Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TIGA PULUH EMPAT
Rakha memejamkan mata sesaat. Ia merasakan ledakan amarah terhadap Risyad yang telah merusak kepolosan ini, dan ledakan hasrat yang dingin terhadap Maharani. Ia mempercepat langkah, berusaha mengakhiri situasi yang mematikan ini.
Ia akhirnya tiba di kamar Maharani. Kamar itu gelap, hanya diterangi cahaya rembulan yang masuk dari tirai tipis.
Rakha dengan lembut membaringkan Maharani di ranjang super king.
Saat ia menarik diri, tangan Maharani yang terlepas dari mabuknya, meraih kemeja Rakha.
"Jangan pergi," bisik Maharani, suaranya sangat lirih. "Saya takut sendirian."
Gerakan itu membuat Rakha membungkuk di atasnya. Maharani menatapnya dari ranjang, wajahnya yang dibasahi air mata kini memancarkan kerentanan total.
Rakha menyentuh rahang Maharani. Ia melihat kelelahan di mata Maharani, dan semua trauma yang baru saja ia dengar.
"Saya di sini, Hani," bisik Rakha, suaranya serak. "Tidak ada yang akan menyakitimu di sini."
Tiba-tiba, mata Maharani yang semula sayu terbuka lebar. Tatapannya masih kabur karena mabuk, tetapi ada intensitas yang aneh, seolah alkohol telah melepaskan segala filter yang selama ini ia pakai.
"Benar..." Maharani meracau, suaranya melantur. "Mas Rakha yang lindungin saya."
Tangan Maharani yang kecil dan dingin naik ke wajah Rakha, sebuah sentuhan yang begitu lembut kontras dengan garis rahang Rakha yang keras. Jemarinya yang polos dan lembut menyentuh, lalu mengelus rahang Rakha yang baru saja ia puji. Sebelum Rakha sempat bereaksi, sebelum logikanya sempat membangun tembok, Maharani menarik wajahnya ke bawah.
Bibirnya yang basah oleh air mata dan wine menciumi seluruh wajah Rakha dengan cepat, dari pelipis, turun ke tulang pipi yang tegas, hingga sisi bibir. Kecupan itu berakhir di dagu Rakha, sebuah rentetan aksi putus asa yang mencari kehangatan, polos, tetapi sangat menggoda.
Rakha membeku di tempat. Wajahnya terasa panas dan basah, bukan hanya oleh air mata Maharani, tapi juga oleh gelombang kaget yang kuat yang menjalar ke seluruh tubuhnya, mengalir dari tempat sentuhan hingga ke pusat kendali Rakha. Kecupan-kecupan acak itu, alih-alih menjijikkan, justru terasa seperti percikan api.
Ini adalah putri Hardi. Peringatan itu berteriak dalam benaknya, nyaris tak terdengar di tengah desakan hasrat yang dingin dan liar yang tiba-tiba menguasai.
Rakha menarik napas tajam, mencoba bangkit dari posisi membungkuk di atas ranjang. Ia harus pergi sekarang, sebelum momen ini merusak semua yang ia yakini.
Namun, saat ia mencoba mengangkat lututnya dari tepi kasur, Maharani bertindak cepat.
Tangan Maharani, yang selama ini lemah karena alkohol, tiba-tiba memiliki kekuatan yang didorong oleh trauma dan keputusasaan. Ia menangkap rahang Rakha dengan cengkeraman erat, pandangan matanya yang sayu kini menunjukkan tekad yang membara. "Jangan pergi!" tuntut Maharani, suaranya pecah antara tangisan dan perintah, sebuah rayuan putus asa yang memikat.
Maharani mengerahkan sisa tenaganya, mendorong dada Rakha kuat-kuat. Karena Rakha tidak siap-karena ia sibuk memproses sensasi kehangatan di wajahnya-ia kehilangan keseimbangan. Rakha jatuh ke belakang, tubuhnya yang keras menghantam kasur, dan Maharani langsung bangkit, menindih Rakha hingga duduk tepat di pinggulnya.
