Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Interogasi di Balik Rintik Hujan
Brak!
Pintu depan Apartemen Rue de Rivoli menghantam kusennya dengan dentuman yang sanggup menggetarkan pigura foto di dinding lorong.
Kiandra tidak peduli jika tetangga di lantai bawah akan melayangkan protes besok pagi. Ia tidak peduli jika engsel pintu itu mungkin saja longgar. Saat ini, satu-satunya hal yang ia pedulikan adalah melarikan diri dari sepasang mata hazel yang ia tahu sedang mengawasinya dari arah dapur.
"Kiandra, tunggu—"
Suara bariton Enzo Romano yang berat dan tenang itu justru menjadi pemicu adrenalin tambahan bagi kaki Kiandra. Ia mengabaikan panggilan itu sepenuhnya. Dengan langkah setengah berlari, ia melintasi ruang tengah, masuk ke dalam kamarnya, dan membanting pintu kayu itu sebelum memutar kunci dua kali.
Klik. Klik.
Kiandra menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin. Napasnya memburu, pendek-pendek dan terasa panas di kerongkongan. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba mengusir bayangan tinta merah berbentuk huruf C- yang seolah masih menari-nari di depan matanya.
"Sialan. Benar-benar sialan," umpatnya parau.
Dadanya naik-turun dengan cepat, berdegup brutal menghantam tulang rusuk. Rasa malu itu masih membakar kulit wajahnya, lebih panas daripada uap kompor di dapur praktik tadi siang.
Di depan seluruh teman-temannya, di depan perwakilan administrasi yang menatapnya seolah ia adalah noda di atas kain putih, Enzo baru saja menguliti harga dirinya sampai habis.
Kiandra merosot perlahan hingga terduduk di atas lantai kayu. Ia meremas ujung kardigan rajut kremnya dengan jemari yang gemetar. Air mata yang sedari tadi ia tahan mati-matian di kampus kini mulai mendesak keluar, membuat pandangannya kabur.
"Tuhan Dapur katanya? Lebih mirip iblis yang nggak punya perasaan," batinnya merana. "Kenapa dia harus sekejam itu?"
***
Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang mencekam di dalam kamar yang gelap. Hanya ada suara detak jam dinding dan isak tangis tertahan yang perlahan mulai mereda.
Di luar jendela besar, langit Paris yang tadinya abu-abu kini benar-benar tumpah. Rintik hujan mulai mengetuk kaca jendela dengan ritme yang lambat dan monoton, menciptakan suasana suram yang seolah mengejek kesedihan Kiandra.
Suara air yang menghantam jalanan Rue de Rivoli terdengar seperti bisikan-bisikan mahasiswi di ruang loker tadi siang—tajam, dingin, dan menghakimi.
Kiandra mengusap pipinya yang basah dengan kasar. Tenggorokannya mendadak terasa sangat kering, seolah-olah ia baru saja menelan segenggam pasir gurun. Rasa haus yang mencekik memaksanya untuk bangkit.
Ia berdiri dengan lutut yang masih terasa sedikit lemas. Dengan gerakan yang sangat pelan, nyaris tanpa suara, Kiandra memutar kunci pintu kamarnya. Ia mengintip melalui celah kecil, memastikan situasi di luar aman.
Ruang tengah hanya diterangi oleh lampu berdiri di sudut yang memancarkan pendar kuning temaram. Kiandra berjalan berjinjit, menghindari setiap bagian lantai kayu yang sekiranya akan berderit jika diinjak. Ia merasa seperti pencuri di rumahnya sendiri.
Langkahnya terhenti saat ia sampai di ambang dapur.
Enzo Romano ada di sana. Pria itu duduk di sofa panjang, membelakangi posisi Kiandra. Ia hanya mengenakan kaos hitam santai yang membungkus ketat bahu lebarnya yang kokoh. Enzo tidak sedang membaca buku atau menyesap wine. Ia hanya duduk diam, menatap gelas air di tangannya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Kiandra menahan napas, mencoba menjadi se-transparan mungkin. Ia melangkah menuju meja marmer dapur, mengambil sebuah gelas kristal dari rak, dan menuangkan air dingin dari teko kaca. Ia sengaja membelakangi posisi sofa, berharap Enzo tidak menyadari kehadirannya.
