Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
POV: WAHYU
Minggu setelah putusan bebas ayahnya, Wahyu bangun dengan perasaan yang tidak langsung bisa dia identifikasi.
Bukan lega—atau bukan hanya lega. Lega itu sudah dia rasakan sejak detik hakim membacakan putusannya, sejak kata-kata itu keluar dan mengisi udara ruang sidang yang pengap dengan sesuatu yang terasa seperti oksigen yang terlalu lama tidak tersedia.
Yang dia rasakan sekarang lebih seperti... disorientasi.
Selama delapan tahun—separuh lebih dari hidupnya yang bisa dia ingat dengan jelas—ada satu hal yang selalu hadir sebagai latar belakang dari semua yang dia lakukan. Seperti suara mesin yang terus berdengung, tidak keras, tapi selalu ada. Kasus ayahnya. Utang yang harus dibayar, tidak dalam bentuk uang tapi dalam bentuk waktu, tenaga, dan pilihan-pilihan hidup yang dibuat dengan pertimbangan yang tidak seharusnya harus dipikirkan oleh seseorang seusianya.
Dan sekarang dengung itu berhenti.
Bukan pelan-pelan. Tapi tiba-tiba. Satu ketukan palu hakim, dan semuanya berhenti.
Wahyu berbaring di kasurnya, menatap langit-langit kamar kost yang sudah sangat dia kenal setiap retakannya.
Hening yang tidak biasa.
Bukan hening yang menyesakkan seperti dulu—hening malam-malam ketika dia terlalu lelah untuk tidur tapi terlalu kosong untuk melakukan apa pun. Ini hening yang berbeda. Lebih lapang.
Seperti ruangan yang selama bertahun-tahun penuh sesak dengan barang-barang dan tiba-tiba dikosongkan. Terasa aneh karena tidak terbiasa, tapi juga terasa seperti ada kemungkinan baru di sana.
Dia mengambil ponselnya.
Pukul enam lewat dua puluh. Hari Minggu.
Tidak ada pesan mendesak—hanya notifikasi dari firma Sinar Keadilan tentang proyek baru yang akan masuk minggu depan, dan satu pesan dari Ardi yang dikirim malam tadi.
Ardi: "Yu, gue dengar kabar tentang ayah lo. Alhamdulillah. Lo pasti lega banget. Take your time ya, urusan BEM bisa dihandle yang lain dulu."
Wahyu membaca itu dua kali.
Ardi tahu.
Wahyu tidak heran—dia tidak pernah secara eksplisit cerita ke Ardi tentang kasus ayahnya, tapi di BEM yang cukup erat seperti ini, informasi bergerak dengan caranya sendiri. Mungkin Bagas yang tahu dari seseorang. Mungkin Siska yang kebetulan dengar sesuatu.
Wahyu mengetik balasan singkat.
Wahyu: "Terima kasih. Aku tetap hadir untuk hal-hal yang sudah dijadwalkan."
Ardi: "Lo nggak perlu—"
Wahyu: "Aku mau."
Karena itulah yang membuat Wahyu tetap waras—struktur. Rutinitas. Hal-hal yang perlu dikerjakan dan punya deadline yang jelas. Kasus ayahnya mungkin sudah selesai, tapi kuliah tetap ada, BEM tetap ada, proyek firma tetap ada.
Hidup tidak berhenti menunggu seseorang selesai merasakan sesuatu.
Wahyu bangkit, mandi, membuat kopi dari sachet yang dia beli tiga hari lalu—kopi instan biasa, bukan yang mahal, kebiasaan yang belum berubah meskipun pendapatannya sudah lebih baik. Lalu duduk di meja belajarnya, membuka laptop.
Ada satu dokumen yang perlu dia selesaikan: bab terakhir dari makalah Filsafat Hukum yang deadline-nya Jumat. Sebenarnya tinggal satu halaman lebih—tentang kesimpulan dan implikasi dari argumen tentang keadilan substansial versus prosedural.
