NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:814
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

BAB 35: JEJAK SEKOLAH DULU

"Di tengah ribuan kebohongan yang disusun rapi, ada satu babak masa lalu yang paling berusaha kalian hapus. Waktu sekolah. Masa remaja. Tahun-tahun pembentukan karakter yang seharusnya menjadi bukti paling nyata siapa diri kalian sebenarnya. Kalian pikir dengan pindah kota dan ganti nama, jejak itu akan lenyap ditelan waktu. Tapi kalian lupa... kertas-kertas lama, buku tahunan, dan kenangan orang lain... adalah saksi bisu yang tak bisa dibakar, tak bisa dipalsukan, dan tak bisa dibungkam selamanya."

Arka berjalan perlahan kembali ke tengah ruangan, album foto kecil itu masih tergenggam erat di tangannya. Di kepalanya, potongan teka-teki masa lalu mulai merangkai dirinya menjadi gambaran yang makin utuh dan jelas. Jika Surabaya adalah tempat lahirnya kejahatan, maka masa sekolah adalah masa di mana segala benih ambisi, persaingan, dan persekongkolan itu tumbuh dan berakar kuat.

"Kamu selalu bilang padaku..." suara Arka memecah keheningan, rendah namun tajam, menembus langsung ke hati wanita yang duduk tertunduk itu. "Kamu bilang kamu bersekolah di Jakarta. Di sekolah swasta ternama di daerah Kemang. Kamu punya cerita panjang tentang teman-teman sekelas, tentang guru favorit, tentang kenangan ujian masuk perguruan tinggi. Kamu menceritakannya dengan sangat rinci, sangat hidup, sampai aku percaya seratus persen bahwa masa mudamu berlalu di ibu kota ini."

Arka berhenti sejenak, menatap Claire dengan pandangan yang penuh penghakiman.

"Tapi sekarang aku tahu... semua itu cerita rekaan. Semua itu naskah yang kalian buat dan kalian hafal mati. Karena nyatanya, Claire Nathania tidak pernah menginjakkan kaki di sekolah mana pun di Jakarta. Selama belasan tahun masa pendidikanmu, dari SD sampai SMA... kamu ada di sana. Di Surabaya. Di sekolah yang sama, di kelas yang sama, di bangku sebelah gadis bernama Elena Wijaya."

Claire mendongak perlahan. Wajahnya pucat pasi, matanya melebar karena kaget mendengar bahwa Arka sudah sampai sejauh itu merambah ke masa lalunya yang paling tersembunyi. Bibirnya bergetar, ingin membantah, ingin mencari celah, tapi ia tahu... saat ini tidak ada lagi tempat untuk berbohong.

"Mas... bagaimana Mas... bagaimana Mas tahu..." bisiknya lirih, suaranya hampir hilang.

"Aku mencari, Claire. Aku mencari saat kamu sibuk menyusun rencana, saat kamu sibuk berpura-pura, saat kamu sibuk online dengan dia di samping tempat tidurku. Aku mencari jawaban atas segala keganjilan yang selama ini mengganjal di hatiku. Dan jejak paling kuat... ada di masa sekolah."

Arka membuka kembali album foto itu, membalik ke halaman yang terselip selembar kertas tebal berwarna cokelat tua. Itu adalah halaman dari sebuah buku tahunan sekolah, fotokopi yang agak buram namun tulisan dan gambarnya masih sangat jelas.

"Aku bertemu seorang teman lama yang pernah bekerja di bagian arsip pendidikan. Aku bertanya tentang dua nama: Elena Wijaya dan Claire Nathania. Dan apa yang aku temukan? Di arsip sekolah menengah atas Katolik yang terkenal di Surabaya... nama kalian berdua tercatat bersebelahan. Angkatan yang sama, tahun yang sama, kelas yang sama. Dua nama itu tertulis hitam di atas putih, terdaftar sebagai murid yang lulus dengan nilai bagus pada tahun yang sama."

