Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35.
Senyum kemenangan belum sempat pudar sepenuhnya dari bibir Jessy, namun rasa puas itu perlahan tergantikan oleh rasa gelisah yang menyelinap bagai ular berbisa.
Panggilan telepon tadi masih terngiang di telinga, rumah tua, tempat di mana tak ada tetangga, tak ada saksi, dan hanya kesunyian yang berkuasa menyelimuti.
“Bagus… Si jalang emang pantes dapetin ini semua,” gumam Jessy dingin, matanya berkilat penuh kepuasan. “Ayo ke sana. gue mau liat, sejauh mana dia bisa pertahanin wajah angkuh dan sok polos itu”
Namun, sebelum melangkah keluar, Angela tiba-tiba menahan lengannya dengan ekspresi waspada yang jarang terlihat.
“Gue nggak ikut” ucap Angela tiba-tiba, suaranya rendah namun tegas.
Jessy mengerutkan dahi bingung. “Kenapa? Lo takut?”
Angela menggeleng pelan, menatap tajam ke arah jalanan sepi di luar jendela. “Firasat gue nggak enak”
Olivia mendengus sinis, tapi samar. Ia merangkul lengan Jessy. “Nggak perlu takut Angela, anggap ajah kita mau jengukin Naysilla. Kita udah susun rencana ini matang, dan kabar itu datang dari orang kita sendiri"
"Iya ih, ngerusak momen ajah cuma karena firasat ngga jelas"
Jessy berpikir sejenak, lalu tersenyum miring penuh percaya diri. “Biarin deh kalo nggak mau ikut, ayo Olivia, semakin sedikit orang, semakin aman. Kalo benar ini jebakan… biar gue yang lihat sendiri siapa yang berani menjerat gue”
Jessy menyeret lengan Olivia ringan, melangkah seolah penuh percaya diri padahal di dalam dada masing-masing sudah terasa debaran yang tak bisa dibohongi, disertai rasa tak pasti yang menyelinap pelan.
Dari kejauhan, di balik celah tembok sekolah, Angela hanya menatap kepergian mereka dengan sorot penuh arti.
"Gue udah peringatkan kalian" bisiknya lirih, terselinap rasa sesal di hati.
Suara gesekan sepatu menginjak tumpukan daun kering terdengar nyaring memecah kesunyian pagi. Suara itu terasa seperti irama alami yang justru makin mencekam dan mendebarkan.
Di bawah sorot matahari pagi yang berusaha menembus sela-sela dahan pohon, suasana di sana tetap terasa remang dan gelap, sebagian besar cahaya tertutup rimbunnya pepohonan dan tembok tinggi yang menjulang kokoh, memisahkan area terlarang dari lingkungan sekolah.
Langkah mereka terus melaju semakin dalam. Semakin jauh meninggalkan celah tembok sekolah, semakin terasa sunyi memekakkan telinga. Hanya suara angin yang berdesir pelan dan bunyi daun kering yang terinjak menyertai.
"Itu dia di sana" ucap Jessy bersemangat, ketika bangunan reot itu semakin dekat.
Akhirnya, bangunan itu tampak menjulang di hadapan mereka. Sebuah rumah bambu tua yang reot dan rapuh. Tiang‑tiangnya banyak yang melengkung, dinding anyamannya bolong di sana‑sini, dan atapnya terlihat sudah tidak utuh lagi.
"Jessy, aku..." Olivia mencekal lengan Jessy kuat, seakan ada keraguan yang mendorong mereka kembali, tapi egonya tak peduli.
"Apa? Udah sejauh ini lo tiba-tiba takut dan mau nyerah?"
"Enggak..." jawabnya lirih, menekan keresahan hati.
Sinar matahari pagi hanya bisa masuk lewat celah‑celah sempit, membuat suasana di sekitarnya tetap remang dan suram. Rumah itu terasa seperti sudah berdiri bertahun‑tahun terabaikan, seolah siap roboh kapan saja.
“Sudah sampai… di sini dia dikurung” bisik Jessy, suaranya masih berusaha tegas meski matanya melirik waspada ke sekeliling.
Ia mendorong pintu bambu yang sudah lapuk itu perlahan. Suara derit panjang melengking terdengar, memecah kesunyian pagi hingga membuat bulu kuduk keduanya meremang seketika.
Begitu masuk, ruangan itu terasa lebih dingin dan lembap. Bau kayu basah dan debu langsung menyergap hidung. Pandangan mereka menelusuri setiap sudut, kosong. Tak ada siapapun, hanya tumpukan sampah dan rerumputan liar yang tumbuh di lantai tanah.
"Jes, kayaknya..."
"Apa lagi?" matanya melotot tajam, merasa terganggu dengan setiap keluhan Olivia. Berakhir mereka membungkam mulutnya rapat-rapat.
Semakin masuk ke dalam, keanehan semakin terasa. Jessy mengerutkan dahi, namun rasa curiganya belum sepenuhnya muncul.
Ia justru menyeringai dingin, lalu mengeluarkan sebuah kamera kecil dari saku jaketnya. Lalu memasangnya di sudut langit‑langit yang masih agak kokoh, mengarahkan lensanya tepat ke tengah ruangan.
“Dengan ini, semua tangisan dan penderitaannya akan terekam jelas. Dan kita bisa sebarin, buat hidupnya hancur” bisiknya puas, tanpa sadar bahwa perangkat itu justru kini merekam gerak‑gerik dan suara mereka sendiri.
Baru saja ia memutar badan hendak keluar, tiba‑tiba terdengar suara langkah kaki berat mendekat, bukan satu dua orang, tapi banyak, teratur dan tanpa tergesa.
Suara itu makin keras, hingga bayangan tubuh‑tubuh tegap mulai memenuhi celah pintu dan dinding bambu yang bolong. Dalam hitungan detik, rumah itu sudah dikelilingi sepenuhnya oleh puluhan pria berpakaian gelap, berwajah datar dan dingin seperti patung.
Jantung Jessy dan Olivia seakan berhenti berdetak. Kaki mereka terasa lemas, tak bisa melangkah mundur sedikit pun.
Diantara kerumunan itu, Mohan mengamati di sudut belakang. Matanya melirik sekilas ke arah kamera yang baru saja dipasang, lalu tersenyum tipis, senyum yang tanpa belas kasihan.
"Kalian mau apa? Mana cewek jalang itu?" pekik Jessy keras, menolak bahaya yang diam-diam mulai mengancam.
Sekelompok pria itu saling pandang, melempar kode rahasia. Dua orang mulai mendekat, masing-masing mencengkeram kedua pundak gadis itu, dengan senyum miring, lantas memulai aksinya.
"Mari bersenang-senang sayang" bisik salah satu pria, tepat di samping telinga.
Eksekusi dimulai, bukan dengan kekerasan sembarang, tapi dengan cara yang terencana, dingin, dan membuat kedua gadis itu merasakan ketakutan yang jauh lebih dalam daripada yang pernah mereka rencanakan untuk orang lain.
"Aaah...!"
"Bajingan...! Bukan gue yang harusnya di sini, tapi si jalang Naysilla... Sialaaan...!"
Suara rintihan memenuhi ruang sempit itu, di balik lensa kamera, setiap detik ketakutan dan penyesalan mereka terekam sempurna, menjadi bukti abadi dari jebakan yang mereka buat sendiri.
cupu tuh apaan ?