NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 26

***

Fajar di Aethelgard pecah dengan warna kelabu yang suram. Di depan gerbang istana, iring-iringan kereta kuda berlambang naga emas Valerieth sudah bersiap. Arthur, dengan wajah kaku dan mata yang merah akibat kurang tidur, memapah Lilianne masuk ke dalam kereta. Ia tidak mengizinkan satu pun pelayan menyentuh istrinya. Pegangannya di pinggang Lilianne begitu erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Lilianne akan menguap menjadi asap.

Di dalam kereta, keheningan terasa begitu berat hingga suara deru napas pun terdengar seperti ancaman. Lilianne duduk menyandar pada bantalan beludru, wajahnya jauh lebih pucat daripada gaun satin yang ia kenakan.

Setiap guncangan roda kereta yang menghantam jalanan berbatu mengirimkan gelombang nyeri yang tajam ke perut bawahnya.

Arthur duduk tepat di hadapannya, matanya tidak pernah lepas dari sosok Lilianne. Ia tidak membaca dokumen, tidak melihat ke luar jendela; ia hanya menatap Lilianne dengan obsesi yang mengerikan.

"Makan buahmu, Lili," suara Arthur rendah, memecah kesunyian. Ia menyodorkan sepotong apel yang sudah dikupas.

Lilianne menggeleng lemah, matanya terpejam menahan mual. "Saya... saya tidak lapar, Yang Mulia."

"Aku tidak bertanya apakah kau lapar," desis Arthur, matanya berkilat berbahaya. "Aku memerintahkanmu untuk makan. Kau butuh tenaga untuk anakku."

Lilianne membuka matanya perlahan, menatap pria yang semalam menghancurkannya tanpa ampun. "Anak ini... apakah itu satu-satunya yang anda pedulikan? Setelah apa yang anda lakukan semalam, kau pikir tubuh saya bisa menerima makanan dengan mudah?"

Wajah Arthur mengeras. Ia meletakkan pisau kecilnya dengan dentang keras di atas nampan perak. "Apa yang kulakukan semalam adalah untuk mengingatkanmu di mana tempatmu berada. Jika kau tidak menyulut api dengan ular tua itu, aku tidak akan bersikap kasar."

Lilianne tertawa kecil, suara yang terdengar hancur dan pahit. "Anda takut, yang mulia. Anda takut bayanganmu terbongkar, dan anda melampiaskannya pada wanita hamil. anda benar-benar pahlawan yang hebat."

"DIAM!" Arthur condong ke depan, mencengkeram dagu Lilianne. "Jangan pernah mengujiku di saat aku sedang berusaha bersabar, Lilianne. Kau adalah milikku. Takdirmu adalah melahirkan ahli warisku, dan takdirku adalah menjagamu tetap dalam genggamanku."

Namun, tepat saat Arthur hendak menambah ancamannya, tubuh Lilianne tiba-tiba menegang. Wajahnya yang pucat kini berubah menjadi seputih kertas. Ia mencengkeram perutnya dengan kedua tangan, punggungnya melengkung menahan sesuatu yang luar biasa menyakitkan.

"Ugh... nngh..." rintih Lilianne, suaranya tercekat di tenggorokan.

Arthur melepaskan cengkeramannya, ekspresi amarahnya seketika luruh digantikan oleh kebingungan yang tajam. "Lili? Ada apa?"

Lilianne tidak bisa menjawab. Rasa nyeri itu datang seperti gelombang pasang yang menghancurkan. Bukan sekadar kram biasa, ini adalah remasan yang sangat kuat, seolah rahimnya sedang mencoba mengeluarkan isinya sebelum waktunya. Ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah mulai merembes di antara paha bawahnya, menodai gaun biru pucatnya.

Mata Arthur turun ke arah rok gaun Lilianne. Di sana, warna merah gelap mulai melebar, kontras dengan kain biru yang mewah. Darah.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Arthur. Selama ini ia merasa bisa mengendalikan segala hal dengan pedang dan ketakutan, namun melihat darah itu, ia merasakan jenis ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ketakutan akan kehilangan satu-satunya jangkar yang membuatnya merasa nyata di dunia ini.

