NovelToon NovelToon
Samsara Sembilan Naga

Samsara Sembilan Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Ujian Klan

​Matahari pagi bersinar terang, menyinari alun-alun utama Kediaman Klan Lin yang telah disesaki oleh ribuan orang. Hari ini adalah acara terpenting dalam kalender klan: Ujian Tahunan. Ini adalah momen di mana generasi muda memamerkan hasil kultivasi mereka untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan sumber daya klan tahun depan.

​Di atas panggung kehormatan, para petinggi klan duduk berjejer. Di kursi tengah, Kepala Klan Lin Tian duduk dengan wajah pucat dan garis-garis kelelahan yang tergambar jelas di wajahnya. Tiga tahun sejak putranya, Lin Chen, menjadi cacat, otoritas Lin Tian perlahan-lahan dikerogoti oleh faksi tetua.

​Tepat di sebelah kanannya, Tetua Pertama Lin Ye duduk santai sambil menyesap teh hangat. Senyum penuh kemenangan tak pernah lepas dari wajahnya yang bersudut tajam.

​"Kepala Klan Lin Tian," ucap Lin Ye dengan nada yang sengaja ditinggikan agar terdengar oleh tetua lainnya. "Kudengar putramu, Lin Chen, sudah menghilang dari kediaman selama dua puluh hari. Apakah dia melarikan diri karena takut dipermalukan hari ini? Atau mungkin... dia sudah mati dimakan anjing liar di luar sana?"

​Lin Tian mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Chen-er mungkin kehilangan meridiannya, tapi dia memiliki tekad yang lebih keras dari baja. Jaga ucapanmu, Tetua Lin Ye!"

​Lin Ye hanya tertawa meremehkan. Ia berdiri dan berjalan ke tepi panggung, menghadap ke arah ratusan murid klan yang berbaris rapi. Di tengah alun-alun, berdiri sebuah pilar batu hitam setinggi tiga meter—Pilar Pengukur Qi.

​"Ujian dimulai! Siapa pun yang dipanggil namanya, maju dan letakkan tangan kalian di Pilar Pengukur Qi!" teriak Lin Ye, suaranya menggema ke seluruh penjuru alun-alun.

​Satu per satu murid klan maju.

"Lin San, Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 3. Biasa saja!"

"Lin Wu, Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 4. Lumayan!"

​Sorak-sorai bergema setiap kali pilar itu memancarkan cahaya yang menunjukkan tingkat kekuatan. Hingga akhirnya, giliran bintang utama hari itu tiba.

​"Selanjutnya... Lin Lang!" panggil Lin Ye dengan bangga.

​Pemuda tegap berbaju sutra putih melompat ringan dari barisan dan mendarat dengan anggun di depan pilar. Lin Lang memancarkan aura arogansi yang kental. Ia melirik sekilas ke arah kursi Lin Tian dengan senyum mengejek, sebelum meletakkan telapak tangannya di permukaan pilar hitam tersebut.

​Wuuush!

​Pilar itu bergetar hebat. Cahaya putih terang meledak keluar, membentuk delapan cincin cahaya yang mengelilingi pilar.

​Keheningan sesaat menyelimuti alun-alun sebelum pecah oleh sorakan yang memekakkan telinga.

​"Bintang 8! Ya Surga, Tuan Muda Lin Lang telah menembus Ranah Pemurnian Tubuh Bintang 8 pada usia tujuh belas tahun!"

"Ini adalah rekor baru dalam seratus tahun sejarah klan kita!"

"Masa depan Klan Lin ada di tangan Lin Lang!"

​Lin Ye tertawa terbahak-bahak, mengelus jenggotnya dengan sangat puas. "Bagus! Sangat bagus! Lang-er memang naga di antara manusia!" Ia melirik Lin Tian dengan sinis. "Kepala Klan, sepertinya posisi pewaris klan sudah jelas harus jatuh ke tangan siapa, bukan?"

​Lin Tian menutup matanya rapat-rapat, hatinya dipenuhi rasa pahit.

​Lin Lang turun dari panggung pilar dengan dada membusung, menikmati tatapan memuja dari para murid perempuan dan rasa hormat dari rekan-rekannya.

​Lin Ye kembali melihat gulungan daftar nama di tangannya. Senyum liciknya melebar. "Selanjutnya... oh, ini nama yang menarik. Lin Chen!"

​Tidak ada jawaban dari barisan murid.

​"Di mana si Sampah itu? Apakah dia benar-benar bersembunyi di bawah kolong tempat tidur?" ejek seorang murid, memicu ledakan tawa dari seluruh alun-alun.

​"Aku sudah mengatakan dia menghilang," Lin Ye menggelengkan kepala pura-pura prihatin. "Karena Lin Chen tidak hadir dan meridiannya juga sudah hancur total, tidak ada gunanya mempertahankan parasit di klan ini. Sesuai aturan, hari ini aku mengusulkan agar nama Lin Chen secara resmi dicoret dari silsilah keluarga, dan Tuan Muda Lin Lang ditetapkan sebagai—"

​"Siapa yang memberimu hak untuk mencoret namaku dari silsilah klan, Lin Ye?!"

