Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: SURAT DARI MASA LALU
Reihan menatap layar ponselnya yang telah meredup, namun kata-kata "hutang darah" seolah masih berpijar di retina matanya.
Ia merasakan detak jantung Laluna yang tenang di atas dadanya, sebuah kontras yang menyakitkan dengan badai yang baru saja mengetuk pintunya.
Dengan gerakan sangat perlahan, ia menyelipkan ponsel itu ke bawah bantal, tidak ingin getaran kecemasannya membangunkan wanita yang baru saja menemukan kedamaian itu.
"Tidurlah, Luna," bisik Reihan nyaris tak terdengar, mengecup puncak kepala istrinya yang beraroma kayu manis.
Keesokan paginya, Toko dimulai dengan keriuhan khas Bumi. Sepupu Laluna itu sedang mencoba "mengajari" Dimas cara menyeduh kopi menggunakan metode tetes tradisional dari bambu.
"Mas Dimas, kopi itu harus diajak ngobrol, bukan cuma ditekan tombolnya!" seru Bumi sambil menuangkan air panas dengan gerakan dramatis.
Dimas menatap batang bambu itu dengan tatapan menilai.
"Bumi, efisiensi waktu adalah segalanya. Jika saya mengajak kopi ini mengobrol, Tuan Reihan akan kehilangan tiga kontrak penting sebelum kafeinnya masuk ke pembuluh darahnya."
Reihan turun dari tangga dengan setelan jas lengkap—pemandangan yang jarang terlihat belakangan ini. Wajahnya kembali ke mode Ice King, kaku dan waspada.
"Dimas, ikut aku ke kantor pusat sekarang. Ada audit internal mendadak yang harus kita selesaikan," ucap Reihan tegas.
Laluna yang baru saja keluar dari dapur dengan nampan donat hangat mengerutkan kening. "Audit? Bukankah kau bilang minggu ini kau ingin fokus pada persiapan resepsi kita di Bogor?"
Reihan menghampiri Laluna, memegang kedua bahunya dan memberikan kecupan cepat di kening. "Hanya urusan kecil, sayang. Malik meninggalkan beberapa 'sampah' dokumen yang harus segera dibersihkan agar tidak menjadi masalah hukum nantinya.
Aku akan pulang sebelum makan malam."
Laluna menatap punggung Reihan yang menjauh. Instingnya mengatakan ada yang salah. "Bumi," panggil Laluna pelan.
"Ya, Mbak?"
"Tolong awasi ruko. Aku ada firasat mas suamimu itu sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih berat daripada sekadar dokumen."
Di kantor pusat Arta Wiguna, Reihan menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat. Dimas berdiri di depannya, sudah memegang tablet yang menampilkan pelacakan nomor ponsel pengirim pesan semalam.
"Nomor itu berasal dari kartu prabayar yang dibeli di sebuah toko kelontong di pinggiran Jawa Tengah, dekat dengan desa asal keluarga Wijaya, Tuan," lapor Dimas.
"Jawa Tengah? Dekat desa Bumi?" Reihan berjalan mondar-mandir. "Lalu apa maksud 'hutang darah' itu? Kakek sudah menceritakan semuanya, bukan? Tentang sabotase rem itu..."
"Mungkin tidak semuanya, Tuan," Dimas menggeser layar tabletnya. "Saya menemukan satu berkas yang terkunci di arsip fisik Kakek Surya.
Berkas itu berjudul 'Proyek 1998'. Itu adalah tahun di mana krisis besar melanda, dan juga tahun di mana ayah Anda dan kakek Laluna memulai ekspansi besar-besaran."
Reihan membuka brankas di balik lukisan dindingnya, mengambil kunci master yang diberikan kakeknya. Mereka turun ke ruang arsip bawah tanah yang pengap. Di sana, di dalam kotak besi yang sudah berkarat, Reihan menemukan sebuah amplop cokelat tua.
Isinya bukan dokumen perusahaan. Melainkan sebuah foto asli dari lokasi kecelakaan truk dua puluh tahun lalu. Di balik foto itu, ada catatan tangan ayahnya yang belum pernah ia lihat: "Maafkan aku, Wijaya. Rem itu tidak blong karena usia. Aku tahu siapa yang memotong kabelnya, tapi jika aku bicara, kita berdua akan tamat."
Tangan Reihan gemetar. Jadi, ayahnya tahu siapa pembunuh sebenarnya, dan ia memilih diam untuk melindungi sesuatu atau seseorang.
Sementara itu di ruko, seorang pria tua dengan pakaian sangat sederhana namun rapi masuk ke toko. Ia tidak memesan donat. Ia hanya duduk di pojok, menatap Laluna yang sedang melayani pelanggan dengan pandangan yang penuh kerinduan sekaligus kepedihan.
Bumi, yang sedang membersihkan meja, mendekati pria itu. "Bapak cari siapa? Mau pesan donat warisan saya? Rasanya bikin teringat kampung halaman loh."
Pria itu tersenyum tipis, matanya beralih ke Bumi. "Kau mirip sekali dengan ayahmu, Bumi. Dan gadis itu... dia persis seperti Sari."
Laluna yang mendengar nama ibunya disebut, langsung menghampiri meja tersebut.
"Anda mengenal ibu saya?"
Pria itu berdiri, topi tuanya ia remas di tangan. "Nama saya Darma. Saya adalah mekanik yang dulu merawat truk kakekmu... truk yang membunuh ayah Reihan."
Laluna membeku. Suasana di ruko yang tadinya ceria seketika berubah menjadi sunyi yang mencekam.
"Saya datang bukan untuk minta maaf," ucap Darma dengan suara berat. "Saya datang untuk memberitahumu bahwa kecelakaan itu bukan kelalaian. Itu adalah eksekusi. Dan orang yang memerintahkannya... masih duduk di kursi direksi Arta Wiguna hingga hari ini."
Di saat yang sama, ponsel Laluna berdering. Pesan dari Reihan: "Luna, jangan percaya pada siapapun yang datang ke toko hari ini. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Tetaplah bersama Bumi."
Laluna menatap Darma, lalu menatap Bumi yang sudah bersiap dengan spatula besi di tangannya .