NovelToon NovelToon
Pembantu Gendut Istri Kontrak Sang Majikan

Pembantu Gendut Istri Kontrak Sang Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: Buna Seta

Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.

Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.


Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

"Kartini, kita perlu berbicara," ucap Arga dingin, ketika mereka sudah menjauh dari kamar kakek. Di taman belakang rumah besar itu, Arga berdiri memunggungi Kartini.

"Ada apa, Bos?" Tini bertanya lembut, meskipun hatinya kesal, mengapa Arga berbicara tidak sopan karena telah memunggunginya. Terlepas ia hanya seorang art seharusnya Arga tahu bagaimana harus bersikap.

"Saya telah memutuskan untuk memenuhi keinginan kakek dan Ayah," Arga menatap jauh ke arah jalan raya di mana kemacetan terjadi.

Kartini terkejut, tangannya hampir menjatuhkan botol obat yang sedang digenggamnya. "Bos Arga, jangan main-main, saya tidak bisa menerima itu," jawab Kartini tegas.

"Kamu pikir saya senang menikahi kamu?" Arga balik badan cepat hingga berhadapan dengan Kartini.

"Justru karena kita tidak senang makanya Bos jangan nekat! Saya merawat kakek bukan karena mengharapkan balasan, apalagi pernikahan yang tidak tulus."

"Tapi kita tidak punya pilihan!" Potong Arga dengan nada ketus.

"Saya tidak mau menikah dengan Bos, karena saya sudah punya pacar," Kartini tidak mau ambil resiko karena pernikahan bukan main-main.

"Kamu pikir hanya kamu yang punya pacar? Susah ngomong sama kamu!" Arga benar-benar emosi lalu pergi meninggalkan Kartini.

Kartini masa bodoh, ia lanjut ke kamar kakek. Dalam perjalanan ia berpikir, perlahan-lahan ia akan memberi pengertian kakek agar tidak melanjutkan ide gila ini.

"Kakek minum obat dulu ya..." Kata Kartini, membuka segel obat yang baru saja dibeli oleh supir Arga.

"Kakek bosan minum obat, Kartini," Kakek menutup mulutnya dengan telapak tangan, ia pikir percuma minum obat pun jika hidup hanya merepotkan Kartini.

"Tekanan darah Kakek tinggi loh, minum obat dulu supaya cepat stabil," Kartini membujuk kakek sebisa mungkin, tapi kali ini Kartini menyerah.

**********

Seminggu kemudian, semua bingung karena kondisi kakek semakin mengkhawatirkan, tidak mau makan, apa lagi minum obat.

Siang itu keluarga tengah berkumpul mengelilingi Kakek, termasuk kedua orang tua Arga dan keluarga pamannya termasuk Kenzo dan adiknya. Tetapi kakek mogok bicara. Membuat Arga yang juga di tempat itu resah gelisah.

"Baiklah Kekek, Aku akan menikahi Kartini," ucap Arga. Semua mata tertuju kepadanya, termasuk Kenzo yang melebarkan mata mendengar keputusan Arga.

"Selara kamu ternyata rendah Arga!" batin Kenzo bibirnya tersenyum miring.

Sementara Kartini syok. Padahal selama seminggu ini ia sudah tenang karena tidak ada pembicaraan lagi, tapi kali ini ingin rasanya menolak cepat jika bukan karena khawatir dengan kesehatan kakek.

"Benarkah?" Kakek seketika tersenyum.

"Iya, tapi Kakek makan dulu terus minum obat," ucap Arga, ambil bubur ayam yang sudah Kartini siapkan di atas meja. Arga menyuapi kakek hingga bubur habis, kemudian Kartini memberikan obat.

"Ikut saya," Arga menarik tangan Tini keluar kamar.

"Bos, saya tidak mau menikah denganmu!" Kartini menatap Arga, air matanya mulai menggenang.

 "Saya tidak menyangka jika kamu wanita yang tidak punya hati," Arga mendelik gusar. "Jadi kamu ingin Kakek meninggal?!" Lanjutnya geram.

Kartini pun duduk lemas di lantai, tangisnya pecah. Ia kini terasa berada di tepi jurang. Tidak menerima tawaran Arga artinya membiarkan kakek cepat meninggal. Namun, jika menerima perjodohan ini ia akan menyakiti Teguh dan mengorbankan masa depannya sendiri.

"Saya akan menikahi kamu tapi hanya selama 6 bulan," ucap Arga mengeluarkan map coklat, rupanya ia sudah menyiapkan.

"Maksud Bos nikah kontrak?" Tanya Kartini mendongak menatap mata Arga.

"Benar, setelah beberapa bulan, kita bisa bercerai dengan damai dan saya akan memberikan kompensasi yang layak untuk kamu."

Kartini bingung, ia sebenarnya tidak setuju dengan rencana Arga. Menikah kontrak sama saja membohongi kakek. "Apakah benar-benar tidak ada cara lain, Bos?" Kartini berharap Arga ada cara lain agar keluar dari masalah ini.

"Ini satu-satunya jalan, Tini. Saya harap kamu bisa memahami dan menerima usulan saya segera, sebelum kondisi kakek semakin memburuk," Arga sudah ambil keputusan.

Kartini diam sejenak, batinya bertengkar hebat antara ingin menerima tawaran Arga atau menolak dan pada akhirnya mengangguk. "Baiklah," Sekar menarik napas panjang.

Arga tersenyum lalu minta Kartini untuk menandatangani surat perjanjian nikah kontrak.

Tangan Kartini gemetar ketika membuka map warna coklat. Ia menarik kertas di dalamnya yang masih kaku, menandakan bahwa surat tersebut Arga buat baru-baru ini.

