Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 Tepat Waktu
Angin sore masih terasa panas. Anjani menggenggam tangan Bella sambil berjalan cepat menyusuri jalan belakang perumahan. Jalan itu jauh lebih sepi dibanding jalan utama.
Beberapa kali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Meskipun sudah berhasil keluar dari rumah Satriya, rasa waspada itu belum hilang. Apalagi setelah menyadari pria itu sengaja menguncinya di dalam rumah. Memikirkannya saja membuat dada Anjani kembali panas. Namun, saat ini ada hal yang lebih penting. Bella.
"Tahan sedikit ya, Sayang."
Bella mengangguk pelan, tapi langkahnya semakin lambat. Wajahnya pucat. Keringat dingin mulai membasahi pelipis.
Anjani langsung menyadarinya.
"Bella?"
Anak itu tiba-tiba berhenti. Tubuh kecilnya membungkuk. Dan...
"Huek!"
Anjani langsung panik.
Bella muntah di pinggir jalan. Tubuhnya gemetar seiring napas yang memburu. Wajahnya semakin pucat.
"Bella!"
Anjani buru-buru berjongkok, mengusap punggung anaknya. Jantungnya berdebar kencang. Tadi pagi kondisi Bella memang membaik, tapi ternyata belum benar-benar pulih.
"Mama... Aku pusing," lirih Bella.
Anjani menggigit bibir, lalu menoleh ke kanan dan kiri, berharap ada yang lewat entah itu kendaraan, taksi, atau ojek. Akan tetapi tidak ada.
Sementara Bella terlihat semakin lemah. Dan tepat saat itulah sebuah suara terdengar.
"Mbak Anjani?"
Anjani seketika menoleh. Seorang ibu paruh baya berdiri tidak jauh dari sana, tetangga lama. Dulu mereka cukup sering bertegur sapa, meski tidak terlalu akrab.
"Mbak Anjani?"
Wanita itu tampak terkejut, kemudian pandangannya jatuh pada Bella. Ekspresinya langsung berubah.
"Ya ampun." Ia mendekat cepat. "Bella kenapa?"
"Sakit, Bu."
Wanita itu langsung melihat wajah Bella yang pucat dan tidak banyak bertanya lagi. Memang insting seorang ibu jauh lebih cepat bekerja dibanding rasa ingin tahu.
"Tunggu sebentar."
Wanita itu langsung berbalik ke rumahnya. Tak lama kemudian ia kembali keluar bersama seorang pemuda. Mungkin anaknya.
"Kamu antar mereka ke rumah sakit sekarang."
Pemuda itu langsung mengangguk. "Siap, Bu."
Anjani hampir menangis karena lega. "Terima kasih, Bu."
"Nggak usah mikir macam-macam dulu." Wanita itu melambaikan tangan. "Bawa Bella dulu."
Beberapa menit kemudian, motor itu melaju menuju rumah sakit terdekat.
Anjani memeluk Bella dari belakang.
Menahan tubuh anak itu agar tidak jatuh. Sementara Bella hanya bersandar lemah di pelukannya. Matanya setengah terpejam.
Di sisi lain. Tetangga tadi kembali melanjutkan jalannya. Namun, langkahnya terhenti lagi karena melihat dua orang berdiri di depan rumah Satriya. Mereka Sae dan Maria.
Wanita itu mengernyit. "Lho?"
Maria yang sejak tadi mulai frustrasi langsung menoleh. "Permisi, Bu."
"Nyari penghuni rumah ini?"
Maria mengangguk cepat. "Iya. Rumahnya kosong dari tadi."
"Oh."
Maria langsung menegakkan badan. "Oh apa, Bu?"
"Tadi saya lihat Mbak Anjani."
Deg.
Maria dan Sae langsung fokus.
"Dia sama Bella."
"Ke mana, Bu?"
"Ke rumah sakit."
Maria membeku. "Rumah sakit?"
Wanita itu mengangguk. "Iya. Bella kelihatannya sakit."
Maria sendiri langsung panik. "Rumah sakit mana, Bu?"
Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, di Aurora Group. Suasana jauh lebih panas daripada cuaca di luar. Puluhan miliar rupiah terasa menggantung di udara.
Pak Wirat masih di sana, duduk dengan kedua tangan terlipat. Bahkan, beberapa investor lain kini juga berada di sampingnya. Para direktur juga hadir.
Dan di belakang meja yang luas, Ren Aksara tetap duduk tenang. Bahkan terlalu tenang, membuat orang lain semakin kesal.
Direktur operasional akhirnya membuka suara. "Pak Ren."
Tidak ada jawaban.
Pria itu melanjutkan. "Kita tidak bisa terus menunggu."
Direktur keuangan ikut mengangguk. "Tim sudah mulai kehilangan arah. Kita membutuhkan kepastian."
Pak Wirat menambahkan. "Dengan segala hormat." Tatapannya lurus ke arah Ren. "Ini bukan lagi soal keyakinan pribadi. Ini proyek perusahaan."
Ruangan mendadak sunyi. Semua orang menunggu, namun Ren masih diam, belum memberi jawaban yang mereka inginkan. Dan itu mulai menguras kesabaran.
Akhirnya salah satu investor bersuara. "Pak Ren. Kita tidak punya waktu lagi." Nada bicaranya tetap profesional, namun tekanannya jelas terasa.
"Kalau sampai pukul empat sore model utama belum muncul..." Pria itu menarik napas. "Kita harus mengumumkan model pengganti."
Kalimat itu menggema di seluruh ruangan. Semua orang tahu siapa yang dimaksud. Tatapan perlahan bergerak ke arah Cintya. Wanita itu duduk dengan tenang sembari memasang wajah rendah hati. Ia tetap terlihat seolah tidak mengharapkan apa pun. Padahal di dalam hatinya, debar kemenangan mulai terdengar semakin jelas.
Sedikit lagi. Hanya sedikit lagi. Aurora akan menjadi miliknya. Dan Anjani akan terlambat. Sangat terlambat.
Waktu terus berjalan. Jarum jam di dinding seolah berubah menjadi musuh seluruh ruangan.
15.55. Lima menit lagi menuju pukul empat. Lima menit lagi menuju batas akhir yang ditetapkan investor. Lima menit lagi menuju keputusan yang akan mengubah arah kampanye Aurora.
Suasana ruangan semakin tegang. Beberapa direktur mulai saling bertukar pandang. Investor-investor yang sejak tadi berusaha sabar kini mulai kehilangan kesabarannya. Bahkan Pak Wirat beberapa kali melirik arlojinya. Hanya satu orang yang masih terlihat tenang.
Ren Aksara.
Pria itu duduk bersandar di kursinya dengan wajah datar, seolah kampanye bernilai miliaran rupiah ini hanyalah kampanye kecil. Sikap itulah yang membuat orang lain semakin frustrasi.
Di belakangnya, Raka sudah panas dingin. Ia melirik jam, lalu melirik Ren, lalu melirik jam lagi, kemudian kembali melirik Ren. Panik.
"Pak."
Ren tidak menoleh. "Hm."
"Empat menit lagi."
"Hm."
Hm hm hm terus. Bikin yang baca ikutan frustasi.
Raka hampir stres. "Pak."
"Hm."
"Ini situasinya darurat."
"Aku tahu."
"Tapi Bapak terlihat tidak seperti orang yang tahu."
Ren akhirnya melirik sekilas. Tatapan yang cukup membuat orang lain ciut. Namun, Raka sudah terlalu panik untuk tenang.
"Pak Ren."
"Apa."
"Kalau Mbak Anjani benar-benar tidak datang?"
Ketegangan yang menyelimuti Raka terlihat jelas. Sebaliknya, Ren justru menyunggingkan senyum sangat tipis, nyaris tidak terlihat.
"Tunggu."
Raka melongo. Itu saja? Tunggu? Seluruh perusahaan hampir meledak dan jawabannya cuma tunggu? Aarrgh!
15.57. Tiga menit lagi.
Pak Wirat akhirnya bersuara. "Pak Ren."
Ren mengangkat pandangan.
"Kita harus mulai mengambil keputusan."
