Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan
Robby turun dari tempat tidur pukul enam lebih lima belas.
Rutinitasnya tidak berubah... alarm, kamar mandi, laci baju. Tapi ketika ia keluar dari lorong kamar menuju dapur untuk mengambil air minum, yang ia temukan bukan suara wajan atau aroma bawang goreng atau Raina yang sudah berdiri di depan kompor dengan celemek di pinggangnya.
Yang ia temukan adalah pintu kamar mandi yang tertutup, dan dari celah bawahnya, cahaya menyala.
Ia mengetuk. "Rain? Kamu di dalam?"
"Iya." jawab Raina.
"Lagi apa?" Robby mendekat pintu kamar mandi.
"Bentar."
Robby mengernyit. Ia kembali berjalan ke dapur... tidak ada yang dimasak, kompor dingin, panci di tempatnya. Ia menuang air sendiri, meminumnya berdiri di depan meja, dan menunggu.
Tiga menit kemudian pintu kamar mandi terbuka.
Robby melihatnya pertama kali dari sudut matanya.
Raina keluar dengan blus krem lengan panjang yang rapi, rok panjang abu-abu, rambut yang digulung ke atas dengan sederhana. Ia berjalan ke meja rias di sudut kamar... dan duduk di kursi kecil di depan cermin, kemudian membuka sesuatu.
Sebuah pouch kosmetik.
Robby berdiri di ambang pintu kamar, gelas air di tangannya, menatap istrinya yang mulai mengoleskan sesuatu ke wajahnya.
Ia tidak ingat terakhir kali melihat Raina berdandan. Mungkin setahun lalu. Mungkin lebih lama.
Sekarang ia berdiri di sini dan menatap tanpa benar-benar berniat menatap, dan ada sesuatu yang tidak ia rencanakan terjadi di dalam kepalanya.
Raina yang biasanya wajah polos, rambut dikuncir asal, daster atau baju rumahan... adalah perempuan yang sudah sangat familiar sampai tidak lagi benar-benar dilihat. Seperti furnitur yang sudah terlalu lama ada sehingga mata berhenti memperhatikannya.
Tapi perempuan yang sekarang duduk di depan cermin itu... dengan blush yang membuat tulang pipinya terlihat lebih tegas, dengan lipstik warna nude yang membuat bibirnya terlihat lebih penuh, dengan rambutnya yang membuat lehernya terlihat lebih jenjang...
Robby menelan ludah.
Di suatu bagian dalam kepalanya yang tidak ia izinkan bicara terlalu keras, ada pengakuan kecil yang muncul tanpa permisi: "Monica tidak ada apa-apanya."
Ia segera mengusir pikiran itu.
"Kamu mau ke mana?"
Raina tidak menoleh dari cerminnya. Tangannya masih bergerak... kuas kecil di pipinya, gerakan yang sudah hafal meski mungkin sudah lama tidak dipakai. "Kerja."
"Kerja?" Robby mengerucutkan keningnya lagi.
"Iya kerja." Raina menjawab tanpa menoleh.
Robby masuk dua langkah ke dalam kamar. "Kerja di mana? Maksudku... tumben. Biasanya kamu nggak..." ia berhenti.
"Nggak apa?"** Raina menutup satu produk, membuka yang lain.
"Ya... biasanya kamu di rumah."
"Mulai hari ini tidak." Raina bicara ringan. "Aku mau kerja lagi."
Robby menatap punggungnya di cermin, punggung Raina, dan wajah Raina di pantulan cermin yang tidak menatapnya. "Kerja lagi? Maksudnya?"
Raina akhirnya berhenti, tangan kiri memegang kuas, tangan kanan bertumpu di meja rias. Ia menatap Robby melalui cermin, bukan membalikkan badan, hanya lewat pantulan.
"Sebelum jadi ibu rumah tangga, aku juga pernah kerja, Rob." Suaranya tidak naik, tidak turun, tidak ada emosi khusus di dalamnya. "Itu bukan informasi baru."
"Iya, tapi..."Robby mengusap tengkuknya. "Kita sudah sepakat kamu fokus di rumah."
"Kita sepakat waktu itu karena kondisinya berbeda."
"Kondisi apa yang berbeda?" Robby semakin mendekat. Namun tetap ada jarak diantara mereka.
Raina tidak menjawab langsung. Ia kembali ke cerminnya, melanjutkan apa yang sedang ia lakukan. Robby menunggu jawabannya tapi yang datang hanya keheningan kamar pagi itu dan suara kecil kuas beradu bedak.
Robby mencoba lagi. "Aku tidak setuju kamu kerja, Rain. Aku mau kamu full di rumah. Mengurus rumah, mengurus..." ia berhenti lagi, karena kalimat berikutnya adalah mengurus anak dan mereka tidak punya anak. "Mengurus rumah."
Raina meletakkan kusnya. Menutup pouch-nya dengan rapi. Berbalik di kursinya... bukan ke cermin, tapi langsung ke Robby, untuk pertama kalinya pagi ini.
Robby melihat wajahnya sepenuhnya sekarang.
