NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35 - Operasi: Menarik Leon Keluar Rumah

Sinar matahari yang masuk melalui jendela besar mansion membuat ruang tamu terlihat terang dan hangat.

Rachael masih duduk santai di sofa.

"Leon."

"Hm?"

Rachael membuka tas kecil yang ia bawa.

Leon memperhatikannya sekilas.

Lalu melihat gadis itu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.

Leon berkedip.

Kotak?

"Apa itu?"

"Ini adalah..."

Rachael membuka kotak itu begitu saja.

Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak sederhana.

Namun ukiran naga yang melingkar di bagian luarnya membuat cincin itu terlihat cukup unik dan elegan.

Leon sedikit terdiam.

"Kenapa kau membawa cincin?"

"Aku mau memberikannya padamu."

"..."

Leon yakin dirinya salah dengar.

"Apa?"

"Aku mau memberikannya padamu."

Rachael mengulanginya dengan nada yang sama datarnya. Seolah itu hal biasa. Padahal tidak, sama sekali tidak.

Leon menatap cincin itu, lalu menatap Rachael.

Kemudian kembali menatap cincin itu.

"Hm." Ia menarik napas. "Tapi kenapa?"

Rachael melihat cincin itu.

"Karena salah ukuran, ini longgar di jari ku."

"..."

Leon terdiam dan dalam pikirannya, "Itu alasannya?"

"Itu saja?"

"Iya."

"..."

"Awalnya aku mau memakainya."

Rachael mengangkat tangannya.

"Karena longgar jadi tidak ku gunakan."

Leon merasa percakapan ini semakin tidak masuk akal.

"Lalu?"

"Karena sayang kalau dibuang."

"Jadi kau memberikannya padaku?"

"Iya."

Jawaban yang sangat Rachael. Logika yang hanya dimiliki oleh Rachael. Leon bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.

"Kau bisa mengembalikannya ke toko."

"Aku sudah lewat masa penukarannya."

"Kau bisa menyimpannya."

"Tidak ada gunanya."

"Lalu kenapa harus memberikan padaku?"

Rachael tampak berpikir beberapa detik.

"Memangnya kenapa? Kau tidak mau? Lagipula..."

"Hm?"

"Kupikir ini akan pas di jarimu."

"..."

"Jadi akan cocok."

Selesai.

Menurut Rachael, masalah telah terselesaikan.

Leon menghela nafas pelan. Entah kenapa ia tidak terkejut lagi.Rachael memang selalu berhasil membuat situasi aneh terdengar masuk akal.

"Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. Ku berikan ke Axel saja."

Rachael hendak menutup kotaknya lagi. Namun sebelum sempat melakukannya...Leon mengulurkan tangan.

"Aku tidak bilang tidak mau."

Rachael berkedip.

"Oh benarkah? Ini coba dulu."

Ia langsung menyerahkan kotak itu.

Begitu saja, tanpa ragu, tanpa berpikir macam-macam. Karena memang tidak ada maksud lain di kepalanya.

Leon mengambil cincin itu.

Ukiran naga kecil terlihat cukup detail. Jelas sepertinya bukan cincin murahan.

"Kau memilih sendiri?"

"Iya."

"Kenapa naga?"

"Karena bagus, dan keren."

"..."

"Hanya itu?"

"Iya."

Leon hampir tertawa. Tentu saja, karena alasan sesederhana itu.

Ia lalu mencoba mengenakannya.

Dan...

Pas.

Sangat pas di jari manis tangan kiri Leon.

Rachael melihatnya.

"Lihat."

"Apa?"

"Cocok untukmu."

"..."

"Ini tidak terbuang jadi sia-sia."

Leon menggeleng pelan. Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

"Terima kasih."

Rachael tampak puas.

"Yap sama-sama."

Lalu mengambil sesuatu lagi dari dalam tas.

Leon tidak terlalu memperhatikan sampai, Ia melihat kilatan perak yang familiar.

"..."

"..."

Leon menatap benda di tangan Rachael.

Sebuah cincin dengan desain sama persis, ukiran naga yang sama. Hanya ukurannya lebih kecil.

Rachael sedang memakainya dengan santai.

Leon terdiam.

Tatapannya berpindah dari cincin di jarinya... Ke cincin di jari Rachael. Lalu kembali lagi.

Sama.

Benar-benar sama.

"Kau membeli dua?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena yang pertama longgar."

Leon merasa ada sesuatu yang salah dengan logika itu.

Rachael melanjutkan dengan polos.

"Aku suka desainnya."

"..."

"Jadi aku beli lagi ukuran yang benar."

Leon menatap kedua cincin itu.

Sangat lama.

Sementara Rachael sendiri sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi.

Karena di kepalanya... Itu hanya dua cincin dengan desain yang sama. Tidak lebih, tidak kurang.