Arka menunjuk ke foto berkelompok di halaman itu. Di sana, berdiri berdekatan dua gadis remaja yang sangat mirip, tersenyum ke arah kamera. Satu berambut panjang terurai, satu lagi dikepang sederhana. Namun tulisan di bawahnya membedakan keduanya dengan tegas: Elena Wijaya – Ketua OSIS dan Claire Nathania – Wakil Ketua OSIS.

"Kalian bukan hanya sepupu, bukan hanya teman bermain. Kalian adalah rekan kerja organisasi. Kalian adalah pesaing akademis. Kalian adalah dua bintang sekolah yang selalu dibanding-bandingkan oleh seluruh warga sekolah. Dan di sana... di halaman-halaman buku tahunan ini... di catatan prestasi ini... terlihat jelas sekali siapa yang selalu ada di sampingmu, mendukungmu, dan bekerja sama denganmu."

Arka menggeser jari telunjuknya ke arah sosok laki-laki muda yang berdiri sedikit di belakang mereka, tersenyum angkuh dan percaya diri. Tulisan di bawah nama itu: Adrian Pratama – Ketua Tim Debat.

"Adrian ada di sana juga. Dia bukan orang asing yang masuk belakangan. Dia sudah ada sejak masa sekolah. Dia ada di sana, mengamati, menyusun strategi, mendekati kalian berdua, perlahan-lahan menjalin ikatan yang kelam. Jejak kalian bertiga sudah tertanam kuat sejak hari-hari sekolah dulu. Sejak kalian masih remaja, kalian sudah menjadi satu kelompok yang tak terpisahkan, yang saling mengisi dan saling menguatkan niat-niat kalian."

Adrian yang sejak tadi diam, kini menutup matanya rapat-rapat. Ingatan masa muda itu kembali menyeruak masuk, membawa rasa bangga yang dulu ia rasakan, namun kini berubah menjadi rasa malu dan ngeri.

"Kalian hebat sekali dalam menciptakan cerita baru," lanjut Arka dengan nada yang makin berat dan pahit. "Kalian menciptakan kenangan Jakarta yang begitu indah dan menyenangkan. Padahal kenyataannya, hari-hari sekolah kalian di Surabaya penuh dengan persaingan yang kejam. Di sini tertulis... Elena selalu juara satu. Elena selalu dipuji guru. Elena selalu dicintai teman-teman. Sedangkan kamu, Claire... kamu selalu ada di urutan kedua. Selalu saja di bawah dia. Selalu saja dianggap kurang sedikit, kurang lembut, kurang sabar, kurang 'mulia'."

Arka menatap tepat ke manik mata Claire yang mulai basah kembali.

"Apakah rasa iri itu mulai tumbuh di bangku sekolah dulu? Apakah saat kamu melihat piala kemenangan ada di tangan Elena, saat kamu melihat semua orang mengelilinginya, saat kamu melihat nama Elena terpampang besar di papan kehormatan... di situlah benih kejahatan itu pertama kali tumbuh di hatimu?"

Claire menangis diam, mengangguk perlahan, tak sanggup berkata-kata. Rasa sakit masa remajanya yang ia coba kubur dalam-dalam, yang ia coba hapus dengan menciptakan kenangan baru, kini terangkat kembali ke permukaan, lebih tajam dan lebih menyakitkan dari sebelumnya.

"Ya, Mas..." jawabnya parau, suaranya pecah. "Di sekolah itulah aku merasa paling menderita. Di situlah aku merasa dunia tidak adil. Setiap hari aku bangun pagi, bersekolah dengan seragam yang sama, masuk ke kelas yang sama, duduk di sebelahnya... tapi saat pulang, dia selalu membawa pulang pujian, kasih sayang, dan perhatian. Sedangkan aku... aku pulang dengan rasa sakit hati yang makin besar setiap harinya."

