NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18.

Ya...putra sulungnya, tak ada angin tak ada kabar tetiba datang ke kantor. Pram merasa kedatangan ke kantornya merupakan sebuah ancaman. Pria itu menganggap putranya sedang memberi peringatan.

Kembali kepalanya menyandar ke arah sandaran kursi. Dirga hadir saat dia dan Arista sama-sama masih kuliah. Hubungannya yang di tentang oleh ke dua orang tua Arista membuat mereka bertindak nekat.

Bukannya mengakhiri hubungannya , mereka semakin intens bertemu di luar rumah dengan alasan kuliah. Ke duanya sama-sama gelap mata, dan terjadilah hubungan terlarang itu. Dengan hadirnya janin di rahim Arista.

Dengan alasan yang klise" khilaf" .

Tentu saja ayah Arista murka mengetahui perbuatan anaknya. Sempat tak mau menjadi wali nikah, tapi setelah di bujuk akhirnya Pak Hardi Suseno luluh juga.

Tapi setelah itu, Pak Hardi seolah kehilangan semangat hidup. Hidupnya selalu di liputi rasa bersalah, karena merasa tidak bisa menjaga dan mendidik anak gadisnya.

Padahal semua itu bukan murni kesalahan pak Hardi. Putrinya sudah dewasa, sudah bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Mana yang melanggar norma agama dan yang bukan.

Orang tua sudah membekali , menasehati dan membentengi dengan ilmu agama. Semua kembali pada pribadi masing-masing. Hidup itu pilihan.

Sampai pada waktunya Arista melahirkan, Pak Hardi Suseno tak mau melihat cucunya. Bukan karena benci, tapi karena mengingatkan perbuatan ke dua orang tua si cucu.

Sejak saat itu pak Hardi sering sakit-sakitan. Anisa putri ke duanya yang tekun merawatnya. Sejak menikah Arista tidak tinggal di rumah itu lagi.

Pram merasa kehadirannya tak di inginkan , dia pun mengajak Arista mengontrak rumah.

Seperti di ketahui Hardi Suseno seorang pengusaha sukses. Merasa hidupnya tak lama lagi, Hardi menyuruh putri bungsunya menikah. Akhirnya Anisa menikah dengan Restu atas dasar perjodohan. Putra dari sopir pribadi Hardi.

Restu mendapatkan kepercayaan untuk memimpin salah satu perusahaan di bidang properti. Sebelumnya restu memang sudah bekerja di bawah naungan kantor perusahaan Hardi Jaya.

Hardi Suseno yang sudah sakit sakitan akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Keluarga merasa kehilangan, terutama Anisa yang sudah merawatnya.

Arista datang sambil membawa bayinya, dia datang tanpa suaminya,Pram. Arista histeris, dia menangis penuh penyesalan. Dia merasa dialah penyebab ayahnya sakit sakitan dan akhirnya meninggal.

Anisa diam terpekur di samping jazad sang ayah. Tak ada keinginan untuk menanyakan kenapa suaminya Arista tidak ikut datang.

Pram sebenarnya berencana ke rumah duka, tapi mendadak mendapat telepon dari seseorang. Dan dia lebih memilih menemui seseorang itu dari pada melihat jenazah sang ayah mertua untuk terakhir kali.

Arista yang hatinya di butakan oleh cinta Pram, tak mempermasalahkan hal itu. Dia rela datang sambil mengendong bayinya.

Tak ayal semua itu mendapat perhatian dari para pelayat. Kasak kusuk di antara pelayat pun tak bisa di hindari.

Singkat cerita, karena perusahaan yang di pimpin Hardi Suseno sebagai tampuk pimpinan sudah wafat, akhirnya Arista maju mengantikan ayahnya.

Pengalamannya yang masih minim dan di tambah lagi sang ayah yang tak pernah mengajarinya, membuat Arista hampir putus asa.

Beruntung salah satu orang kepercayaan Hardi Suseno dengan sabar dan tekun mengajari Arista , hingga sedikit demi sedikit Arista mampu menguasai dan kembali bangkit setelah mengalami keterpurukan beberapa bulan ke belakang.

Perusahaan yang di pegang Arista bergerak di bidang pengadaan alat kesehatan. Sangat berbanding terbalik dengan jurusan yang dia ambil saat kuliah. Desaigner.

" Mas Anjas, terima kasih banyak atas waktu dan tenaganya,udah sabar ngajarin aku dan masih bertahan sejauh ini di perusahaan ayah." siang itu Arista sedang makan siang setelah ketemu klien.

