Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...
Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29 Malam Pertama Alvaro di Rumah
Roda mobil mewah milik keluarga Alexander berputar mulus membelah jalanan kota yang mulai temaram oleh lambaian lampu jalan yang sudah mulai hidup. Di dalam mobil mewah itu yang kedap suara dan juga sejuk, Alvaro menyandarkan kepalanya di bahu lebar sang adik yaitu Elvano. Kedua matanya menatap kearah luar jendela mobil mewah itu, memandangi lampu-lampu kota yang bergantian menerangi wajah manis miliknya masih tampak sedikit pucat.
Ada rasa syukur yang luar biasa ia rasakan di dalam dadanya. Akhirnya. Aroma obat-obatan yang ia rasakan selama satu minggu terakhir hilang begitu saja dan juga suara monoton mesin yang sempat ia pakai di rumah sakit yang sempat juga menghantuinya selama beberapa hari terakhir. Dan hari ini aroma dan juga bunyi yang sempat menghantuinya resmi di gantikan oleh aroma parfum maskulin khas milik sang papah dan juga ketiga saudaranya dan bunyi sempat menghantuinya itu di gantikan oleh suara mesin mobil yang ia gunakan untuk pulang ke mansion Alexander.
“Al, kalau kamu merasa pusing atau mual bilang aja ya. Jangan ditahan atau di simpan sendiri ya” bisik Arlan yang duduk di kursi tengah bersama Erlan. Mata elang milik kakak tertuanya itu sesekali menengok kearah belakang tempat adik kedua dan juga ketiganya duduk dan ia menatap Alvaro dengan tatapan yang penuh kekhawatiran.
Alvaro pun menoleh kearah kakak tertuanya itu yang sedang menatapnya khawatir, ia pun hanya bisa tersenyum manis kearah kakak tertunya itu tapi wajah pucatnya tidak bisa ia sembunyikan.
“Enggak kok, bang. Al Cuma agak lemes aja, tapi udah jauh lebih baik kok dari pada tadi siang” ucap Alvaro kepada kakak tertuanya itu.
“Gak papa itu normal kok, wajar juga kamu lemes kamukan abis kena demam berdarah jadi kalua agak lemes yaw ajar” ujar Erlan.
Tiba-tiba ada sebuah tangan cukup kekar yang membenarkan selimut yang di pakai oleh Alvaro, tangan itu tidak lain dan tidak bukan Adalah Elvano adik kembarnya sendiri yang membenarkan letak selimut yang di pakai Alvaro supaya ia tidak merasa kedinginan.
Tidak butuh waktu yang lama bagi kendaraaan mahal milik mereka tersebut untuk melewati gerbang besi hitam yang menjulang sangat tinggi untuk memasuki Kawasan mansion Alexander yang megah dan juga luas itu. Begitu mobil berhenti sempurna di depan area lobby utama mansion, beberapa dan juga bodyguard langsung berbaris rapi untuk menyambut kepulangan tuan besar dan juga tuan muda mereka.
Uncle Sam pun turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu sang papah dan disusul oleh Arlan dan juga Erlan. Dua orang yang turun terakhir adalah Alvaro dan juga Elvano si bungsu, Elvano dengan sigap membantu Alvaro untuk turun dari mobil. Meskipun Alvaro bersikeras bahwa ia bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan dari siapa pun, Erlan tanpa memerdulikan protesan dari adik pertamanya itu langsung merangkul bahu pinggang milik Alvaro untuk menompang sebagian besar bobot tubuh milik remaja itu untuk mengarahkannya untuk berjalan menuju lift mansion Alexander.
