NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:139
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara-Suara di Balik Dinding

Memasuki bulan ketujuh kehamilan, tubuh saya mulai terasa seperti sebuah perpustakaan yang kelebihan beban. Pinggang sering pegal, kaki bengkak kalau terlalu lama duduk mengetik, dan yang paling ajaib adalah rasa lapar yang datang secara mendadak seperti deadline naskah yang mengejar. Tapi, di balik semua ketidaknyamanan fisik itu, ada ketenangan yang aneh. Seolah-olah bayi di dalam rahim saya ini tahu bahwa ibunya baru saja memenangkan perang besar dan sekarang saatnya kami beristirahat.

Pagi itu, apartemen kami sedikit lebih berantakan dari biasanya. Bimo sedang terobsesi dengan "keamanan bayi". Dia menempelkan pelindung sudut meja di setiap furnitur yang ada, seolah-olah bayi kami akan langsung bisa berlari maraton begitu keluar dari rumah sakit nanti.

"Bim, dia bahkan belum lahir. Rasanya sudut meja itu nggak akan menyerangnya dalam waktu dekat," goda saya sambil memperhatikan dia yang sedang berjongkok dengan serius di depan meja kopi.

Bimo menoleh, wajahnya berkeringat tapi matanya berbinar. "Pencegahan itu lebih baik daripada mengobati, Nara. Aku nggak mau ada satu inci pun di rumah ini yang bisa menyakitinya. Anggap saja ini bentuk penebusan dosaku karena dulu sempat setuju dengan kontrak pernikahan gila itu."

Saya tertawa dan mendekat, mengusap bahunya. "Kontrak itu yang membawa kita ke sini, ingat? Kalau nggak ada kontrak itu, mungkin aku masih dikejar penagih hutang dan kamu masih jadi CEO dingin yang nggak tahu cara pasang pelindung meja."

Bimo berdiri, mengecup kening saya. "Sentuhan penulis memang beda ya, selalu bisa melihat sisi terang dari sebuah tragedi."

Pertemuan yang Tak Terduga

Siang harinya, saya memutuskan untuk pergi ke toko buku. Saya butuh beberapa buku referensi tentang parenting yang lebih "santai" dan tidak terlalu banyak teori medis yang membuat kepala pusing. Bimo ingin mengantar, tapi saya memaksanya untuk tetap di kantor yayasan karena ada rapat penting dengan Panji.

"Aku cuma ke mall sebelah, Bim. Janji, nggak akan lari-lari," kata saya meyakinkannya.

Saat sedang asyik menelusuri rak buku bagian psikologi anak, saya merasakan seseorang memperhatikan saya. Ketika saya menoleh, jantung saya hampir berhenti. Di sana, berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang sangat sederhana, jauh dari kemewahan yang dulu melekat padanya.

Andini. Ibu tiri Bimo, atau lebih tepatnya istri kedua Andra Wijaya yang dulu sempat menghilang setelah Ratih menguasai segalanya.

"Nara?" suaranya parau, hampir berbisik.

Saya terpaku. Andini adalah sosok yang selama ini berada di area abu-abu dalam sejarah Wijaya. Dia tidak sekejam Ratih, tapi dia juga bukan orang yang cukup berani untuk membela kebenaran.

"Tante Andini?" balas saya, mencoba tetap tenang.

Kami berakhir di sebuah kafe kecil di pojok toko buku. Andini menatap perut saya dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kesedihan, tapi juga ada secercah harapan di sana.

"Bimo tahu kamu di sini?" tanyanya sambil mengaduk teh hangatnya yang sudah mendingin.

"Nggak, ini cuma kebetulan. Tante... apa kabar? Selama ini Tante ke mana?"

Andini menghela napas panjang. "Setelah Ratih mengirim Andra ke rumah sakit jiwa dan mengasingkan aku, aku memilih untuk hidup tenang di Jawa Tengah. Aku nggak punya apa-apa lagi, Nara. Semua aset yang Andra berikan atas namaku sudah disita oleh tim hukum Ratih dulu. Tapi itu lebih baik. Setidaknya aku nggak perlu lagi hidup dalam ketakutan."