"Darah..." gumam Arthur, suaranya bergetar. "Lilianne! Kenapa ada darah?!"

"S-sakit... yang mulia... bayinya... tolong..." Lilianne merintih, kesadarannya mulai naik turun akibat rasa sakit yang luar biasa.

Arthur bangkit dengan panik, ia nyaris terjatuh karena guncangan kereta. Ia memukul dinding kayu kereta dengan keras, berteriak pada kusir di luar. "HENTIKAN KERETANYA! SEKARANG!"

Kereta berhenti dengan sentakan yang hebat. Arthur melompat keluar, berteriak pada para pengawal yang terkejut. "CARI TABIB! DIMANA DESA TERDEKAT?! SEKARANG JUGA ATAU AKU AKAN MEMENGGAL KEPALA KALIAN SEMUA!"

"Yang Mulia, ada desa kecil sekitar dua mil dari sini, tapi—"

"TIDAK ADA TAPI! BERGERAK!"

Dua mil terasa seperti selamanya bagi Arthur. Ia kembali ke dalam kereta, memangku tubuh Lilianne yang sudah mulai dingin dan bersimbah keringat. Ia terus menggumamkan kata-kata yang tidak jelas campuran antara perintah, doa gila, dan ancaman.

Begitu mereka sampai di desa kecil pinggiran Valerieth, Arthur menendang pintu sebuah pondok pengobatan milik seorang tabib tua wanita. Pengawal setianya sudah lebih dulu menyerbu masuk, mengosongkan tempat itu dari pasien lain.

"Tangani dia," geram Arthur, menggendong Lilianne masuk dan membaringkannya di atas ranjang kayu yang kasar.

Seorang wanita tua dengan kerudung abu-abu mendekat dengan gemetar. Namanya Martha, seorang tabib desa yang sudah biasa menangani kelahiran, namun ia belum pernah melihat pria semengerikan Arthur.

"T-tapi Yang Mulia, peralatan saya terbatas, saya hanya tabib desa—"

Sring!

Arthur menghunus pedang kencananya, ujungnya yang tajam hanya berjarak satu inci dari leher wanita tua itu. Matanya yang biru gelap kini benar-benar terlihat gila, penuh dengan keputusasaan yang mematikan.

"Aku tidak butuh peralatan istana. Aku butuh dia dan bayinya tetap hidup," desis Arthur, suaranya bergetar karena emosi yang meluap. "Jika jantung bayi itu berhenti berdetak, atau jika dia tidak membuka matanya lagi, aku bersumpah demi dewa perang, aku akan meratakan desa ini dengan tanah dan kau akan menjadi orang pertama yang kusiksa. APA KAU MENGERTI?!"

"I-iya, Yang Mulia! Tolong, turunkan pedang Anda! Saya butuh ruang untuk bekerja!"

Arthur menurunkan pedangnya, namun ia tidak pergi. Ia berdiri tepat di samping ranjang, mencengkeram tiang kayu hingga kayunya retak. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tabib itu menyibak gaun Lilianne yang bersimbah darah.

Lilianne mengerang, tangannya meraba-raba di udara, mencari pegangan. Dalam kegelapannya, ia tidak sadar tangannya mencengkeram lengan baju zirah Arthur. Pria itu segera menyambar tangan Lilianne, membiarkan kuku-kuku istrinya menancap di kulit tangannya yang tak terlindungi.

"Aku di sini, Lili... aku di sini," bisik Arthur. Suaranya terdengar asing bagi dirinya sendiri—itu bukan suara sang penakluk, melainkan suara seorang pria yang hancur.

Tabib tua itu mulai bekerja dengan tangan yang gemetar. Ia menggunakan ramuan herba dan kompres hangat. "Pembukaannya terlalu dini... kontraksi ini karena trauma fisik yang hebat... Yang Mulia, apa yang terjadi padanya?"

