Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.
Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part *34
Seketika, wajah Rama berubah. Entahlah. Entah keyakinan yang datang dari arah mana, yang tiba-tiba saja membuat Rama merasa yakin kalau kesempatan untuk memiliki Sinta masih ada.
Sambil mengangguk kecil, Rama berucap. "Iya. Aku yakin kalau Sinta pasti dipaksa untuk menikah dengan kak Wana. Sinta pasti tidak mau menikah, tapi mereka tetap memaksakan agar pernikahan tetap dilaksanakan. Aku yakin itu. Sangat yakin."
Sontak, Dorin langsung melongo. "Apa yang baru saja kamu katakan, Ram?"
Bukannya menjawab apa yang Dorin tanyakan, Rama malah memaksa Dorin untuk menemukan Sinta. "Kita cari Sinta sekarang, Rin. Aku yakin, Sinta pasti tidak ingin menikah dengan kak Wana. Dia pasti mau kembali ke sisi aku lagi."
"Apa?" Wajah Dorin langsung terlihat kaget dan tak percaya. "Jangan bercanda, Rama. Kita cari Sinta, terus apa yang akan kamu lakukan jika ketemu? Kau siap bertatap muka dengan kakak mu yang dingin itu?"
"Tentu saja. Demi Sinta, sekalipun aku melawan kak Wana. Aku akan tetap melakukannya."
"Kamu gil*a, Rama. Sangat gil*a."
"Memang. Lalu kenapa? Aku tidak keberatan jadi gi*la asal Sinta bisa kembali ke sisi ku."
Sungguh, Dorin benar-benar kehabisan kata-kata. Ingin sekali dia melepaskan semua unek-unek yang ada dalam hati dan pikirannya saat ini. Dia ingin bilang dengan suara lantang. Jika dulu Sinta sangat berharga buat kamu, lalu kenapa kamu abaikan? Jika Sinta terlalu penting bagimu, lalu kenapa kamu sibuk mengurus wanita lain dan membuat Sinta terluka. Semua ini salahmu, kamu yang terlalu tidak peka. Andai kamu datang pada hari penentuan tanggal pernikahan. Semua gak akan jadi seperti ini. Dan, banyak kata lain lagi yang ingin Dorin lepaskan di depan Rama.
Tapi, kesadaran Dorin masih terjaga dengan sangat baik. Hatinya memang ingin bicara, tapi pikirannya menolak. Melihat keadaan sepupunya yang sudah sangat memprihatinkan, kata-kata itu ia kunci dalam hati agar tidak lepas.
"Ke mana kamu ingin menemukan Sinta sekarang, Ram? Kita sudah cari ke hotel, tapi Sinta juga tidak ada. Lalu kediaman Wijaya, aku tidak yakin kalau Sinta akan ke sana. Karena tadi kamu bilang-- "
"Apa mungkin kak Wana membawa Sinta ke vila nya, Dorin?" Rama memotong cepat ucapan Dorin.
Seketika, Dorin langsung menoleh. "Vila ... kak Wana? Kamu yakin? Tapi kan ... selama ini, vila itu adalah hunian pribadi yang tidak bisa di datangi oleh sembarang orang. Kak Wana tidak suka tamu. Dia tidak akan membawa orang asing ke vila pribadinya kan?"
Rama terdiam. Benaknya membenarkan seratus persen apa yang baru saja Dorin ucap. Memang benar, Wana tidak pernah membiarkan orang asing datang. Tidak menerima tamu sekalipun rekan atau bahkan keluarga. Jangankan tamu, Dorin dan Rama saja tidak pernah masuk. Jika di suruh mama mengantarkan sesuatu, ia hanya akan berhenti di gerbang masuk saja. Tidak masuk ke bagian dalam vila.
Diam beberapa saat, setelahnya, Rama baru ingat siapa dirinya. "Astaga," ucapnya sambil menepuk pelan dahinya sendiri.
"Bukankah aku ini tuan muda keluarga Hermawan? Kenapa malah jadi lupa apa yang aku punya?"
Seketika, dia mengeluarkan ponselnya. Ponsel yang ia matikan gara-gara tidak ingin diganggu oleh Risa saat kepalanya pusing tak terkira tadi.
Gegas, tangan Rama mencari nomor kontak seseorang yang bisa ia mintai bantuan. Orang yang tak lain adalah tangan kanan kepercayaannya yang selama ini cukup bisa ia andalkan.
