Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...
Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25 Kebenaran yang Meremukkan Hati
Kurang dari dua menit, dokter, suster dan uncle Sam pun datang ke dalam kamar rawat milik Alvaro dengan sangat tergesa-gesa. Dan langsung menuju ke arah brakar milik Alvaro dan mengecek kondisinya.
"Permisi pak dan adik-adik semua bisa beri ruang untuk kami" ucap sang dokter kepada papah dan juga Elvano.
Mereka berdua pun memberikan ruang untuk sang dokter dan suster untuk memeriksa kondisi Alvaro.
"Sus, tolong suntikan obat peredan nyeri dan ambil sempel darahnya dan kita akan memeriksa sempel darahnya di lab" ucap sang dokter kepada suster tersebut.
"Baik dok, saya akan ambilkan obatnya terlebih dahulu dan juga mengambil sempel darah pasien" jawab suster tersebut.
Setelah mengatakan itu suster itu pun keluar dari kamar rawat Alvaro untuk mengambil obat dan alat yang ia butuhkan untuk mengambil sempel darah.
Beberapa menit kemudia, suster itu pun kembali dangan membawa nampan berisikan obat pereda nyeri dan juga suntikan untuk mengambil sempel darah.
Suster tersebut mendekati brakar milik Alvaro dengan cepat namun tenang, ia pun segera menyiapkan semua alat yang ia butuhkan. Dan ia pun menyiapkan obat pereda nyeri, obat mual dan juga suntukan untuk ia suntikan ke dalam infus. Pelahan, rasa sakit yang Alvaro tahan karena efek dari obat yang perawat itu suntikkan di dalam infus Alvaro pun menghilang dan membuat orang-orang yang ada di sana pun bisa bernapas lega.
"Alvaro tahan sakit sebentar ya, suster mau ambil darah Alvaro" ucap suster tersebut.
"I-iya sus" ujar Alvaro gugup karena melihat jarum suntik yang akan mengambil darahnya.
Setelah selesai mengambil sempel darah milik Alvaro, suster itu pun meletakkan sempel darah tersebut di nakas yang tadi ia bawa.
"Dok ini sempel darahnya sudah saya ambil" ucap suster tersebut.
"Segera bawa sempel itu ke laboratorium dan minta pihak lab untuk mengidentifikasi penyebab penurunan kondisi pasien" ujar dokter tersebut tegas kepada asistennya.
"Baik dok" jawab suster tersebut.
Setelah itu suster tersebut keluar dari kamar rawat Alvaro dengan membawa sempel darah dari Alvaro supaya sempel itu bisa ia bawa ke laboratorium.
Sang dokter pun berbalik dan berjalan menuju ke arah sang papah dan yang lainnya yang sedang menatap kondisi Alvaro yang masih lemas.
"Kami sudah memberikan penanganan untuk meredakan nyeri dan mual yang tadi pasien rasakan, saya sudah menyuruh perawat untuk mengambil sempel darah supaya bisa di uji di laboratorium dan kita bisa menunggu hasil dari laboratorium, ya pak" ucap sang dokter panjang.
Papah pun hanya bisa mengangguk pelan setelah ia mendengarkan penjelasan dari sang dokter, wajahnya sekarang sudah tidak sebugar biasanya karena kelelahan saat menjaga Alvaro jadi waktu tidurnya sangat terbatas karena khawatir.
"Baiklah dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya, dok" ucap lirih papah kepada sang dokter.
"Kami akan melakukan yang terbaik pak untuk pasien" ujar dokter muda tersebut.
"Terimakasih ya dok" ucap papah.
"Sudah tugas kami pak" jawab dokter muda itu yang bernama dokter Angga.
Arlan pun mendekati brankar Alvaro dan di ikuti oleh Erlan dan juga uncle Sam yang berada di belakangnya, ia menatap adiknya yang sedang tertidur cukup lelap dan ia menatap wajah Alvaro tidak sepucat saat ia melihat ia menahan sakitnya itu.
"El" panggil Erlan kepada Elvano yang ada di sebrang ranjang Alvaro.
"Iya" jawab El singkat.
"Duduklah El" ucap Erlan lagi.
"Gak bisa kak, aku merasa gagal menjadi kembarnya Al" ujar Elvano kepada Erlan dengan nada yang hampir menangis.