" Sudah kewajiban saya Bu Arista. Saya mengemban amanah dari pak Hardi , untuk membantu dan mempertahankan perusahaan. Selagi tenaga saya masih di butuhkan, saya siap membantu dan turun tangan kapan saja saya bersedia." kata Anjas sambil menatap Arista atasannya yang sekarang.

Arista mengangguk pelan.

" Terima kasih."

Anjas menghela nafas dan senyum tulus terbit di wajahnya yang tampan.

Arista menundukkan kepala, dia tak ingin berlama-lama menatap pria di hadapannya.

        ************

Pram duduk sambil menimang-nimang putranya, Dirga Pratama. Arista tengah sibuk membuatkan susu di dapur.

" Mas..bagaimana pekerjaan di kantor kamu, dengar-dengar sedang ada pengurangan karyawan." kata Arista sambil duduk di samping suaminya. Dan mengambil alih Dirga untuk di berikan susu formula.

Pram menghembuskan nafas berat, dia tak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Dia sendiri bingung, kantor di mana tempat dia bekerja sedang kolaps.

" Mas...lagi bingung, saat ini banyak banget perusahaan minuman kemasan. Mereka jor joran menjual produk mereka. Dengan harga jual yang tak masuk di akal." Pram menyandarkan kepalanya ke sofa.

" Sabar ya, mas. Nanti juga ada jalan keluarnya." hibur Arista.

" Sepertinya Dirga udah pulas, aku ke kamar dulu, mas. Mas kalau lapar, makan duluan aja, sudah aku siapin."

Pram mengangguk. Dia tak protes walaupun harus makan sendiri. Dia mengerti Arista sudah lelah seharian bekerja.

Hingga apa yang di khawatirkan pun terjadi. Pram termasuk salah satu karyawan yang terkena imbas pengurangan tenaga kerja.

Arista berinisiatif memperkerjakan Pram di perusahaannya. Kebetulan di bagian staf marketing sedang kosong. Arista ingin meminta suaminya mengisi kekosongan itu.

" Mas Anjas, bagaimana kalau mas Pram suami saya di pekerjakan jadi staf marketing, apa masih ada lowongan." pagi itu Anjas dan Arista sedang sarapan di kantin.

Anjas mengernyitkan dahi.

" Bukankah Bu Arista punya wewenang."

"Saya nggak berani, bagaimana pun merekrut karyawan harus sesuai prosedur seperti halnya karyawan yang lain."

Anjas tersenyum senang.

" Setahu saya masih ada. Apa nanti pak Pram tidak kecewa, Bu. Secara perusahaan ini punya istrinya, kok, suaminya di pekerjakan hanya sebagai staf." Anjas tersenyum.

" Saya nggak mau gegabah, mas. Biar mas Pram merintis dari bawah. Saya nggak mau mengambil keuntungan dari kedudukan saya." jawab Arista diplomatis.

Anjas memandang Arista penuh kekaguman. Sebenarnya dia sudah lama menaruh hati pada Arista. Hanya saja dia memilih mundur ketika Arista menjatuhkan pilihan hatinya pada Pram.

Pram akhirnya bergabung dengan perusahaan yang di pimpin istrinya. Karena kepiawaiannya dalam bernegosiasi, dalam satu bulan banyak rumah sakit yang mau bekerja sama dengan perusahaan Hardi Jaya.

Arista senang karena berkat tangan dingin Pram perusahaan perlahan mulai stabil.

Hingga suatu hari tampuk kepemimpinan Arista serahkan pada Pram, tentu saja atas persetujuan semua pihak.

Dan pada dasarnya mereka setuju setelah melihat kinerja Pram selama ini.

Dan Anjas di tunjuk oleh Arista sebagai Advisor perusahaan. Bagaimana pun jasa Anjas di perusahaan Hardi Jaya tidak main-main.

Sebetulnya Anjas menolak, dia ingin undur diri, karena merasa sudah cukup pengabdiannya di perusahaan Hardi Jaya.

Tapi Arista menolak. Dengan berat hati Anjas pun menerima. Bukan tanpa alasan Anjas menolak penunjukkan tersebut. Dia merasa dadanya sesak setiap kali melihat kebersamaan Arista dan Pram.

**********

Hingga hari ini Pram masih duduk di perusahaan itu dengan tenang.

Tapi ketenangannya terusik dengan kehadiran putra sulungnya. Dan dia menganggap putranya sebagai rival dan sekaligus mengancam kedudukannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!