Situasi itu terjadi begitu cepat. Rakha terperangkap. Ia berbaring telentang di bawah tubuh Maharani yang lembut dan berbalut satin tipis. Wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Maharani yang mabuk, mata Rakha terpaku pada bibir Maharani yang basah dan sedikit terbuka.
Maharani, dalam posisi menindih Rakha di atas kasur, tidak menyadari betapa intim dan eksplosifnya posisi mereka. Celana pendek satinnya tersingkap karena gerakan, dan panas paha mulus Maharani menembus kain tipis celana Rakha. Ia hanya memegang kuat-kuat bahu Rakha, menahannya agar tidak pergi, tanpa menyadari bahwa ia telah memicu sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada Risyad. Rakha merasakan setiap lekuk sensual tubuh Maharani yang menekan pinggulnya, sebuah siksaan yang begitu dekat dan begitu terlarang.
Pakaian satin Maharani semakin berantakan, sebuah penanda yang berbahaya dari gerakan cepat mereka. Karena posisi menindih yang tiba-tiba, tali camisole tipisnya melorot sepenuhnya di satu bahu yang halus dan seputih porselen. Di bawah cahaya rembulan yang samar menembus jendela, kain satin berwarna peach itu tersingkap jauh, memperlihatkan lengkungan payudara Maharani yang indah dan sebagian besar terekspos. Pemandangan itu, begitu dekat, begitu jelas, membuat setiap darah tubuh Rakha menegang.
Maharani sama sekali tidak menyadari kerentanan tubuhnya yang kini terpajang secara sensual di atas pria yang seharusnya menjadi musuhnya. Ia hanya menatap Rakha, matanya berkaca-kaca, hanya melihat pelindung yang yang ia butuhkan.
"Jangan tinggalkan saya," rengek Maharani, suaranya parau, dan nafasnya yang beraroma wine panas menerpa wajah Rakha, sebuah sentuhan tak terduga yang memabukkan. "Saya takut. Saya butuh Mas Rakha. Mereka jahat."
Dendam, sumpah, Hardi, Aira-semua itu terasa lenyap, menjadi bisikan yang jauh di tengah badai sensasi ini. Rakha berbaring tak berdaya di bawah beban tubuh Maharani. Ia melihat mata Maharani yang mabuk, penuh trauma, tetapi juga penuh kepolosan yang memikat. Ia merasakan berat tubuh Maharani yang lentur, dan kehangatan kulitnya yang hanya dipisahkan oleh lapisan satin tipis, menekan keras di titik sensitifnya.
Kendali Rakha Wiratama telah hancur.
Napas Rakha tercekat, dadanya naik turun dengan cepat. Ia menutup matanya erat-erat, memaksa dirinya mengumpulkan seluruh sisa logikanya. Dia tidak sadar. Dia terluka. Dia adalah putri musuhku. Mantra ini berulang, namun dikalahkan oleh desakan tubuh yang begitu dekat.
Rakha memegang kedua pinggang Maharani, bukan untuk menyentuhnya, melainkan untuk menstabilkannya. Ia berbicara dengan suara yang sangat rendah, dipenuhi desakan dan bahaya.
"Hani. Baring. Kamu harus tidur. Sekarang."
Maharani, yang berada dalam posisi menindih Rakha, menggeleng, matanya yang berkaca-kaca kini dipenuhi kabut nafsu yang dilepaskan oleh alkohol dan trauma. Ia tidak melihat Rakha sebagai pengacara; ia melihatnya sebagai pelabuhan aman yang bisa memberinya pelarian total.
"Saya nggak mau tidur malam ini," ucap Maharani, suaranya serak dan menuntut. "Saya ingin menghabiskan malam ini bersama Mas Rakha. Saya ingin melupakan semuanya."
Ajakan itu, keluar dari bibir wanita yang baru saja menangis karena kekerasan, membuat kepala Rakha pening. Suara sumpah dendamnya melawan Hardi kini nyaris tak terdengar. Ia sudah tak sanggup mengontrol dirinya lagi.
Maharani tidak memberi waktu pada Rakha untuk berpikir, apalagi melawan. Dengan gerakan yang tiba-tiba, ia menundukkan kepala dan membungkam bibir Rakha dengan ciumannya.