Direktur keuangan mengangguk. "Kita tidak bisa menunda lebih lama. Kampanye ini terlalu besar. Risikonya terlalu tinggi."
Satu per satu suara kembali bermunculan. Mereka tidak menyerang, tapi cukup jelas menunjukkan tekanan.
Dan untuk pertama kalinya sejak Aurora dimulai, mayoritas orang dalam ruangan berada di sisi yang berlawanan dengan Ren. Mereka menganggap CEO mereka sedang membuat kesalahan. Kesalahan besar.
15.58. Dua menit lagi.
Di sisi lain meja. Jantung Cintya berdebar kencang. Ia masih berusaha tetap tenang. Namun, di dalam hatinya sudah bersorak menang. Ia bahkan sudah membayangkan sorot kamera, sorotan media, judul berita, wawancara, kontrak-kontrak baru. Kesempatan yang selama ini diimpikannya. Semua sudah berada tepat di depan mata.
15.59. Satu menit lagi.
Pak Wirat menghela napas panjang, lalu berdiri. "Baik."
Ruangan langsung hening.
Pria itu merapikan jasnya. "Karena model utama tidak dapat dihubungi hingga batas waktu yang telah disepakati. Maka--"
Kalimatnya belum selesai saat suara ketukan pintu terdengar, membuat seluruh ruangan terdiam. Semua kepala menoleh bersamaan. Pak Wirat berhenti bicara.
Raka yang sejak tadi hampir terkena serangan jantung langsung menegakkan badan.
Ekspresi kemenangan di wajah Cintya retak. Entah mengapa ada firasat buruk yang tiba-tiba menggangu.
Sementara itu, Ren bahkan tidak memberi kesempatan siapa pun untuk bereaksi. "Sudah saya katakan, di sini saya yang memutuskan."
Tatapan Ren lalu berpindah ke pintu. "Masuk." Suaranya terdengar tegas.
Pintu perlahan terbuka. Dan sesaat kemudian, semua orang membeku. Anjani berdiri di sana dengan napas terengah-engah. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya tampak lelah. Bahkan salah satu sisi bajunya terlihat kusut. Jelas bukan penampilan seseorang yang datang dengan santai. Ia terlihat seperti orang yang baru saja berjuang mati-matian untuk tiba di tempat ini.
Ruangan hening. Beberapa orang bahkan sampai lupa berkedip, karena selama berjam-jam mereka memperdebatkan perempuan itu, mempertanyakan keberadaannya.
Dan sekarang, orang yang menjadi pusat seluruh kekacauan itu berdiri tepat di depan mereka. Masih mencoba menormalkan napas, namun hadir. Benar-benar hadir.
Mata Anjani menyapu seluruh ruangan. Ke Investor, direktur, Pak Wirat, Cintya. Dan akhirnya berhenti pada Ren.
Dari semua orang yang ada di sana, hanya wajah pria itu yang terlihat tidak terkejut, seakan sejak awal ia memang yakin Anjani akan datang. Dan keyakinan itu membuat sesuatu di dada Anjani mendadak terasa aneh.
Sementara itu di sisi lain ruangan. Wajah Cintya perlahan memucat, karena ia tahu, begitu Anjani muncul di sini, seluruh kemenangan yang hampir berada dalam genggamannya baru saja runtuh.
Dan benar saja. Beberapa detik kemudian, Ren menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya tetap tertuju pada Anjani. Lalu dengan nada datar yang justru terdengar paling mematikan bagi kubu lawan.
"Baik." Pria itu mengalihkan pandangan ke seluruh ruangan. "Kita lanjutkan yang tertunda."
Deg.
"Dengan model utama yang sudah hadir."
Akhirnya Ren Aksara memenangkan seluruh ruangan.
Bersambung~~
tep kotep cellot.
kayaknya ini bukan karakter Anjani..
aku pikir itu tajuk untuk koleksi terbaru yang launching..
bukan tajuk sih tepatnya tapi..tema. mungkin ya..kayak beberapa Brand yg lagi melaunching koleksi terbaru mereka dalam perhelatan berjudul..Manik Raya. atau swarna bumi gitu...