“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Koridor lantai VIP hotel itu mulai terasa sepi. Para tamu sebagian keluarga memilih pulang setelah memastikan acara pernikahan berjalan lancar.
Sementara Hanan dan Kayla, kini berjalan berdampingan menuju kamar yang telah disiapkan untuk mereka.
Langkah Kayla sedikit pelan. Gaun pengantin yang masih ia kenakan membuat geraknya tidak terlalu bebas. Di tangannya, ia masih menggenggam buket bunga yang sejak tadi dibawanya.
Hanan yang berjalan di sampingnya sesekali melirik istrinya. Masih terasa aneh baginya. Canggung dan sedikit kaku.
Sesampainya di depan kamar, Kayla menghela napas pelan sebelum membuka pintu dengan kartu akses yang diberikan panitia hotel.
Pintu terbuka perlahan. Namun baru saja Kayla melangkahkan kaki melewati ambang pintu—
"Anjirr!" Kayla terkejut. Ia langsung berhenti di ambang pintu.
Tubuhnya bahkan sedikit mundur karena kaget. Hanan yang berjalan tepat di belakangnya langsung berhenti.
"Kenapa?" tanya Hanan heran.
Kayla masih terpaku menatap ke dalam kamar. Wajahnya berubah antara kaget, bingung, dan… sedikit malu.
"Ini, kamarnya—" Kayla bahkan tidak melanjutkan kalimatnya.
Hanan yang penasaran akhirnya sedikit mencondongkan tubuhnya dari belakang Kayla.
Ia mengintip dari samping bahu istrinya. Namun begitu matanya melihat isi kamar…
Hanan ikut terdiam. Beberapa detik mereka hanya berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang sama-sama bingung.
Kamar VIP itu benar-benar sudah berubah seperti kamar pengantin di film-film romantis.
Lampu kamar diredupkan dengan cahaya hangat. Kelopak bunga mawar merah tersebar di lantai, membentuk jalur menuju tempat tidur.
Di atas tempat tidur king size itu, kelopak bunga juga disusun membentuk hati besar.
Beberapa lilin aromaterapi menyala di sudut-sudut ruangan.
Suasananya, terlalu romantis. Sangat romantis. Bahkan bagi Kayla yang biasanya santai, dekorasi itu membuat wajahnya langsung panas.
"Apakah ini fasilitas hotel?" tanya Hanan pelan sambil mengernyit.
Kayla langsung menggeleng cepat.
"Tapi aku gak ada request," kata Kayla bingung.
Ia benar-benar tidak memesan dekorasi seperti ini. Panitia keluarga juga tidak pernah membicarakan hal seperti ini sebelumnya.
Keduanya akhirnya masuk perlahan ke dalam kamar. Mereka berjalan masuk sambil menatap sekeliling ruangan.
Kelopak bunga bahkan sampai menghiasi meja, sofa kecil, hingga kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka. Kayla sampai menutup wajahnya sebentar dengan telapak tangan.
"Ya Allah… ini siapa sih yang ngelakuin beginian…"
Namun saat pandangannya beralih ke tempat tidur… Kayla kembali mengerutkan kening.
Di tengah kamar terdapat tempat tidur besar berseprai putih yang dihiasi kelopak bunga mawar merah yang disusun membentuk pola hati. Kelopak bunga itu tersebar lembut di atas ranjang, menambah kesan romantis pada ruangan.
Di atas tempat tidur terdapat beberapa hadiah yang menarik perhatian:
Sebuah bucket uang yang disusun seperti buket bunga, berisi lembaran uang kertas yang dilipat rapi dan dibungkus kertas merah elegan.
Di tengahnya ada sebuah kotak merah terbuka yang di dalamnya terdapat set pakaian dinas yang berwarna merah terang menyala, dihias dengan pita emas. Lalu di sebelahnya ada sebuah bucket laknat lagi, yang mana bucket itu berisi berbagai rasa pengaman pasutri.
Kayla mengambil secarik kertas di atas box lingerie itu.
Kertas itu dilipat kecil. Tapi begitu dibuka, tulisan tangan yang sangat ia kenal langsung terlihat. Kayla membaca tulisan itu dengan suara lirih.
“Happy wedding kesayangan kami 😚 selamat melepas perawan. Semoga pernikahan kamu bahagia ya sayang. Sakinah mawaddah dan warahmah. Sorry, kami hanya bisa memberikan sedikit hadiah buat kamu. Semoga kamu suka dan permainan kalian semakin menyala!
Have fun sayang,
From : Adelia, Ditha and Zayn.”
Seketika wajah Kayla berubah drastis. Mulutnya menganga sebentar sebelum akhirnya mengatup rapat. Jadi semua ini kelakuan para sahabatnya. Tangannya yang memegang kertas itu langsung meremasnya kuat-kuat.
Napasnya memburu. Dadanya naik turun menahan emosi. Di kepalanya sudah muncul bayangan wajah tiga sahabatnya itu yang pasti sedang tertawa puas sekarang.
“Astaga! ini mereka kesambet apaan!" Kayla memejamkan matanya. Ia menarik napas panjang. Dalam. Lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menenangkan diri. Ia benar-benar berusaha menahan rasa kesalnya agar tidak meledak.
Di belakangnya, Hanan yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa menatap istrinya dengan rasa penasaran.
“Siapa?” tanya Hanan penasaran.
Kayla membuka matanya. Ia menoleh ke arah Hanan dengan wajah kesal.
“Orang gila!” jawab Kayla ketus.
Tanpa menunggu reaksi suaminya, Kayla langsung meraih bucket besar berisi kondom yang tadi diletakkan di atas ranjang.
Wajahnya semakin merah saat melihat benda-benda itu. “Kurang kerjaan banget…”
Ia berjalan cepat ke arah tempat sampah di sudut kamar. Kayla langsung memasukkan bucket itu ke dalam tempat sampah tanpa ragu. Seolah sedang membuang barang paling memalukan di dunia.
Sementara itu, Hanan yang berdiri tidak jauh darinya, memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya dengan senyum kecil yang masih tertahan.
Beberapa detik keheningan memenuhi kamar yang masih dipenuhi kelopak bunga mawar itu. Akhirnya Hanan membuka suara.
“Kenapa dibuang?” tanya Hanan penasaran.
Nada suaranya terdengar santai, namun jelas ia benar-benar ingin tahu.
Kayla mendengus pelan. Ia menoleh sebentar ke arah tempat sampah, lalu kembali menatap Hanan.
“Gak penting, biarin aja,” kata Kayla masih kesal.
Ia lalu berjalan ke arah meja kecil di samping tempat tidur. Tangannya meraih ponselnya yang sejak tadi diletakkan di sana.
Begitu layar menyala, Kayla langsung membuka aplikasi pesan. Grup chat sahabatnya langsung muncul di bagian atas.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan tombol panggilan grup. Nada sambung berbunyi.
Sekali…
Dua kali…
Tiga kali…
Namun tidak ada yang menjawab. Kayla mengerutkan kening. Ia mencoba lagi. Tetap sama tidak ada respon. Membuat Kayla langsung menghela napas kesal.
“Pasti sengaja nih!” sungut Kayla semakin kesal.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan sedikit keras. Hanan yang melihat tingkah istrinya hanya tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat. Dengan lembut ia mengambil ponsel Kayla dari atas meja.
“Jangan marah-marah,” ucapnya pelan.
Kayla menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan wajah Hanan yang terlihat begitu tenang.
Sorot mata laki-laki itu teduh. Senyumnya lembut. Bahkan nada suaranya terasa menenangkan. Kayla sampai terdiam beberapa detik. Ia menyadari sesuatu. Sifat Hanan benar-benar berbanding terbalik dengannya.
Jika Kayla mudah tersulut emosi… Hanan justru seperti air yang menenangkan.
“Tapi mereka rese,” kata Kayla pelan, nadanya sudah tidak sekeras tadi.
“Mereka hanya memberi,” katanya lembut seraya tersenyum kecil, “Kamu hanya perlu menerima.”
“Tapi—”
Hanan menggeleng pelan, masih dengan senyum sabarnya. “Jika tidak suka, tidak perlu dipakai,” lanjutnya tenang.
Ia kemudian meletakkan kembali ponsel Kayla di meja. “Kita harus menghargai pemberian orang. Suka atau tidak, terima saja. Untuk di pakai atau tidak, itu hak kamu.’’
Ucapan itu membuat Kayla terdiam. Beberapa detik ia hanya menatap Hanan. Lalu pandangannya perlahan turun ke arah tempat sampah di sudut kamar.
Kayla menghela napas panjang. Perlahan rasa kesalnya mulai mereda. Meskipun di dalam hati ia masih ingin menjewer telinga Adel, Ditha, dan Zayn jika bertemu nanti.
‘Emang dasar temen laknat! titisan dajjal semua!'
kenapa banyak bawang bombai di sini sich.......😭😭😭😭😭😭😭
😭😭😭
aku sllu meninggalkan jejak loh ya😃😃😃
jangan banyak pikiran Kayla nanti takutnya ngaruh ke kandungan mu 🤭
semoga nanti persalinannya lancar ya Kayla..