Ciuman itu menuntut, putus asa, tapi canggung-jelas menunjukkan bahwa Maharani masih sangat tidak ahli, didorong oleh keputusasaan dan alkohol, bukan pengalaman. Bibirnya yang lembut menempel di bibir Rakha, mencari respons, mencari pelepasan.
Reaksi Rakha terjadi dalam milidetik. Ia seharusnya mendorongnya, mengakhiri kekacauan ini, menegakkan kembali garis batasnya. Namun, semua kendali dirinya lenyap di hadapan kehangatan bibir Maharani.
Rakha memejamkan mata, membalas ciuman itu dengan intensitas yang dalam, melepaskan semua frustrasi, amarah, dan dendam yang telah ia tahan selama berjam-jam. Ciuman itu cepat berubah dari ciuman putus asa Maharani menjadi ciuman yang mematikan dan dikuasai oleh Rakha.
Ia memegang rahang Maharani, mengunci ciuman itu, mengabaikan fakta bahwa camisole Maharani yang tersingkap di bahu. Seluruh fokus Rakha terpusat pada bibir Maharani, pada keputusasaan mereka yang kini saling membalas.
Dendamku, batin Rakha, telah kalah.
Tepat ketika bibir mereka bersentuhan, naluri Maharani yang mabuk mengambil alih. Ia mencondongkan tubuh sedikit, memiringkan kepalanya, mengubah sentuhan lembut itu menjadi tuntutan yang lebih dalam. Rakha, yang terperangkap antara kejutan dan badai emosi, tidak memberontak. Bibirnya sedikit terbuka saat Maharani menekannya.
Ciuman itu dalam dan liar. Maharani, yang didorong oleh trauma dan alkohol, mencium dengan putus asa dan tanpa teknik, namun justru itu yang membuatnya terasa begitu mentah dan menggairahkan. Rakha merespons secara naluriah. Ia membiarkan kepalanya sedikit miring, merasakan kelembutan dan kehangatan bibir Maharani yang basah oleh wine.
Maharani, dengan satu tangan masih menggenggam kerah kemeja Rakha, kini melepaskannya untuk merangkul leher Rakha lebih erat. Rakha merasakan lidah Maharani yang ragu-ragu dan hangat menyentuh bibirnya, sebuah invasi yang polos namun sensual. Rakha, yang awalnya membeku, kini membalas ciuman itu, menghisap dengan intensitas yang liar.
Rasanya seperti mencicipi buah terlarang: manis, panas, dan memabukkan. Setiap sentuhan lidah itu terasa seperti pengkhianatan yang memuaskan.
Tepat ketika ciuman itu semakin dalam, ketika Rakha mulai merasakan seluruh tubuhnya merespons desakan dari bibir yang mabuk di atasnya, Rakha sadar sepenuhnya. Ia mencium putri Hardi, wanita yang mabuk dan tidak sadarkan diri, wanita yang kini ia tindih tanpa sengaja, wanita yang ia bersumpah untuk hancurkan hidupnya.
Dengan kekuatan baja yang tersisa di dalam dirinya, Rakha menarik wajahnya menjauh. Suara ceplakan basah yang terputus di antara bibir mereka terasa keras dalam keheningan yang tegang. Napas Rakha tersengal, dadanya naik-turun dengan cepat. Ia menatap Maharani di atasnya-wajahnya memerah, mata terpejam, bibirnya bengkak dan basah, sepenuhnya lepas kendali.
Rakha tidak membuang waktu. Dengan cepat ia memegang kedua bahu Maharani, jemarinya yang kuat kini menyentuh langsung kulit bahu Maharani yang terbuka karena tali camisole yang melorot. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, membalikkan posisi mereka dalam satu gerakan cepat dan dominan.
Kini Maharani terbaring di kasur, satin peachnya kusut di sekeliling tubuhnya, dan Rakha membungkuk di atasnya. Wajahnya terpampang, penuh gairah yang terpaksa ditahan.
"Cukup, Hani," suara Rakha berat, serak, nyaris tidak terdengar. Ia memaksakan dirinya untuk mengendalikan getaran di tubuhnya. "Kamu mabuk. Kamu butuh tidur."