Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Helm Lucu
Jeviza baru membuka matanya saat suara Puspa sudah terdengar memekik telinganya. Masih setengah sadar, Jeviza bangkir dari sofa, duduk dengan ling-lung sembari meregangkan tangannya, baru setelah sadar ia bukan berada di kamarnya, ia langsung terkesiap, jangan sampai Keandra melihat tingkahnya yang membuatnya semakin terlihat ilfeel.
"Niat banget, lo tidur sampai bawa selimut gitu."
Suara Puspa yang mengudara barusan seketika membuat Jeviza meniliki dirinya. Matanya menyipit melihat selimut kuning kartun spon hidup di air itu dengan bingung. Seingat Jeviza, ia turun untuk minum, lalu rebahan di sofa sampai akhirnya ketiduran.
"Ada kelas pagi kan? Siap-siap Jepizaaa."
Jeviza masih dengan rasa bingung menurut, tanpa menjawab ucapan Puspa karena pikirannya sibuk menebak dari mana selimut itu yang tiba-tiba menutupi tubuhnya.
Di tengah perasaan yang masih campur aduk karena bingung, tepat ketika ia akan menaiki tangga, Keandra datang dengan penampilan sudah rapih, kaos hitam polos dengan almamater kebanggaannya yang belum terpakai.
Aroma maskulin khas Keandra mengudara di sekitar Jeviza, menarik kembali kejadian beberapa waktu lalu, dimana Jeviza dengan sangat leluasa mencium aroma itu disaat hujan. Lalu kembali melirik pada selimut yang ia bawa sekarang. Jeviza menatap Keandra yang sempat meliriknya tadi, tetapi cowok itu tetap melangkah tanpa mengatakan apa-apa.
Di tangga atas terakhir, Jeviza kembali menoleh, ia dapat melihat Keandra yang duduk di meja makan, sementara Arlo datang dengan laptop dan Puspa sibuk mengoles selai untuk diberikan kepada Keandra.
Melihat pemandangan itu, Jeviza semakin yakin, jika ada sesuatu yang cowok itu lalui dan mungkin sedikit kesulitan, tetapi apa? Jeviza masih tidak mengerti.
Sekali lagi, Jeviza melirik ke bawah, dimana Keandra sedang mengunyah roti dan sesekali mengobrol dengan Arlo dengan tatapan serius pada layar laptopnya.
"Kak Pus, sama mas Arlo segitunya sama dia?" gumam Jeviza melangkah menuju kamarnya.
Sampai di kamar, rasa penasaran itu tidaklah hilang, ia melipat selimut kuning tersebut, lalu menatap beberapa saat.
"Masa sih kak Kean?"
Melihat sikap tenang Keandra tadi yang seakan tidak tahu dan bahkan terkesan biasa saja, rasanya tidak mungkin. Jeviza menggelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan rasa penasaran itu lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum berangkat ke kampus.
"Makasih mas," ujar Keandra menutup laptopnya.
Arlo mengangguk pelan, sedikit menyunggingkan senyumnya. "Mas cuma bisa bantu sebisa mas aja, Ke. Tapi kamu tau sendiri kan? Papamu bagaimana," ujar Arlo diangguki Keandra tanpa menjawab.
Keandra mengemasi barang-barang miliknya. Lalu kembali menatap Arlo sebelum pergi. "Lusa, mas Arlo kalau berubah pikiran bilang ke gue aja nggak papa."
Arlo melirik Puspa seakan meminta kepastian, melihat anggukan kepala dari Puspa membuat Arlo tidak ragu lagi untuk berucap. "Mas bisa Ke, kamu tenang aja, penguasa di rumah ini udah beri ijin mas."
Keandra melirik Puspa, lalu terkekeh dengan gelengan kepala. "Oke, makasih mas, kak Pus," ujar Keandra diangguki keduanya.
"Mau langsung ke kampus Ke?" tanya Puspa membuat Keandra terdiam beberapa saat.
Sebenarnya ia ingin ke bengkel terlebih dahulu karena memang hari ini tidak ada kelas pagi. Tetapi melihat wajah Puspa sepertinya Keandra harus mengurungkan niatnya.
"Iya," jawabnya singkat.
Puspa tersenyum tipis, lalu melirik Arlo yang sudah menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya. "Titip Jevi, boleh nggak? Ke?"