Tapi pagi ini, Wahyu membuka halaman itu dan membaca ulang dari awal.
Bukan untuk mengedit—tapi karena dia ingin membaca apa yang dia tulis dari sudut pandang yang berbeda. Dari sudut pandang seseorang yang kemarin menyaksikan keadilan itu akhirnya bekerja, meskipun delapan tahun terlambat.
"...Keadilan prosedural dan substansial bukan dua hal yang selalu sejalan. Sistem hukum yang mengikuti semua prosedur dengan benar masih bisa menghasilkan ketidakadilan substansial jika prosedur itu sendiri tidak dirancang untuk melayani mereka yang paling membutuhkan. Sebaliknya, keadilan substansial tanpa prosedur yang jelas membuka pintu bagi subjektivitas dan penyalahgunaan.
Yang dibutuhkan adalah sistem yang menempatkan keadilan substansial sebagai tujuan dan prosedur sebagai alat—bukan sebaliknya. Ketika prosedur menjadi tujuan, yang terlayani adalah sistem. Ketika keadilan menjadi tujuan, yang terlayani adalah manusia.
Indonesia, dengan kasus-kasus yang menggambarkan bagaimana proses hukum yang panjang dan mahal bisa menjadi beban terbesar bagi mereka yang paling membutuhkan keadilan, masih berada dalam perjalanan menemukan keseimbangan itu..."
Wahyu berhenti membaca di paragraf itu.
Kasus-kasus yang menggambarkan bagaimana proses hukum yang panjang dan mahal bisa menjadi beban.
Dia menulis itu dua minggu lalu. Sebelum putusan keluar.
Dan sekarang, membacanya kembali, kata-kata itu terasa berbeda—lebih berat, lebih nyata, lebih terhubung dengan sesuatu yang dia alami secara langsung dan bukan hanya dari buku atau artikel jurnal.
Wahyu mengetik satu kalimat terakhir di kesimpulan makalahnya.
"Sistem hukum yang adil bukan hanya yang menghasilkan putusan yang benar, tapi yang tidak memerlukan delapan tahun dan pengorbanan yang seharusnya tidak perlu terjadi untuk sampai pada kebenaran itu."
Dia membaca kalimat itu.
Lalu menyimpan dokumen.
Siang harinya, Wahyu pergi ke kantin kampus tiga—bukan karena ada urusan, tapi karena kostnya terasa terlalu sunyi untuk ditinggali sendirian hari ini.
Kebiasaan baru yang masih terasa tidak sepenuhnya miliknya—pergi ke tempat ramai bukan untuk menyelesaikan sesuatu tapi hanya untuk tidak sendirian.
Dia memesan nasi ayam dan duduk di sudut. Mengeluarkan buku bacaan—bukan buku kuliah, tapi novel terjemahan yang dia beli di toko buku bekas sebulan lalu dan belum sempat dibaca.
Membaca sampai setengah jam, makanannya habis, kopinya habis.
Ponselnya bergetar.
Dari Riani.
Riani: "Lagi apa?"
Wahyu: "Di kantin kampus 3. Baca buku."
Riani: "Oh! Buku apa?"
Wahyu: "Novel. Beli sebulan lalu tapi baru bisa dibaca sekarang."
Riani: "Judul?"
Wahyu: "The Remains of the Day. Kazuo Ishiguro."
Tiga titik muncul, lama sekali, menandakan Riani sedang mengetik balasan yang panjang.
Riani: "WAHYU. Itu salah satu novel paling menyakitkan yang pernah ada. Tentang orang yang hidupnya dihabiskan untuk bekerja keras dan dedikasi sampai dia kehilangan hal-hal yang sebenarnya penting—hubungan, perasaan, kesempatan yang sudah berlalu. Dan di akhir baru dia sadar betapa banyak yang sudah terlewat."
Wahyu membaca itu.