​Sebuah suara yang tenang, namun membawa daya tembus yang mengerikan, tiba-tiba membelah udara pagi. Suara itu begitu keras hingga membuat gendang telinga beberapa murid bergetar menyakitkan.

​Semua mata serentak beralih ke gerbang utama alun-alun.

​Di sana, sesosok remaja berjalan perlahan menembus kerumunan yang otomatis membelah untuk memberinya jalan. Pakaiannya compang-camping, rambut gondrongnya sedikit berantakan, dan wajahnya dipenuhi debu. Namun, punggungnya tegak lurus seperti pedang yang terhunus. Sepasang mata gelapnya memancarkan kedinginan mutlak saat menatap lurus ke arah panggung kehormatan.

​"Chen-er!" Lin Tian melompat dari kursinya, matanya berkaca-kaca melihat putranya kembali dalam keadaan hidup.

​"Lin Chen?! Anak itu masih berani menampakkan wajahnya?" rahang Lin Ye mengeras, tidak menyukai gangguan pada momen kemenangannya.

​Lin Lang, yang berdiri tak jauh dari pilar, melipat lengannya di dada dan tersenyum sinis. "Jadi kau tidak lari, Sampah? Penampilanmu persis seperti pengemis. Apa kau ke sini untuk meminta sedekah?"

​Lin Chen bahkan tidak melirik Lin Lang. Ia terus berjalan dengan langkah mantap hingga berdiri tepat di depan Pilar Pengukur Qi.

​"Jangan gunakan kekuatan penuh dari Meridian Naga," peringat Mo Xuan di dalam kepalanya. "Pilar batu sampah ini tidak akan sanggup menahan Qi murnimu. Tekan kekuatanmu setara dengan Pemurnian Tubuh Bintang 8 biasa. Biarkan mereka mencerna kejutan ini pelan-pelan."

​Lin Chen mengangguk pelan dalam hati. Ia mengangkat tangan kanannya yang dipenuhi bekas luka dan menempelkannya perlahan ke permukaan pilar hitam tersebut.

​"Hah! Apa yang dia harapkan? Pilar itu tidak akan bereaksi pada orang yang tidak punya Qi!" cemooh Lin Lang dari belakang.

​Tetua Lin Ye bersiap untuk menyuruh penjaga mengusir Lin Chen turun dari panggung.

​Namun, detik berikutnya...

​BZZZZT! WUUUSHH!

​Suara dengungan yang jauh lebih keras dari sebelumnya meledak dari pilar batu. Pilar hitam pekat itu tiba-tiba memancarkan cahaya keemasan yang begitu menyilaukan hingga orang-orang harus menutup mata mereka.

​Satu cincin cahaya.

Tiga cincin.

Lima cincin.

Tujuh cincin.

Dan akhirnya... Cincin Kedelapan terbentuk sempurna, menyala jauh lebih terang dan lebih tebal daripada milik Lin Lang!

​Keheningan mutlak jatuh di atas alun-alun. Waktu seolah berhenti berdetak. Angin pun berhenti berhembus.

​Ribuan pasang mata menatap pilar itu dengan pupil yang menyusut hingga seukuran jarum. Rahang mereka seolah copot dan menghantam tanah.

​Gelas teh di tangan Tetua Lin Ye merosot dan jatuh pecah berkeping-keping di lantai. Mulutnya terbuka lebar namun tidak ada suara yang keluar.

​Tubuh Lin Tian bergetar hebat, air mata lolos dari pertahanannya saat melihat angka tersebut.

​"B-Bintang delapan..." gumam Lin Lang, wajahnya memucat seperti mayat. Kakinya tanpa sadar melangkah mundur. "Mustahil... Meridiannya sudah hancur! Mataku pasti rusak! Ini palsu! Pilar itu pasti rusak!"

​Lin Chen menarik tangannya dari pilar. Cahaya keemasan meredup, namun kejutannya masih menggantung tebal di udara. Ia memutar tubuhnya perlahan, membiarkan aura Bintang 8-nya yang ganas dan dipenuhi hawa membunuh tumpah ruah menekan seluruh pelataran.

​Ia menatap lurus ke arah Lin Lang yang kini gemetar ketakutan, bibirnya melengkung membentuk senyuman iblis.

​"Tiga tahun kau memanggilku sampah, Lin Lang. Sekarang, bukankah kau bilang ingin mengajariku posisi di klan ini?" Lin Chen menunjuk ke arah arena pertarungan di tengah alun-alun. "Naiklah. Mari kita lihat, siapa sebenarnya sampah yang sesungguhnya."

1
yos helmi
biasanya kalau up nya satu dua bab.. ng akan tamat..
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍💪💪💪💪💪
yos helmi
biasanya cerita ng pernah selesai.. putus di tengah jln.. 🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🤣🤣🤣👍
yos helmi
🤣🤣👍🤣🤣🤣👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🙏🤣👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄👍👍👍👍😄👍😄
yos helmi
💪💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣🤣💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍l👍l👍l👍l👍l👍l💪💪💪ĺ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!