Glek. Glek.
Air dingin itu membasahi kerongkongannya, namun tidak sedikit pun mendinginkan amarah yang masih mengendap di dasar hatinya.
"Sudah tenang?"
Suara berat itu muncul tepat di belakangnya, begitu dekat hingga Kiandra bisa merasakan getaran udaranya di tengkuk.
Kiandra tersentak hebat. Gelas kristal di tangannya nyaris meluncur jatuh jika ia tidak segera mencengkeramnya dengan kekuatan penuh. Ia memutar tubuhnya dengan cepat, namun langkahnya langsung terkunci.
Enzo sudah berdiri tegak di depannya, menghalangi satu-satunya jalan keluar dari area meja marmer. Pria itu berdiri begitu dekat, memancarkan aroma sabun mandi mint yang segar bercampur dengan wangi maskulin alaminya yang selalu berhasil mengacaukan saraf Kiandra.
"Minggir, aku mau kembali ke kamar," ucap Kiandra. Suaranya bergetar, matanya tertuju pada ujung kaki Enzo, tidak berani menatap mata hazel yang ia tahu sedang menguncinya.
"Kita perlu bicara, Piccola," nada Enzo berat, tertahan, namun mengandung otoritas yang tidak menerima bantahan.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Monsieur," balas Kiandra ketus. Ia mencoba menerobos melalui sisi kanan Enzo, namun pria itu dengan cepat menggeser tubuhnya, kembali menutup jalan.
"Kiandra."
"Apa?! Kamu mau menceramahiku lagi soal teknik filleting-ku yang sampah? Atau mau kasih nilai D sekalian biar aku langsung dideportasi besok pagi?"
Kiandra mendongak, menantang tatapan Enzo dengan mata yang mulai berkaca-kaca kembali. Wajahnya memanas hebat, amarah yang ia pendam sejak tadi siang akhirnya meledak di depan pria itu.
"Nilai C- tadi siang, apa itu juga bagian dari gurauanmu? Kamu mempermalukanku di depan semua orang, Enzo! Di depan pengawas administrasi! Kamu tahu nggak gimana rasanya ditatap kayak sampah sama satu angkatan?"
Enzo diam. Rahangnya mengencang, menciptakan garis tegas yang sangat maskulin di wajah tampannya. Mata hazel-nya berkilat serius, menatap lekat wajah merah Kiandra yang sedang dikuasai emosi.
Kiandra yang sudah tidak tahan lagi mencoba mendorong dada Enzo dengan kedua tangannya. Ia ingin pria itu menjauh, ingin ruang pribadinya kembali. Namun, tangannya justru merasakan otot keras yang padat di balik kaos hitam tipis itu. Sentuhan itu justru membuatnya semakin gemetar.
"Lepas! Minggir!"
Enzo tidak membiarkannya. Dengan gerakan yang sangat cepat namun terkontrol, ia meraih kedua pergelangan tangan Kiandra. Ia mencengkeramnya lembut namun cukup erat untuk menghentikan rontaan gadis itu.
"Dengarkan aku dulu," desis Enzo.
Dalam satu tarikan yang mantap, Enzo menarik tubuh mungil Kiandra hingga merapat ke dada bidangnya. Kiandra menabrak tubuh kokoh itu dengan napas yang tercekat di kerongkongan. Ia terkunci dalam dekapan Enzo, terperangkap di antara meja marmer dan panas tubuh pria itu yang mendominasi.
Kiandra menahan napas. Jantungnya berdegup kencang tak karuan, menghantam tulang rusuknya seirama dengan detak jantung Enzo yang bisa ia rasakan di telapak tangannya. Kehangatan telapak tangan Enzo yang melingkari pergelangan tangannya terasa seperti borgol yang membakar kulitnya.