Lalu menatap novel di tangannya.
Wahyu: "Aku baru sampai halaman 40."
Riani: "Baca sampai habis. Tapi siapkan mental. Dan setelah selesai aku mau dengar pendapatmu."
Wahyu: "Kenapa kamu seperti sudah tahu aku akan merasakan sesuatu yang spesifik dari buku itu?"
Balasan Riani datang setelah beberapa detik.
Riani: "Karena kamu adalah seseorang yang sangat familiar dengan konsep 'mendedikasikan hidup untuk satu hal sampai hal-hal lain terlewat'. Dan novel itu berbicara langsung tentang itu. Tapi juga tentang bagaimana masih ada waktu—meskipun tidak sempurna—untuk meraih kembali apa yang belum sepenuhnya hilang."
Wahyu membaca pesan itu beberapa kali.
Wahyu: "Kamu sengaja merekomendasikan buku ini?"
Riani: "Aku tidak merekomendasikan. Aku cuma bereaksi waktu kamu sebut judulnya. Itu kebetulan."
Wahyu: "Kebetulan yang terasa terlalu tepat."
Riani: "Atau kamu yang terlalu suka mencari makna tersembunyi di segala sesuatu 😄"
Wahyu meletakkan ponsel, menatap novel di tangannya lagi.
Lalu membuka halaman empat puluh satu dan melanjutkan membaca.
Malam harinya, Wahyu menelepon ibunya.
Bukan karena ada hal urgent yang perlu dibicarakan—hanya karena dia merasa ingin mendengar suara ibunya.
Juga kebiasaan baru.
"Yu! Baru ingat Ibu?" suara ibunya terdengar hangat—sedikit bercanda tapi bukan yang menyalahkan.
"Nggak, Bu. Cuma mau nelepon."
"Oh." Jeda singkat, seperti ibunya perlu waktu untuk menyesuaikan bahwa Wahyu menelepon tanpa alasan yang spesifik. "Bagaimana keadaanmu?"
"Baik. Tadi baca buku seharian."
"Bukan buku kuliah?"
"Novel."
"Wah." Nada ibunya terdengar seperti seseorang yang baru mendengar sesuatu yang tidak biasa tapi menyenangkan. "Sudah lama sekali Ibu nggak dengar kamu bilang baca novel."
Wahyu tidak menjawab, karena itu benar.
"Bapak gimana, Bu?"
"Tidur siang tadi, baru bangun. Sepertinya tubuhnya bereaksi terhadap... semuanya. Dokter bilang wajar—stres kronis yang tiba-tiba terangkat itu efeknya ke fisik juga."
"Ada yang perlu dikawatirkan?"
"Nggak. Dokter bilang justru bagus—artinya tubuhnya mulai bisa relaks. Cuma perlu istirahat lebih banyak untuk beberapa waktu."
Wahyu mengangguk meskipun ibunya tidak bisa melihatnya. "Kalau ada yang perlu, bilang ya."
"Iya. Kamu juga jaga kesehatan di sana. Makan yang bener."
"Iya, Bu."
"Dan Yu—" Ibunya berhenti sebentar. "Terima kasih sudah ada selama ini. Ibu tahu ini berat buat kamu juga. Kamu tidak pernah mengeluh, tidak pernah bikin Ibu dan Bapak khawatir lebih dari yang perlu. Ibu bangga sama kamu."
Wahyu menelan sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.
"Bapak yang kuat selama ini, Bu."
"Kamu juga. Kalian berdua. Dan sekarang bisa lepas beban itu."
Wahyu menatap langit-langit kamarnya.
Bisa lepas beban itu.
Delapan tahun.
Mungkin perlu delapan tahun juga untuk sepenuhnya merasakannya.
Tapi untuk malam ini, mendengar suara ibunya yang terdengar lebih ringan dari yang sudah lama dia dengar, itu sudah cukup.
Bersambung.....