"Ini bukan salahmu boy" ucap sang papah yang ada di belakang Elvano sambil menenangkan anak bungsunya itu.
"Tapi aku gagal, aku hikss kembaran yang payah hiks" isak Elvano yang sudah berada di pelukan sang papah.
"Ini bukan salahmu El, jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri" ucap uncle Sam yang berada di depan brankar Alvaro sambil menatap Elvano yang sudah terisak di pelukan sang papah.
"Tapi uncle ini salahku" sahut Elvano.
"El ingat ini bukan kesalahan siapapun, penyakit Alvaro tidak bisa kita prediksi, El" ucap sang papah kepada Elvano.
"Kita duduk ya, biar gak pegal berdiri terus" ajak sang papah kepada Elvano.
"Aku duduk dekat Al ya pah" mohon Elvano kepada sang papah.
"Baiklah, kalau ada apa-apa sama Al panggil kita ya El kita duduk di sofa" ucap sang papah kepada Elvano dan Elvano hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.
Waktu pun berjalan sangat lama bagi mereka semua di dalam kamar 245, kamar yang tadinya penuh kehangatan seakan lenyap begitu saja dan sekarang di gantikan dengan suara kicauan burung dari arah luar kamar rawat Alvaro.
Tiba-tiba terdengar ketikan pintu dari arah luar yang membuat jantung mereka berlima terpacu sangat kencang dan mereka pun merasa tidak ada oksigen di dalam ruangan tersebut saat pintu kamar terbuka dan menampilkan seorang dokter muda yaitu dokter Angga yang membawa hasil dari laboratorium untuk di bacakan kepada mereka.
Dokter Angga pun masuk secara perlahan dan menatap mereka dengan wajah yang sulit untuk di artikan dan ia pun menatap mereka berlima dengan sangat intens.
"Permisi pak, bisa ikut saya keruangan saya" ucap dokter Angga dengan nada formal dan juga berhati-hati kearah sang papah.
Mendengar permintaan dari sang dokter kepada papah pun membuat hati Elvano tidak tenang, apa lagi dokter Angga meminta papah untuk membicarakan hal ini di ruangannya yang berarti itu bukan kabar baik untuk di sampaikan secara langsung.
"Dok tolong katakan di sini saja supaya kita semua bisa tau" mohon Elvano kepada dokter Angga.
Dokter pun memandang Elvano dengan tatapan mata yang penuh simpati ke arah Elvano yang kelihatan ia yang sangat khawatir terhadap kembarannya itu.
"Iya dok, bicara di sini saja kami juga keluarganya dan apapun hasilnya kita akan hadapi sama-sama" ucap Arlan kepada sang dokter.
Dokter angga pun mengangguk perlahan dan ia pun membenarkan kacamatanya yang sudah turun sampai ke pangkal hidungnya sebelum membaca hasil dari laboratorium. Suasana yang ada di kamar rawat pun terasa begitu hening bahkan hembusan napas dari mereka berlima pun sampai terdengar dan hembusan angin dari pendingin ruangan pun juga sampai terdengar karena sebegitu heningnya dan mereka semua menanti untaian kalimat yang menentukan nasib dari Alvaro.
Dokter Angga pun menarik napas dalam diam, dan ia menatap lembaran lembaran kertas di tangannya dengan perasaan yang campur aduk.
"Berdasarkan hasil uji lab, kondisi Alvaro mengalami penurunan akibat faktor secara bersamaan. Satu tentu saja bapak dan yang lainnya tau ia kena demam berdarah yang kedua anda tau kalau ia punya asam lambung tapi sedikit lebih kronis yaitu gastritis salah satu penyakit di dalam lambung lebih tepatnya dinding lambung dan faktor yang terakhir ia memiliki infeksi pada paru-parunya dan itu membuat ia merasa sesak" ucap dokter Angga kepada mereka semua setelah ia membacakan hasil dari laboratorium.
Mendengar penjelasan dari dokter Angga membuat mereka semua terdiam mematung dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Lalu kita harus bagaimana, dok?" tanya Elvano mewakili mereka semua yang masih terdiam karena tak percaya penyakit yang di derita Alvaro tidak hanya satu atau dua melainkan tiga sekaligus.