Yah ... bukan Wana saja yang punya asisten. Rama juga punya. Karena Rama juga pimpinan sebuah perusahaan keluarga. Walau, dia hanya menduduki kantor cabang saja. Statusnya tidak setinggi dan semegah kakak nya yang sangat tertutup itu. Tapi tetap saja, dia juga pemimpin dan dia juga tuan muda.
Mungkin, jika tidak karena wasiat dari nenek mereka yang telah menetapkan secara terang-terangan dengan sangat jelas siapa pemimpin utama yang memegang kendali atas perusahaan inti. Barangkali, dialah yang akan duduk di sana. Walau, kecerdasannya memang sedikit lebih rendah dari apa yang kakaknya miliki. Hanya saja, dia orang yang terbuka, bukan? Dia orang yang bisa berbaur dengan sangat baik di dunia luar. Berbeda dari kakaknya yang sangat tertutup dan terlalu tersisih dari dunia luar itu kan?
Sesaat kemudian, panggilannya dengan si asisten terhubung. Suara seseorang menjawab panggilan Rama dengan tenang terdengar.
"Iya, Tuan muda."
"Riko. Tolong bantu saja," ucap Rama tanpa basa-basi lagi.
"Bantu? Apa yang tuan muda inginkan? Apa yang harus saya lakukan?"
"Cari Sinta sekarang juga. Lacak di mana posisi dia. Lalu sampaikan padaku. Aku ingin tahu di mana Sinta secepat mungkin, Riko."
"Sinta? Ee ... baiklah. Akan saja lakukan."
Panggilan itu langsung terputus. Setelah panggilan selesai, Rama langsung mematikan kembali ponselnya agar tidak mendapat gangguan dari orang yang tidak ia inginkan.
Dorin yang ada di samping tidak bisa menahan bibir untuk tidak bicara. "Ram, kok di matikan? Gimana kalo Riko ingin menyampaikan hasil pencariannya tentang Sinta? Dia gak akan bisa hubungi kamu."
Rama terdiam sejenak. Mungkin, benaknya sedang mencerna apa yang baru saja Dorin ucapkan. Lalu, sesaat kemudian. "Pinjam ponsel kamu, Dorin."
"Hah? Buat apa?"
"Aku akan kabari Riko agar kirim laporannya ke kontak kamu saja."
"Lho? Kenapa?"
"Karena ... aku gak siap bicara dengan Risa sekarang, Rin. Kondisi Risa saat ini sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak mungkin siap membuatnya sakit lagi."
Seketika, jiwa Dorin melemah. Sedangkan amarahnya tiba-tiba naik. Ucapan itu, ucapan yang baru saja Rama lepaskan. Terlihat sekali rasa kekhawatiran yang sangat jelas. Hal itu membuat Dorin kesal.
Saat ini, Rama sedang berusaha mengejar cintanya yang telah pergi. Di saat yang bersamaan pula, pria itu sedang berusaha menjaga wanitanya lain.
"Ram. Aku ingin tanya satu hal."
"Apa?"
"Sebenarnya, kamu ingin Sinta atau Risa?"
Seketika, manik mata Rama menatap lekat wajah si sepupu. "Maksud kamu apa? Aku ingin Sinta atau Risa? Pertanyaan macam apa itu, Rin."
"Rama, dengarkan aku! Kamu tidak bisa memiliki keduanya. Sekalipun kamu pria yang sangat serakah, untuk urusan wanita, kamu tidak bisa memiliki lebih dari satu, Ram. Karena jika kamu tetap melakukannya, kau akan kehilangan semuanya."
Rama ingin menjawab dengan kata yang sangat tegas apa yang sudah Dorin ucapkan barusan. Namun, pesan singkat dari Riko langsung mengalihkan perhatiannya.
*Tuan muda. Nona Sinta ada di vila tuan pertama. Mereka datang tadi siang. Informasi ini sangat terpercaya. Dan ini nyata.*
Seketika, wajah Rama berubah. Sungguh, dia sangat-sangat tidak percaya akan apa yang ada dalam tulisan tersebut. Dia baca ulang pesan itu berulang kali, tapi bacaannya, tetap saja sama. Katanya, tidak ada yang berubah walau hanya satu huruf pun.