Namun bagi orang lain... Terutama bagi siapa pun yang melihat mereka berdiri berdampingan, Itu terlihat seperti cincin pasangan.

Leon menyadari sepenuhnya. Sementara Rachael tidak. Sama sekali tidak.

"Kenapa melihatku begitu?" tanya Rachael bingung.

Leon mengalihkan pandangan.

"Tidak apa-apa."

Rachael menerima jawaban itu begitu saja.

Beberapa detik kemudian... Suara langkah kaki terdengar mendekat.

Evelyn dan Axel akhirnya kembali membawa teh.

Tepat ketika Axel masuk ke ruang tamu... Matanya langsung menangkap sesuatu.

Cincin di jari Leon. Lalu cincin di jari Rachael.

Axel berhenti berjalan.

"..."

Evelyn ikut berhenti.

"..."

Keduanya saling menoleh.

Kemudian kembali melihat Leon dan Rachael.

Lalu cincin itu. Lalu mereka lagi.

Hening.

Leon langsung tahu, mereka akan salah paham.

Dan masalahnya... Rachael masih sama sekali tidak menyadarinya.

"Kenapa kalian diam?" tanya Rachael.

Axel menunjuk pelan ke arah tangan mereka.

"Chael..."

"Hm?"

"Itu..."

Rachael melihat tangannya sendiri. Kemudian melihat tangan Leon. Lalu berkedip.

"Kenapa?"

Axel menunggu.

Evelyn juga menunggu.

Namun jawaban yang keluar dari mulut Rachael adalah—

"Ini hanya cincin yang sama."

"..."

"..."

"Itu saja."

Axel langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Sementara Evelyn harus menahan tawa.

Dan Leon...

Untuk pertama kalinya hari itu... Benar-benar merasakan firasat buruknya menjadi kenyataan.

Karena selama perjalanan ke taman hiburan nanti...

Ia yakin Axel tidak akan berhenti membahas hal ini sedikit pun.

"Aku tidak percaya ini."

Axel masih memandangi kedua cincin itu.

Rachael berkedip.

"Apa yang tidak kau percayai?"

"Kau."

"Aku kenapa?"

"Kau benar-benar tidak sadar?"

Rachael terlihat berpikir, lalu menggeleng.

"Tidak."

Axel langsung menatap langit-langit.

"Tolong aku."

Evelyn tertawa kecil di sampingnya.

Sementara Leon memilih diam. Karena semakin dibahas, semakin buruk hasilnya.

"Sudahlah."

Leon berdiri.

"Kita berangkat sebentar lagi."

"Benar."

Axel langsung menyeringai.

"Tapi sebelum itu..."

Leon sudah tahu. Ia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Tidak."

"Aku bahkan belum bicara."

"Tidak, diam sana."

"Kejam sekali."

Rachael menatap mereka bergantian.

"Aku tidak mengerti."

"Itu masalahnya," jawab Leon.

"Apa?"

"Tidak ada."

Rachael semakin bingung. Namun seperti biasa, ia tidak terlalu memikirkannya. Baginya cincin hanyalah cincin.

Selesai.

Tidak ada makna tersembunyi. Tidak ada simbol tertentu. Tidak ada hal romantis yang aneh.

Sayangnya... Tidak semua orang berpikir seperti Rachael.

...----------------...

Beberapa saat kemudian.

Mereka akhirnya berada di ruang makan untuk makan siang ringan sebelum berangkat.

Meja panjang keluarga De Arther dipenuhi berbagai makanan.

Rachael duduk di samping Evelyn.

Leon duduk di seberangnya.

Sementara Axel... Masih belum menyerah.

"Chael."

"Hm?"

"Kalau misalnya ada dua orang memakai cincin yang sama."

"Iya?"

"Lalu mereka pergi bersama."

"Iya?"

"Menurutmu orang lain akan berpikir apa?"

Rachael mengunyah makanannya. Lalu menjawab jujur.

"Mungkin suatu kebetulan, mereka membeli cincin di toko yang sama."

"..."

Evelyn hampir tersedak tehnya. Leon memejamkan mata.

Axel menepuk meja pelan.

"Aku menyerah."

"Apa?"

"Tidak ada."

Rachael benar-benar tidak mengerti. Dan itu justru membuat semuanya semakin lucu.

Setelah makan siang selesai... Mereka mulai bersiap berangkat. Di depan mansion, sebuah mobil hitam sudah menunggu.

Rachael melihat kendaraan itu beberapa detik.

"Kita naik itu?"

"Iya."

Leon membuka pintu untuknya. Rachael masuk tanpa banyak berpikir.

Axel langsung mendekat ke Leon.

"Bro."

"Apa?"

"Lu gak sadar?"