Arthur terdiam. Ia menatap wajah Lilianne yang merintih kesakitan. Ia tahu benar apa penyebab trauma fisik itu. Itu adalah dirinya. Keganasannya semalam, keinginannya untuk menandai Lilianne, dan obsesinya untuk membuktikan kepemilikan.

"Lakukan saja tugasmu!" bentak Arthur untuk menutupi rasa bersalah yang mulai mencekiknya.

Beberapa jam berlalu dengan penuh siksaan. Suara rintihan Lilianne memenuhi pondok itu. Arthur tetap di sana, melihat setiap tetes darah yang keluar, melihat keringat dingin yang membanjiri dahi istrinya. Setiap kali Lilianne menjerit karena kontraksi, jantung Arthur terasa seolah diremas oleh tangan raksasa.

"Tekanan darahnya menurun," ujar tabib itu panik. "Saya harus memberinya minuman penenang, tapi jika ia tertidur sekarang, bayinya bisa dalam bahaya..."

"Lakukan apa pun untuk menyelamatkan mereka berdua!" Arthur berlutut di samping ranjang, wajahnya kini sejajar dengan wajah Lilianne. "Lili... dengarkan aku. Jangan berani-berani kau pergi. Kau belum memberiku ahli waris. Kau tidak boleh lari dariku dengan cara seperti ini!"

Lilianne membuka matanya sedikit, tatapannya sayu dan kabur. Ia melihat Arthur—pria yang paling ia benci, pria yang telah menghancurkan hidupnya—kini tampak begitu rapuh dan ketakutan.

"A-Arthur..." bisiknya sangat pelan.

"Iya, aku di sini."

"Jika... jika aku mati... aku akan bebas darimu..."

Kata-kata itu menghujam jantung Arthur lebih dalam daripada pedang mana pun. Ia mencengkeram tangan Lilianne lebih erat. "Tidak. Bahkan dalam kematian pun aku tidak akan melepaskanmu. Jadi tetaplah hidup dan hadapi aku, Lilianne! Bertahanlah untuk anak kita!"

Setelah perjuangan yang melelahkan, tabib tua itu akhirnya berhasil menstabilkan kondisi Lilianne menggunakan akar-akaran langka yang ia simpan. Kontraksi hebat itu mulai mereda, meski pendarahan belum sepenuhnya berhenti.

"Dia selamat untuk saat ini," bisik tabib itu sambil menyeka keringat di dahinya. "Bayinya masih bernapas, tapi ini sangat kritis. Putri harus istirahat total. Guncangan sekecil apa pun bisa memicu keguguran atau kematian ibunya."

Arthur menghela napas panjang, sebuah napas yang terdengar seperti tangisan yang tertahan. Ia menyandarkan dahinya di tangan Lilianne yang masih ia genggam. Seluruh tubuhnya terasa lemas.

"Yang Mulia... kita harus tetap melanjutkan perjalanan?" tanya pengawalnya dari ambang pintu.

Arthur menoleh, matanya kembali dingin dan mematikan. "Kita tinggal di sini. Bangun perimeter keamanan di seluruh desa ini. Tidak ada yang boleh masuk atau keluar. Jika ada satu orang pun yang mengganggu istirahatnya, eksekusi di tempat."

Ia kemudian kembali menatap Lilianne yang kini tertidur karena pengaruh obat. Ia mengusap pipi istrinya dengan jemari yang masih bergetar.

"Kau melihatnya, bukan?" bisik Arthur pada sosok yang tak terlihat. "Bahkan Tuhan pun tidak ingin kau pergi dariku. Kau akan tetap di sini, di sisiku, meski aku harus menghancurkan dunia untuk itu."

***

Bersambung...

1
Murni Dewita
👣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 😚
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
Heresnanaa_: stay tune up 😚
total 1 replies
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 🫶
total 1 replies
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!