Setibanya di kamar Alvaro, atmosfer di dalam kamar itu pun berasa sangat menyejukkan tapi tidak dingin saat pintu terbuka cukup lebar, kamar yang bernuansa biru langit itu sudah dibersihkan dengan sangat bersih dan juga sangat rapi oleh para pelayan atas perintah tegas dari sang papah sebelum mereka semua pulang menuju mansion. Arlan, Erlan dan juga Elvano yang berada di belakang membantu Alvaro untuk tidur di kasur king size miliknya dengan sangat hati-hati, seolah-olah Alvaro adalah porselen yang sangat mudah pecah bagi mereka semua.
“Haaaah…. Akhirnya emang ya Kasur sendiri itu paling juara” gumam Alvaro dengan perasaan lega, menenggelamkan wajahnya di batalnya yang empuknya tiada tara.
“Astaga Al jangan langsung tidur tengkurap dong kasihan itu lambung kamu, perut kamu itu loh baru aja baikkan” tegur sang papah yang baru saja masuk kedalam kamar Alvaro sambil membawakan kantong plastik yang berisikan obat-obatan milik Alvaro yang tadi ditebus di rumah sakit, ia pun berjalan menuju kearah tepi ranjang milik Alvaro.
Tangan hangat sang papah terulur menyentuh kedahi Alvaro untuk memastikan Alvaro masih panas atau hangat tidak tubuhnya untuk memastikan bawah suhu putranya benar-benar normal, ia sangat khawatir kepada anak ketiganya itu.
“Suhu tubuh kamu sudah normal, tapi ingat ya Alva perkataan dokter Angga kalau kamu harus istirahat total di dalam kamar ingat itu. Papah tidak mau dengar kamu menyelinap atau belajar diam-diam lagi…” ucap sang papah tegas kepada Alvaro dan Alvaro hanya bisa mengerucutkan bibirnya karena sebal oleh perkataan sang papah kepada dirinya.
“Tapikan pah, Alva bakal bosan kalau cuma di dalam kamar saja loh. Kan Alva…” ujar Alvaro yang belum menyelesaikan perkataannya.
"Tidak ada bantahan Alvaro" potong Arlan kepada Alvaro dengan mata yang mengitimidasi dan tangan yang sudah bersedap di dada.
"Kali ini abang akan mengawasimu dengan ekstra, jika kamu nekat buku-buku milikmu dan juga gadgetmu akan abang sita satu bulan lebih" ancam Arlan, Alvaro pun menatap kearah kembarannya dan memberikan kode kepada kembarannya supaya mau membantunya. Namun, Elvano justru hanya bisa tertawa kecil dan hanya bisa mengangkat tangannya keudara.
"Maaf ya Al, kali ini aku ada di pihak bang Arlan. Aku juga tidak mau melihatmu sesak dan dipasangi selang oksigen" ucap Elvano saat ia melihat kode dari Alvaro kearah dirinya.
Alvaro hanya bisa menghela napas pasrah mendengar perkataan dari kembarannya itu, ia pun hanya bisa menerima kekalahan mutlak karena seluruh keluarganya tidak ada yang mau membela dirinya dan juga mereka bahkan juga sudah bersekutu untuk mengurung dirinya di mansion bahkan di kamarnya juga.
Sementara itu, uncle Sam mengetuk pintu kamar yang sedikit terbuka dan melangkah masuk kedalam kamar Alvaro sambil membawakan nampan yang berisikan bubur ayam hangat untuk Alvaro makan dan tidak lupa segelas air putih hangat.
"Tuan besar, ini bubur khusus untuk tuang muda Alvaro yang sudah di siapkan oleh koki mansion dan teksturnya lembut tidak menggunakan bumbu yang merangsang asam lambung" ucap uncle Sam kepada sang papah dan ia pun menaruh nampan yang berisi bubur dan juga air putih di meja nangkas yang ada di samping tempat tidur.
"Terima kasih Sam. Kamu bisa kembali beristirahat" jawab sang papah hangat.
"Baik tuan, saya permisi dulu" ujar uncle Sam sambil membungkukkan tubuhnya hormat lalu ia pun keluar dari kamar Alvaro, meninggalkan keluarga keluarga itu dalam kamar. Erlan dengan cekatan mengambil mangkuk bubur itu dari meja nangkas, ia pun mengaduknya perlahan agar uap panasnya sedikit berkurang.
