NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Bad Boy / Fantasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.

​Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?

​Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.

​Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

​Lulu akhirnya tertidur dengan senyum manis di wajahnya. Yudha yakin, malam ini gadis kecil itu akan mendapatkan mimpi yang indah.

​Yudha melangkah keluar gubuk dan mendapati Fajri sedang santai merokok dengan tatapan penuh arti. Yudha bertanya dengan nada sangsi, "Kenapa dia belum bisa melihat apa-apa padahal semua sumbatannya sudah kubersihkan?"

​Fajri menatap Yudha seolah-olah Yudha adalah orang bodoh. Ia menggelengkan kepala. "Memangnya kamu pikir aku memberinya pil dewa? Penyakit itu butuh waktu untuk pulih sepenuhnya. Fungsi organ tubuhnya harus beradaptasi kembali. Aku berani jamin, selain aku, hampir tidak ada orang di dunia ini yang bisa menyembuhkan mata gadis itu."

​"Cih, sombong sekali. Aku membawanya ke sini cuma mau coba peruntungan saja. Bukan berarti cuma kamu yang bisa!" sahut Yudha tak mau kalah.

​Fajri menyeringai tipis. "Penyakit ini sudah mengendap lebih dari lima tahun. Kalau memang ada orang lain yang bisa, kenapa keluarganya belum berhasil menyembuhkannya sampai sekarang?"

​Yudha terdiam, kata-kata Fajri ada benarnya juga.

​"Sudahlah! Cepat bersiap dan pergilah dari sini. Jangan lupa bawa rokok dan kopi enak kalau mampir lagi nanti. Besok dia pasti sudah bisa melihat. Kamu juga harus segera kembali ke Bandung, kan?" ujar Fajri mengingatkan.

​Yudha mengangguk mantap. "Benar. Aku sudah terlalu lama pergi, sudah saatnya aku pulang."

​Keesokan paginya, Yudha sudah berada di kamar Lulu saat fajar baru saja menyingsing. Menatap Lulu yang matanya masih tertutup kain kasa, Yudha berpaling pada Fajri dengan raut cemas. "Kapan kita bisa membuka perbannya?"

​Fajri melirik jam tangannya, lalu mengangguk khidmat ke arah Yudha yang sudah tampak tidak sabaran. "Sepertinya sudah waktunya. Sekarang sudah siap."

​Mendengar itu, Yudha tak lagi mampu menahan diri. Ia melangkah maju, mendekat ke arah Lulu yang berbaring tenang di atas tempat tidur. "Lulu, tahan sebentar ya. Kakak akan bantu membuka penutup matamu," bisiknya lembut.

​Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Yudha mulai melepas lilitan kain kasa itu satu per satu.

​"Lulu, sekarang coba buka matamu pelan-pelan," ujar Yudha dengan suara yang bergetar karena antusias.

​Sesaat kemudian, kelopak mata Lulu yang selama ini terkatup rapat mulai bergerak, perlahan terbuka menyambut dunia.

​Lulu akhirnya membuka matanya. Saat sepasang mata yang selama ini redup itu kembali memancarkan binar kehidupan, bukan hanya Yudha yang merasa lega, tapi Fajri pun ikut bersemangat. Bagaimanapun, ini adalah sebuah keajaiban yang berhasil ia wujudkan, dan ia tak bisa menyembunyikan rasa bangganya.

​Yudha dan Fajri sama-sama menahan napas, menatap Lulu dengan perasaan waswas. Sekeras apa pun mereka berusaha meyakinkan diri, hasil akhirnya tetap bergantung pada apa yang akan diucapkan oleh Lulu sendiri.

​"Kak... aku bisa melihat sekarang." Begitu Lulu membuka mata, pandangannya langsung terang benderang. Seluruh dunianya bukan lagi kegelapan yang tanpa batas, melainkan dipenuhi dengan warna-warni yang nyata.

​"Kakak... ini benar Kak Yudha..." Lulu terisak dalam tangis yang pecah karena emosi yang meluap. Setelah bertahun-tahun terjebak dalam kelam, melihat cahaya kembali terasa seperti mimpi yang paling indah. Air mata kebahagiaan adalah gambaran yang paling sempurna untuk saat ini.

​"Lulu, jangan menangis. Kamu sudah bisa melihat lagi sekarang. Kamu harus bahagia!" Yudha menghibur sembari tersenyum lebar.

​"Iya!" Lulu mengangguk mantap, lalu menatap wajah Yudha dengan pandangan ingin tahu. Ia mengamati setiap lekuk wajah Yudha dengan saksama. Matanya yang dulu sayu kini menjadi jernih dan bercahaya.

