Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?
Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.
Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.
Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.
Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.
Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.
Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.
Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Tugas Utama
Kata-kata Nyonya Besar Widjajanto tentang pewaris laki-laki masih menggema memantul di dinding bata. Namun, reaksi tubuh Sulastri menceritakan kebenaran yang jauh lebih gelap.
Napas istri pertama itu terdengar putus-putus. Tangannya meremas perut bagian bawah dengan gestur perlindungan yang sangat panik. Keringat sebesar biji jagung meluncur deras merusak sisa bedak tebal di dahinya.
Insting editor Sumarni langsung menyala menangkap kejanggalan fatal tersebut. Ia menolak membiarkan drama ini berakhir dengan kemenangan palsu bagi klan aristokrat itu.
Layar hijau transparan mendadak muncul di depan pandangan matanya.
[Opsi Pemindaian Medis Target Terbuka. Harga: 300 Poin. Tukar sekarang untuk membongkar rahasia terdalam?]
"Tukar," batin Sumarni tanpa ragu sedikit pun.
[Penukaran Berhasil. Sisa Poin Anda: 1000 Poin.]
Rasa dingin mengalir cepat menembus ubun-ubun Sumarni. Rentetan data medis masa lalu milik Sulastri masuk membanjiri memori otaknya secara paksa. Kebenaran yang tertulis di sana membuat senyum miring Sumarni mengembang perlahan.
"Menunggu lahirnya seorang pewaris laki-laki, Nyonya Besar?" tanya Sumarni memecah keheningan. Suara baritonnya terdengar sangat tenang namun mengiris udara dengan tajam.
Nyonya Besar Widjajanto menatap tajam ke arah Sumarni. "Tentu saja. Itu adalah tugas utama seorang istri yang berkedudukan mulia."
Sumarni melangkah maju, memangkas jarak dengan Sulastri yang kini terduduk kaku di lantai tegel. Ia menatap lurus ke dalam manik mata istri pertama yang sedang bergetar hebat ketakutan.
"Bagaimana mungkin sebuah pohon yang akarnya sudah mati bisa menghasilkan buah, Nyonya Besar?" desis Sumarni dengan nada mematikan.
Udara siang itu seakan membeku seketika. Harjono menoleh cepat ke arah Sumarni dengan kening berkerut dalam.
"Jaga bicaramu, Sumarni. Apa maksud perkataanmu barusan?" tegur Harjono dengan rahang mengeras.
Sulastri tiba-tiba menjerit histeris. Ia berusaha berdiri dan menerjang tubuh Sumarni dengan tangan mencakar liar.
"Tutup mulut kotor itu! Kamu mencoba memfitnahku lagi!" teriak Sulastri dengan urat leher menonjol keras.
Namun, Harjono dengan sigap menangkap lengan Sulastri dan menghempaskannya kembali ke lantai. Pria itu kini menyadari kepanikan istrinya sama sekali tidak wajar.
"Katakan apa yang kamu ketahui, Sumarni," perintah Harjono mutlak tanpa berani dibantah.
Sumarni berdiri tegak, merapikan selendang batiknya dengan gerakan elegan. "Tanyakan pada istri pertama Anda, Tuan. Ke mana ia pergi setiap hari Kamis minggu ketiga ke klinik tersembunyi milik Dokter Cipto di pinggiran kota?"
Mendengar nama dokter itu disebut, napas Sulastri seketika berhenti. Aliran darah seakan tersedot habis dari wajahnya. Bibirnya membiru kaku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Keluarga besar Widjajanto mulai berbisik-bisik tegang. Harjono menatap Sulastri dengan sorot mata segelap malam.
"Jawab aku, Sulastri," desak Harjono dengan suara bergetar menahan luapan amarah yang mengerikan. "Apa yang kamu lakukan di klinik itu?"
Sulastri hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tatapan kosong. Air mata keputusasaan mengalir deras membasahi dagunya.
Melihat mangsanya tak berdaya, Sumarni mengambil alih panggung sepenuhnya. Ia mengarahkan pandangannya pada Ningsih yang sedang meringkuk gemetar di sudut tembok.
"Ningsih, kamu yang selalu menemaninya mengambil obat racikan rahasia itu," tembak Sumarni tajam. "Jika kamu berbohong hari ini, Tuan Harjono akan mengirimmu ke penjara atas tuduhan pencurian uang pabrik tadi."
Ancaman penjara itu meruntuhkan sisa keberanian pelayan tua tersebut. Ningsih bersujud di atas lantai semen yang kotor sambil menangis histeris.
"Ampuni saya, Tuan Besar!" isak Ningsih tersedu-sedu. "Nyonya Sulastri mengalami infeksi rahim parah tiga tahun yang lalu akibat salah meminum jamu peluntur."
Kerumunan keluarga Widjajanto terkesiap kaget secara bersamaan. Harjono mundur selangkah dengan wajah pias seolah baru saja dipukul godam besi.
"Dokter Cipto sudah mengangkat rahim Nyonya Sulastri secara diam-diam," lanjut Ningsih dengan suara serak yang memecah kesunyian. "Beliau membayar mahal dokter itu untuk tutup mulut. Nyonya Sulastri sudah mandul permanen dan tidak mungkin bisa hamil lagi."
Bom waktu itu akhirnya meledak menghancurkan seluruh kebanggaan klan Widjajanto. Rahasia paling busuk yang disembunyikan rapi selama bertahun-tahun kini telanjang bulat di depan umum.
Nyonya Besar Widjajanto terhuyung mundur sambil memegangi dadanya yang sesak. Wanita tua angkuh itu menatap Sulastri dengan pandangan penuh rasa jijik yang luar biasa.
Bagi keluarga feodal ini, wanita tanpa rahim adalah aib terbesar yang tidak bisa dimaafkan.
"Pembohong besar!" maki Nyonya Besar dengan suara bergetar hebat. "Kamu menipu kami semua! Kamu membiarkan keluarga ini berharap pada sesuatu yang mustahil!"
Sulastri merangkak memeluk kaki Harjono sambil meraung-raung memohon belas kasihan. "Maafkan aku, Mas! Aku hanya takut kamu akan menceraikanku jika tahu aku tidak sempurna!"
Harjono menatap wanita di bawah kakinya itu seperti melihat tumpukan sampah yang memuakkan. Tidak ada lagi rasa kasihan yang tersisa di hatinya. Pengkhianatan demi pengkhianatan telah membunuh semua perasaannya.
Pria itu menendang pelan cengkeraman tangan Sulastri hingga terlepas. Ia membalikkan badannya dengan rahang mengeras dan mata memerah menahan luka batin yang dalam.
"Mulai hari ini, aku melarangmu keluar dari kamar rumah utama," titah Harjono dengan nada sedingin es. "Kamu tidak lagi memiliki hak atas segala urusan rumah tangga dan pabrikku."
nanti tahu2 lastri bebas lagi....
dah niat nyelamitin bisnis suaminya...