"Ayo Al bangun dulu, biar kakak suapin kamu selesai makan nanti langsung minum obatnya ya" ucap Erlan kepada Alvaro.
Alvaro pun berusaha bangkit dari tidurannya dan dengan sigap Elvano pun membatu Alvaro untuk menaruh dua bantal besar untuk menyangga tubuh Alvaro dalam posisi duduk dangan nyaman.
Suapan demi suapan pun bubur mulai masuk ke dalam mulut Alvaro, meskipun rasa buburnya sedikit hambar karena tidak terlalu banya menggunakan penyedap rasa dan juga merica. Alvaro pun tetap mengunyah bubur itu dengan patuh dan di bawah tatapan intimidasi sekaligus kasih sayang dari sang papah dan juga ketiga saudaranya itu.
"Bagus, habiskan setengahnya lagi baru nanti minum obat" puji sang papah kepada Alvaro saat ia melihat mangkuk bubur milik Alvaro sudah tinggal setengah.
"Setelah ini minum obat lambungmu ya Varo, lalu langsung tidur" ucap sang papah lagi.
Lalu sang papah pun mengambil plastik yang berisi obat-obatan milik Alvaro dan ia pun mengeluarkan empat obat yang di jelaskan oleh dokter Angga. Tidak lupa ia menaruh sebuah tabung kecil berwarna biru di atas nangkas, telatnya di sebelah lampu tidur.
"Alva inhalermu papah taruh sini, Vano pastikan kamu mengecek kondisi kembaranmu ya karena kamar kalian sebelahan. Kalau kamu dengar Alva batuk langsung panggil papah atau bang Arlan dan juag kak Erlan" ucap sang papah kepada anak bungsunya itu.
"Tenang pah, El bakal jaga Alva kok" jawab Elvano kepada sang papah.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Alvaro pun lanjut meminum obat lambungnya sekaligus obat antibiotik yang wajib ia minum tiga kali sehari sesudah makan karena ia masih di fase penyembuhan dan rasa kantung mulai menyerang dirinya perlahan-lahan. Efek dari trobositnya turun karena demam berdarah dan juga kelelahan yang ia rasakan dan selama pemulihan membuat kelopak mata remaja itu terasa sangat berat.
Arlan pun melangkah maju untuk membenarkan selimut milik Alvaro supaya ia tidak merasa kedinginan.
"Tidur yang nyenyak ya al, besok pagi abang temani lagi" bisik Arlan kepada Alvaro yang sudah setengah sadar karena efek ngantuk.
"Makasih ya pahh... Bang Arlan... Kak Erlan.. El" gumam Alvaro dengan suara yang sudah terputus-putus karena efek ngantuk yang sudah ia rasakan.
Papah pun menatap wajah tidur putra ketiganya itu dengan perasaan lega yang mengguncah di dadanya. Perlahan, kecemasan yang sempat mengguncah hatinya selam beberapa hari terakhir dan hari ini perasaan itu menguap begitu saja entah kemana. Ia pun melihat ketiga putranya dengan perasaan yang sangat amat lega.
"Ayo kita keluar biarin dia istirahat, lebih baik kita juga istirahat" ucap sang papah kepada ketiga putranya itu dan hanya mendapatkan anggukan sebagai jawabannya.
Meraka berempat pun keluar dari kamar Alvaro dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun itu yang bisa membangunkan Alvaro, Elvano pun menoleh sekali lagi ke arah kamar Alvaro yang tepatnya kearah ranjang Alvaro sebelum menutup pintu kamar bercat putih itu secara peelahan-lahan.
Malam pun semakin larut di mansion Alexander, membawa kembali kehangatan, ketenangan dan juga kebahagiaan milik keluarga Alexander yang sempat hilang.