NovelToon NovelToon
Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author:

Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?

Bab 35 (Ketika Sang Kutub Utara Mengidam)

Keputusan Adrian untuk menutup meja kerja Arini di lantai 50 bersifat mutlak. Arini kembali dipindahkan ke penthouse Sudirman bawah penjagaan ketat. Namun, ada satu anomali besar yang terjadi pada kehamilan kedua ini. Jika dulu saat mengandung Arsenio, Arini yang mengidam mangga muda tengah malam, kali ini hormon kehamilan tampaknya berputar balik 180 derajat.

Arini sama sekali tidak mengalami mual atau menginginkan makanan aneh. Justru suaminya, Adrian Wijaya, yang mendadak bertingkah sangat ajaib sejak usia kandungan memasuki minggu kedelapan.

Pagi itu, cuaca Jakarta di luar jendela kaca besar tampak berawan. Arini sedang duduk di meja makan, menikmati sepiring panekuk buah berry yang segar. Di hadapannya, Adrian sudah rapi dengan kemeja putih tanpa dasi. Namun, bukannya memeriksa pergerakan bursa saham di tablet kerjanya, pria itu justru menatap piring sarapannya sendiri dengan wajah kaku dan dahi berkerut dalam.

Ugh...

Adrian mendadak membekap mulutnya sendiri menggunakan telapak tangan. Rahangnya mengatup rapat, dan wajah tampannya seketika berubah pucat pasi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sang CEO utama itu bangkit berdiri dan berlari setengah runtuh menuju kamar mandi di dekat dapur bersih.

Arini menghentikan kunyahannya, menatap pintu kamar mandi yang tertutup dengan kening berkerut gemas. Ia menghampiri suaminya, mengetuk pintu pelan. "Mas? Kamu tidak apa-apa? Ini sudah hari ketiga kamu muntah-muntah setiap pagi."

Pintu terbuka, menampilkan Adrian yang bersandar lemas di wastafel. Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan, dan peluh dingin membasahi pelipisnya. Topeng wibawa dinginnya tanggal total, digantikan oleh ekspresi lemas yang sangat langka.

"Aku tidak tahu, Sayang..." bisik Adrian rendah, suaranya terdengar serak dan lemah. "Kepalaku mendadak sangat pusing, dan aroma roti panggang margarin dari dapur tadi rasanya sangat... membuat perutku bergejolak."

Arini menahan tawa kecilnya, menyodorkan segelas air hangat yang langsung diterima Adrian dengan patuh. "Mas, jangan-jangan kamu yang terkena couvade syndrome. Kamu yang mengidam dan mual menggantikan aku."

Adrian mendengus kaku, berusaha mengembalikan wibawa baritonnya yang seksi meskipun tubuhnya lemas. "Jangan konyol, Baby. Logika bisnisku tidak menerima teori medis fiksi seperti itu. Aku hanya kelelahan mengurus berkas akuisisi kemarin."

Namun, ucapan Adrian patah total malam harinya.

Jarum jam telah menunjuk ke angka satu dini hari. Di dalam kamar utama yang temaram, Arini terbangun karena merasakan guncangan pelan di lengan kakunya. Ia membuka mata dan mendapati Adrian sedang duduk di tepi kasur sutra, menatapnya dengan binar mata yang tampak sangat melas dan berkaca-kaca—sebuah ekspresi manja yang belum pernah Arini lihat sepanjang hidupnya.

"Mas? Kenapa belum tidur? Perutmu mual lagi?" tanya Arini lembut, mengusap bahu kokoh suaminya yang telanjang dada.

Adrian meremas ujung selimut abu-abu gelap mereka, menelan ludah dengan susah payah sebelum berbisik sangat lirih di dekat telinga Arini. "Sayang... aku... aku mendadak ingin sekali makan cilok bumbu kacang pinggir jalan."

Arini seketika membelalakkan matanya, mengira pendengarannya sedang bermasalah. "Maaf, Mas? Kamu mau makan apa?"

"Cilok bumbu kacang, Baby," ulang Adrian, wajah kaku sang konglomerat berganti merona merah karena menahan malu yang luar biasa besar pada harga dirinya. "Tapi aku mau cilok yang dijual menggunakan sepeda keliling di dekat kawasan pasar malam tradisional. Bukan yang ada di restoran premium. Dan... aku mau kamu yang menyuapiku."

Otak akuntan Arini seketika mengalami eror total. Seorang Adrian Wijaya, miliarder properti yang biasa makan di restoran bintang lima Paris dan Tokyo, mendadak membangunkan istrinya jam satu malam demi seplastik aci dicolok bumbu kacang pinggir jalan pasar malam.

Melihat Arini yang terdiam lama, Adrian mendadak melepaskan cengkeramannya pada selimut, lalu merebahkan tubuh bidangnya memunggungi Arini sembari menarik selimut hingga ke leher. "Tuh, kan. Kamu tidak peduli padaku. Padahal perutku sangat perih karena anak perempuanmu di dalam sini yang memintanya, Sayang..." Suara Adrian terdengar sangat merajuk dan manja.

Arini tidak bisa lagi menahan tawa lebarnya. Ia menghamburkan tubuhnya dari belakang, memeluk erat pinggang kokoh Adrian, menenggelamkan wajahnya di punggung hangat suaminya. "Astaga, Mas... sifat posesif dan gengsimu runtuh total hanya karena cilok. Baik, baik. Mas jangan merajuk begitu, aku panggil Pak Yudha sekarang ya?"

Adrian langsung berbalik badan, menarik pinggang ramping Arini ke dalam dekapannya yang sangat erat dan posesif, mengunci napas istrinya hingga wajah mereka berjarak hitungan sentimeter. "Jangan suruh Yudha. Kasihan dia sudah tidur. Kita pakai tim pengamanan tawang saja untuk mencari abang penjualnya dan membawanya ke lobi bawah."

Tanpa memedulikan jam dinding yang semakin larut, Adrian menundukkan kepalanya, mengunci bibir merah muda Arini dalam sebuah lumatan dalam yang sangat intens, hangat, dan penuh rasa sayang selama beberapa menit, menyegel fase mengidam pertamanya yang luar biasa menggemaskan di bawah saksi sunyinya malam Jakarta.

1
sakura
Hallow guys xixi mimin minta maaf karna seminggu ga update tapi tenang aja udah sekarang updatenya doble”. jangan lupa like,komen, dan share yaa cinta-cintaku🫶🏻
sakura
jangan lupa kasih like nya ya manteman,biar authornya ini jadi semangat buat nulisnya xixi😗🫶🏻🙆🏻‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!