"Sadar apa?"

"Kalian pakai cincin pasangan."

Leon menatapnya datar.

"Ini bukan cincin pasangan."

"Tapi terlihat seperti itu."

"Itu kebetulan."

"Aku suka kebetulan ini."

Leon ingin mendorongnya keluar dari mobil. Tapi tidak ia lakukan.

||

Mobil hitam keluarga De Arther melaju meninggalkan area mansion.

Di dalam mobil, suasananya jauh lebih ramai dibanding biasanya.

Atau lebih tepatnya... Axel yang berisik.

"Pertama kita ke taman hiburan."

"Iya."

"Lalu naik roller coaster. Lalu rumah hantu."

"Hm."

"Lalu bianglala."

"Hm."

"Lalu makan. Lalu bioskop."

"Hm."

Axel menatap Rachael.

"Kau hanya punya satu jawaban?"

Rachael berpikir sebentar.

"Tidak juga, lagipula memang itu yang akan kita lakukan disana"

"..."

Axel menyerah.

Leon yang duduk di seberangnya hanya memperhatikan percakapan itu tanpa ikut campur.

Sesekali pandangannya beralih ke luar jendela.

Kota terlihat sibuk seperti biasa. Kendaraan berlalu-lalang. Orang-orang berjalan di trotoar.

Semuanya tampak normal.

Namun kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun membuatnya sulit benar-benar santai.

Matanya tanpa sadar memperhatikan mobil-mobil di belakang mereka.

Satu.

Dua.

Tiga.

Tidak ada yang mencurigakan. Setidaknya untuk saat ini.

"Leon."

Suara Rachael membuatnya menoleh.

"Hm?"

"Kau sedang memikirkan sesuatu."

"Tidak"

Rachael memperhatikan wajahnya beberapa detik.

Kemudian mengangguk pelan.

"Kalau begitu jangan terlalu banyak berpikir hari ini."

Leon sedikit terdiam.

Tapi entah kenapa membuatnya berhenti memikirkan laporan-laporan yang ada di kamarnya.

"Iya."

Mendengar jawaban itu membuat Axel langsung menoleh.

"Tunggu."

"Kenapa?"

"Dia mendengarkanmu."

Rachael terlihat bingung.

"Memangnya kenapa?"

"Biasanya Leon tidak semudah itu mendengarkan orang."

"Itu tidak benar."

Leon mengambil botol air mineral dan melemparkannya ke Axel.

"Diam."

"OW!"

Mobil kembali dipenuhi suara ribut Axel. Untuk beberapa saat, suasana terasa menyenangkan.

Sementara itu.

Beberapa kilometer di belakang mereka.

Sebuah sedan abu-abu bergerak pelan mengikuti arus lalu lintas. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Itu cukup untuk menghindari kecurigaan.

Di dalam mobil itu duduk dua pria.

Salah satunya memegang kamera dengan lensa panjang.

Klik.

Satu foto diambil.

Foto mobil keluarga De Arther.

Klik.

Foto kedua.

Foto ketiga.

"Target kita bergerak menuju pusat kota."

Pria itu berbicara melalui earpiece kecil di telinganya. Suara terdengar tenang.

"Terus awasi."

"Perlu tindakan?"

"Belum."

Pria itu menatap layar kameranya.

Di sana terlihat sosok Leon yang samar melalui kaca mobil.

"Lalu bagaimana dengan yang lain?"

Hening beberapa detik. Kemudian suara itu menjawab.

"Untuk sekarang fokus pada pewaris De Arther."

Sambungan terputus.

Mobil abu-abu itu tetap melaju.

Diam.

Sabar.

Menunggu.

||

Beberapa menit kemudian.

Mobil keluarga De Arther akhirnya memasuki area taman hiburan terbesar di kota.

Gerbang besar berdiri megah. Musik ceria terdengar dari berbagai arah.

Anak-anak berlarian. Keluarga-keluarga berjalan sambil tertawa. Udara dipenuhi aroma makanan dan suasana liburan.

Rachael berhenti beberapa langkah setelah turun dari mobil. Matanya mengamati seluruh area.

"Hm, ramai sekali..."

Axel menyeringai.

"Itu ekspresi orang yang kagum."

"Apa? Tidak juga,"

"Itu namanya kagum."

"Tidak."

"Itu iya, akui saja."

Leon memperhatikan mereka berdua. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat. Ia merasa mungkin dirinya bisa menikmati waktu luang seperti orang normal.

Tanpa menyadari bahwa dari kejauhan...

Seseorang baru saja mengambil foto mereka bertiga. Dan permainan yang dimulai anggota Moretti perlahan bergerak menuju tahap berikutnya.

...****************...

Bersambung...

1
Ruby
menarik, semangat ya💪😊
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!