangan bersikap begitu. Kasihan sama anak kita yang ada di dalam kandungan," sahut Rahmat mencoba meredam amarahnya dan kembali membujuk. Pria itu menggeser duduknya, lalu mengulurkan tangan untuk merangkul bahu istrinya sembari mengelusnya dengan lembut.

Namun, baru beberapa kali jemari Rahmat mencoba mengelus bahu tersebut, Ratna dengan gerakan cepat langsung menepis tangan suaminya dengan kasar. Sentuhan itu justru mengingatkannya pada cengkeraman brutal yang ia terima tadi siang.

"Sudah, Mas... Ibu mau ke kamar dulu, Ibu sudah mengantuk," sahut Ratna sambil langsung berdiri dari sofa dan bergegas melangkah pergi menuju kamarnya di lantai atas.

Rahmat pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menahan amarah istrinya. Ia hanya bisa duduk terdiam sembari menatap nanar punggung Ratna yang tengah menaiki anak tangga satu per satu, hingga akhirnya sosok wanita itu menghilang di balik pintu kamar lantai atas.

Betapa terkejutnya Rahmat saat ia memutar tubuh dan menengok ke arah samping. Sorot matanya menangkap sosok Bi Sumi yang rupanya sudah berdiri mematung di ambang pintu lorong dengan memegang nampan semangka.

"Astaga... Bi! Bi Sumi ini mengagetkan saja. Sudah, cepat bawa semangkanya ke sini," ujar Rahmat sembari mengelus dadanya yang sempat tersentak.

Bi Sumi pun dengan langkah pelan berjalan menghampiri sang majikan laki-laki yang tengah dirundung kekesalan tersebut. Ternyata, Bi Sumi sudah sejak tadi berada di sana, diam-diam mengintip dan mendengarkan seluruh drama pertengkaran mereka.

"Silakan, Pak..." ujarnya selembut dan sesopan mungkin sembari meletakkan piring berisi potongan semangka merah di atas meja kaca.

"Iya, terima kasih... Eh, tunggu sebentar, Bi. Bibi dari pagi tadi terus berada di rumah, kan?" tanya Rahmat tiba-tiba dengan sorot mata yang mendadak berubah tajam, penuh dengan selidik.

Mendengar pertanyaan itu, Bi Sumi sontak kaget bukan main. Hal yang paling ia takuti sejak sore tadi akhirnya terjadi juga malam ini. Tubuhnya mendadak kaku, dan wanita paruh baya itu hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pasrah.

"Sebenarnya apa yang sudah terjadi sama istri saya sejak pagi tadi, Bi? Sikapnya tiba-tiba saja berubah drastis jadi ketus begitu. Ada kejadian apa sih di rumah ini selama saya pergi?" tanya Rahmat dengan nada suara yang teramat tegas, menuntut jawaban jujur.

Bi Sumi menelan ludahnya dengan susah payah seolah tenggorokannya mendadak kering kerontang. Jantungnya berdenut sangat cepat berpacu liar, dan napasnya pun terasa kian berat menghimpit dada. Ia benar-benar buntu, tidak tahu harus berbuat apa dan harus menjawab apa di hadapan pria yang memegang kunci pundi-pundi gajinya tersebut.

Bersambung

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!