Beliau kemudian mengeluarkan sebuah amplop kecil dari tas kainnya yang sudah mulai pudar warnanya. "Aku dengar soal yayasan kalian. Dan aku dengar soal apa yang terjadi pada Adrian. Aku datang ke Jakarta sebenarnya ingin mencari Bimo, tapi aku ragu dia mau melihatku lagi."

Potongan Puzzle yang Terakhir

Di dalam amplop itu ternyata bukan surat ancaman atau permintaan uang. Isinya adalah sebuah kunci loker bank yang sudah berkarat dan selembar foto lama. Foto itu menunjukkan Andra Wijaya, Adrian, Hendra, dan Andini sedang tertawa di sebuah acara makan malam kecil.

"Malam itu," Andini memulai ceritanya, matanya menerawang ke masa lalu. "Adrian menitipkan sesuatu padaku. Dia bilang, jika terjadi sesuatu padanya, dan jika Ratih mulai bertindak gila, aku harus memberikan kunci ini pada anaknya. Dia tahu aku adalah orang yang paling lemah di keluarga Wijaya, dan karena kelemahanku itu, Ratih tidak akan pernah mencurigaiku menyimpan sesuatu yang penting."

Saya memegang kunci itu dengan tangan gemetar. "Apa isinya, Tante?"

"Bukan uang. Bukan juga bukti kejahatan. Adrian menyebutnya sebagai 'Harta Karun Terakhir untuk Nara'. Itu adalah kumpulan surat-surat cinta yang dia tulis untuk ibumu, dan beberapa kaset rekaman suara saat mereka merencanakan namamu. Dia ingin kamu tahu bahwa kamu lahir dari cinta yang murni, bukan dari sengketa tanah atau royalti teknologi."

Mendengar itu, air mata saya tumpah. Di tengah semua perebutan kekuasaan, di tengah semua angka miliaran rupiah, ternyata ayah kandung saya hanya ingin saya tahu bahwa saya dicintai.

"Kenapa Tante baru memberikannya sekarang?" tanya saya.

"Karena sekarang Ratih sudah tidak punya taring lagi. Dan karena aku lihat kamu sudah menemukan pria yang tepat untuk menjagamu. Bimo mungkin membawa nama Wijaya, tapi hatinya berbeda dengan ayahnya. Dia lebih mirip ibunya yang lembut," Andini tersenyum tipis, lalu berdiri. "Sampaikan salamku padanya. Katakan padanya, ayahnya selalu menyayanginya, meskipun dia terlalu pengecut untuk menunjukkannya di depan Ratih."

Kepulangan yang Hangat

Sore itu, saya pulang dengan perasaan yang sangat campur aduk. Saya menunggu Bimo di studio. Saat dia pulang dan melihat saya sedang duduk termenung memandangi kunci karatan itu, dia langsung tahu ada sesuatu yang besar terjadi.

Saya menceritakan pertemuannya dengan Andini. Saya menceritakan tentang sisi lain dari ayahnya yang mungkin selama ini dia benci.

"Kunci loker di Bank Central?" Bimo mengambil kunci itu, menelitinya. "Ini tipe loker lama yang ada di gedung pusat. Aku tahu tempatnya."

Malam itu juga, meskipun saya sedang hamil besar, kami pergi ke bank tersebut. Dengan bantuan Panji yang punya akses ke beberapa manajer senior di sana, kami berhasil membuka loker nomor 214.

Di dalamnya, benar kata Andini, hanya ada sebuah kotak kayu kecil. Saat kami membukanya di mobil dalam perjalanan pulang, aroma kertas lama menyeruak. Ada tumpukan surat dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas.