Ada sesuatu yang berbeda bukan hanya karena riasannya, ada sesuatu saat matanya menatap, saat ia duduk tegak di kursi kecil itu, saat bibirnya tidak membentuk senyum permisif yang biasa.
"Baik," kata Raina. "Aku tidak kerja."
Robby sedikit mengendurkan bahunya. Lega, karena Raina setuju dengannya
"Tapi uang belanja dapur jadi lima juta sebulan." lanjut Raina tanpa basa-basi.
Bahu itu mengencang kembali. "Apa?" ia terkejut.
"Lima juta. Per bulan. Untuk kebutuhan rumah tangga yang layak." Raina berkata dengan nada yang sama... tidak menuntut, tidak memohon. "Itu syaratnya kalau aku mau tetap di rumah."
"Lima juta?" Robby hampir tertawa... hampir, tapi tidak jadi karena wajah Raina tidak mengundang tawa. "Rain, gajiku satu bulan saja tidak sampai segitu."
"Bohong."
Kata itu muncul di kepala Raina dengan sangat jelas, tapi tidak keluar dari mulutnya. Ia hanya menatap Robby dengan ekspresi yang tidak berubah.
Di dalam kepala Robby, angka-angka bergerak dengan cara yang tidak bisa ia tunjukkan di wajahnya. Lima juta untuk Raina... dari mana? Kalau Raina dapat lima juta, maka Monica harus tetap dapat sepuluh juta, karena Monica tidak akan mau kurang dari itu, dan Monica tidak segan-segan marah yang jauh lebih merepotkan dari Raina yang diam. Matematikanya tidak jalan. Tidak mungkin.
"Kita atur nanti," kata Robby. "Tapi soal kerja..."
"Tidak ada yang perlu diatur." Raina berdiri dari kursinya... sudah selesai berdandan, sudah siap pergi. "Lima juta atau aku kerja. Pilih satu."
Robby menatapnya. Kemudian ada sesuatu yang bergerak di wajahnya, sesuatu yang Raina mengenalinya sebagai perhitungan, orang yang sedang mencari sudut yang berbeda untuk masuk.
"Rain." Suaranya turun satu nada, lebih lunak. "Kamu ingat dulu waktu masih gadis? Banyak yang suka sama kamu. Aku juga hampir kalah saingan waktu itu." Ia mencoba tersenyum yang dulu mungkin berhasil. "Kalau kamu kerja, nanti..."
"Nanti apa?" Raina mengambil tasnya dari atas kasur.
"Ya, pergaulan luas, ketemu orang-orang baru..."Robby mencoba untuk membujuk.
"Aku bukan ABG, Rob." Raina mengalungkan tasnya di bahu. "Lima juta atau aku kerja. Itu saja."
Ia berjalan ke pintu kamar.
"Sarapan gimana?" suara Robby dari belakang.
Raina berhenti di ambang pintu. Tidak berbalik... hanya berhenti, sebentar, cukup untuk menjawab.
"Aku tidak sempat masak pagi ini." Satu jeda kecil. "Kalau lapar, minta saja ke orang yang biasa kamu minta."
Dan sebelum Robby sempat memproses kalimat itu sepenuhnya, suara langkah Raina sudah menjauh ke lorong, lalu suara pintu depan dibuka, lalu ditutup... tidak dibanting.
Robby berdiri di ambang pintu kamar yang kosong.
Cermin rias di sudut ruangan masih menyimpan jejak Raina yang baru saja pergi.
Ia menatap cermin itu.
Di pantulannya, ia melihat dirinya sendiri... kemeja yang belum dirapikan, rambut yang belum disisir, gelas air yang masih di tangannya.
"Minta saja ke orang yang biasa kamu minta."
Kalimat itu berputar sekali di kepalanya. Kemudian sekali lagi.
Robby mengernyit.
Ia meletakkan gelasnya di meja rias. Berdiri dengan tangan di pinggang, menatap pantulan dirinya sendiri sambil mencoba menyusun apa yang baru saja terjadi dalam tiga puluh menit terakhir.
Raina yang berdandan. Raina yang bilang mau kerja. Raina yang tidak masak. Raina yang pergi tanpa menunggu percakapan selesai.
"Dia tahu."
Pikiran itu muncul tiba-tiba, tajam, dan membuat perutnya sedikit tidak enak.
Tapi kemudian Robby menggeleng pelan, meyakinkan dirinya sendiri.
Tidak mungkin.
Kalau Raina tahu... perempuan itu tidak akan bisa duduk di depan cermin dan berdandan dengan tenang seperti tadi.
Kalau Raina tahu, ia pasti menangis. Pasti berteriak, karena begitulah perempuan yang sakit hati, itu yang Robby ketahui, itu yang ia antisipasi kalau memang suatu hari kenyataan itu terbongkar.
Tapi yang terjadi pagi ini tidak ada itu.
Hanya ketenangan yang membingungkan dan kalimat-kalimat yang bisa punya banyak arti.
Robby mengembuskan napas.
"Paling juga lagi PMS," gumamnya. "Atau nonton drama korea terlalu banyak."
Ia berjalan ke kamar mandi untuk menyisir rambutnya.
Perutnya masih sedikit tidak enak.
Tapi ia memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang