NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Resep Rahasia Nenek

​Satu bulan berlalu sejak rapat gila yang (konon kabarnya) mengancam karier Arka itu terjadi. Dan kini, pemandangan di luar jendela kedai Kala Senja benar-benar sudah berubah menjadi medan perang.

​Pagar seng tinggi berwarna biru memblokir pandangan, mengelilingi area belakang, samping, dan sebagian depan kedaiku. Mereka hanya menyisakan satu lorong sempit bertabur kerikil untuk akses masuk pelanggan.

​Bruk! Jduarr! Getaran dari dentuman paku bumi merambat lewat lantai kayu, menjalar naik hingga ke telapak kakiku. Suara mesin pengeruk tanah dan bor beton dari proyek Cipta Megah menjadi musik latar yang sukses membuat telingaku berdenging sepanjang hari. Tapi yang paling membuatku nyaris gila adalah debunya. Jalanan yang biasanya kusapu bersih setiap pagi kini tertutup lapisan debu tebal berbau tanah galian dan semen basah.

​Aku menggosok kaca jendela depan dengan kain lap untuk ketiga kalinya hari ini. Napasku memburu karena kesal.

​Arka sialan. Perusahaannya sialan. Ini sih namanya membunuh usahaku secara perlahan, rutukku dalam hati sambil menekan semprotan pembersih kaca dengan tenaga ekstra.

​"Kacanya bisa bolong beneran kalau lo ngelapnya pakai emosi kayak gitu,"terdengar bisikan.

​Suara bariton itu...suara yang belakangan ini kelewat familier di telingaku terdengar menembus derau mesin proyek di luar.

​Aku menoleh tajam, siap menyemburkan omelan yang sudah kusiapkan sejak pagi. Tapi, kata-kata itu tertahan di tenggorokan begitu melihat sosok yang baru saja melangkah masuk melewati pintu kedai.

"​Arka!,"Senja tertegun terkejut.

​Pria itu tidak mengenakan jas desainer andalannya. Ia hanya memakai kemeja abu-abu polos yang lengan panjangnya sudah dilipat asal-asalan hingga siku. Sepatu kulit mahalnya yang biasa mengkilap seperti cermin kini tertutup lapisan debu abu-abu. Namun, yang membuatku tertegun adalah wajahnya.

​Ya Tuhan, dia kelihatan seperti mayat hidup, batinku terkesiap.

​Rambutnya sedikit berantakan. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat sangat pekat, dan kulit wajahnya tampak pucat kusam. Pria itu tampak seperti prajurit yang baru saja diseret keluar dari parit peperangan. Tanpa berkata-kata lagi, Arka menarik kursi di meja bundar favoritnya, meletakkan MacBook-nya dengan gerakan berat, lalu bersandar dan memejamkan mata. Dadanya naik turun, membuang napas yang terdengar luar biasa lelah.

​Niatku untuk marah-marah sedikit goyah, tapi ego menahanku.

​"Gimana gue nggak emosi tiap hari, Ka? Proyek lo tuh bikin debunya masuk ke mari semua!" omelku, meski volume suaraku otomatis turun satu oktaf dari yang kurencanakan.

​Aku berjalan cepat ke balik bar. Walau mulutku masih nyerocos, anehnya, tanganku bergerak secara mekanis mengambil gelas plastik tebal dan mulai mengekstraksi espresso. "Kemarin ada customer gue yang bersin-bersin sampai kopinya tumpah. Kalau pada kabur gara-gara tempat gue kotor, lo mau tanggung jawab gantiin omset gue?"

​Hubungan kami sebulan ini memang berada di area abu-abu yang membingungkan. Tidak bisa dibilang musuh, karena Arka terbukti benar-benar menepati janjinya mengubah cetak biru mall demi tempat ini. Tapi juga belum pantas disebut teman. Kami hanya... dua manusia yang terpaksa terbiasa dengan kehadiran dan omelan satu sama lain.

​"Sori," suara Arka terdengar serak. Ia membuka matanya, sebelah tangannya memijat pangkal hidungnya pelan. "Sori banget, Nja. Nanti gue suruh mandornya pasang jaring paranet ekstra dua lapis di sisi timur biar debunya ketahan. Mesin bor juga udah gue instruksikan buat berhenti total kalau jam makan siang dan jam lo tutup kedai."

​Gerakan tanganku yang sedang menuangkan air es ke dalam gelas mendadak terhenti.

​Dia tidak mendebatku?. Dia tidak memberikan argumen bisnis yang menyebalkan?!,batin Senja heran. Mendengar nada suaranya yang pasrah dan kosong itu, sisa-sisa amarahku menguap tak berbekas. Rasa kesal yang tadi membakar ubun-ubunku perlahan luntur, digantikan oleh rasa bersalah yang aneh.

​Arka jadi seperti ini... karena dia sedang memperjuangkan tempat ini, kesadaran itu menghantam dadaku. Dia bertarung melawan ayahnya sendiri, melawan seluruh jajaran direksi, setiap hari, hanya agar kedai reot ini tidak dihancurkan.

​Aku menutup cup Iced Americano itu dalam diam. Aku berjalan keluar dari bar, mengantarkan gelas yang mengembun itu ke mejanya. Dan entah dorongan dari mana, aku menarik kursi kayu di seberangnya dan ikut duduk. Toh, kedai memang sedang lumayan sepi siang itu gara-gara getaran paku bumi.

​Arka tidak langsung meminum kopinya. Ia hanya menatap es batu yang mengambang di permukaan cairan hitam itu.

​"Lo pucat banget," komentarku pelan, membiarkan pertahananku turun sepenuhnya. Mataku meneliti wajahnya terang-terangan. "Kurang tidur ya? Atau telat makan?," tanya Senja dengan ekspresi sedikit khawatir.

​Arka menghela napas, meraih gelas itu dan menyesapnya panjang. Begitu kafein dan suhu dingin menyentuh tenggorokannya, aku bisa melihat otot rahangnya yang sedari tadi menegang perlahan rileks.

​"Biasa," jawabnya, suaranya sedikit lebih bertenaga. "Meeting sama supplier material nggak kelar-kelar dari jam tujuh pagi tadi. Biaya pembengkakan pondasi bikin vendor pada rewel. Ditambah... bokap gue lagi rese banget belakangan ini. Dia sengaja nyari-nyari celah kesalahan sekecil apa pun di proyek ini cuma buat nekan gue secara psikologis."

​Aku menopang dagu dengan kedua tangan. Rasa ngilu tiba-tiba menyusup ke dadaku. "Lo nyesel nggak sih, Ka?!."

​Arka menatapku, keningnya berkerut. "Nyesel kenapa?."

​"Nyesel belain tempat ini," jawabku, nyaris berbisik. "Maksud gue... lo rela berantem sama dewan direksi, sama bokap lo sendiri. Karier dan jabatan lo jadi taruhan cuma buat pertahanin warung kopi kecil ini. Lo kan bisa aja cari jalan aman dari awal. Lo tinggal kirim ekskavator, bayar kompensasi, dan hidup lo bakal tenang-tenang aja di kantor ber-AC lo."

​Arka terdiam cukup lama. Jari-jarinya yang besar perlahan mengusap embun di luar gelas plastiknya, meninggalkan jejak air di sana. Matanya yang gelap membalas tatapanku.

​"Nggak!," jawabnya. Singkat, padat, dan tanpa sedikit pun keraguan.

​Arka kemudian Memalingkan wajahnya. Matanya mengedari ruangan, menatap deretan stoples kaca, foto polaroid Nenek yang menempel di dinding bata, dan jejak-jejak usang di meja kayu.