Claire menunjuk ke arah Adrian.

"Adrian satu-satunya orang yang mengerti perasaanku. Dia selalu bilang: 'Kamu lebih pintar dari dia, Claire. Kamu lebih tajam, lebih berani. Kenapa dia yang selalu menang hanya karena dia terlihat lebih lemah dan lebih manis?' Kata-kata itulah yang memelihara api kemarahanku. Di koridor sekolah itu, di perpustakaan itu, di lapangan olahraga itu... kami berdua sering duduk berjam-jam, membicarakan ketidakadilan itu, membayangkan bagaimana rasanya jika posisi kami terbalik."

Claire menatap Arka dengan pandangan yang penuh penyesalan mendalam.

"Aku menciptakan cerita sekolah Jakarta itu, Mas... bukan hanya untuk menutupi asal-usulku. Tapi juga karena aku ingin sekali memiliki masa lalu yang damai, masa lalu yang tidak penuh rasa sakit dan persaingan. Aku ingin sekali bisa menceritakan masa muda yang indah, di mana aku merasa dicintai dan dianggap berharga. Tapi aku tidak punya kenangan seperti itu di Surabaya. Semua kenangan sekolahku di sana... pahit, Mas. Semuanya pahit dan penuh rasa iri."

Arka menghela napas panjang, menutup kembali halaman buku tahunan itu. Jejak sekolah dulu ternyata menjadi kunci yang paling penting. Ia menjelaskan segalanya. Ia menjelaskan dari mana asal rasa iri itu tumbuh. Ia menjelaskan kapan ikatan antara Claire dan Adrian menjadi begitu kuat dan tak terpisahkan. Ia menjelaskan mengapa pertukaran identitas itu begitu mudah dilakukan, karena mereka sudah berlatih bersaing, berlatih meniru, dan berlatih menyusun rencana sejak masa remaja.

"Kalian pikir kalian bisa menghapus jejak itu dengan mudah, bukan?" ucap Arka dingin. "Kalian pikir dengan membakar rumah, memalsukan dokumen, dan pindah kota... sejarah sekolah itu akan hilang begitu saja. Tapi kalian lupa, Claire. Nama kalian terukir di sana. Foto kalian ada di sana. Prestasi kalian tercatat di sana. Dan semua itu menjadi bukti nyata bahwa Elena dan Claire adalah dua orang berbeda. Bahwa kalian bersekolah bersama, tumbuh bersama, dan bersaing bersama jauh sebelum aku pernah ada di dunia ini."

Arka melangkah mendekat, menatap wanita itu tepat di mata.

"Dan yang paling menyakitkan bagiku... saat kamu bercerita dengan wajah gembira tentang masa sekolahmu di Jakarta, saat kamu tertawa mengingat kenangan palsu itu... kamu sedang mengerjai aku dengan masa lalu aslimu yang penuh dosa. Kamu sedang menertawakan aku yang polos, yang percaya buta, yang tidak tahu bahwa setiap kata manis yang kamu ucapkan... sebenarnya berasal dari mulut wanita yang hatinya sudah lama keras dan penuh ambisi sejak hari-hari sekolah dulu."

Claire terkulai lemas, tak sanggup lagi menahan beban pengakuan ini. Jejak sekolah dulu, yang ia kira sudah terkubur dalam debu Surabaya, kini bangkit kembali sebagai saksi paling tajam yang merobek habis segala kepalsuan yang ia bangun selama dua tahun.

Di ruangan itu, masa lalu remaja yang gelap itu akhirnya ikut terungkap.

Menambah panjang daftar kejahatan dan kebohongan.

Menambah lebar jurang pemisah di antara mereka.

Dan membuktikan sekali lagi... bahwa Claire Nathania memang lahir, tumbuh, dan belajar menjadi penipu ulung... jauh sebelum ia datang mengetuk pintu hidup Arka.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!