​Yudha mendadak merasa gugup di bawah tatapan intens Lulu. Ia teringat Lulu pernah memujinya ganteng lewat suara, dan ia tidak ingin gadis itu menarik kata-katanya setelah melihat aslinya. Memikirkan hal itu, Yudha refleks duduk tegak, memasang pose terbaiknya agar terlihat seperti pria idaman di mata Lulu.

​Untungnya, setelah puas memandangi Yudha, Lulu tiba-tiba terkikik dan berkata, "Kak Yudha ternyata lumayan juga ya."

​"Duh!" Yudha langsung merasa sedikit kecewa. Apa maksudnya dengan 'lumayan'? Pria setampan dirinya ternyata hanya dianggap biasa saja oleh gadis kecil ini.

​"Kak, terima kasih banyak. Aku bahagia sekali hari ini. Kalau Ayah dan Ibu melihatku begini, mereka pasti juga akan sangat bahagia." Lulu memeluk lengan Yudha, menyandarkan wajah kecilnya yang manis di bahu pria itu dengan penuh kasih sayang.

​Aroma lembut yang manis tercium oleh Yudha, membuatnya tak tahan untuk tidak membalas pelukan Lulu dengan erat.

​"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"

​Tepat saat suasana sedang syahdu, suara batuk yang dibuat-buat terdengar dari samping, membuat Yudha dan Lulu tersentak. Mereka menoleh dan melihat si petapa muda itu masih berdiri di sana, menatap mereka dengan tatapan yang seolah berkata 'aku tidak tahan lagi melihat ini'.

​Fajri, sambil memainkan kartu bergambar panda yang ia ambil dari Yudha, menggelengkan kepala dan mendesah dramatis. "Dunia benar-benar sudah gila. Anak muda zaman sekarang sudah jatuh dalam pergaulan seperti ini. Aduh, tempat ini jadi terasa tidak suci lagi!"

​Mendengar celotehan Fajri yang tak henti-hentinya, Yudha merasa sedikit malu. Orang ini usianya tidak jauh beda dengannya, tapi gaya bicaranya seperti kakek-kakek yang sudah makan asam garam kehidupan. Namun, Yudha juga merasa berutang budi; Fajri memang yang menyembuhkan mata Lulu, dan mengabaikannya begitu saja rasanya memang agak keterlaluan.

​Yudha segera menunjuk ke arah Fajri dan memperkenalkannya pada Lulu dengan senyum tipis. "Lulu, perkenalkan, ini Kak Fajri. Dia yang menyembuhkan matamu. Kamu harus berterima kasih banyak padanya!"

Begitu menyadari pandangan Lulu tertuju padanya, Fajri langsung menegakkan punggung. Senyum jenaka yang sedari tadi menghiasi bibirnya lenyap seketika, berganti dengan raut wajah khidmat yang dibuat-buat, seolah-olah ia adalah seorang petapa sakti yang baru turun dari langit. Namun, dengan setelan bajunya yang sudah kusam dan warnanya lebih gelap dari taplak meja tua, rasanya sulit menghubungkan penampilannya dengan citra orang suci yang tak tersentuh duniawi.

​"Kak Petapa, apa Kakak tidak punya uang untuk beli baju? Bajunya kelihatan compang-camping begitu! Nanti aku minta Kak Yudha belikan baju baru buat Kakak, ya?" Mata besar Lulu yang indah menatap Fajri dengan tatapan polos dan penuh kasih kasihan.

​Fajri: "..."

Setelah berpamitan dengan petapa muda itu, Yudha membawa Lulu meninggalkan lereng Gunung Arjuno dan berkendara kembali menuju kota. Sepanjang perjalanan, Lulu tampak sangat bahagia, berkicau tanpa henti layaknya burung gereja di pagi hari. Melihat binar kebahagiaan di wajah Lulu, Yudha merasa sangat puas.

​Namun, Yudha sama sekali tidak menyangka bahwa meski niatnya membawa Lulu adalah untuk kebaikan, keluarga Lulu di rumah justru dilanda kepanikan luar biasa. Mereka melaporkan hilangnya Lulu ke kantor polisi setempat keesokan harinya.

1
Julius Nasution
lama ya updatenya......???
Julius Nasution
kenapa harus diganti nama2 tokohnya. jadi nggak menarik kesannya dipaksakan malah jadi kayak karya jiplakan.
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
🔱⚜㊗️Raden J. Budi. H㊗️⚜🔱
loh loh koq isinya yudha kn mc nya "zhang yuze" koq bs jdi yg laen alurnya ini kemana koq tidak sesuai thor
🔱⚜㊗️Raden J. Budi. H㊗️⚜🔱: kn ini jlid ke 2 sistem penakluk koq bs MC jdi yudha
total 1 replies
Tri Rahayu Amoorea
💪
Tri Rahayu Amoorea
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!