Saya mengambil satu surat teratas:

“Untuk Nara yang belum lahir. Hari ini ayah mendengar detak jantungmu untuk pertama kalinya lewat stetoskop dokter. Rasanya lebih hebat daripada mendapatkan penghargaan jurnalisme manapun. Ayah janji, ayah akan membuat dunia ini menjadi tempat yang aman untukmu tumbuh. Jika suatu saat ayah tidak ada di sampingmu, bacalah surat-surat ini. Kamu adalah keajaiban kami.”

Bimo menggenggam tangan saya erat. "Adrian benar-benar pria yang hebat, Nara. Dia sudah menyiapkan segalanya untukmu, bahkan tiga puluh tahun sebelum kamu berdiri di sini."

"Dan dia menitipkannya pada Andini, orang yang kita anggap sebagai 'pihak lawan' selama ini," sahut saya. "Ternyata dalam hidup, nggak semuanya hitam dan putih ya, Bim? Ada banyak warna abu-abu yang justru menyimpan kebaikan."

Menulis dengan Hati yang Utuh

Kembali ke rumah, saya duduk di depan laptop. Tapi kali ini, saya tidak mengetik di studio. Saya duduk di samping Bimo yang sedang mencoba merakit kereta bayi di ruang tengah. Kami bekerja dalam diam, tapi ada rasa saling mengerti yang sangat dalam.

Saya mulai mengetik bab 24 ini:

Kita seringkali mencari keadilan dalam bentuk materi atau pengakuan publik. Kita pikir, jika penjahatnya dipenjara dan uangnya kembali, maka semuanya selesai. Tapi hari ini saya belajar bahwa keadilan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa memaafkan masa lalu dan menerima bahwa setiap orang—bahkan mereka yang kita anggap lemah—punya peran dalam menjaga kebahagiaan kita.

Adrian meninggalkan harta karun yang tidak bisa dinilai dengan uang. Dia meninggalkan suaranya. Dia meninggalkan cintanya. Dan itu adalah fondasi yang jauh lebih kuat bagi anak saya nanti daripada dana perwalian mana pun.

Bimo tiba-tiba berhenti merakit. Dia menatap saya dengan pandangan serius. "Nara, kalau anak kita lahir nanti... aku ingin dia punya nama tengah 'Adrian'. Untuk menghormati kakeknya yang luar biasa itu."

Saya tersenyum lebar, air mata haru kembali muncul. "Aku setuju, Bim. Dan nama depannya harus punya arti 'Cahaya' atau 'Harapan'. Karena dia adalah cahaya yang akhirnya mengusir semua kegelapan dalam sejarah keluarga kita."

Malam semakin larut. Suara palu kecil Bimo yang sesekali meleset dari baut kereta bayi menjadi musik latar yang paling indah. Saya menutup laptop saya, merasa bahwa bab ini adalah titik balik yang paling emosional.

Kami tidak lagi takut pada apa yang akan terjadi esok. Kami tidak lagi cemas soal tuntutan dewan komisaris atau sisa-sisa dendam Ratih. Karena di tangan kami ada kunci masa lalu, dan di dalam rahim saya ada kunci masa depan.

Hidup memang sebuah buku yang belum selesai ditulis. Tapi malam ini, saya tahu pasti bahwa penulisnya adalah cinta, dan kami hanyalah orang-orang beruntung yang dipilih untuk menjalaninya.

"Bim, istirahat yuk. Kasihan si kecil, dia pasti capek dengerin suara palu terus," ajak saya.

Bimo tertawa, meletakkan peralatannya, dan membantu saya berdiri. Kami berjalan menuju kamar, meninggalkan ruang tengah yang penuh dengan harapan dan baut-baut yang berserakan. Esok akan ada tantangan baru, tapi selama kami punya satu sama lain dan surat-surat dari Adrian, kami tahu kami akan baik-baik saja.

Pena saya mungkin berhenti sejenak malam ini, tapi cerita kami masih mengalir deras, sehangat pelukan Bimo yang menemani saya tertidur. Sebuah ketenangan yang sudah kami perjuangkan selama bertahun-tahun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!