Mata Kartini menyusuri baris demi baris kalimat formal yang tertera. Setiap poin kesepakatan yang Arga buat seperti paku yang mematikan satu persatu impiannya untuk menikah dengan Teguh.

Air mata Kartini membasahi kertas yang tertulis tidak boleh ada cinta, tidak ada komitmen, hanya ada durasi batasan perilaku yang harus Kartini patuhi di depan keluarga besar Arga selama 6 bulan.

Selama pernikahan masing-masing boleh melanjutkan hubungan dengan pacar namun tidak boleh diketahui oleh keluarga.

Kartini mengangkat kepala menatap Arga yang duduk menatap handphone di tangannya. Seolah-olah tidak peduli bahwa hati Kartini menjerit.

Kartini memegang pulpen yang berada di dalam map tangannya terasa berat untuk tanda tangan, tapi senyum kakek yang tulus itulah yang membuatnya tidak ragu untuk menandatangani perjanjian.

"Sudah," lirih Kartini, mengembalikan map tersebut

"Baiklah, minggu depan kita menikah," Arga ambil map tersebut, meninggalkan Kartini yang masih merenungkan nasib buruknya. Tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan menikah kontrak.

Seminggu kemudian.

Langkah kaki Arga dan Kartini di atas karpet merah menuju penghulu terasa jauh lebih ringan daripada beban rahasia yang mereka simpan. Pernikahan digelar secara tertutup di kediaman kakek. Hanya dihadiri oleh keluarga dekat. Tidak ada sorot kamera media, tidak ada dekorasi seperti yang dua pengantin itu cita-citakan. Namun, senyum lebar sosok yang tengah duduk di kursi roda itu membuat suasana hati mereka penuh haru meskipun di hati masing-masing merasa berdenyut teringat dengan kekasih masing-masing.

"Selamat untuk kalian semoga sakinah Mawaddah Warahmah," ucap kakek ketika keduanya sudah sah menjadi suami istri.

Ucapan itu menjadi sembilu bagi Kartini karena bukan pernikahan seperti ini yang ia inginkan. "Terima kasih, Kek," jawabnya serak karena air matanya mengalir deras penuh sesal, kenapa bukan Teguh pria yang berada di sampingnya.

Sesi foto bersama kakek pun mereka lakukan, Kartini terkejut bukan main ketika tangan Arga melingkar di pundaknya. Ingin rasanya ia tepis tangan itu tapi Kartini segera sadar bahwa yang Arga lakukan ini hanya sekedar sandiwara.

"Selamat Arga, ternyata nasib baik tidak selalu bersamamu, walau kamu menjadi orang nomor satu di perusahaan Kakek, tapi soal jodoh kamu hanya mendapatkan keset!" Ucap seorang pria yang tak lain sepupunya yang selama ini menjadi saingan.

"Diam kamu! Mulut kamu berani koar-koar aku patahkan leher kamu!" Arga mengangkat kerah kemeja Kenzo dengan penuh emosi.

"Jangan bertengkar!" Kartini menarik tangan Arga dari leher Kenzo.

Arga melepas cengkeram tangannya dengan sedikit mendorong tubuh Kenzo hingga sempoyongan.

Suasana kembali kondusif ketika Arga dan Kartini harus kembali menerima ucapan selamat dari kerabat sampai di penghujung acara.

Keringat dingin mengucur di tubuh Kartini ketika Arga menarik tangannya masuk ke dalam kamar pengantin.

...~Bersambung~...

1
🌷💚SITI.R💚🌷
mangaat buna udh penasaran eh di stop tr kuciei lg😄
🌷💚SITI.R💚🌷
😅😅🤣🤣🤣🥰🥰🥰
🌷💚SITI.R💚🌷
hati² arga tr kamu jatuh cinta sm kartini baru nyaho de
🌷💚SITI.R💚🌷
nyari penyakit kamu kartini
🌷💚SITI.R💚🌷
oh arga udh nikah sm nadine ya
🌷💚SITI.R💚🌷
kasian kake sdh di bohongin sm cucublesayangany entah gmn nasib krtini ke depany
🌷💚SITI.R💚🌷
mungkin nadiene bkn yg terbaik buat kamu..nadine cinta sm kamu krn kamu punya jabatan mentereng
🌷💚SITI.R💚🌷
tr cinta datang seiring waktu args jd ikutin aja mauy kakek kamu
Eka ELissa
Arga udh nyaman dgn mu mbul...🤣🤭trus .. lama 2 jatuh cinta dong gundik nya Nadine buang aj ke laut 🤣🤣🤭
Lia siti marlia
cie cie yang ngobrol ngalor ngidul terus di pakein jaket besok besok di ajak bobo bareng deh🤭🤭🤭
Rina
Semoga Arga mulai bisa melihat ketulusan dan kebaikan Kartini 🫢🫢🫢
Dew666
🍭🍭
Sri Devi Oktaviani
hati² bos jatuh cinta😍
Riska Baelah
suka bnget dng panggilan kesayangan arga,"mbul"🤣🤣🤣🤭
lnjut kk👍
Teh Yen
cie.pak.bos so sweet hehe
Teh Yen
mikir Arga mikir dengerin tuh omongannya s.gembul huuuh 😤
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
Cah Dangsambuh
arga arga enak kan si gembul berani ngelawan?kamu sih maruk trus ni siapa lagi yang datang awas arga tar kakek ngedrop lagi
Eka ELissa
spa tuh....taksi online kah....
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
Eka ELissa
kamar.....atau ...kama....Mak....🤣🤭
Buna Seta: Haha typo paling
total 1 replies
Rina
Apakah yang datang itu Kenzo atau Nadine 🫢🫢🫢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!