Enzo merundukkan kepalanya, menatap dalam ke mata cokelat gelap Kiandra yang kini dipenuhi rasa syok dan amarah. Ia mengabaikan rontaan lemah Kiandra yang mulai kehilangan tenaga.
"Apa kamu marah karena nilai, atau karena kamu takut pada perasaanmu sendiri?" tanya Enzo. Suaranya rendah, serak, dan sangat provokatif.
"Jangan konyol! Aku benci kamu!" Kiandra mencoba memalingkan wajahnya ke samping, menghindari tatapan yang seolah sedang menelanjangi seluruh rahasia di hatinya.
"Pihak administrasi sedang menyelidiki kita, Kiandra."
Kalimat itu meluncur seperti siraman air es. Kiandra membeku seketika.
"Apa?"
Enzo mendekatkan bibirnya ke telinga Kiandra, membiarkan napas hangatnya menyentuh kulit sensitif di sana.
"Mereka mendengar gosip tentang L'Arpège. Mereka sedang mengawasi setiap gerak-gerikku di kelas, mencari bukti apakah aku memberikan perlakuan khusus padamu karena hubungan pribadi."
Kiandra membelalakkan mata. Ia mendongak, menatap Enzo dengan rasa syok yang seketika menggantikan amarahnya. "Jadi... jadi ujian tadi siang..."
"Aku harus bersikap kejam di depan mereka, Piccola," bisik Enzo.
Tatapannya melembut secara tidak biasa, sebuah ekspresi yang sangat jarang ia tunjukkan. "Aku harus menunjukkan bahwa aku tidak punya toleransi sedikit pun padamu. Itu satu-satunya cara untuk melindungi posisimu di kampus agar kamu tidak dianggap mahasiswi yang 'menjual diri' demi nilai."
Enzo menjeda kalimatnya, ibu jarinya mengusap pergelangan tangan Kiandra dengan gerakan yang sangat halus.
"Jadi aku minta maaf, kalau tindakanku tadi siang terasa berlebihan."
Kiandra tertegun diam. Napasnya tertahan di dada. Ia tidak percaya singa galak yang biasanya hanya tahu cara menindasnya ini baru saja meminta maaf dengan nada yang begitu tulus.
Kemarahan yang tadi membuncah mendadak menguap, digantikan oleh debaran jantung yang semakin gila dan desir hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Enzo..."
Enzo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melepaskan pergelangan tangan Kiandra, namun tangannya justru naik ke wajah gadis itu. Ibu jarinya yang kasar namun hangat merayap perlahan, mengusap bibir bawah Kiandra dengan gerakan yang sangat lambat.
Sentuhan itu penuh dengan sensasi taktil yang membuat lutut Kiandra seketika lemas. Ia memejamkan mata perlahan, menyerah pada dominasi sensorik yang diberikan Enzo. Aroma sandalwood dan panas tubuh pria itu seolah membius logikanya.
Enzo merundukkan kepala lebih dalam. Bibirnya bergerak mendekat, berhenti tepat sebelum menyentuh bibir Kiandra. Napas hangatnya yang beraroma mint dan kopi menyentuh permukaan kulit bibir Kiandra, menciptakan ketegangan yang nyaris meledak di antara mereka.
Kiandra tidak lagi meronta. Sebaliknya, ia justru mencondongkan tubuhnya sedikit, jemarinya meremas kain kaos hitam Enzo di bagian dada, mencari pegangan di tengah dunia yang terasa sedang berputar. Ia menunggu. Menunggu penyatuan bibir mereka lagi, dan kali ini ia lebih siap.
Tepat saat jarak di antara bibir mereka terkikis habis hingga napas hangat Enzo menyentuh permukaan kulit Kiandra—
Tok! Tok! Tok!
Pintu depan apartemen mereka di ketuk oleh seseorang.