​"Di dunia gue, Senja, semuanya itu transaksional," suara Arka memecah suara bising di luar. "Lo kasih gue duit, gue kasih lo project. Lo senyum ramah ke orang cuma karena lo butuh networking dari dia. Lo pura-pura baik di depan musuh lo demi menyelamatkan reputasi perusahaan,"Arka menjelaskan santai.

​Arka kembali menatapku, dan kali ini tatapannya terasa begitu telanjang. "Semuanya serba kalkulatif. Semuanya palsu. Nggak ada orang yang bener-bener peduli lo mati atau hidup, selama dividen akhir tahun mereka cair."

​Ia mengetuk pelan gelas kopinya. "Tapi di sini... lo bikin kopi karena lo emang pengen orang yang minum ngerasa baikan. Tempat ini rasanya... jujur. Nggak ada yang pura-pura. Gue butuh tempat kayak gini buat tetap waras, Nja," Arka menjelaskan dengan senyuman tipis.

​Aku tertegun, seolah baru saja disiram air dingin. Aku tidak menyangka Arka akan berbicara se-terbuka dan se-rentan itu padaku. Pria yang dari luar terlihat memiliki segalanya—uang tak berseri, kekuasaan, wajah tampan—ternyata menyimpan kekosongan dan kesepian yang begitu menggema di dalam dadanya.

​Bibirku melengkung membentuk senyum tipis. Tiba-tiba aku teringat memori bertahun-tahun silam.

​"Nenek gue dulu pernah bilang," ucapku, membiarkan suaraku mengalun lembut. "Kopi itu punya sifat menyerap emosi orang yang bikinnya."

​Arka mengangkat wajahnya, mendengarkan dengan saksama.

​"Makanya resep rahasia kedai ini tuh bukan di harga mesinnya yang mahal atau seberapa premium biji kopinya, Ka," aku menatap mesin espressoku yang berumur belasan tahun itu, lalu kembali menatap Arka. "Tapi di hati baristanya. Kalau hati gue lagi berantakan, marah, atau sedih, seduhannya pasti ikutan kacau. Ekstraksinya berantakan, rasanya jadi lebih asem atau pait yang nyangkut di tenggorokan."

​Arka menaikkan sebelah alisnya. Mata lelahnya tiba-tiba berkilat, dan sebuah senyum miring yang sangat menyebalkan—namun anehnya sangat kurindukan—muncul di bibirnya yang pucat.

​"Oh..." Arka pura-pura mengangguk paham. "Pantesan waktu minggu pertama gue dateng ke sini bawa map cokelat, besoknya kopi buatan lo rasanya pait banget kayak racun tikus. Lo lagi mau buat gue mati tersedak ya waktu itu?"

​Mataku membulat. Wajahku mendadak terasa panas. "Itu mah beda cerita!" semburku, refleks memukul lengannya dengan buku menu yang ada di meja. "Kalau itu sih gue sengaja tambahin ekstrak robusta paling gosong yang ada di gudang belakang! Habisnya lo ngeselin banget, dateng-dateng bawa payung item gaya-gayaan sok jadi bos mafia!"

​Arka meledak dalam tawa.

​Ia benar-benar tertawa lepas, sampai bahunya terguncang dan kepalanya sedikit mendongak. Suara tawanya renyah, berat, dan menyapu bersih semua aura kelelahan yang sejak tadi menempel di wajahnya.

​Melihatnya tertawa seperti itu, aku tidak bisa menahan diriku. Aku ikut tertawa bersamanya.

​Siang itu, di tengah debu yang beterbangan, dibalut suara bising mesin bor dan dentuman paku bumi yang menggetarkan meja kami, sebuah keajaiban kecil terjadi. Sekat tebal berupa status sosial, amarah masa lalu, dan ego yang selama ini membatasi duniaku dan dunia Arka... seolah luruh sepenuhnya.

​Untuk pertama kalinya, kami bukan lagi seorang direktur dan pemilik kedai yang sedang berseteru. Kami hanya dua manusia biasa yang menemukan tempat berlindung pada tawa satu sama lain.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!