Puspa tersenyum tipis, senyuman sedikit canggung. "Pagi ini, gue sama mas Ar ada jadwal ketemu dokter soalnya, mas Arlo nggak bisa anterin Jevi."
Tidak langsung menjawab, Kean terdiam beberapa saat, wajahnya tetap tenang seakan tidak terjadi apa-apa di dalam sana, padahal jauh di lubuk hatinya ada perasaa lega sekaligus berdebar karena kesempatan bersama gadis itu kembali datang.
"Boleh, gue tunggu di depan."
Puspa mengangguk antusias, lalu dengan cepat menyiapkan bekal sarapan Jeviza.
Jeviza baru keluar dari kamarnya dan sedikit berlari dari atas tangga tadi. Ia tidak enak hati jika Arlo sampai menunggunya terlalu lama. Dengan roll yang masih menggantung pada bagian rambut poninya. Jeviza mengamati sekitar yang sudah tampak sepi, lalu meniliki ponselnya berharap ada penjelasan dari Puspa. Namun nihil, tidak ada tanda-tanda Puspa mengirim pesan apa lagi mencoba menghubunginya.
"Lah, gue ditinggal kemana?" gumam Jeviza melangkah ke depan, dengan tangan mencoba memesan taksi melalui ponselnya.
"Udah?"
Suara itu seketika menghentikan langkah Jeviza, juga jemari Jeviza yang sedang mengetik pada keyboard di ponselnya menggantung begitu saja.
"Kak Puspa nyuruh lo bareng gue, mereka ada jadwal ketemu dokter hari ini."
Jeviza tahu jika beberapa bulan ini Puspa dan Arlo memang sedang mengusahakan untuk segera mempunyai momongan.
"Ayo," ajak Keandra berdiri dari kursi teras, lalu melangkah begitu saja menuju ke motor sport miliknya.
Jeviza mengikuti langkah Keandra setelah mengunci pintu terlebih dahulu.
"Gue nggak ada helm," cicitnya melihat Keandra yang mulai mengeluarkan motornya.
"Gue ada," balasnya singkat.
Jeviza mengangguk saja, ia lalu menatap helm berwarna pink yang Keandra sodorkan padanya.
Pink? Punya siapa? Pacar kak Kean?
Batin Jeviza mengamati helm lucu yang kini berada di tangannya.
Melihat keterdiaman Jeviza. Keandra menoleh, seakan tahu apa yang dipikirkan oleh gadis itu, Keandra menarik sudut bibirnya sangat tipis.
"Pakai, gue sengaja beli buat lo."
Bukannya langsung terharu atau salah tingkah, Jeviza justru menatap tidak percaya, debaran di dadanya yang sebenarnya sedari tado coba ia tenangkan semakin menggila.
Jantungnya rasanya mau lepas dari tempatnya melihat helm lucu itu untuk dirinya. Sebelum akhirnya ucapan Keandra setelahnya membuat rasa gugup itu bertambah campur aduk. Antara sedikit kecewa dan masih menyisakan debar.
"Kak Puspa yang nyuruh."
Keandra menaiki motornya, melirik wajah Jeviza yang di sebelahnya, sebelum akhirnya gadis itu memakai helm tersebut.
"O-oh, makasih," ujar Jeviza pada akhirnya. Setelah sedari tadi mencoba untuk menahan, pada akhirnya hanya kata singkat itu yang keluar dari bibirnya.
Keandra mengangguk, jujur saja, itu inisiatif Keandra sendiri, tanpa campur tangan Puspa sama sekali, tetapi mengingat Jeviza yang masih memberi jarak, Keandra tidak ingin membuat gadis itu merasa semakin tidak nyaman. Atau ia terlihat sangat mengejar batas hubungan itu.
Tepat sebelum Keandra melajukan motornya. Ponsel di sakunua bergetar. Nama Bian yang muncul pada layar.
"Kenapa?"
Lo masih di rumah mas Arlo?
Keandra tidak langsung menjawab, ia melirik Jeviza sekilas.
"Umm."
Gue lagi ke situ, bentar lagi sampai
Tut
Sambungan telepon terputus, Keandra sedikit menolehkan kepalanya pada Jeviza.
"Bian lagi ke sini."
Satu kalimat singkat yang terdengar sangat tenang dari bibir Keandra itu seketika membuat tubuh Jeviza menegang di tempatnya.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!